
Queen tersenyum sambil mengusap nisan almarhumah sang Mama. Dia berusaha untuk tidak menangis ketika mengunjungi makam karena selalu ingat ucapan Kenan tentang Namanya yang tidak akan tenang jika dia terus bersedih di sini.
"Papa nyesel ninggalin kalian waktu itu. Padahal kondisinya Mama kamu lagi gak baik-baik aja,"ucap David yang membuat Queen menatapnya.
"Gak usah di bahas lagi, Pa. Queen gak suka kalau nginget kejadian dulu,"pinta Queen sambil tersenyum tipis.
David menggigit pipi bagian dalamnya, mata yang biasanya menatap tajam semua orang itu kini menatap lembut sang buah hati yang sudah tumbuh dewasa. Dia masih merasa berdosa karena dulu sudah meninggalkan Queen juga mantan istrinya karena merasa kecewa.
"Queen, dengerin Papa dulu."
Queen mengerutkan keningnya, dia tidak suka jika sang Papa terus membahas masa lalu yang tidak baik untuk di kenang karena masa lalu itu suram.
"Aku gak akan dengerin Papa kalau masih bahas tentang yang dulu-dulu."
David menghela nafasnya, padahal dia ingin menuntaskan rasa bersalahnya yang terus menghantui. David juga ingin meminta restu kepada Queen tentang hubungan dia juga Tiara di hadapan makan mantan istrinya.
"Papa mau ngomong sesuatu yang serius sama kamu. Tolong dengerin dulu,"pinta David dan hal itu membuat Queen mengalihkan pandangannya.
"Ya udah! Aku bakal dengerin Papa kok,"ucap gadis itu yang membuat senyum David terlihat.
"Papa pengen punya pendamping hidup, apa boleh?"
Kening Queen mengernyit, mata gadis itu mengerjap lambat karena masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulu sang Papa.
"Pe–pendamping hidup?"gumam Queen sambil menatap wajah sang Papa.
"Iya, Queen. Kamu pasti tahu kan pendamping hidup yang Papa maksud itu apa,"ucap David yang membuat tenggorokan Queen serasa di cekat oleh sesuatu.
Queen mengerti apa yang di maksud pendamping hidup itu, tapi dia masih merasa tidak percaya bahwa David akan berbicara langsung dengannya seperti ini.
"Queen udah pernah bilang kan kalau Queen gak mau punya Mama baru."
__ADS_1
David menunduk sekilas, dia harus pelan-pelan bicaranya agar Queen dapat mengerti.
"Kenapa Queen gak mau punya Mama baru?"tanya David lembut.
Mata Queen menatap nisan sang Mama dengan sayu.
"Queen gak mau ada yang gantiin Mama,"jawab Queen tanpa menatap kearah David yang sudah mematung.
Anggap saja Queen egois, tapi demi apapun dia tidak mau posisi Mamanya tergantikan oleh wanita lain. Entah kenapa ada rasa tak rela saat membayangkan David menikah lagi dengan wanita lain yang bukan Mama-nya.
"Gak akan ada yang bisa gantiin posisi Mama–"
"Tapi buktinya Papa mau nyari pendamping, kan? Itu sama aja Papa mau gantiin posisi Mama,"sela Queen cepat.
David mengusap rambutnya karena berusaha sabar menghadapi Queen. Jujur saja, dia masih menganggap Yuna sebagai wanita yang berhasil membuatnya benar-benar jatuh cinta, tapi itu dulu. Sekarang dia mencintai wanita lain yang adalah sekertarisnya sendiri di kantor, dan yang tersisa sekarang hanyalah kenangan manis juga pahitnya bersama Yuna.
"Papa cinta dia, Queen. Papa tau ini kedengarannya menggelikan, but i love her."
"Tante Tiara? Sekertaris Papa itu, kan?"tanya Queen dengan nada gemetar menahan tangis.
David terdiam sejenak dan tak lama kepala pria itu mengangguk. Yang bisa Queen lakukan hanya menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, dia perlu berpikir jernih sekarang.
"Papa bener cinta banget sama dia, hm?"tanya Queen dengan kedua alis terangkat naik.
"Iya, Queen. Papa bener-bener cinta sama Tiara,"jawab David.
Kepala Queen mengangguk pelan, gadis itu menggigit bibir bawahnya dan di dalam hati dia terus mewanti-wanti dirinya sendiri agar tidak menangis.
"Queen butuh waktu buat mikir lagi."
David tersenyum tipis, dia tidak akan terlalu memaksa Queen untuk menjawab sekarang.
__ADS_1
"Oke, Papa bakal nunggu kok."
Gadis itu tersenyum. "Queen pengen pulang sekarang."
David mengangguk dan mereka akhirnya pulang setelah berpamitan dengan Yuna. Ayah dan anak itu sama sekali tidak berbicara saat dalam perjalanan pulang.
"Mampir ke Alfa dulu, Pa. Queen pengen beli makanan,"pinta Queen yang di angguki oleh David.
Akhirnya mobil yang di kendarai oleh David pun berhenti di parkiran Alfa, tanpa berlama-lama Queen langsung turun dan masuk kedalam bangunan tersebut.
Queen mengambil beberapa ciki untuknya mengemil, gadis itu juga membeli dua kotak susu berukuran sedang.
"Lo lama banget, sih! Tinggal pilih beberapa cemilan aja lama banget."
"Ya sabar dong, gue juga milik cemilan yang bener-bener gue suka."
"Gue tinggal ya kalau lima menit lagi lo belum juga selesai milih."
Kening Queen mengernyit saat mendengar ancaman si cowok, gadis itu menengokan wajahnya ke samping dan matanya membulat saat melihat Givani juga sosok cowok yang kini menatap kesal Givani.
Dia sudah lama tidak bertemu Givani dan entah kenapa rasanya malas saja jika bertemu gadis itu. Queen jadi ingat saat Kenan jujur tentang dia yang berciuman bersama Givani di Club.
Ck, masih sebel sih sebenernya.
"Sakit! Gak usah pakek cubit gitu bisa gak, sih?"
Mata Queen mengerjap saat melihat bahwa si cowok yang bersama Givani itu mencubit lengan putih Givani. Kenapa cowok itu terlihat sangat kasar?
"Ya abis lo lama, bangsat! Gue ada kumpul sama anak-anak,"bentak cowok tersebut dengan intonasi pelan.
Givani hanya bisa mengelus lengannya dan memilih acak camilan lalu meninggalkan si cowok untuk membayar ke kasir. Untungnya dia maupun si cowok tidak menyadari kehadiran Queen yang memperhatikan mereka sedari tadi.
__ADS_1
"Cowoknya kok kasar gitu, sih? Ih, serem banget." Queen bergumam pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.