
Queen dan Darren pada akhirnya keluar dari rumah sakit. Mereka berdua telah duduk bersisian didalam mobil.
"tuan.. aku lapar" ujar Queen terdengar merengek, ia menghadap kearah Darren yang tengah fokus menyetir.
"kalau begitu kita makan siang dulu sebelum pulang" ucap Darren, dia melirik Queen yang tampak mengangguk setuju. "mau makan dimana?"
Queen tampak berfikir sejenak "ada tempat baru yang ingin aku kunjungi sebenarnya, tapi kalau jam makan siang begini pasti sangat ramai" ujarnya sembari mengangkat tangan untuk melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sekarang memang sudah waktunya makan siang.
"kita kesana lain waktu saja. Sekarang apa kamu memiliki rekomendasi tempat makan yang ada dinegaramu ini? "
Queen yang awalnya lemah memikirkan tempat makan itu kembali bersemangat, dia menatap Darren dengan binar ceria kembali "baiklah... aku akan menunjukan tempat favoritku sekarang"
"kalau begitu, bisakah my Queen menunjukkan jalannya?"
Queen menahan senyumnya mendengar suara lembut Darren, apalagi menyebut dirinya dengan sebutan my Queen. Hal itu terasa istimewa dan manis sekali. "baiklah.. let's go" ucapnya dengan semangat.
Darren menarik sudut bibirnya. Dia tergelak pelan melihat tingkah kekasihnya yang terlihat sangat menggemaskan sekali.
**
Darren menatap cengo sebuah restoran yang ada didalam sebuah hutan. Tanpa ia duga ditengah-tengah kota ternyata ada tempat sesejuk ini.
Pohon-pohon besar berjejer disana, dan tampak sebuah restoran diantara beberapa pohon rindang. "ini tempatnya?"
"iya.. bagaimana? tempatnya sejuk kan?" tanya Queen sembari tersenyum. Dia menarik tangan Darren untuk mendekati restoran tersebut.
Darren mengangguk sembari menoleh kekanan dan kiri. Memperhatikan tempat yang baru saja ia datangi ini.
"ini salah satu tempat favoritku karena disini jauh dari area perkantoran dan pusat perbelanjaan sehingga tidak terlalu ramai. Tapi ini masih berada didalam kota" Queen menjelaskan, mereka duduk disalah satu kursi.
Tempatnya memang nyaman karena angir berhembus dengan pelan menyapu wajah. Karena pohon-pohon yang ada disana menjulang tinggi sehingga tempatnya menjadi teduh.
Restoran dengan gaya outdoor ini memang sangat menarik bagi Darren.
"aku sering menghabiskan waktu disini karena tempatnya sangat cocok untuk menyendiri" ucap Queen mulai bercerita.
Darren menatap wajah cantik Queen yang tampak berseri, sepertinya ia memang merasa nyaman berada ditempat ini.
Setelah memesan makanan pada pelayan restoran, Queen dan Darren kembali mengobrol santai.
"Sayang"
__ADS_1
Queen yang dipanggil oleh Darren menoleh "hmm?"
"aku akan pulang"
Queen terkesiap, dia terkejut "kapan~? kamu kan baru saja datang" tanyanya terlihat sedih.
Darren tersenyum, dia mengusap kepala Queen dengan lembut "besok"
"kenapa kembali? kamu disini saja tuan" ujarnya merengek, dia bahkan menggoyangkan lengan Darren.
Darren tergelak melihat tingkah Queen "ada yang harus aku kerjakan" ucapnya memberi pengertian. Dia masih mengusap-usap kepala Queen. Beberapa kali memilin-milin rambut Queen dengan jarinya.
Queen mencebikkan bibir nya "ada kak Jo kan?" masih mencoba menahan kekasihnya agar tidak pergi. Dia masih ingin bersama dengan Darren.
"ini tidak bisa dihandle olehnya saja. Aku harus kembali sesegera mungkin"
"ish... ternyata pekerjaan lebih penting ya dibandingkan dengan aku?" melipat tangannya didepan dada, jangan lupakan bibirnya yang ia cebikan pertanda bahwa ia tengah kesal.
Tangan Darren terulur untuk menoel bibir Queen, dia tergelak "kalau begitu ayo menikah, kamu akan selalu berada di sisiku selamanya"
"aish.. lupakan! pergi saja sana!"
"hahahaha" tawa Darren pecah melihat betapa lucunya Queen saat ini. Dia menangkap pipi Queen lalu mencubitnya dengan gemas.
"kamu sangat menggemaskan, rasanya berat juga meninggalkanmu disini. Bagaimana kalau kamu ikut saja? koperku kosong kok" seloroh Darren. Saat bersama dengan Queen pemuda itu bisa melawak juga.
Berbeda sekali saat bersama dengan orang lain. Darren hanya akan memperlihatkan satu raut wajah saja yaitu datar dan tidak tersentuh.
"hey!! apa kau mau meletakkan ku didalam koper?! dasar pria jahat!" berdiri dari duduknya lalu tangannya terulur untuk menarik rambut Darren dengan brutal.
"aw aw aw.. kenapa kamu menganiaya suamimu sayang?"
deg
blush..
Mata Queen terbelalak, wajah Queen tiba-tiba saja memanas mendengar ucapan spontan dari Darren. Dia melepaskan cekalan tangannya lalu kembali duduk.
Darren hampir saja tertawa melihat Queen yang tampak blushing dan malu.
Wajahnya memerah sampai ke telinganya "aduh sakit sekali, kalau kepala suamimu botak bagaimana?" Darren sengaja menggoda Queen. Mulutnya terlipat kedalam karena ia dapat melihat wajah Queen yang bertambah merah.
__ADS_1
"a-aku ketoilet sebentar" ucap Queen tanpa berani menatap wajah Darren. Dia buru-buru pergi dari sana.
"dia sangat cute" ujar Darren sembari tersenyum, dia memperhatikan punggung Queen yang menjauh. Gadis itu benar-benar berlari.
*
*
*
"sial.. kenapa aku sampai mati kutu seperti ini" ujar Queen berbicara sendiri didepan cermin.Tangannya ia letakkan diatas dadanya "jantungku hampir melompat dari tempatnya tadi karena terkejut"
"aaahhhkk.. sialan!" pekiknya lalu ia segera mencuci mukanya saat wajahnya kembali memerah saat teringat ucapan Darren yang menyebut dirinya adalah suami.
Setelah hati dan wajahnya kembali normal, Queen keluar dari toilet dan segera menghampiri Darren yang tengah duduk sembari memegang ponsel.
Makanan sudah terhidang diatas meja.
Lalu pandangan mata Queen terusik melihat beberapa wanita yang memperhatikan Darren dari jauh. Dia menatap tajam wanita centil itu yang tampak tengah membicarakan Darren dengan berbisik.
Memang jika dilihat dari postur dan wajah, Darren terlihat tampan dan mapan.
Dari gaya pakaiannya saja bisa dilihat jika Darren adalah sarangnya uang.
Jadi wajar saja jika banyak gadis yang menginginkannya. Bahkan Queen saja dulu sampai mengejar-ngejar Darren tanpa malu.
Hal itu membuat hati Queen panas dan merasa kesal. Entah ia harus bersyukur mendapatkan pria setampan Darren atau ia harus mulai takut sekarang, jika prianya ini akan direbut oleh wanita lain.
"tidak!! dia adalah milikku seorang! tak ada wanita yang sebanding denganku, mereka hanya secuil debu. cih" batinnya mengumpat dan memaki. Dia juga mulai percaya diri kembali.
Queen segera duduk disisi Darren, melendoti lengan kekar Darren "makanannya sudah datang ya sayang?"
Darren tersenyum dan mengangguk "iya, mau makan sekarang?"
Queen mengangguk "suapi aku!"
Darren mengangguk dan menuruti keinginan Queen.
Queen yang baru saja disuapi oleh Darren menoleh dan menatap sinis wanita-wanita itu.
Tatapan matanya tajam dan mengancam "apa kau?! dia milikku lihat!" batin Queen berucap. Dia kembali menyandarkan kepalanya dibahu Darren. Memperlihatkan jika Darren adalah miliknya.
__ADS_1
Darren yang mengetahui situasinya merasa senang saat melihat gadisnya cemburu. Dia dengan senang hati menyuapi Queen.