
Kenan akan menikah dengan Nanda ketika mereka lulus sekolah nanti, ini sudah menjadi keputusan bersama.
Malam ini setelah Kenan dan Nanda bertunangan, mereka duduk di kursi yang tersedia di taman rumah Kenan, acara pertunangannya memang di adakan disini.
"Sorry, ya."
Kenan menatap sekilas kepada Nanda, cowok itu menghela nafasnya dengan pelan.
"Buat?"
Nanda menelan ludahnya terlebih dahulu. "Buat semuanya, sorry lo jadi terlibat masalah ini. Bahkan harus tanggung jawab padahal lo gak ada kewajiban buat itu."
Tangan Kenan menyugar rambut cowok itu sendiri, matanya menatap tajam pohon-pohon yang ada di depannya.
"It's okay."Kenan merespon tanpa menatap kearah Nanda.
"Gue ngerasa bersalah, Ken."
"Gak usah ngerasa kayak gitu, gue sendiri yang ambil keputusan ini."
Nanda meremas gaun yang di pakainya, matanya melirik cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya.
"Gara-gara masalah ini, lo sama Queen jadi putus. Bahkan pasti dia nganggap lo brengsek, padahal aslinya nggak."Nada suara Nanda bergetar ketika mengucapkan kata-kata itu.
Dia sangat merasa bersalah, secara tidak langsung Queen jadi yang paling tersakiti karena masalahnya ini. Gadis manis itu sangat menyayangi Kenan, begitupun sebaliknya. Tapi mereka harus berakhir kandas hanya karena Nanda.
__ADS_1
"Udah resikonya, Nan. Mau gimana lagi?"tanya Kenan dengan mata yang berkaca-kaca.
Cowok itu merindukan Queen, dia ingin memeluk gadis itu dan mengucapkan kata maaf sampai mulutnya berbusa jika perlu.
"Kalian saling sayang, saling cinta. Gue secara gak langsung udah jadi perusak di hubungan kalian."
Kenan berdehem pelan, cowok itu membenarkan letak duduknya agar menghadap kearah Nanda sepenuhnya. Dengan pelan tangannya menggenggam tangan Nanda, matanya berusaha mengunci mata Nanda agar hanya menatap kearahnya saja.
"Ini pilihan yang gue ambil, resikonya ya bakal gue terima meski sulit. Gue emang sayang Queen, sayang banget. Tapi gue gak bisa ngeliat lo ngadepin masalah ini sendirian, apalagi calon anak lo butuh sosok Ayah."
Nanda menitikkan air matanya, dan dengan sabar Kenan mengusap air mata itu agar terhapus.
"Udah, jangan nangis. Mungkin emang ini udah jalannya,"ujar Kenan menenangkan.
Nanda malah terisak, dia benar-benar merasa bersalah kepada Queen.
Kenan diam, dia juga merasa bersalah kepada gadis itu.
"Mungkin gue emang gak jodoh sama Queen."
Saat Nanda akan membalas ucapan Kenan, tiba-tiba David menghampiri mereka. Pria itu memang hadir di acara ini, hanya datang seorang diri.
"Kenan, bisa kita bicara berdua?"tanyanya dengan nada datar.
Kenan mengangguk sambil berdiri dari tempat duduknya, cowok itu menatap kearah Nanda sekilas.
__ADS_1
"Masuk aja ke dalem, Nan."Kenan menyuruh dan Nanda nurut.
Setelah Nanda masuk kedalam rumah, Kenan kembali fokus kepada David. Cowok itu berdehem karena merasa gugup.
"Kenapa, Om?"tanyanya.
"Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih karena kamu sudah mematahkan hati anak saya, hebat! Bajingan sekali kamu ini."
Kenan diam, mulutnya kaku untuk menjawab ucapan David. Dia tidak ada maksud untuk mematahkan hati gadis yang sangat dia sayangi itu.
"Padahal saya sudah mau percaya kamu bisa menjaga anak saya dengan baik,"lanjutnya dengan menatap remeh Kenan.
"Maaf udah ngecewain. Saya juga gak ada maksud atau niat untuk menyakiti hati anak Om,"ucap Kenan dengan mata penuh penyesalan.
David hanya terkekeh saja, pria itu menepuk pelan bahu Kenan.
"Setelah Queen pergi nanti, jangan pernah kamu mau datang ke dia lagi. Queen akan jauh lebih bahagia jika nanti dia pergi."
Kening Kenan mengernyit, dia bingung dengan setiap perkataan David.
"Pergi? Queen mau pergi kemana?"
David tersenyum. "Ke tempat yang jauh dari sini."
Kenan menelan ludahnya, itu berarti dia tidak akan bertemu dengan Queen lagi.
__ADS_1
"Izinin saya bertemu Queen,"pinta Kenan yang membuat David menaikan satu alisnya.
"Percuma, dia sudah pergi terlebih dahulu kemarin. Kamu telat."David berujar dan badan Kenan langsung lemas.