QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
43. Jalan sama Papa


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk hati Queen yang juga sedang cerah. Pagi ini Queen dan Rere tengah bersiap-siap karena David akan mengajak mereka pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.


Kedua gadis itu setelah siap akhirnya berjalan untuk ke depan gang, mereka akan di jemput oleh salah satu supir David yang akan mengantarkan mereka ke tempat dimana pria itu sudah menunggu. David tidak bisa menjemput mereka karena  pria itu ada urusan dengan kliennya.


"Teh kenapa ya Kenan belum ngabarin aku juga dari kemarin?"


Rere yang sedang memainkan ponselnya pun menatap Queen sekilas, bibir gadis itu di miringkan ke kanan untuk mencari jawaban yang tepat.


"Hm... Kenan lagi kemping, kan?"


Queen mengangguk, Kenan sih bilang bahwa dia sedang kemping bersama teman-temannya.


"Siapa tau gak ada sinyal kan? Lagian kemping pasti di daerah hutan gitu Queen,"ucapnya yang membuat Queen mengangguk mengerti.


Hening lagi, kedua gadis itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sebenarnya Queen maklum jika Rere tidak banyak berbicara, gadis itu lebih suka keheningan.


"Queen,"panggil Rere pelan.


"Iya?"


"Gue harus berterima kasih sama Papa. karena Papa, gue jadi terbebas dari kerjaan kotor gue. Papa hebat ya Queen."


Queen tersenyum, gadis itu memeluk tubuh Rere dari samping. Rere memang sudah tidak akan bekerja lagi di club malam. Berkat David akhirnya Rere terbebas dari pekerjaan yang sering kali membuat Rere merasa hina, dia juga tidak perlu membayar uang apalah yang Queen tidak mengerti akibat Rere yang keluar dari club karena David yang sudah membayarnya.


"Iya Teh, Papa emang hebat."


Akhirnya mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan, kedua gadis itu berjalan untuk ke tempat makan dimana David sudah menunggu mereka. Setelah sampai di restoran akhirnya mereka menemukan David yang tengah memainkan ponselnya, pria itu sendirian.


"Hai Papa!"sapa Queen dan Rere bersamaan.


David mengangkat kepalanya, tersenyum senang saat Queen dan Rere bersamaan mengecup kedua pipinya.


"Duduk. Kalian berdua mau makan apa?"tanya nya dengan nada ramah.


"Rere sama Queen udah sarapan Pa,"jawab Rere sambil tersenyum.


"Iya Pa kita udah sarapan, kita sarapan sama nasi kuningnya Ema Eot. Enak banget loh Pa nasi kuningnya,"sahut Queen bersemangat.


David terkekeh pelan, pria itu senang melihat kedua putrinya yang sudah sangat mirip seperti Adik dan Kakak.


"Ya sudah kalau begitu bagaimana jika kalian nyemil kentang goreng serta minum? Setelah itu kalian akan berbelanja,"tawar David yang membuat mata Queen dan Rere terbelalak.


"Belanja Pa?"tanya Rere meyakinkan.


David mengangguk dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


"Yasudah kalian pesan dulu saja ya,"ucapnya lalu mengangkat tangan hingga seorang pelayan pria menghampiri mereka.


Sambil menunggu pesanan tiba mereka pun saling mengobrol satu sama lain.


"Queen, Rere Papa ingin berbicara serius dengan kalian."


Queen dan Rere terdiam, mereka ikut serius ketika melihat raut wajah Davin yang berubah menjadi serius. Pastinya akan ada pembahasan penting yang ingin di sampaikan oleh David.


"Bicara apa Pa?"tanya Queen penasaran.


"Papa akan stay di Indonesia, meski yah... nanti pastinya Papa akan sesekali keluar negeri untuk mengurus perusahaan yang berada di luar negri atau sekedar menemui pertemuan penting di luar negri."

__ADS_1


"Lalu?"tanya Rere dengan kening mengerut.


David tersenyum, matanya menatap wajah Queen dan Rere bergantian.


"Papa ingin kalian ikut tinggal di rumah Papa yang berada di sini. Papa juga akan lebih tenang jika kalian tinggal satu atap bersama Papa, bagaimana?"


Queen dan Rere saling berpandangan, mereka seolah mencari jawaban lewat tatapan masing-masing. Queen jelas sangat ingin jika tinggal bersama Papanya lagi tapi tidak tahu dengan Rere.


"Pa, Rere merasa tidak enak. Rere merasa tidak ada hak untuk ting–"


"Kamu anak Papa, Rere!"potong David cepat dan tegas.


Rere terdiam, gadis itu merasa tidak enak. Tapi apa boleh buat? David sudah menganggapnya dan akan mengangkatnya menjadi anak, dan pastinya Rere tidak akan bisa membantah ucapan David.


"Queen mau tinggal sama Papa lagi,"jawab Queen mantap.


Rere perlahan-lahan juga mengangguk dan itu membuat David tersenyum senang. Sebentar lagi impiannya akan terwujud, impian dimana David akan tinggal bersama kedua putrinya dan bisa mempunyai waktu banyak untuk menghabiskan waktunya bersama Queen dan juga Rere.


"Syukurlah kalau begitu, kalian sehabis ini ikut Papa pulang langsung ke rumah ya."


Kening Queen mengernyit. "Terus barang-barang dan baju-baju kita Pa?"


"Sudah di urus oleh orang suruhan Papa,"jawab David enteng.


...||||...


Mata Queen dan Rere tidak berhenti membulat ketika melihat ruangan-ruangan di rumah atau bisa di bilang istana milik David ini. Keduanya tengah di perlihatkan dan di bimbing oleh wanita paruh baya yang menjabat sebagai ketua pelayan di rumah ini untuk melihat satu-satu ruangan dan bagian-bagian dari rumah ini.


Sore tadi saat Queen dan Rere datang ke rumah ini sudah ada banyak pelayan dan para petugas rumah yang berdiri di teras rumah yang luas, mereka semua membungkuk hormat ketika David datang. Rumah ini tidak kalah besar dengan rumahnya Kenan, disini juga banyak pelayan dan petugasnya.


Ada kira-kira dua puluh pelayan wanita dan pria di sini. Ada yang bertugas untuk membereskan rumah dan ada yang bertugas untuk memasak. Lalu ada lima petugas kebun dan yang membereskan jika ada kran yang macet atau lampu-lampu yang mati. Lalu ada para petugas yang berjaga rumah sekitar sepuluh orang, belum lagi para pengawal David.


"Di sini juga ada ruangan untuk menonton film Non,"ucap ketua pelayan yang bernama Arisa.


Kening Queen mengerut, ruang menonton film?


"Maksudnya ruangan menonton film?"tanya Queen tertarik.


Bi Arisa tersenyum lalu berjalan ke ujung lorong, di kiri lorong terlihat pemandangan kolam berenang yang mewah. Kebetulan dinding lorong ini terbuat dari kaca dan itu memudahkan pandangan Queen untuk menatap pemandangan luar rumah mewah milik Papanya.


"Silahkan masuk Nona."


Rere masuk terlebih dahulu kedalam ruangan yang pintunya di bukakan oleh Arisa lalu terdengar pekikan tertahan Rere yang membuat Queen penasaran dan memilih untuk masuk ke dalam ruangan, dan... mata Queen membulat dengan tangan yang membungkam mulutnya sendiri.


"Qu-Queen i-ini...? Ini gila! Ya ampun gue bisa seharian ngabisin hari libur di ruangan ini Queen,"seru Rere sambil menyapu pandangan kagumnya pada ruangan film ini.


"Queen juga Teh! Bisa nonton film sepuasnya kita kalau ada ruangan ini,"sahut Queen sambil berjalan duduk di salah satu sofa yang sangat empuk di tengah-tengah ruangan ini. Di depannya ada layar tv yang lebar dan besar untuk menonton. Lampu di ruangan ini juga temaram.


"Bi ini nyalakan tvnya? Kita bisa nonton kan?"tanya Rere pada Bi Arisa yang sejak tadi diam di ambang pintu sambil tersenyum melihat kebahagiaan anak majikannya.


"Bisa Non,"jawabnya sopan.


Rere mengangguk sambil tersenyum, mata gadis itu masih berbinar senang.


"Ah ya Nona, ini sudah masuk jam makan malam. Pastinya Tuan besar sudah menunggu kalian di ruang makan."


Queen beranjak dari duduknya lalu mengikuti langkah Bi Arisa dan Rere yang berjalan di hadapannya. Entah kenapa gadis itu merasa ada yang kurang. Mamanya tak ada dan itu membuat suasana menjadi kurang lengkap, padahal Queen ingin sekali Mama dan Papanya kembali bersatu dan mereka satu atap lagi.

__ADS_1


"Bagaimana ruangan-ruangan di rumah ini? Apa ada yang kurang ruangannya?"tanya David ketika Queen dan Rere baru saja duduk di kursi meja makan yang bisa terisi oleh 15 orang.


"Ruangannya bagus semua Pa! Rere suka, apalagi sama ruangan film itu dan ruang olahraga."


"Syukurlah kalau kamu suka Re. Lalu Queen? Apa ada ruangan yang kurang menurut kamu?"tanya David yang mengalihkan pandangannya ke arah Queen.


"Ruang musik kok gak ada sih Pa? Queen kan suka nyanyi terus Queen juga pengen bisa mainin musik!"rajuk Queen dengan bibir yang mengerucut.


Mata David mengerjap lalu tak lama senyum pria itu mengembang sempurna. Dia melupakan kesenangan anaknya yang sangat menyukai dunia musik dan tarik suara.


"Maaf sayang karena Papa tidak membangun ruang musik di rumah ini, tapi Papa akan segera merenovasi rumah ini agar bisa ada ruang musiknya."


Queen tersenyum senang sambil bertepuk tangan kecil, jika sudah begini dia akan betah tinggal di rumah.


"Makasih Papa!"


"Sama-sama Queen."


Rere ikut tersenyum sambil memakan apel yang tersedia, gadis itu sudah tak sabar untuk makan. Makanannya sedang di siapkan oleh para pelayan.


Saat tengah asik melempar senyum dengan Papanya tiba-tiba saja deringan telpon yang berasal dari ponsel Queen membuat senyum Queen pudar. Saat gadis itu melihat siapa yang menelponnya tiba-tiba saja matanya membulat.


Kenan calling...


"Siapa Queen?"tanya Rere sambil melirik Queen sekilas.


Queen gelagapan, gadis itu menatap Rere dan David secara bergantian. Wajah Papanya terlihat penasaran.


"Hm... i-ini Teh, dari Kenan."


Rere manggut-manggut sedangkan David mengernyit. Pria itu penasaran mengapa pacar kekasih anaknya menelpon anaknya malam begini.


"Angkat aja, tapi di sini angkatnya dan di loudspeaker."


Mata Queen membulat mendengar perkataan David yang terdengar santai namun tegas itu. Rere hanya bisa menggigit pipi bagian dalamnya, dia sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak pecah saat itu juga karena melihat wajah tegang Queen.


Akhirnya setelah mengendalikan tubuhnya Queen pun mengangkat panggilan dari Kenan. Matanya terpejam saat dia menakan tombol speaker lalu suara Kenan terdengar panik dari ujung sana.


"Akhirnya kamu ngangkat juga Queen! Ya Allah aku udah panik karena kamu gak angkat telpon dari aku. Queen pertama-tama aku mau minta maaf sama kamu karena aku gak kabarin kamu, maaf banget sayang karena di tempat aku kemping kemarin susah sinyal. Kedua aku mau ngabarin bahwa aku udah pulang dari tadi sore dan yang ketiga! Kamu sama Teh Rere pergi dan pindah kemana sih? A Adi gak mau ngasih tau, ****** banget emang!"


Queen meringis pelan, dia tidak menyangka bahwa Kenan akan berbicara panjang kali lebar seperti saat ini. Mata gadis itu melirik David yang sibuk memakan potongan buah dengan garpu, pandangan Papanya tidak lepas dari ponsel milik Queen.


"Ke-Kenan, aku sama Teh Rere pindah ke rumah Papa,"jawab Queen pelan.


"Rumah siapa?"


"Rumah Papa aku Ken,"ulang Queen dengan suara sedikit keras.


Hening, di ujung sana Kenan tidak berbicara. Mungkin cowok itu sedang terdiam atau bahkan terkejut?


"Kenapa bisa Queen? Kok aku gak tau ceritanya kamu bisa tinggal di rumah Papa kamu?"


Jelas lah Kenan tidak tahu! Queen saja belum menceritakan apa pun pada Kenan.


"Besok aku bakal ceritain semuanya Ken, sekarang aku mau makan dulu."


...||||...

__ADS_1


**Jangan lupa di like juga komen, ya.


Btw, kira-kira reaksi Kenan waktu ketemu David kayak gimana ya?🌚**


__ADS_2