QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
adik


__ADS_3

Darren menarik tangan Queen dengan lembut, senyum samar sesekali tercetak dibibir pria yang biasanya datar tanpa ekspresi itu. Rasanya bahagia saat kekasihnya ada disisinya saat ini. Ditempat yang sama dengan dirinya.


Karena banyaknya masalah yang harus ia urus, membuat Darren menahan rasa rindunya untuk pergi menemui gadis ini. Dan sekarang ia berada disini membuatnya benar-benar senang dan berbunga-bunga.


"sebenarnya kita mau kemana?" tanya Queen entah sudah keberapa kali.


Darren menoleh kebelakang "kekamar"


Mata Queen terbelalak mendengar ucapan Darren, ia kemudian dengan cepat menghentikan langkah kakinya.


Darren yang merasa Queen tidak lagi mengikuti dirinya menoleh dan berbalik badan. "ayo"


Queen menggeleng"mau apa kita kekamar? jangan berfikiran yang aneh-aneh ya!" ucapnya dengan suara rendah, dia memang mencintai Darren tapi jika pria ini menginginkan nya sekarang Queen tentu saja akan dengan tegas menolak. Mereka belum memiliki status yang resmi.


"memangnya aku berfikir yang aneh-aneh apa?" tanya Darren, dia mendekati Queen, mengikis jarak mereka berdua.


"aku tahu sekali pikiran seorang pria mesum seperti dirimu" ucapnya sembari mundur satu langkah. Menghindari Darren dan jantungnya yang berdebar.


"hahahaha.. memangnya aku orang mesum?" Darren maju satu langkah sehingga mereka kembali tak ada jarak. Dan saat Queen hendak mundur lagi Darren dengan cepat meraih pinggang ramping gadisnya ini. "aku merasa sedih loh kamu katai seperti itu" ucapnya dengan suara sedih. Dia menjatuhkan wajahnya diatas pundak Queen.


Queen memutar bola matanya malas.


"padahal aku hanya mau membicarakan hal yang tadi, dan aku akan memberitahumu apa rencana yang sudah aku susun" tambahnya lagi.


Meski sejujurnya Darren akan memanfaatkan kebersamaan mereka didalam kamar nantinya. Pria ini memang sekarang jauh lebih pandai dalam hal modus.


Queen menatap wajah Darren yang masih mengenakan topeng. Ternyata ia telah salah paham "oh.. kalau begitu ayo"


Darren menggeleng "aku masih merasa sedih, kamu menuduhku sebagai pria mesum"


"kamu kan memang selalu mesum saat hanya ada kita berdua" memberi tahu fakta saat pria ini berpura-pura lupa.


"oh~ benar juga" ucap nya lalu ia terkikik "aku memang selalu ingin menciummu, mencumbumu dan memelukmu" ucapnya sembari mengecupi leher jenjang Queen.


Queen kembali memutar bola matanya jengah lalu mendorong wajah itu agar menjauhi lehernya. "jangan banyak drama! ayo kita pergi ke kamarmu untuk membahas hal tadi"


"kamu sudah tidak sabar ya?" ucap Darren dengan nada suara ambigu.


"kalau kamu terus berbicara omong kosong, akan kupukul kau sekarang" ancam Queen saat ia mulai kehabisan kesabaran. Kesal juga lama-lama.


"kamu galak sekali" gerutu Darren, dia melepaskan pelukannya dan kembali menggandeng tangan Queen.


"eiitss.. tunggu!"


Queen dan Darren sedikit terkejut saat langkahnya diberhentikan oleh seorang pemuda. Tangannya terangkat dihadapan mereka berdua untuk mencekal langkah kaki mereka.


"ini adalah operasi untuk menertibkan pengguna jalan, bisa anda menunjukan surat-surat anda tuan? hikk" ucapnya diakhiri oleh cegukan.


Mata Queen terbelalak mendengar ucapan ngawur pemuda yang ada dihadapannya "apa yang kau katakan Rel?!" pekiknya, lalu ia berjalan mendekati adiknya itu.

__ADS_1


"Rel? aku ini polisi, jangan berteriak padaku!"


Queen menggeleng melihat keadaan adiknya itu "kau mabuk?!" kembali memekik saat mencium aroma wine.


"tidak, aku tidak mabuk" matanya ia sipitkan untuk melihat dengan jelas siapa yang ada dihadapannya "aku seperti mengenalmu, kamu siapa ya? kok pakai topeng?" tangannya terulur untuk meraih topeng yang Queen kenakan lalu ia menariknya sampai terlepas.


"nah.. benar kan, aku mengenalmu. Kamu kan kakakku yang somplak dan suka mengupil itu, hahaha" tawanya meledak saat ia berhasil mengenali gadis yang ada dihadapannya ini.


plak


"aw.. kenapa kakak memukul wajahku? sakiiit~" rengeknya seperti anak kecil. Dia mengusap pipinya yang terasa sakit "aku kan mau menjadi superstar kalau wajahku jadi jelek, kakak aku denda!"


Queen menghela nafasnya panjang, dia kemudian memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Baru ditinggal sebentar dan lepas dari pengawasannya Gerrell berani berbuat semaunya seperti ini. Dia minum sampai mabuk berat. "astaga.. kau itu menyusahkan kakak saja!"


"ck.. menyusahkan apanya. Kak aku mau jadi polisi boleh tidak?" tanya Gerrell dengan riang.


"nggak!"


"huaaaa... kakak pelit sekali" tangis Gerrell pecah saat mendengar penolakan dari Queen.


tak tak tak


Terdengar suara langkah kaki mendekat "oh.. ternyata pemuda ini disini" ucap seorang pemuda yang bernama Edgar, terdengar lega saat melihat Gerrell bersama dengan gadis yang tadi datang bersamanya. Sepertinya tadi Gerrell lepas dari penglihatannya sehingga ia tampak panik dan mencari pemuda ini.


Edgar merasa bertanggung jawab karena pemuda yang tadi ia cekoki minuman itu terlihat masih sangat muda. Kalau terjadi apa-apa bisa saja ia yang disalahkan dan dimintai pertanggungjawaban "kau disini juga Ren?" tanyanya saat melihat Darren ada disana juga.


Darren menatap tajam Edgar "kau yang mencekoki dia minuman?" tanyanya dengan suara rendahnya. Darren membuka topengnya sehingga terlihat jelas jika ia sedang menatap tajam Edgar penuh dengan intimidasi.


"kurasa dia tidak akan minum minuman keras karena masih dibawah umur"


Edgar menoleh kesumber suara dimana berdirinya Queen "waaaaah... kamu cantik sekali" ucapnya memuji sembari memperhatikan wajah cantik dan lembut Queen. Jika dilihat dari dekat gadis ini benar-benar terlihat sempurna.


"apa yang kau lihat?!" tanya Darren terdengar tidak suka.


Edgar menoleh kearah sahabatnya, Darren dengan cepat menarik gadis itu. Memeluk bahunya. Dia sedang menandai miliknya. Hal itu membuat Edgar hampir saja tertawa "jadi.. ini gadismu?"


"tentu saja iya, dia tunanganku" ucapnya mengaku.


"hah?! tunangan?!"


Darren mengangguk dengan bangga, tak menyangka kan jika aku sudah memiliki tunangan begitu Edgar bisa menebak dari raut wajah tengil Darren saat ini. Dia merasa kalah telak karena saat ini dirinya masih menjomblo "yang benar saja?! kau bertunangan dan tidak memberitahu ku? kau jahat sekali Ren"


"memangnya siapa dirimu?"


Edgar mendengus mendengar suara tidak peduli Darren yang terlihat begitu menyebabkan itu "sial... apa kau serius Ren?" tanyanya lagi memastikan.


"tentu saja. Kamu bisa lihat kan? ini adalah tunangan ku"


Queen mendengus melihat Darren yang memamerkan dirinya. Seperti anak kecil saja gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"kak.. kenapa kamu dipeluk oleh pria asing? nanti dad memarahimu loh" ucap Gerrell sembari menarik Queen. Lalu ia melindungi kakaknya ini "menjauhlah dari kakakku kau orang asing!" ucap Gerrell sembari menunjuk Darren.


Darren menatap kesal Gerrell saat Queen terlepas dari pelukannya "aku ini calon kakak iparmu bodoh! dia tunanganku!"


"benarkah? kapan kakak bertunangan? kok aku tidak diundang?"


Queen berdecak saat mendapat pertanyaan dari Gerrell "ayo kekamar! kalau sampai dad tahu kau mabuk-mabukan saat bersamaku, aku yang akan mati nanti" gerutunya sembari menarik tangan Gerrell agar mengikutinya.


"oh astaga"


Queen berhenti dan menoleh "ada apa Rel?" tanyanya dengan panik saat mendengar pekikan Gerrell.


"ada t-rex. Kakak! tolong selamatkan adikmu yang manis ini" ucapnya sembari bersembunyi dibelakang Queen. Dia memeluk Queen pinggang Queen ketakutan.


"hahahaha.." tawa Edgar pecah saat melihat tingkah konyol pemuda ini.


"diam!"


Edgar langsung menutup mulutnya dengan tangan saat dibentak oleh Queen. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat saat ditatap dengan tajam oleh gadis yang katanya adalah tunangan Darren "oh astaga.. dia sama mengerikannya dengan Darren" batin Edgar berucap.


"lepaskan dia!" ucap Darren memperingatkan Gerrell untuk melepaskan pelukannya pada Queen.


"tidak.. Aku takut sekali, sepertinya aku bisa dimakan oleh dinosaurus mengerikan itu" rengek Gerrell sembari menggeleng.


"waah.. Lihatlah Ren, tuanganmu dipeluk oleh pria lain" Edgar sengaja memanas-manasi Darren.


Darren berjalan mendekati Queen dan Gerrell lalu tangannya terulur untuk menarik kerah baju bagian belakang Gerrell. Kemudian dia mengapit kepala Gerrell dilekukan ketiaknya. "ayo kuantar kau kekamar, merepotkan sekali kau bocah jelek!" gerutunya dengan kesal. Padahal ia ingin sekali berduaan dengan Queen, eh malah ada kejadian tidak terduga seperti ini . Membuatnya kesal saja.


Dia menarik Gerrell menuju arah dimana kamar-kamar yang memang disediakan untuk para tamu undangan.


"tungga" Edgar mencekal tangan Queen. Saat gadis itu akan mengikuti Darren dan pemuda yang sedang meronta itu.


"apa?"


"kamu benaran tunangan si muka kaku itu?"


Queen hanya diam saja, dia terlalu malas meladeni pria ini.


"kalau benar, aku turut prihatin ya"


Alis Queen menyernyit tak mengerti "prihatin? maksud anda apa tuan?"


"bisa saja kamu berubah menjadi batu es nanti karena dia itu kulkas sepuluh pintu" selorohnya sembari menahan tawa "kalau kamu terus dicueki dan diabaikan kamu harus banyak-banyak sabar ya?"


Queen menarik sudut bibirnya"anda tidak perlu khawatir tuan, aku bisa mencairkan dan menghangatkan kulkas itu"


Edgar terdiam, pria itu sepertinya tidak menyangka jika gadis ini bisa menjawab ucapannya.


"jauhkan tanganmu darinya jika kau tak ingin aku memotong tangan lancangmu itu!"

__ADS_1


Edgar terkesiap dan langsung melepaskan tangan Queen saat mendengar suara Darren yang menggelegar "ahhk--.. Maaf Ren aku tidak sengaja" pekiknya dengan panik, lalu ia memilih untuk kabur dari pada nanti tangannya benar-benar dipotong oleh Darren.


Dia tahu sekali jika Darren itu sangat mengerikan dan selalu serius dengan ucapannya. Kalau benar ucapannya direalisasikan matilah dia "kenapa juga aku bisa memiliki sahabat yang mengerikan sepertinya..!! huh.. Aku selalu ketakutan saat dia sedang kesal" batin Edgar.


__ADS_2