
Pagi hari yang cerah dan hangat. Suasana kota masih terlihat lengang karena masih terlalu pagi.
Suara kicau burung terdengar bersahutan diatas pohon-pohon.
Sebagain orang masih berada dirumah untuk melakukan aktivitas nya.
Berbeda dengan Queen yang sudah cantik bersiap untuk mengantar kekasihnya pulang ke negaranya.
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Queen segera melajukan mobilnya kemansion milik kekasihnya dengan lancar mengingat masih terlalu pagi untuk orang berangkat bekerja.
Setelah sampai dimansion, beberapa saat kemudian Darren datang dan mereka pergi kebandara bersama-sama.
Setelah sampai mereka berdua duduk bersisian diruang tunggu bandara.
Masih sekitar sepuluh menit lagi saat Darren harus segera pergi kedalam pesawatnya.
Keluarganya telah kembali terlebih dahulu kemarin. Jadi hari ini ia hanya pulang bersama dengan asistennya saja, Jonathan.
Darren melirik pemuda yang duduk sedikit jauh darinya.
Pemuda itu adalah adik dari kekasihnya ini yang mengikutinya seperti ekor "dasar pengganggu! dia seperti lem yang selalu menempel dengan Queenku" batinnya merasa kesal, apalagi dia juga merasa iri dengannya yang bisa selalu berada disisi Queen, tidak seperti dirinya.
Jika mengingat hal itu membuat Darren merasa kesal sekali.
ehem
Darren berdehem membuat pemuda yang tak lain adalah Gerrell itu menoleh.Pemuda itu menyernyit melihat tatapan mata Darren yang seperti bisa mengulitinya. Tampak begitu menyeramkan. Darren menatap Gerrell dengan tajam , sepertinya ia merasa terganggu akan kehadirannya.
Gerrell berkata apa tanpa suara. Dia memilih bertanya saja.
"Pergi !" itulah arti dari tatapan mata Darren karena ia menggoyangkan dagunya.
Gerrell tersenyum menyeringai dan kembali menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dan bermain ponsel. Tidak masalah jika ia harus menjadi obat nyamuk, paling tidak ia bisa melihat wajah kesal Darren yang terlihat lucu sekali.
Dia memang suka sekali iseng.
__ADS_1
ehem
Gerrell kembali menoleh kearah Darren karena pria itu kembali berehem. Wajahnya semakin tidak bersahabat.
"cih.. kau pasti ingin bermesraan dengan kakakku kan? ingin mencium dan memeluk kak Queen kan? dasar pria cab*l" batin Gerrell menggerutu.
"kalau tidak pergi kesepakatan batal" ucapnya tanpa suara.
Mata Gerrell terbelalak, ia dengan spontan berdiri dari duduknya "sial.. bisanya mengancam terus! menyebalkan sekali"
"kau mau kemana Rel?" tanya Queen, ia yang sedang berbalas pesan dengan Devika menyadari jika adiknya itu berdiri dengan tiba-tiba. Dia merasa heran saat melihat wajah kakunya.
"aku ada urusan sebentar kak, aku tunggu dimobil ya?"
"urusan apa?" tanya Queen sembari menatap curiga adiknya itu.
Gerrell kembali melirik Darren, wajahnya semakin menyeramkan "sialan.. dia memang menyeramkan sekali"
"urusan urgent" pekik Gerrell lalu ia berlari keluar. Meninggalkan pasangan kekasih itu dengan hati yang dongkol.
Bahkan ia mengumpati Darren sekuat tenaga dalam hati.
"eh-"
Darren memeluknya dengan erat, menenggelamkan wajahnya diceruk leher gadisnya ini. Hal ini ingin sekali ia lakukan sedari tadi, tapi ia tahan karena masih ada adik dari Queen.
"kamu kenapa?" tanya Queen, dia membalas pelukan Darren, tangan yang satunya ia gunakan untuk mengelus rambut Darren bagian belakang.
"ayo ikut denganku~" gumam-gumam kecil tapi Queen dapat mendengarnya.
Queen menarik sudut bibirnya, dia juga sebenarnya merasa sedih berpisah dengannya "aku banyak kerjaan, bagaimana dong?"
"ck" berdecak dan semakin memeluk erat Queen. Rasanya berat sekali harus berpisah dengannya. Tapi urusannya diParis juga tidak bisa ia abaikan.
Apalagi kakeknya telah menyarankan nya untuk segera menyelesaikan urusannya dengan Black Hold.
__ADS_1
Queen terkekeh saat mendengar Darren berdecak "kemarin aku memintamu untuk tinggal tapi kami tidak mau" ucapnya terdengar meledek.
Darren mendengus kemudian melepaskan pelukannya, ia menatap manik mata cokelat gadisnya yang tampak sangat jernih dan cantik sekali. Mengusap pipi Queen dengan lembut.
"aku akan segera datang kesini jika urusanku selesai" ucapnya dengan pandangan yang sangat lembut. Ekspresi yang hanya Darren berikan untuk kekasihnya ini.
Queen mengangguk dia berdiri dari duduknya dan dengan cepat menyatukan bibirnya dengan bibir milik Darren "anggap ini sebagai ucapan perpisahan, aku akan selalu menunggumu kembali"
Darren yg awalnya terkejut, memejamkan matanya. Ia segera merespons ciuman yang diberikan oleh Queen.
Kecapan terdengar beberapa kali, mereka masih asik menautkan bibir. Sampai terdengar panggilan bahwa pesawat yang akan dinaiki oleh Darren akan take off sebentar lagi ,sehingga semua penumpang disuruh untuk segera memasuki pesawat.
Queen yang mendengar pengumuman tersebut mendorong dada bidang Darren, tapi bukannya terlepas ciuman mereka malah semakin panas.
Darren menarik Queen sampai ia terduduk di pangkuannya. Mendominasi ciuman tersebut..
Darren sangat menyukai ciuman seperti ini, rasanya manis sekali bibir Queen. Karena itulah yang selalu membuatnya merasa ingin terus menciumnya.
"hhmmpt" saat Queen hampir kehabisan nafas Darren baru mau melepaskan tautan bibir mereka.
hos hos hos
Nafas mereka tersengal-sengal, Darren menempelkan hidung mereka. Tangannya memeluk erat tubuh Queen.
Mereka saling tatap dengan pandangan yang sama yaitu pandangan penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang.
"kamu adalah milikku jadi... jangan menatap pria lain ingat!" ucap Darren dengan tegas, mengingatkan bahwa Queen hanya miliknya. Dia memang pria yang sangat posesif.
Queen mengangguk, saat merasa tidak nyaman ia menundukkan pandangannya "tuan apa kau--"
Mata Darren terbelalak saat tahu arah pandang Queen, ia dengan cepat menurunkan kekasihnya itu dari pangkuannya dan segera berdiri dan hendak berlalu.
"ingat Queen jangan pernah berdekatan dengan pria lain! atau aku akan marah!" lari secepat kilat karena merasa malu setengah mati. Wajahnya bahkan memerah sampai ketelinga.
"buahahaha" tawa Queen meledak saat menatap punggung Darren yang semakin jauh.
__ADS_1
Dia tidak menyangka jika pria itu bisa bereaksi seperti itu setelah berciuman dengan cukup panas dengannya tadi. "heh.. dasar pria mesum"
***