
Gedubrak
"tuaaan!" pekik Arlendra saat melihat tubuh Bastian ambruk kebawah. Pria paruh baya itu terkapar dilantai. Arlendra mendekati Bastian dengan wajah paniknya.
"tuan.. tuan ..." ujarnya sembari menepuk wajah Bastian yang masih terlihat terkejut. "anda sadar tidak tuan? ini berapa?" tanya Arlendra lagi sembari mengacungkan dua jarinya didepan wajah Bastian.
"pfftt--" Queen yang melihat hal itu melipat mulutnya kedalam. Dia terhibur sekali.
Bastian yang tadi berpandangan kosong mulai menggelengkan kepala nya beberapa kali.
"tuan.."
Bastian menampik tangan Arlendra lalu menatap wajah Arlendra "kyaaa... Arlen.. hampir saja nyawaku terbang" pekiknya dengan kencang lalu menarik tubuh kekar rekannya itu. Memeluknya dengan erat.
"tuan.. jangan memelukku!" ujar Arlendra sembari mendorong tubuh Bastian. Wajahnya terlihat jijik sekali.
"hahahaha" tawa Queen pada akhirnya pecah, dia sampai memegang perutnya. Benar-benar menggelikan. Queen benar-benar tidak berniat melukai uncle Bastian. Ia hanya kesal saat mengetahui ada seseorang yang menguping pembicaraan nya. Jadi, ia melakukan hal itu.
"aw aw aw" pekik Queen tiba-tiba saat merasa telinganya ditarik oleh seseorang. Terasa sakit sekali. Bahkan tawanya terhenti seketika.
Queen melirik kesamping, ia terkesiap saat melihat wajah geram dari orang yang tengah menjewer telinganya "aduh.. ampun uncle"
"tidak ada ampun untuk gadis bandel seperti mu! kau mau membuat uncle mati terkejut hah?"
"tidak uncle.. itu hanya insting ku yang bekerja terlalu bagus saat menyadari ada seseorang yang mengintai." ucapnya beralasan, wajahnya menyernyit kesakitan.
"jangan membodohi uncle! kau tahu kan jika itu uncle?! kalau kau hanya mengikuti naluri mu saja bisa saja tadi uncle sudah meregang nyawa!"
Queen memegang tangan Bastian yang masih menarik telinganya "ampuni aku uncle.." ucapnya memelas.
"tidak ada ampun untuk gadis berandal seperti dirimu ini. Ayo ikut uncle, uncle membutuhkan monyet percobaan di laboratorium"
Mata Queen terbelalak "aku itu sangat cantik, kenapa uncle menyamakan aku dengan monyet? uncle keterlaluan sekali"
"jangan banyak bicara! ayo ikut aku sekarang!" ucap Bastian sembari berjalan pergi dari rooftop. Jangan lupakan tangan yang masih ia gunakan untuk menarik telinga Queen agar gadis itu mengikutinya.
Arlendra hanya geleng kepala melihat kedua orang yang pergi meninggalkannya sendiri. Mereka berdua melupakannya begitu saja. "aih.. mereka selalu seperti itu kalau bertemu" gumamnya sembari ia berjalan menuju kursi yang tadi ia gunakan untuk duduk.
Arlendra akan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Queen.
*
*
Sedangkan keesokan harinya, disuatu negara lain. Seorang pemuda dengan setelan serba hitam tengah duduk diatas kursi kebesarannya. Ia menyilangkan kaki dan menatap seseorang yang duduk bersimpuh dilantai.
Wajahnya yang tegas dan dingin membuat orang yang ada dibawahnya gemetar ketakutan. Dia membisu. Bahkan kata-kata sanggahan atau alasan tidak bisa ia ucapkan saat merasa aura pria yang tengah duduk dengan angkuh itu begitu dominan dan mengerikan. Ia tidak bisa berkutik.
Pria yang tak lain adalah Darren itu membuka kacamata hitam yang bertengger diatas hidung mancungnya. Mata tajamnya menatap penuh cemooh pria yang hanya diam saja.
__ADS_1
Sungguh aura kuat yang Darren keluarkan membuat ruangan yang cukup luas itu terasa menyesakan. Hanya untuk mengambil nafas saja semua orang merasa kesulitan.
"tuan"
Darren menoleh kesumber suara "hmm?"
gluk
Pria itu menelan ludah saat matanya bertemu pandang dengan pria yang ia ketahui adalah pemimpin baru dari organisasi yang ia ikuti sejak beberapa tahun yang lalu itu.
Dia adalah tangan kanan tuan Keith sebelum ia memilih untuk pensiun. Dia adalah salah satu orang yang setia dan karena hal itulah Darren mempercayakan semuanya pada pria ini.
"kenapa aura anda begitu mengerikan seperti ini? rasanya dua kali lipat saat aku berhadapan dengan tuan Keith. aku sampai gemetar seperti ini" batinnya berucap, ia melirik sekilas pria yang masih duduk dilantai. Lalu ia kembali menatap Darren tapi dengan cepat ia menunduk "bisakah anda menurunkan aura anda tuan? aku merasa hampir kehabisan oksigen"
"ehem" Darren kembali berdehem agar pria yang ia ketahui bernama Kristoffer itu melanjutkan ucapannya.
"ehem.. dia adalah penghianat yang berhasil saya tangkap. Dia berperan penting untuk membocorkan informasi mengenai kita tuan" ujarnya dengan tegas. Mencoba menahan ketakutannya.
"apa dia salah satu orang kita?"
"benar"
"sudah berapa lama dia disini?" tanya Darren sembari menatap pria yang masih menunduk takut itu.
"sekitar satu tahun"
"benar tuan, dia salah satu informan yang membocorkan keberangkatan anda kemarin"
"tidak tuan.. saya dijebak"
dug
"ahhhkk--" pekik pria itu saat dadanya ditendang oleh Darren, ia tersungkur.
"apa aku menyuruhmu berbicara?!" tanya Darren sembari menatap tajam pria itu.
"uhuk.uhuk.. ma-maaf tuan"
Kristoffer menoleh kearah pria yang ia ketahui adalah seorang penghianat itu, terlihat ia tengah menahan dadanya yang terasa sakit. Karena tendangan yang dilakukan oleh Darren sangat kencang, ia sampai batuk darah seperti itu.
Darren berdiri dari duduknya, ia mendekati pria yang sedang kesakitan itu "kau dijebak?" tanya Darren, ia menarik kerah baju pria tersebut.
Pria itu mengangguk.
"siapa yang menjebak dirimu?" tanya Darren dengan suara rendahnya.
Pria itu melirik Kristoffer.
"kau menuduhku?! dasar breng-sek kau!" pekik Kristoffer tidak terima. Saat ia hendak mendekati pria itu Darren menahan dengan mengangkat tangan agar dia berhenti.
__ADS_1
Kristoffer hanya bisa menggeram kesal karena tidak bisa melampiaskan kekesalannya "awas kau nanti!"
"kau menuduh tangan kananku? kau bercanda ya?"
Pria itu menggeleng "tidak tuan.. dialah yang berkhianat. Sungguh.."
"hahahaha.." tawa Darren pecah, tapi justru itu membuat pria itu bertambah takut. "kau pikir aku bodoh?!" ucapnya setelah ia berhenti tertawa, dia kembali menatap pria itu dengan tajam.
"tidak tuan. Saya tidak berani"
"cih.. kau membuatku muak!" ucap Darren, lalu ia menarik rambut pria itu kemudian membenturkan keningnya kelantai.
dug dug dug
"ahhhkk--" pekiknya menggema, pria itu benar-benar kesakitan.
"itu adalah balasan karena kau telah memfitnah orangku!" ucap Darren sembari menggeram, dia melepaskan rambut pria itu saat merasa jika ia telah pingsan.
"tahan dia baik-baik! periksa semua yang berhubungan dengan dia!" ucap Darren, dia menerima kain yang diberikan oleh Kristoffer untuk mengelap tangannya. Kemudian ia kembali duduk di kursi.
"baik tuan" Kristoffer mengangguk. Dia melirik pria yang bersumpah darah itu "tuan sangat mengerikan.." batinnya saat melihat kondisi pria itu yang mengenaskan.
"bawa dia pergi! wajahnya membuatku benar-benar muak!"
"baik tuan" Kristoffer mengkode anak buahnya melalui lirikan mata. Kedua anak buahnya yang paham langsung membawa pria yang terlihat lemah itu keluar dari ruangan tersebut.
"buat dia berbicara! kalau tidak mendapatkan informasi darinya bunuh saja!" ujar Darren santai, dia tahu sekali jika pria itu adalah salah satu pasukan berani mati. Walau ia paksa sampai membuatnya sekarat ia juga tidak akan membocorkan apa yang ia ketahui.
"baik tuan.."
Darren berdiri dari duduknya, ia menatap sekeliling. Ini adalah ruangan yang digunakan untuk introgasi, meski cukup luas tapi disana suasananya sangat mengerikan.
Pria itu berjalan kearah pintu keluar. Darren memilih untuk pulang karena tadi ia langsung kemarkas saat baru sampai dinegaranya ini.
Kristoffer mengikuti langkah kaki Darren, dia dengan sigap mengikuti kemanapun tuannya ini pergi "kau intai gerak-gerik baji-ngan itu!"
"baik tuan.. akhir-akhir ini dia sedang berusaha mencari bekingan dari kelompok sebelah tuan"
"biarkan saja! mereka hanya kelompok kecil, bukan lawan yang sepadan dengan kita"
Kristoffer mengangguk, memang benar apa yang Darren ucapkan.
"aku akan pulang, kau tetaplah disini"
Pria itu mengangguk dan saat diluar, Kristoffer membukakan pintu untuk Darren "hati-hati tuan"
Darren hanya diam, dia segera membawa mobilnya pergi dari kawasan markas tersebut.
"pantas saja tuan Keith mempercayakan kelompok ini pada tuan Darren. Dia memiliki ketegasan dan aura yang sangat kuat. Dan dia sepertinya lebih kejam jika dibandingkan dengan tuan Keith" gumam Kristoffer sembari melihat mobil yang semakin menjauh.
__ADS_1