QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
27. Tidak akan menyerah


__ADS_3

Kenan merasa ada yang tidak beres dengan gadisnya. Siapa lagi jika bukan Queen? Gadis itu sudah dari seminggu ini terlihat sangat pendiam, beberapa kali juga Kenan memergoki Queen yang sedang melamun. Queen juga tidak banyak bicara. Kenan berfikir mungkin Queen masih kesal dengan obrolannya bersama Verrel di balkon Apartmen milik Kenan seminggu yang lalu.


Cowok itu sudah berusaha bertanya tapi tidak ada jawaban apa pun dari Queen. Gadis itu juga seperti enggan untuk berlama-lama bersama Kenan, dia selalu menyibukan dirinya sendiri dengan latihan vokal untuk nanti perfom acara hari Ibu di sekolah.


"Ingin ku dekat, dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu."


Suara manis itu terasa mengalun indah memenuhi kamar yang di tempati Queen di Apartmen milik Kenan ini. Iya! Kedua insan itu memilih tinggal di Apartmen ketimbang di rumah besar milik keluarga Badesta. Ini keinginan Queen, gadis itu tidak ingin merepotkan Kania serta Bagas. Dia juga tidak enak sebenarnya tinggal di rumah orang lain.


"Suaranya udah pas belum ya?"


Queen terus bergumam sambil melihat langit-langit kamarnya. Gadis itu takut suaranya kurang pas atau bahkan kurang untuk menyanyikan lagu Ibu yang di nyanyikan oleh Iwan Fals. Sebenarnya ada rasa sedih ketika harus menyanyikan lagu ini, apalagi pas saat reff. Gadis itu seolah-olah terbawa untuk flashback ke masa lalu dimana Yuna masih ada, bagaimana Yuna yang selalu memangku Queen kecil dan menghapus air mata Queen serta membujuknya agar tidak menangis karena David yang belum juga pulang dari luar kota karena urusan pekerjaan.


"Kenapa nangis?"


Queen tersentak kaget, gadis itu terdiam saat kedua ibu jari milik Kenan menghapus air mata yang entah sejak kapan mengalir di kedua pipi Queen. Gadis itu sibuk mengingat masa lalunya sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Kenan masuk ke kamarnya.


"Gak papa,"jawabnya lirih.


Kenan terdiam, dia menatap wajah muram Queen yang terlihat sangat sedih. Cowok itu menghempaskan bokongnya di kasur milik Queen, dia mengusap rambut Queen dengan lembut.


"Jangan nangis Queen,"gumam Kenan pelan namun masih bisa di dengar oleh telinga Queen.


Bukannya berhenti menangis, gadis itu malah semakin terisak. Di kepala Queen sedang ada banyak pikiran yang membuat gadis itu pusing memikirkannya. Dia rindu Mamanya, dia juga masih shock saat ada panggilan dari nomber tidak di kenal seminggu yang lalu. Bukan nomber tidak di kenalnya yang membuat Queen kepikiran, tapi suara penelpon itu yang membuatnya kepikiran. Suara berat itu jelas milik Papanya yang sudah lama menghilang.


"Ak-aku hiks... Ken, aku ka-kangen Mama."


Kenan hanya bungkam, cowok itu hanya diam sambil menatap wajah sedih gadisnya dari samping. Kenan juga hanya diam ketika tangan kirinya di remas kuat oleh Queen, dan dari situ dia tahu sebagaimana rindunya Queen kepada Yuna.


"Doain Mama kamu, Queen. Bukannya nangis dan bikin Mama kamu sedih di sana,"ucap Kenan pelan dan lembut.


Isak tangis Queen perlahan menghilang, mata basahnya menatap Kenan yang juga menatapnya dengan pandangan menguatkan.


Ucapan Kenan seolah memukul tepat di hati Queen. Yang di ucapkan cowok itu memang benar, harusnya Queen mendoakan Yuna di sana. Harusnya Queen menjadi gadis kuat seperti Yuna ketika di tinggal oleh David.


...||||...


Gadis itu terpaku menatap jalanan Bandung yang malam hari ini lenggang dengan aspal yang basah lewat jendela Cafe. Gadis itu sedang merenungi hatinya yang tiba-tiba saja menggila setiap berada di dekat sosok cowok yang sebelumnya tidak pernah ada di pikiran cantiknya.


"Punten Teh ini pesanannya,"ujar pelayan wanita yang bekerja di Cafe daerah Braga itu sambil meletakan satu cangkir coffe hangat di meja.


Gadis itu hanya menatap sekilas sambil mengangguk. Tatapannya kembali lagi pada jendela saat pelayan itu berlalu. Dia mengabaikan tatapan para cowok-cowok remaja di sekitarnya yang dengan terang-terangan menatap ke arahnya.

__ADS_1


Dia sadar dia cantik, dia menarik dan dia mampu mendapatkan laki-laki dengan hanya menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman indah. Gadis itu mampu membuat semua cowok bertekuk lutut karenanya, dia mampu membuat semua cowok terobsesi padanya. Tapi dia juga tahu bahwa ada satu cowok yang akan sangat susah berpaling dari kekasihnya.


"Stop it, Giv. Jangan mikirin dia terus,"gumam gadis itu sambil menghembuskan nafasnya kasar.


Gadis itu Givani. Givani Nayana Radexa, gadis cantik yang di inginkan banyak pria karena parasnya juga karena hartanya. Givani adalah anak dari pengusaha perhiasan sukses, dia juga di kenal karena nama marganya yang banyak di kenal orang. Radexa, keluarga kaya raya yang mampu membeli semuanya dengan uang.


Saat ini Givani lebih memilih menyendiri terlebih dahulu karena pikirannya sedang memusingkan gadis itu. Dia bahkan menolak ajakan Dea, Andra, Tegar dan Verrel yang mengajaknya untuk menonton festival musik. Padahal akan seru, apalagi ini malam sabtu.


"Givani!"


Kepala gadis itu mendongak, matanya sedikit membulat saat melihat seseorang yang baru saja menyapanya. Sosok cowok tampan yang memakai pakaian keren itu tengah tersenyum manis ke arahnya dengan segelas minuman di tangan kirinya serta piring di tangan kanannya.


"Kak Liam! Tumben kita bisa ketemu di luar sekolah gini, ya?"


Liam tersenyum ramah, cowok itu meletakan pesanannya di meja yang di tempati Givani. Tanpa di persilahkan cowok itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Givani.


"Gak keberatan kan gue duduk di sini?"tanyanya sambil menaikan satu alis.


"Gak lah, Kak! Gue senang malah, jadi ada temen ngobrol."


Liam tersenyum simpul, cowok itu segera meminum minumannya dengan pelan. Matanya tak lepas dari sosok gadis cantik di hadapannya. Padahal Givani ini memang cantik, tapi kenapa dia malah kepincut dengan Queen?


"Kenapa Kak? Ada yang aneh sama gue?"tanya Givani yang merasa risih ketika Kakak kelasnya terus menatap dia dengan intens.


"Lo cantik Giv, tapi kenapa gue gak tertarik ya?"


Kening Givani mengernyit. Telinganya tidak salah dengarkan? Cowok tampan favorit gadis-gadis di sekolah Garuda ini tidak tertarik padanya?


"Gak tau, kenapa emang?"tanya Givani penasaran.


Liam mengedikan bahunya, bibir bawah cowok itu juga di tarik ke bawah.


"Gue tertariknya sama temen lo."


"Dea?"


"No! Dia bahkan gak masuk ke dalam kriteria cewek yang gue pengen."


Kening Givani masih mengerut, tak lama matanya membulat kaget dan bibirnya sedikit terbuka. Teman yang benar-benar temannya itu hanya ada dua. Kalau bukan Dea berarti... Queen!?


"Maksud Kakak... Q-Queen?"tanya Givani pelan.

__ADS_1


Tanpa di sangka kepala Liam mengangguk, bahkan cowok itu mengembangkan senyumnya ketika mendengar nama gadis itu.


"Serius Kak?"tanya Givani tak percaya.


"Gak percaya?"


Kepala Givani menggeleng kuat. Memang sih selama ini Liam selalu perhatian kepada Queen, setiap ekskul cowok itu juga selalu mengajak Queen mengobrol. Dan kenapa Givani tidak menyadari hal itu?


"T-tapi... Kakak tau kan kalau Queen itu udah punya Kenan?"


"Gue tau!"


"Lo tau kan apa yang bakal Kenan lakuin kalau tau pacarnya ada yang suka bahkan kalau sampai ada yang ganggu Queen?"


Liam mengangguk, bibirnya tersenyum sinis dengan pandangan menerawang pada kejadian dimana dia bisa di rawat di Rumah Sakit karena tulangnya ada yang patah.


"Ngabisin orang itu yang berani ganggu bahkan niat rebut pacarnya. Dan gue pernah hampir mati karena tu cowok ******* satu."


Mata Givani terbelalak lagi, maksud dari ucapan Liam apa? Apa Liam pernah di hajar oleh Kenan?


"Maksudnya?"


Mata Liam menatap mata Queen dengan intens.


"Lo tau penyebab gue masuk Rumah Sakit karena ulah siapa?"


"U-ulah begal kan, Kak?"


Liam tertawa sinis, cowok itu membuang mukanya. Begal dari mana?


"Bukan, Giv. Gue masuk RS dan di rawat di sana itu karena Kenan! Cowok brengsek itu ngehajar gue habis-habisan karena berani bawa Queen jalan-jalan malam itu. Cowok itu hampir bikin gue mati di sisi jalan kalau aja gak ada pengendara yang nemuin gue lagi sekarat,"paparnya geram.


Kaget? jelas. Apa sekejam itu Kenan jika sosok yang di cintainya di ganggu oleh orang lain? Apa sebegitu cinta dan sayangnya dia pada Queen?


"Dan lo... lo bakal nyerah pastinya buat ngedapetin Queen, kan?"tanya Givani ragu.


Liam menaikan satu alisnya, cowok itu menatap Givani dengan pandangan tidak suka.


"Nyerah buat dapetin Queen gak ada dalam kamus gue, Giv. Gue gak akan nyerah sebelum ngedapetin cewek yang bikin hati gue tenang saat ngeliat senyumnya. Gue gak akan nyerah meskipun nanti harus berhadapan sama Kenan, lagi."


...||||...

__ADS_1


Keras kepala banget ya Bapak Liam wkwk.


Btw, kira-kira Givani mikirin siapa ya?🌝


__ADS_2