
Darren membawa Queen menuju taman belakang dimana kakeknya sering menghabiskan waktu sore hari. Dia melihat pria renta yang duduk dikursi taman sembari menatap kolam ikan yang berisi ikan berbagai jenis warna dan ukuran.
"Kamu datang?"
Queen tertegun mendengar ucapan pria tua yang sekarang masih berjarak beberapa langkah darinya.
Melihat kekasihnya tampak bingung Darren menyenggol lengannya, memberi jawaban atas kebingungan Queen jika pria tua itu berbicara padanya.
"eh- iya" jawab Queen. Setelah ia menjawab, kakek Keith menoleh dan menatap iris matanya lurus-lurus. Hal itu cukup membuat Queen canggung, dan dia hanya bisa tersenyum kaku.
"Apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini? kenapa tidak datang mengunjungi kakek tua ini?"
Queen menghela nafas panjang kemudian tersenyum. Dia yang tadi sempat terkejut akan tatapan tajam kakek Keith saat ia baru sampai menjadi sedikit lega karena sekarang pria tua itu memberikan tatapan hangat dan bersahabat. "maaf kek. Aku baru berkunjung sekarang" ucapnya meminta maaf akan tetapi Queen tak menjelaskan alasannya.
Melihat kakek Keith menepuk kursi disisinya Queen berjalan mendekat dan hendak duduk disana.
"Ck. Kakek jangan dekat-dekat dengan gadisku" ujar Darren melarang kemudian menarik tangan Queen agar tak mendekati kakeknya itu.
"Kau itu posesif sekali. Aku hanya ingin mengobrol dengan cucu menantuku sebentar"
Mendengar keluhan pria tua itu, Queen jadi tidak enak hati. Saat hendak melepaskan tangan Darren, Darren malah dengan keras kepala menahannya. Queen melirik tajam kearah Darren "lepas"
"Tidak mau"
Karena masih keras kepala juga, akhirnya Queenpun menyikut perut Darren dan membuat pria tampan itu memekik.
Melihat hal itu Kakek Keith tertawa, apalagi melihat Queen yang sekarang sudah duduk disisinya membuatnya merasa menang dari cucunya. Dia menatap remeh Darren yang saat ini tengah mendengus kesal dengan tatapan jengkel.
"Queen. Kapan kamu pulang?" ucap kakek Keith setelah berbasa-basi dulu tadi.
"Besok"
"Apa besok? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" keluh Darren terlihat terluka. Dia menatap tidak percaya kekasihnya yang saat ini hanya acuh padanya.
__ADS_1
"Apa kamu pernah bertanya?"
"Aku kira kamu akan lama disini."
"Aku harus pulang besok karena ada yang harus aku kerjakan." ujar Queen memberikan jawaban.
"Lalu.. Aku bagaimana?" tanya Darren terdengar masih mengeluh. Dia terlihat menyedihkan sekarang.
"Ck.. Ternyata kau bisa bersikap seperti ini Ren" ujar Kakek Keith yang tampak terkejut melihat kelakuan cucunya.
Darren menoleh kearah kakeknya yang sekarang terlihat tak percaya akan tingkahnya barusan. Dia tak peduli karena ia ingin merengek dan menahan Queen agar lebih lama disini. "Sayang.. Jangan besok ya?" masih mencoba untuk menahan Queen pulang.
"Aku benar-benar ada urusan. Lagian aku sudah dua Minggu disini. Aku juga punya kesibukan lain"
"Kamu bisa mengerjakan pekerjaanmu disini. Aku akan membantumu"
Queen menggeleng "terimakasih. Tapi aku
harus benar-benar pulang"
"Aku akan kembali kalau kamu diganggu wanita lain lagi" ujar Queen sembari menatap sebal Darren saat teringat akan berita yang ia lihat dan membuatnya cemburu sampai ia nekat datang padahal ia memiliki segudang pekerjaan yang menumpuk.
Darren merengut, dia jadi melupakan fakta jika Queen datang kesana karena scandal yang ia alami bersama salah satu aktris pendatang baru.
"Kalau begitu cepat nikahi gadis ini. Setelah menikah kalian bisa mencari solusi agar kalian bisa terus bersama"
"Menikah?" Queen tampak berfikir. Jika membahas masalah pernikahan gadis ini harus memikirkannya dengan serius karena ini adalah hal sakral yang harus dipikirkan dengan baik-baik. Dia yang memiliki tanggung jawab besar serta Darrenpun ada pada kondisi yang sama sepertinya akan kesulitan mencari solusi agar mereka bisa hidup bersama-sama sekarang.
Sebenarnya Queen bisa saja mengikuti Darren jika adik-adiknya sudah bisa menghandle semuanya, tapi untuk sekarang sepertinya belum bisa karena Gerald dan Gerrell masih belum mampu mengemban tanggung jawab sebesar ini.
Darren yang melihat tatapan kalut di mata cantik Queen tampak gusar, dia menyentuh dagu Queen dan menariknya agar gadis ini menatap netranya "ada apa? sepertinya kamu enggan untuk menikah denganku?"
Queen berkedip beberapa kali, dia belum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
__ADS_1
"Habislah kau Ren.. Queen tidak mau menikah denganmu"
Darren menoleh jengkel kearah kakeknya yang malah memanasi keadaan. Dia melepaskan dagu Queen kemudian menarik tangan Queen.
"Hey. Mau kau bawa kemana gadis itu Darren? Kakek belum selesai bicara"
Mendengar pekikan kakek Keith Darren tidak peduli. Dia terus menarik Queen untuk mengikutinya. Darren tentu saja gusar saat melihat sorot mata Queen yang seperti enggan untuk menikah dengannya. Dia akan membawa Queen menuju tempat yang nyaman untuk berbicara tanpa ada yang mengganggu.
Queenpun hanya menurut saja. Dia tak mau memancing perdebatan dimansion itu dan menjadi pusat perhatian.
Saat melewati ruang tengah. Sepasang kekasih itu melihat ada mom Emily dan Daniela yang tengah mengobrol ditemani teh hangat. Mereka tampak bingung karena sepasang kekasih itu sama sekali tak menyapa. Melihat aura gelap Darren, mom Emily bahkan tidak berani bertanya.
"Ada apa dengan mereka?" ujar mom Emily setelah Darren dan Queen tak lagi terlihat.
"Mana aku tahu. Aku tidak peduli juga" ucap Daniela acuh.
plak
"aw.. Sakit mom" pekik Daniela yang mendapatkan pukulan dikepala. Gadis itu mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Kau tidak melihat aura mengerikan kakakmu itu? Mom takut dia hilang kendali"
Daniela menyernyit mendengar ucapan momnya "ada apa dengan mom? bukankah mom tidak suka padanya? katanya mom hanya mau Jane yang menjadi menantu mom" cecar Daniela yang merasa tak paham. Bukankah terakhir kali mom nya ini tidak menyukai kekasih kakaknya? tapi kenapa sekarang sepertinya mom Emily terlihat begitu peduli?
"Jangan sebut nama gadis jahat itu lagi. Mom tidak sudi memiliki menantu jahat dan murahan!"
Daniela menghela nafasnya panjang, dia sudah lama tidak pulang kerumah dan pada akhirnya tak mengetahui apa yang terjadi selama ia pergi. Dia hanya tahu saat momnya yang sesekali menelfon yang mengatakan jika Queen itu adalah gadis menyebalkan yang merebut Darren dari Jane. Hanya sekedar itu, selebihnya Daniela tak tahu. Namun, melihat reaksi mom Emily sepertinya dia telah menerima Queen bersama dengan kak Darren. "baiklah aku tidak akan membahas Jane"
Daniela mengambil nafas untuk kembali berbicara " Apa sekarang mom menyukainya? mom tidak lihat wajahnya yang lembut itu seperti gadis yang licik? dia seperti menutupi sifat liciknya dibalik wajahnya yang seperti malaikat" ujar Daniela, sepertinya ia cukup terpengaruh ketika momnya dulu menjelekkan Queen ditelefon.
Mom Emily hanya diam namun tatapan matanya terlihat kesal. Hal itu membuat Daniela merasa jika Queen sudah berhasil menguasai momnya. "Queen memang benar licik. Bahkan mom saja sudah berada di pihak nya"
***
__ADS_1
#Daniela memang tidak sepenuhnya salah. Queen adalah Gadis yang dibesarkan dilingkungan kotor, ditempa oleh beratnya kehidupan dunia bawah membuat Queen menjadi gadis yang licik dan penuh muslihat. Memanipulasi dan mengintimidasi musuh adalah keahliannya. Selain itu, Queen juga sebrutal dad Arsen saat berada dalam misinya. Namun dibalik itu semua, Queen juga mewarisi sifat ceria dan baik hati seperti mom Valey.#