QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
70. Ingin Queen


__ADS_3

Setelah bertemu Queen, Keenan jadi sering diam bahkan mengacuhkan Nanda yang heran sendiri dengan sikap suaminya.


Rasanya dunia Keenan sekarang dipenuhi dengan Queen yang justru sudah abai terhadap Keenan. Rasa ingin memiliki gadis itu semakin menggebu-gebu, padahal di sisi lain ia sudah mempunyai Nanda dan anak-anak.


Sebuah tangan melingkari leher Keenan, di susul dengan kecupan ringan yang Nanda berikan ke leher Keenan.


"Hari ini kamu capek banget ya?" tanya Nanda tepat ditelinga suaminya.


"Gak."


Bibir Nanda mengerucut. "Terus kenapa cuekin aku?"


Keenan menghela napas. Dia melepaskan kedua tangan Nanda yang berada dilehernya lalu setelah itu Keenan berdiri, meninggalkan Nanda sendirian yang kini termenung.


Tadinya Nanda sudah berpikir positif kalau Keenan hanya kecapekan, jadinya lelaki itu mengabaikan Nanda.


"Kamu mau ke mana?"


Keenan tidak menjawab Nanda, dia malah pergi keluar kamar setelah memakai jaketnya. Tujuannya saat ini adalah ke rumah orang tua Queen, sudah lama juga ia tidak ke sana.


Semoga saja Queen mau diajak berbicara.


"Keenan, ini udah malam loh." Nanda berkata sembari mengikuti Keenan dari belakang.


"Aku ada urusan! Jangan bawel bisa gak, sih?" ketus Keenan yang membuat Nanda bungkam.


Mau tak mau Nanda membiarkan Keenan pergi menaiki mobilnya. Dalam hati Nanda bertanya-tanya tentang sikap Keenan yang menjadi seperti ini kepadanya.


Tidak biasanya Keenan dingin bahkan berbicara dengan nada tinggi kepada Nanda.


••••


Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya mobil Keenan sudah terparkir di halaman depan rumah David.


Sebelum turun terlebih dahulu Keenan mengatur napasnya, dia merasa gugup karena sudah lama tidak ke sini.

__ADS_1


"Lo harus tenang," bisiknya kepada diri sendiri.


Setelah meyakinkan dirinya, Keenan pun keluar dari mobil. Matanya menyapu rumah besar bak istana yang kini ada didepan matanya.


Semoga saja orang yang ia temui, mau menemuinya juga.


Keenan mulai berjalan untuk sampai didepan pintu, dia menekan bel terlebih dahulu agar ada yang membukakan pintu untuknya.


"Malam, ada yang bisa dibantu?"


Kepala Keenan yang semula menunduk jadi terangkat, dia bisa melihat seorang ART di sini sedang menatapnya dengan formal.


"Saya mau bertemu Queen," ucap Keenan. Nada suaranya sangat pelan ketika mengucapkan nama orang yang ia cintai.


"Nona Queen sudah tidak tinggal di sini lagi."


"Lalu dia tinggal di mana sekarang?"


ART itu membungkukkan badannya sedikit. "Mohon maaf, tapi saya tidak bisa memberitahukan hal privasi itu kepada Mas."


Keenan berdecak, dia mengerang kesal dan menatap ART itu dengan mata tajamnya.


Kepala ART itu menggeleng. Dia tidak akan memberitahukan alamat tempat Queen tinggal sekarang karena itu permintaan dari Queen.


"Mohon maaf sekali lagi," katanya yang membuat Keenan emosi.


Akhirnya lelaki itu balik badan dan berjalan untuk kembali ke mobilnya. Sia-sia dia ke sini jika Queen sudah tinggal ditempat lain.


Lantas harus mencari ke mana jika dia sama sekali tidak tahu alamatnya?


"****!" umpatnya dan memilih untuk menjalankan mobil meninggalkan rumah David.


Kepalanya terasa pusing dan ingin pecah akibat tidak bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan.


Keenan akui, Queen hebat. Gadis itu bisa membuatnya jadi gila padahal tahun-tahun sebelumnya Keenan bisa melupakan sosok Queen.

__ADS_1


Hanya berteman Queen satu malam, rasa cintanya muncul lagi. Dia bahkan mengabaikan Nanda.


Mobil Keenan berhenti diparkiran sebuah klub yang pastinya ramai akan pengunjung. Keenan butuh hiburan dan ia akan melampiaskan rasa kacaunya di klub ini.


"Hai, Bro!"


Senyum tipis Keenan hadir saat melihat Tegar yang tak lain adalah temannya.


"Hai." Keenan menyapa balik.


Tegar merangkul Keenan, mereka duduk didepan bartender yang sibuk menyiapkan segala minuman untuk pelanggan.


"Kenapa lo keliatan kacau gini?" tanya Tegar setelah mengamati raut wajah Keenan.


"Gue ... Gue ketemu Queen."


Raut wajah Tegar yang semula happy jadi terlihat terkejut. Lelaki itu membenarkan posisi duduknya untuk lebih serong ke arah Keenan.


"Serius lo?"


"Iya."


"Terus lo gagal move on nih ceritanya?"


Keenan tertawa miris, lalu mengangguk. Dia gagal move on dari Queen, sialan memang.


"Dia berhasil bikin gue kacau kayak gini," katanya yang diangguki Tegar.


Hanya dari pandangan mata Keenan saja, semua orang tahu kalau lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.


"Tapi lo udah punya anak sama istri," ucap Tegar mengingatkan.


"Tapi gue cinta Queen, Gar. Gue mau dia!"


Kepala Tegar menggeleng tidak habis pikir. Kasihan Nanda jika Keenan malah menginginkan wanita lain.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, lo harus terima dengan fakta kalau Queen itu bukan buat lo. Kasihan Nanda," ujarnya berusaha membuat Keenan sadar.


"Persetan sama Nanda, gue maunya Queen."


__ADS_2