
Setelah obrolan yang cukup lama. Queen dan Darren masih berada di balkon. Duduk dikursi yang tersedia disana. Beberapa minuman kaleng dan camilan juga sudah tersedia setelah tadi salah satu pelayan Queen menyiapkannya.
Langit sudah tampak kuning keemasan, menandakan jika sebentar lagi matahari akan terbenam kembali keberadaban.
Para anak buah yang tadinya sedang berlatih mulai kembali kedalam mansion entah untuk membersihkan diri atau makan.
"heeuuuh.."
Darren yang sedari tadi diam saja menoleh saat mendengar Queen menghela nafas lelah "kamu.. kenapa?"
"aku merasa bosan. Kamu diam dengan pikiranmu sendiri sedari tadi" gerutu Queen. Dia memberengut "apa yang sedang kamu pikirkan sih? kelihatannya berat sekali" tambahnya. Kenapa ia berkata demikian karena Queen melihat Darren menukikan alisnya bahkan hampir menyatu, menatap kedepan dengan pandangan yang tidak ia mengerti.
Darren tersenyum dan menepuk kepala Queen. Tidak berniat menjawab ucapan Queen barusan.
"kamu diam saja? jangan-jangan kamu sedang memikirkan wanita sexy ya?" tuduh Queen sembari menunjuk Darren dengan jadi telunjuknya.
Darren tergelak mendengar ucapan Queen "kalaupun aku memikirkan wanita, itu hanya kamu"
Queen memutar bola matanya malas "mulutmu manis sekali, kamu habis makan gula ya?"
Darren kembali tergelak, dia berdiri dari duduknya. Menjulurkan tangannya didepan wajah Queen "ayo pulang"
Queen menerima uluran tangan Darren.Pria tampan ini sedikit menarik Queen, membantunya untuk berdiri.
"kamu lelah kan? padahal baru saja keluar dari rumah sakit"
"aku tidak lelah. Apalagi kamu ada disisi ku. Apa kamu mau menginap dimansionku?"
Queen mendengus mendengar tawaran Darren "kalau kau mau mati besok, aku mau-mau saja"
Darren kembali diam, tentu dia tahu apa yang dimaksud oleh Queen. Calon mertuanya memang menjadi batu sandungannya untuk dekat dengan Queen. Pria paruh baya itu begitu posesif dan over protective pada anak gadisnya ini.
Ketika sampai dilantai bawah, Queen dan Darren berpapasan dengan seseorang.
"waah.. kamu bawa siapa ini Queen?"
Queen yang ditanyai angkat bahu. Malas memberitahu karena dia yakin sekali jika dia telah mengetahui siapa yang tengah berjalan bersisian dengannya saat ini "ck.. aku malas menjawab karena aku yakin uncle sudah mengetahuinya"
Pria paruh baya itu tergelak, saat sampai didepan Queen dia merentangkan tangannya. Berharap gadis itu memeluknya seperti biasanya.
Tapi saat ini Queen sedang bersama dengan Darren. Pria yang sangat cemburuan itu sudah dipastikan tidak membiarkan hal itu terjadi.
Pria yang tak lain adalah Tama itu berdecak saat melihat Queen ditarik oleh Darren. Pria itu memeluk pinggang Queen dengan posesif. Tidak membiarkan wanitanya itu memeluknya "ck.. belum menikah saja sudah seposesif ini" gerutunya terdengar kesal.
"aku hanya menjaga wanitaku agar tidak asal dipeluk oleh pria lain" jawab Darren dengan suara yang tegas. Mempertegas jika Queen hanya miliknya.
"aish.. dia adalah uncle ku. Jangan berlebihan deh" gerutu Queen, dia menepuk tangan Darren agar ia lepaskan rengkuhannya.
"aku tidak mau melepaskanmu. Biarkan seperti ini" ucapnya menolak dengan tegas permintaan Queen. "Dan lagi seberapa banyak pria yang selalu memelukmu seenaknya sih?! membuatku kesal saja"
__ADS_1
"Dia memiliki banyak sekali pria yang selalu menyayanginya. Kami akan dengan mudah menyingkirkanmu agar kau tidak menempel pada Queen kami. Bahkan kau melarang kami memeluknya? cih.. memangnya kau siapa?" gerutu Tama sedikit tidak terima. Walau bagaimanapun Queen memang benar-benar memiliki banyak sekali pria yang notabene nya bukan keluarga kandung. Kalau Darren hendak cemburu, dia salah tempat.
"aku adalah calon suaminya"
"baru juga calon. Bahkan orang yang sudah menikah saja bisa bubar, apalagi hubunganmu dengan Queen belum kuat" ucap Tama dengan pelan sembari menatap Darren dengan pandangan penuh arti.
Darren dapat menangkap, jika kata-kata nya penuh akan isyarat. Bahwa bisa saja mereka yang dekat dengan Queen bisa menjauhkannya dari Queen jika mereka mau. Darren menghela nafasnya panjang, dia harus bersabar sebelum Queen menjadi miliknya.
Dengan membangun kepercayaan orang-orang yang menyayanginya, agar mereka mendorong dan tak mempersulitnya kedepannya.
Tapi itu sungguh sulit untuk ia lakukan.
"kenapa diam? kau kesulitan menjawab yaaa?" tanya Tama sembari menahan tawanya ketika Darren kalah telak saat bercakap dengannya. Rasanya menyenangkan.
"ck.. aku hanya sedang berfikir saja"
Alis Tama mengernyit mendengar ucapan Darren yang menggantung "apa?"
"bagaimana kalau kita mampir ke restoran dan dinner dengan romantis sayang? apa kamu mau?" tanya Darren pada Queen. Mengabaikan pria paruh baya yang tadi sedang tersenyum penuh kemenangan setelah membuatnya diam.
Tama terkesiap apalagi melihat Darren menggandeng Queen meninggalkannya begitu saja.
"hey.. kau pemuda kurang ajar! berani-beraninya kau mengacuhkan ku! awas kau nanti" pekik Tama, tapi tetap diacuhkan oleh Darren.
Queen tergelak saat mendengar umpatan uncle Tama "kamu sangat nakal tuan"
"aku hanya malas berurusan dengan pria cerewet sepertinya"
Queen memukul lengan Darren "dia adalah uncle ku!"
"masa bodo. Kamu memang dikelilingi oleh orang-orang yang menyebalkan ya?"
Queen mendengus "kau yang menyebalkan!"
Darren diam tidak menjawab gerutuan Queen, dia tahu sekali jika Queen memang dikelilingi oleh pria-pria hebat yang menyayanginya.
Tapi satu hal yang ia tak sukai dari mereka. Mereka semuanya memusuhinya. Seakan-akan ia telah mencuri sesuatu yang sangat berharga dari mereka.
"Yeah.. memang benar sih, jika aku memang telah mencuri berlian yang sangat berharga dari mereka" batin Darren berucap membenarkan hipetensi yang baru saja ia pikirkan. Darren melirik Queen, dia memang sangat beruntung bisa mendapatkan wanita yang disayangi oleh banyak sekali orang. Entah itu keluarga ataupun hanya teman dad nya saja.
Darren merangkul bahu Queen keluar dari dalam mansion.
ehem
Darren menggeram karena ada yang berdehem, jangan sampai itu adalah salah satu orang yang sangat posesif pada Queen. Rasanya ia menyesal telah datang kesana karena banyak sekali orang yang berusaha dekat dengan wanitanya ini.
"oh- Gerrell" ucap Queen, dia melihat Gerrell yang tengah duduk dikursi teras.
Darren yang tadi menggeram menoleh, disana tengah duduk pemuda yang ia tahu adalah adik dari kekasihnya. Senyum jenakanya sungguh membuatnya ingin memukulnya sekarang.
__ADS_1
"kenapa kau tersenyum begitu Rel? seperti orang bodoh" ucap Queen mewakili Darren yang barusan baru berfikir demikian.
Terlihat Gerrell mendengus setelah Queen mengatainya "kakak membawa tuan Darren kemari? apa kakak benar-benar mempercayainya?" tanya Gerrell.
Queen menoleh kearah wajah Darren, sedikit mendongak karena tinggi badan mereka yang berbeda cukup signifikan. Menatap mata biru yang sangat jernih seperti air laut itu dengan begitu dalam "ya. aku mempercayai nya"
Darren menarik kedua sudut bibirnya. Hatinya merasa senang dan hangat ketika Queen benar-benar mempercayainya. Darren tidak akan mengecewakannya.
Gerrell yang melihat tatapan penuh cinta dari pasangan yang tengah dimabuk asmara itu mendengus "kalau begitu. Pergilah kalian. Kalian sungguh membuat ku anak dibawah umur melihat tatapan seperti itu. Kalian tidak malu apa" gerutu Gerrell.
Queen terkekeh mendengar adiknya yang tampak kesal "kau ngapain kemari?"
"aku hanya ingin berlatih disini"
Queen menapat jahil adiknya ini "benarkah? bukan karena melarikan diri dari hukuman Gerald?" tanyanya sembari menaik turunkan alisnya.
Gerrell terkesiap, membuat Queen terbahak karena reaksi tubuh Gerrell menunjukan jawabannya. Jika dia benar-benar kabur setelah perjanjiannya dengan Gerald kemarin, yang mana ia harus mencabuti rumput dikebun mansion utama setelah kalah taruhan.
"mana ada" ucap Gerrell menyangkal. Dia memalingkan wajah karena takut ketahuan berbohong.
"hahaha" Queen semakin terbahak, dia sampai mengacak-acak rambut Gerrell karena gemas sekali.
"kak.. jangan" keluh Gerrell. Ia membetulkan rambutnya kembali agar rapi seperti semula.
"kakak pergi dulu ya Rel. bye" melambaikan tangannya kearah adik bungsunya itu.
Gerrell mendengus "pacaran terus.. sampai melupakan adikmu yang tampan ini"
"ayoyoyo.. mana ada aku melupakanmu" ucap Queen sembari menoel pipi Gerrell.
"aish.. sana pergi." usir Gerrell karena merasa kesal diperlakukan seperti anak kecil.
Queen yang masih tergelak mengangguk "bye-bye adiku yang comel" Queen selalu saja gemas padahal adiknya sudah menjadi remaja. Gadis itu selalu menganggap jika kedua adiknya masih sama seperti dulu, kecil,imut dan menggemaskan.
Dia sampai mengabaikan Darren yang tampak memberengut karena diacuhkan.
"kakak ipar"
Darren membalik badan saat Gerrell memanggilnya, bagaimana ia tahu padahal Gerrell tak memanggil namanya? ya karena ia memang calon kakak ipar Gerrell.
Yang tadinya Darren merasa kesal pada pemuda itu, sekarang ia menarik sedikit sudut bibirnya setelah mendengarnya memanggil dengan sebutan kakak ipar.
"jangan lupa janjimu"
Darren mengangguk dan mengangkat ibu jarinya. Bersikap cool. Padahal ia ingin sekali jingkrak-jingkrak karena merasa bahagia dipanggil seperti itu.
"janji apa?" tanya Queen penasaran.
"rahasia" jawab Darren dengan suara datar dan tegas. Hal itu membuat Queen mendengus karena merasa kesal.
__ADS_1
***
Jangan lupa like komen dan Vote..