
Queen menatap tajam mata yang tengah menatapnya juga "aku pernah ingatkan sekali lagi, lepaskan aku!"
Darren tampan sedikit bergeming saat mendengar suara rendah gadisnya "kalau aku tidak mau kau mau apa?" tanyanya menantang. Darren ingin melihat bagaimana reaksi gadisnya itu.
"aku akan melakukan ini" ucap Queen dengan suara datar, dia berjongkok agar terlepas dari pelukan Darren. Lalu gadis cantik itu bergeser menjauhi tubuh tegap dan tinggi itu.
duuugh..
"ahhhkk" pekik Darren saat Queen menendang perutnya. Terasa sangat sakit karena dia yang kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh diatas lantai.
"uhuuk" Darren terbatuk dan mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. "kau kejam sekali Queen" ucap Darren, dia berbicara dengan suara lemah.
Tendangan Queen sungguh membuatnya kesakitan, karena pas sekali dititik vital Darren.
"kau kurang ajar dan mau memper-kosa aku kan?!" ucapnya masih terlihat kesal.
"aku hanya bercanda Queen, uhuk" kembali terbatuk dan memegang perut yang terasa sakit.
Queen menatap wajah Darren yang tampak kesakitan "ka-kau bercanda tuan?" tanya Queen, wajahnya sudah melembut dan tampak kasihan melihat Darren.
"apa tidak akan menodai gadis yang aku cintai"
Tadi Queen sedikit ragu, tapi saat mendengar ucapan serius seorang Darren gadis itu luluh dan langsung berjongkok "maaf" ucap Queen pelan. Ia menarik tangan Darren dan membantunya berdiri.
Gadis itu juga langsung menarik Darren agar duduk di sofa yang tak jauh dari mereka. Queen berjalan kearah meja nakas untuk mengambil tisu dan dengan cepat mengusap bekas darah yang ada disekitar mulut Darren. Queen juga mengelap tangan Darren yang terlihat ada darahnya juga. "makanya kalau bercanda jangan keterlaluan!" ucapnya bergumam.
"jangan salahkan aku yang tadi menendangmu!"
lap lap
Queen terus mengelap sekitar mulut Darren padahal sudah bersih.
"itu hanya gerakan refleks untuk melindungi diri"
__ADS_1
Darren diam saja dan memilih untuk menatap wajah cantik Queen yang sekarang berubah khawatir. Tadi sekilas Darren melihat kilatan amarah Queen yang sangat mengerikan. "kenapa aku merasa kamu sangat misterius Queen? kemarin kamu menghabisi para pembunuh bayaran dan sekarang kamu berhasil membuatku terluka, hal ini membuat aku sangat penasaran " batin Darren.
"hey!! kenapa bengong? apa sakit sekali?" tanya Queen sembari melambaikan tangannya didepan wajah Darren saat melihat pria itu diam saja.
Darren mengedipkan matanya beberapa kali "ah-" pria itu tersadar dari lamunannya
"kamu tidak akan pingsan kan tuan?"
Darren menggeleng "tidak, tapi perutku sakit sekali" ucapnya dengan suara yang terdengar lemah dan sedikit manja.
"mana? biar aku lihat" Queen menyingkap kaos yang Darren kenakan
blusshh
Tiba-tiba saja wajah Queen memerah, dia malu sekali "awhh... apa yang aku lakukan?!" gerutunya dengan panik, Queen menutup kembali kaos yang Darren kenakan saat melihat perut sixpack milik pria itu.
"biar aku panggilkan dokter saja" Queen berdiri dan hendak beranjak.
Darren dengan gerakan cepat menarik tangan Queen, dia menyentaknya sampai membuat gadis itu memekik karena Queen terkejut, Queen terjatuh diatas pangkuan seorang Darren "tu-tuan"
Queen mengangguk dan mempercayai ucapan Darren.
"apa kamu takut?"
Queen mengangguk pelan "sedikit"
Darren memeluk Queen "maaf"
Queen hanya diam, jujur dia hanya takut jika sikap Darren berubah padanya. Pria yang selalu hangat dihadapannya tadi bersikap kasar dan memaksanya. Queen tidak suka dipaksa.
Darren mendongak "maafkan aku Queen" ucapnya dengan suara penuh penyesalan.
Queen menghela nafasnya panjang "jangan diulangi lagi"
__ADS_1
Darren menarik kedua sudut bibirnya "terima kasih" pria itu kembali memeluk Queen dengan erat. Setelah beberapa saat Darren melerai pelukannya "apa kamu benar-benar belum menerimaku?"
Queen tersenyum "apa sikapku selama ini tidak bisa kamu artikan sendiri?"
"meski aku tahu tapi aku mau kamu mengatakan mau menjadi kekasihku" kekehnya ingin mendengar jawaban dari Queen.
"apa sikapku saja kurang tuan?"
"tentu saja kurang" jawab Darren dengan suara lembut. Wibawa dan sikap Darren berubah drastis jika sedang berdua dengan Queen.
"kamu serakah sekali" ucap Queen dengan sedikit ketus.
Darren tergelak "biarkan saja, jadi Queensha Karren Bramantyo maukah kamu menjadi kekasihku? menjadi istriku?"
Queen menarik kedua sudut bibirnya, lalu dia mengangguk "baiklah.. Darren Austin Keith aku menerimamu menjadi kekasihku"
Darren melebarkan senyumannya, hatinya benar-benar senang dan membuncah saat mendengar jawaban yang selama ini dia ingin dengar "terimakasih" ucap Darren lalu dia memeluk kembali gadis yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya.
"aww"
Darren terkesiap dan segera melepaskan pelukannya saat mendengar pekikan Queen "kamu kenapa?" ujarnya khawatir.
Queen menoleh kearah lengan yang kemarin terluka "astaga.. maaf sayang" ujarnya dengan wajah yang panik saat melihat perban yang melilit lengan Queen tampak mengeluarkan darah segar.
Darren mendudukkan Queen diatas sofa "aku akan mengganti perbannya"
Queen mengangguk, padahal dia tahu sekali Darren juga tengah kesakitan akibat tendangan yang tadi dia berikan tapi dia tampak begitu khawatir dan segera mengambil kotak obat yang memang tersedia dikamar Queen, membuat gadis itu merasa disayangi.
"maafkan aku Queen, sepertinya ini karena aku memelukmu dengan erat tadi. maaf maaf" terus saja meminta maaf karena merasa bersalah.
Queen meringis saat merasa lukanya terasa perih, sepertinya luka yang tadi sudah hampir kering kembali terbuka.
Darren yang merasa Queen kesakitan bergerak dengan pelan dan meniup luka tersebut "maaf sayang, sakit sekali ya?"
__ADS_1
"tidak lagi" ucap Queen, dia menatap wajah Darren yang tampak serius mengobati lukanya.
"akan kubalas rasa sakitmu ini pada dia yang telah lancang menyakitimu sayang. aku bersumpah akan membuatnya menderita!!" batin Darren.