QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
41. Berdamai


__ADS_3

Queen terus mencengkram tali tas sekolahnya, bibirnya dia gigit di balik helm yang kacanya dia tutup. Saat ini Queen sedang berada di perjalanan bersama Rere, mereka akan pergi ke danau dekat rumah David yang dulu. Lokasinya ada di pinggiran kota.


Kenan tidak tahu bahwa saat ini Queen sedang ingin menemui Papanya, cowok itu sedang ada urusan dengan teman-temannya. Dan sepertinya Queen akan memberitahukan hal ini nanti pada Kenan.


Setelah satu jam di perjalanan karena macet akhirnya motor matic Rere berhenti di lahan kosong yang berada di sekitaran danau. Kedua gadis itu turun dengan perasaan yang berbeda. Rere yang penasaran akan sosok Papa Queen dan Queen yang merasa jantungnya berdetak karuan dan rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya karena akan bertemu dengan sosok yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa dengannya.


"Ayo Queen kita cari Papa lo,"ajak Rere lembut.


Rere tahu dan mengerti perasaan yang tengah di rasakan oleh Queen.


Queen menarik nafasnya lalu mengangguk, mereka berdua berjalan beriringan memasuki jalan yang di penuhi oleh pohon-pohon itu. Selama di perjalanan entah kenapa kenangan-kenangan buruk dan manis bersama Mama dan Papanya terus berputaran di pikiran Queen. Mata Queen berkaca-kaca ketika melihat punggung tegap seorang pria yang terlihat dari jarak lumayan jauh ini.


"Kuatin hati lo Queen, selesain semuanya biar hidup lo tenang dan pastinya Mama lo akan seneng di sana karena liat anaknya mau ketemu sama Papanya lagi,"kata Rere sambil menuntun Queen agar berjalan lebih dekat ke arah pria yang berdiri menghadap ke arah danau buatan tersebut.


Mata Queen tak lepas dari sosok punggung tegap berbalutkan jas yang terlihat mahal tersebut. Sedangkan Rere, dia sudah menatap satu persatu pria berbadan tegap yang memakai pakaian seragam hitam tengah berdiri berjajar si samping kanan dan kiri mereka. Mata Rere juga bisa melihat ada satu pria tampan yang memakai kemeja putih tengah tersenyum menatapnya dan Queen.


"Tuan, Nona Queen sudah datang,"ucap Pria berkemeja putih tersebut.


Perlahan sosok yang sedari tadi memunggungi mereka berbalik, dan mata Rere sedikit terbalalak kala melihat wajah Papa Queen. Tampan, itu yang ada di pikiran Queen saat melihat wajah David.


Sedangkan Queen? Gadis itu sudah menangis, isakannya terdengar memilukan hati. Itu Papanya, yang saat ini berada di hadapannya adalah Papanya yang sudah lama menghilang.


David terdiam, matanya tak lepas dari sosok putri satu-satunya yang sudah menjelma menjadi sosok gadis cantik. Dulu gadis itu selalu tersenyum ceria kala melihatnya yang baru pulang dari kantor, dulu gadis itu selalu memeluk dan menciumnya ketika sedang menginginkan sesuatu. Tapi David sadar, itu hanya dulu!


"Queen Lavinda. Anak Papa,"ucapnya tegas namun tersirat nada kerinduan yang teramat dalam.


Queen masih menangis, dadanya sesak ketika mendengar suara tegas yang sangat di rindukannya itu. Matanya tak lepas dari wajah Papanya yang sudah di hiasi beberapa kerutan di beberapa bagian wajahnya namun itu malah semakin membuat wajah Papanya terlihat tampan.


Queen ingin berlari ke arah Papanya, dia ingin memeluk tubuh tegap itu dengan erat dan menciumi pipi Papanya seperti dulu lagi. Tapi sepertinya kaki Queen terkena lem perekat yang kuat, buktinya kaki gadis itu tidak bisa di gerakan untuk berlari ke arah Papanya.


Amarah, rindu, kecewa semuanya sedang berkecamuk di hatinya. Queen akui dia sangat amat merindukan Papanya tapi Queen juga mengakui bahwa... rasa kecewa juga sangat amat terasa ketika mengingat bahwa Papanya seperti tidak merindukan Queen selama ini. Buktinya Papanya tidak pernah menemui Queen kan?


David tersenyum tipis, dia berjalan ke hadapan anaknya dan memeluk tubuh itu dengan erat. Tangisan Queen bertambah pecah saat Papanya memeluk Queen.


"Papa merindukan kamu Nak."


"Bohong!!!"seru Queen sambil mendorong tubuh Papanya hingga pelukan David terlepas.


Nafas Queen memburu dan dada gadis itu naik turun dengan cepat. David hanya terdiam ketika melihat amarah anaknya, dia siap menerima amarah dan rasa kecewa Queen.


"Papa bohong sama Queen! Merindukan Queen? Apa yang Papa maksud dengan merindukan Queen, huh!? Bahkan selama delapan tahun ini Papa kemana!? PAPA KEMANA HUH!?"

__ADS_1


Rere merasakan bahwa air matanya ikut keluar ketika melihat Queen yang menyerukan keluh kesahnya kepada sosok Papanya. Rere tidak pernah melihat Queen yang seperti ini.


Sementara David, pria itu hanya diam sambil menatap Queen. Dia akui bahwa selama delapan tahun ini dia mengabaikan anaknya. David hanya memberikan uang untuk keperluan Queen tanpa memberikan kasih sayang yang nyata pada anaknya itu.


"Kemana Papa waktu Queen lagi kangen sama Papa? Kemana Papa waktu Queen di cemooh sama temen-temen sekolah karena gak punya Papa? Kemana Papa waktu Queen dan Mama terpuruk karena perilaku Om Amar yang seenaknya dan suka nyakitin Mama? Kemana Papa waktu Mama ngerintih kesakitan setiap malam karena selalu di pukul sama Om Amar? Hiks hiks lalu kemana Papa saat Queen ketakutan karena Om Amar dan Mama yang selalu berantem setiap malamnya? DAN KEMANA PAPA WAKTU MAMA MENINGGAL!? PAPA... PAPA SAMA SEKALI GAK ADA DI SAAT-SAAT QUEEN DAN MAMA BUTUH PAPAH! PAPAH BAHKAN GAK NAMPAKIN DIRI SAAT QUEEN HARUS NGERASAIN SENDIRI SEDIHNYA DI TINGGAL MAMA!"


Queen menjatuhkan tubuh lemahnya hingga duduk di tanah, tangisnya masih pecah ketika mengingat wajah kesakitan Yuna yang di sakiti oleh Amar, bagaimana mata Yuna yang menatap Queen dengan lembut sebelum mata itu tertutup untuk selama-lamanya.


"Di saat-saat Queen ngerasa sendirian di dunia ini Papa gak ada di samping Queen hiks hiks, Papa gak pernah tau gimana sakitnya Queen ketika harus nanggung semuanya sendirian, gimana capeknya Queen karena ngadapin masalah yang terus datang ke kehidupan Queen,"lirihnya sambil menatap tanah.


David merasakan bahwa matanya berkaca-kaca, pria itu memijat pangkal hidungnya lalu berjongkok di hadapan putrinya yang masih menangis.


Hatinya tertohok kala mendengar keluh kesah Queen, ada perasaan marah kepada dirinya sendiri ketika melihat betapa hancurnya putri semata wayangnya karena ulah bodohnya sendiri yang pergi beberapa tahun silam.


"Papa bodoh Queen, Papa tahu Papa bodoh karena sudah meninggalkan kamu dan Mama kamu yang saat itu sedang sangat butuh sosok Papa. Papa harus bagaimana Queen agar kamu bisa memaafkan kebodohan dan kesalahan fatal Papa, huh?"tanya David sambil berusaha menghapus air mata anaknya namun Queen malah menepis lengannya.


Mata anaknya yang mirip dengan Yura menusuk mata David, amarah masih terlihat disana.


"Pukul Papa, tampar Papa atau apa terserah kamu. Asal itu bisa membuat kamu bisa melampiaskan amarah kamu sepuasnya, agar kamu bisa memaafkan Papa. Ayo Queen, lakukan apa yang kamu mau jika itu bisa membuat kamu memaafkan Papa dan memberi kesempatan kedua untuk Papa agar bisa membangun semuanya dari awal bersama kamu!"ucap Papanya sambil memegang lengan Queen dan memukul-mukulkannya pada dada pria itu.


Queen menangis, kepalanya menggeleng pelan. Dia tidak bisa melakukan itu semua, dia tidak bisa menyakiti David. Gadis itu menatap mata Papanya, disana hanya ada penyesalan.


"Queen gak bisa, Pa! Queen gak bisa nyakitin Papa!"seru gadis itu sambil berhamburan ke pelukan David.


Rere dan yang lainnya tersenyum senang melihat Queen dan David berpelukan. Mereka ikut senang karena melihat akrabnya hubungan Queen dan David lagi.


"Ratu kecilnya Papa sudah besar sekarang,"bisik David sambil mengecup puncak kepala Queen dengan sayang.


Queen mengangguk dalam dekapan David, gadis itu tersenyum senang sambil menangis bahagia kala merasakan tangan besar David mengelus-ngelus kepalanya dengan sayang.


"Iya Pa, Queen Ratunya Papa dan Mama yang udah tenang di alam sana."


...||||...


Setelah acara di danau itu malamnya Queen, David, Rere dan pria berkemeja bernama Gleen pun tengah berada di restoran mahal. David yang mengajak mereka kesini, pria itu ingin makan malam bersama.


Sebenarnya Queen dan Rere merasa malu kepada para pengunjung yang memakai pakaian rapih dan mahal, sedangkan mereka? Bahkan Queen masih memakai seragam sekolahnya dan Rere hanya memakai celana berbahan kain panjang di balut kemeja berwarna biru tuanya. Berbeda sekali dengan penampilan David dan Gleen.


"Aku senang banget bisa ketemu Adek manis ini secara langsung,"ucap Gleen memulai pembicaraan ketika mereka baru saja duduk di meja yang sudah di pesan oleh orang suruhan David.


Queen tersenyum simpul, dia juga senang bertemu dengan Gleen. Pria itu nampaknya sangat baik dan gampang berbaur, buktinya Gleen sudah bertukar nomber ponsel dengan Queen dan Rere dan mereka akan jalan-jalan lain kali.

__ADS_1


"Queen juga seneng bisa ketemu sama Kak Gleen,"balas Queen senang.


"Ngomong-ngomong bagaimana sekolah kamu Queen? Tidak ada yang masalah kan? Bila ada yang mengganggu kamu atau membuat kamu tidak nyaman, bilang sama Papa oke?"tanya David tegas.


Bibir Queen membentuk sebuah senyuman. Ini yang dia rindukan, Papanya bersikap siaga seperti ini.


"Iya Pa, Queen bakal bilang sama Papa kalau misalnya ada yang ganggu Queen di sekolah."


Rere diam-diam menatap keakraban sepasang Ayah dan Anaknya itu. Dia jadi merindukan keluarganya yang sudah tidak ada, dalam hatinya dia meringis kala tahu bahwa jikalau keluarganya masih ada pasti suasananya tidak akan harmonis seperti bagaimana David dan Queen lagi.


Queen menatap Rere, keningnya mengerut ketika melihat Rere yang menundukan kepalanya. Dan sepertinya dia tahu apa yang menyebabkan Rere murung seperti ini.


"Rere,"panggil David yang membuat Rere tersentak kaget dan mendongakan kepalanya guna bisa melihat David.


"I-iya Om, ada apa?"


David tersenyum tipis. Dia tahu siapa sosok Rere dan bagaimana latar belakangnya. Dia tidak akan menyuruh Queen untuk menjauhi Rere, justru dia akan sangat berterima kasih karena kebaikan Rere yang telah menjaga Queen dan menampung anaknya di kontrakannya tersebut.


"Kamu bisa memanggil saya Papa, anggap saja saya ini adalah Papa kamu."


Mata Rere terbalalak, rasa hangat menjalar di hatinya kala melihat senyum menenangkan David yang ke Ayahan. Tanpa bisa di cegah air mata lolos dari kedua matanya dan mengalir di kedua pipinya.


"Ma-maksud Om eh Pa-Papa gimana ya?"tanya Rere bingung.


David tersenyum, dia mengelus puncak kepala Rere dan membawa Rere kepelukannya dengan sayang. Pria itu memperlakukan Rere sama seperti dia yang memperlakukan Queen jika gadis itu menangis.


"Mulai sekarang Papa akan menganggap kamu adalah anak Papa sendiri, Nak. Papa akan menganggap kamu adalah Kakak Queen,"jawabnya yang membuat Rere terbalalak tak percaya dan Queen yang tersenyum senang.


"Ta-tapi Rere merasa gak pa-pantas Pa, Rere adalah seorang ja–"


"Sutt! Jangan di lanjutkan. Kamu anak baik-baik, kamu bahkan sudah menganggap Queen seperti Adik kamu sendiri bukan? Begitu pun sebaliknya. Papa akan mengurus surat pengangkatan kamu agar menjadi bagian dari keluarga Papa,"potong David yang membuat Rere tambah terisak lalu memeluk tubuh tegap David dengan erat.


"Queen juga pengen ikut pelukan!"rengek Queen yang membuat semua orang tertawa.


David pun memeluk Queen, dia merasa memiliki dua putri sekarang. Satu Rere yang berada di sebelah kirinya dan Queen yang berada di sebalah kanannya. Pria itu mengecup bergantian puncuk kepala Rere dan Queen dengan sayang.


"Gleen juga mau ikut pelukan dong biar tambah mesra."


"Diam Gleen!"


...||||...

__ADS_1


Done, masalah soal Papa David sama Queen selesai. Yey!🎉


__ADS_2