
Jangan lupa di vote juga komen ya!!
Kenan menghela nafasnya, cowok itu melirik Nanda yang sudah tertidur pulas di ranjangnya sendiri. Sekarang pikirannya melayang kemana-mana.
Dia bingung harus bagaimana sekarang setelah mengetahui masalah Nanda juga pacarnya. mata cowok itu kembali melihat Nanda, lebih tepatnya melihat perut Nanda yang masih rata.
Tangan kanan Kenan meremas rambutnya sendiri, matanya terpejam memikirkan bahwa di dalam perut sahabatnya itu ada makhluk yang nanti akan hidup dan berkembang sebelum keluar untuk melihat dunia.
Ya, Nanda hamil dan pacarnya malah di jodohkan dengan wanita lain oleh keluarganya. Bodohnya Nanda tidak mau mengungkapkan bahwa dia tengah mengandung kepada pacarnya, kenapa? karena gadis itu tidak mau merusak kebahagiaan orang tua sang pacar.
"Gue harus gimana sekarang?"gumamnya, ketara sekali jika dia sedang bingung.
Kenan ingin sebenarnya untuk menemui Gara yang tak lain adalah pacar Nanda, tapi sialnya Nanda bilang Gara sudah pindah ntah ke negara mana.
"Kenan."
mata Kenan terbuka, cowok itu menatap Nanda yang sudah terbangun. Ekspresi Nanda membuat badan Kenan lemas semua.
"Kenapa, hm?"Kenan bertanya sambil berpindah duduk di sisi ranjang.
Nanda terdiam sejenak, gadis itu mengelus perutnya sendiri. Dia masih tidak menyangka bahwa di dalam perut dia anaknya sendiri.
"Gue gak nyangka, kalau gue hamil sekarang. Gue bener-bener gak nyangka,"bisik Nanda dengan nada bergetar karena menahan tangis.
Kenan menghela nafas pelan, dia mengusap rambut Nanda untuk bisa menenangkan sahabatnya itu.
"Kenapa bisa? Gue tau lo Nan, gue tau lo gak semudah itu buat mau gituan sama Gara."
Nanda merubah posisinya menjadi duduk, gadis itu memeluk Kenan dan Kenan membalas pelukannya.
"Waktu itu Gara mabuk, terus kita ngelakuin hal itu tapi Gara gak sadar dan gak tau udah ngelakuin itu sama gue."
Kenan mengernyitkan kening. "Dan lo gak bilang Gara?"
Nanda menggeleng, isakannya terdengar pelan. Gadis itu sangat bingung sekarang mau bagaimana.
"Gak mau, gue gak mau dia tau. Gue juga udah pengen ikhlasin dia sama yang lain, itu pun demi kebahagiaan orang tuanya."Nanda menjawab.
"Kandungan lo gimana? Calon anak lo butuh Ayah,"ucap Kenan pelan.
__ADS_1
Nanda terdiam sejenak, tangisnya bahkan tidak terdengar lagi. Gadis itu membenarkan letak duduknya jadi tegak, dia menatap wajah Kenan dengan serius.
"Gu–gue gugurin aja, gue bisa gugurin kandungan ini."
Mulut Kenan terbuka, cowok itu sontak berdiri dan menatap Nanda dengan pandangan tak habis pikir.
"Lo pinter, Nan! Tapi kenapa pikiran lo tadi bejat banget? Dia anak lo, darah daging lo. Tega lo bunuh dia gitu aja, hah?!"bentak Kenan marah.
Cowok itu tidak menyangka saja bahwa Nanda akan berpikiran sampai kesitu, padahal Nanda cerdas.
"Gue bingung–"
"Anak?"
Kenan dan Nanda secara bersamaan langsung menatap kearah pintu kamar Kenan, mereka mematung saat melihat Mama Kenan sudah berdiri disana dengan raut wajah bingungnya.
"Tan–tante..."
Mama Kenan menatap bergantian sang anak juga Nanda.
"Mama gak salah denger, anak? Anak siapa? Anak apa?"tanya wanita itu sambil berjalan masuk kedalam kamar.
"Nanda hamil."Kenan angkat suara.
Raut wajah Mama Kenan sangat shock sekarang, dia bahkan sampai menutup mulutnya sendiri.
"Ha-hamil? Nanda hamil?"tanyanya pelan.
Nanda mengangguk sambil menundukkan wajahnya, dia sangat malu.
Mama Kenan menatap sang putra. "Nanda hamil anak siapa, Ken?"
Kenan mengalihkan pandangannya, cowok itu sudah mengambil keputusan sekarang. Keputusan yang sudah dia pikirkan matang-matang tadi, dia sudah tahu resikonya apa.
"Nanda hamil, anak Kenan."
...••••...
Queen terus memperhatikan layar ponselnya, dia berharap ada notif masuk dari Kenan sejak tadi. Sejak kejadian kemarin cowoknya itu tidak menampakkan dirinya kehadapan Queen, bahkan untuk memberi kabar pun tak ada.
__ADS_1
"Queen, kamu di cariin Papa kamu."
Kepala Queen mendongak, dia tersenyum tipis melihat Tante Tiara dengan pakaian kerjanya berdiri di hadapan Queen. Ah iya, entah kenapa Queen mulai merasa nyaman dengan hadirnya Tante Tiara.
"Papa dimana?"tanya Queen sambil berdiri.
"Papa kamu ada di kamarnya, ada Rere juga."Tante Tiara menjawab.
Queen mengangguk. "Oke, makasih infonya. Queen mau nemuin Papa dulu."
Tante Tiara tersenyum tipis, dia senang Queen mulai bisa menerimanya.
Sementara Queen, gadis itu kini telah berada di kamar Papa. Dia duduk si sofa yang ada bersama Rere.
"Udah cobain corn dog yang gue buat belum, Queen?"tanya Rere saat Queen baru saja duduk.
"Belum, nanti waktu mau tidur Queen coba. Masih ada, kan?"
Rere mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari Queen.
"Papa udah coba loh, dan corn dog buatan Rere enak. Kenapa gak coba buka Kafe buat jualin corn dog itu?"
Rere sontak terkekeh pelan, dan Queen hanya menyimak saja sambil sesekali melirik layar ponselnya.
"Bidang Rere bukan di kuliner, Pa. Bikin makanan itu pun bareng Tante Tiara, dia yang harusnya Papa suruh buka Kafe."Rere berbicara yang di tanggapi tawa ringan Papa.
"Ah iya, Papa nyariin aku buat apa?"tanya Queen.
Seketika Papa dan Rere saling tatap, ekspresi sumringah mereka berubah menjadi serius.
"Gini Queen, Papa mau lebih fokus mengurus perusahaan yang ada di LA."
Kening Queen mengernyit tipis. "Iya...terus?"
Papa melirik Rere sekilas, dan Rere mengangguk untuk meyakinkan Papa agar berbicara lagi.
"Papa ingin mengajak kamu dan Rere untuk ikut bersama Papa kesana,"ujarnya yang membuat Queen kebingungan.
"Maksud Papa, kita pindah dari sini?"
__ADS_1
Papa mengangguk pelan dan Queen hanya bisa terdiam. Gadis itu bingung harus bagaimana.