
Queen turun dari mobil yang di kendarai oleh supirnya, sebelumnya gadis itu berpesan agar supir bernama Mang Sapri tidak menunggunya karena pastinya dia akan berlama-lama di kantor Papanya ini.
Ya! Saat ini Queen sedang berada di kantor Papanya setelah dua hari yang lalu dia hanya mendekam di rumah karena merasa lelah dengan liburan bersama teman-temannya.
Mendengar kata liburan entah kenapa selalu membuat Queen teringat akan apa yang di lakukan Kenan di batu besar itu. Queen menggeleng pelan sambil mengulum senyumnya ketika bayangan Kenan yang mencium bibirnya terasa menari di pikirannya.
Sudah dua hari juga Kenan dan Queen tidak bertemu, mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri walaupun komunikasi tidak pernah putus.
"Permisi Mbak, Papa ada?"tanya Queen pada resepsionis.
Perempuan muda nan cantik yang berdiri di balik meja kaca besar tersebut mendongakan kepalanya, dia tersenyum sopan kala melihat anak majikannya tengah berdiri di hadapannya.
"Ada Nona,"jawabnya sopan.
Queen mengangguk sambil tersenyum senang, dia sudah merindukan Papanya. Kemarin Papanya itu lembur dan saat pulang ke rumah ternyata Queen sudah tertidur.
"Makasih Mbak, saya ke atas dulu."
Mbak resepsionis itu hanya mengangguk dan menatap punggung Queen yang mulai menjauh.
Queen manaiki lift khusus para yang mempunyai jabatan karena Papanya selalu berpesan untuk Queen menaiki lift ini saja jika ingin ke ruangan Papanya. Di dalam lift ini ternyata dia tidak sendiri, ada seseorang laki-laki berjas rapih yang sedang membaca-baca mapnya.
Queen menebak bahwa laki-laki yang tengah menunduk itu berumur 23 tahunan. Soalnya dari tampang dan fisiknya saja masih terlihat muda.
"Eh!"
Kepala Queen menunduk ketika sebuah kertas jauh dari map tersebut, dengan cepat Queen membungkuk lalu mengambil kertas tersebut dan menyerahkannya pada laki-laki itu. Sejenak mata Queen terpaku melihat rupa laki-laki itu yang tampan.
"Terimakasih ya... Queen,"kata laki-laki itu sambil tersenyum dan mengambil kertas yang di sodorkan oleh Queen.
Mata Queen mengerjap, dia sedikit terkejut ketika laki-laki yang mempunyai senyuman manis dan pipi kanannya yang bolong itu mengetahui namanya. Ah Queen lupa! David pastinya sudah memperkenalkan Queen pada orang-orang di perusahaannya.
"A-ah iya sama-sama Pak, eh? Ma-mas, atau Kakak ya?"
Laki-laki itu terkekeh pelan, suara kekehannya sangat lembut hingga membuat Queen tersipu. Saat tengah asik mengamati wajah laki-laki di sisinya tiba-tiba saja bayangan wajah marah Kenan terlintas di pikirannya hingga membuat Queen tersentak kaget.
Sadar Queen! Lo punya Kenan. Senyuman Kenan gak kalah manis kok sama laki-laki di sisi lo ini.
"Panggil saya Mas saja, saya merasa sangat tua jika di panggil Bapak oleh gadis seusia kamu."
Queen mengangguk kikuk sambil tersenyum canggung.
"Iy-iya Mas...?"
"Mas Abimanyu. Kamu bisa panggil saya Mas Abi saja,"jawab laki-laki bernama Abimanyu tersebut.
"O-oke Mas Abi, salam kenal ya!"sapa Queen ramah.
__ADS_1
Abi tersenyum lalu pintu lift berdenting. Queen keluar dari lift lalu mulai menyusuri koridor mewah untuk sampai ke ruangan Papanya yang belok ke kiri lalu diujung sana akan ada pintu besar yang tak lain adalah ruangan David.
"Eh? Mas Abi juga mau ke ruangan Papa?"tanya Queen kaget karena melihat Abimanyu berada di belakangnya.
"Iya, saya ada urusan dengan Pak David."
Queen hanya mengangguk dan ingin mengetuk pintu ruangan David yang sedikit terbuka, namun Queen mengurungkan niatnya karena mendengar suara David dari dalam.
"Saya sayang sama kamu Ra, entah sejak kapan rasa ini hadir. Awalnya saya memang menampik perasaan ini tapi tidak bisa. Setiap melihat kamu bukannya rasa itu menghilang malah rasa itu semakin membuncah."
Kening Queen mengernyit. Papanya sedang mengobrol dengan siapa? Dan mengapa Papanya menyatakan perasaaan?
"Mas! Ini tidak boleh, ini... perasaan Mas pada saya itu salah Mas. Sedari awal kita hanya rekan kerja. Saya sekertaris Mas dan Mas adalah Bos saya."
Suara perempuan. Sekertaris? Apa Papanya sedang mengobrol dengan Tiara? Mata Queen berkaca-kaca, jadi benar jika Papanya dan sekertaris Papanya mempunyai hubungan lebih? Buktinya Tiara memanggil Papanya dengan sebutan 'Mas'.
"Salah bagaimana, Tiara? Saya sudah sendiri dan kamu pun masih sendiri. Saya jelas tahu perasaan kamu seperti apa kepada saya, tidak ada salahnya kan kita mencoba untuk memulai semuanya sebagai sepasang kekasih? Ya meskipun umur kita berdua sudah tidak bisa di bilang pantas untuk masih berpacaran."
"Ta-tapi Mas... anak Mas?"
"Kita bisa membujuk Queen, Mas bisa meyakinkan Queen bahwa kamu memang menyayangi dia."
Queen menggeleng. Air matanya sudah menetes dan mengalir ke kedua pipinya. Abi yang berada di belakang Queen pun merasa tak tega dan memegang bahu gadis tersebut hingga membuat Queen tersentak.
"Kamu baik-baik saja?"tanya Abi pelan.
Queen menggeleng, sebisa mungkin dia menahan isakannya agar tidak keluar.
Kening Abi mengernyit tapi tak urung dia juga mengangguk.
"Jangan bilang sama Papa kalau tadi Queen denger pembicaraan Papa sama sekertarisnya ya Mas, dan Queen mohon jangan bilang sama Papa kalau Queen ke kantor nyamperin Papa,"ucap Queen pelan.
"Baik."
"Makasih Mas. Kapan-kapan Queen traktir Mas makan ya karena udah mau bantu Queen. Queen pergi dulu Mas,"pamit Queen lalu berlari menuju lift meninggalkan Abi yang terbata.
"Lah, padahal tidak usah pakai traktir segala. Saya kan tulus mau membantu dia,"gumamnya sambil tersenyum kecil.
...||||...
Di sebuah Cafe yang pengunjungnya sedang tidak banyak Givani terlihat tidak sabar untuk menunggu seseorang. Gadis itu berkali-kali juga mengecek ponselnya.
"Mana, sih?"gumamnya pelan.
Dia sedang menunggu seseorang yang mengajaknya bertemu, katanya sih ada hal yang ingin di bicarakan.
"Maaf Giv gue telat. Jalanan macet banget!"
__ADS_1
Kepala Givani mendongak ketika sebuah suara yang sudah sangat di kenalinya itu masuk ke gendang telinga, matanya menatap sosok cowok tampan idola sekolah yang sudah duduk manis di kursi yang berada di hadapannya.
"Gue maafin untuk kali ini, Kak Liam."
Ya! Orang yang mengajaknya bertemu adalah Liam, wakil ketua OSIS di sekolah yang di idolakan oleh siswi meskipun... Kenan yang menduduki posisi pertama sebagai cowok tampan yang sangat di sukai oleh hampir seluruh siswi.
"Langsung aja ya Giv, gue gak mau basa-basi."
"Oke,"gumam Givani pelan.
"Lo suka kan sama Kenan?"tanya Liam sambil menyeringai.
Tubuh Givani mematung, dia menatap Liam dengan mata terbelalak. Dari mana Liam tahu bahwa Givani menyukai Kenan?
"Ka-Kak Liam... tau darimana?"tanya Givani pelan.
Liam tersenyum miring, dugaannya ternyata benar! Sebenarnya Liam hanya menebak-nebak saja dari tatapan Givani yang selalu berbeda jika menatap Kenan dari kejauhan dan... kepalan tangan Givani ketika melihat para teman-temannya dan juga Kenan serta Queen di kantin yang sedang tertawa.
"Gak perlu tau lo gue tau dari siapa. Jujur aja sama gue, siapa tau gue bisa bantu."lagi-lagi Liam menyeringai.
Givani menelan ludahnya, gadis itu menatap Liam dengan ragu.
"Emang Kakak bisa bantu gue?"tanya Givani pelan.
Liam mengangguk. Dalam hati dia bersorak girang karena ternyata untuk membujuk Givani tidak susah. Rencananya pasti akan berjalan mulus.
"Bisa. Gue bisa bikin lo dapetin Kenan dan setelah itu gue bisa milikin Queen,"jawab Liam.
"Ternyata lo masih suka sama Queen?"tanya Givani tak percaya.
Liam tersenyum simpul. Susah untuknya melupakan Queen, entah kenapa gadis itu selalu hadir dalam pikirannya.
"Ya."
Givani terdiam. Dia masih menyukai Kenan padahal cowok itu sudah menyuruhnya untuk melupakan perasaannya pada Kenan, tapi tidak bisa! Givani sudah mencoba melupakan Kenan tapi tetap tidak bisa, perasaannya semakin membuncah ketika melihat Kenan dari kejauhan.
"Kerjasama sama gue kalau lo pengen dapetin Kenan. Gue pengen Queen jadi milik gue dan Kenan jadi milik lo, gimana?"
Tanpa berpikir Givani mengangguk mantap. Keputusannya sudah bulat, dia akan mendapatkan Kenan dengan cara apa pun. Termasuk cara kotor yang akan membuat sahabatnya, oh atau mantan sahabat? Sepertinya mantan sahabatnya sakit hati dan tersiksa.
"Apa kita perlu libatin Kak Kristal?"tanya Givani sambil mengangkat kedua alisnya.
Liam mendengus. Dia sudah membujuk Kristal agar mau membantunya untuk membuat hubungan Queen dan Kenan kandas, tapi entah setan apa yang merasuki tubuh Kristal hingga gadis itu menolaknya mentah-mentah dan malah melarangnya untuk memisahkan Queen serta Kenan.
"Itu anak udah tobat, dia gak mau ganggu hubungan Kenan dan Queen lagi. Udahlah kita berdua aja, lagian gue yakin kok rencana yang bakal gue dan lo jalanin pasti lancar dan membuahkan hasil yang memuaskan."
"Oke! Kalau gitu kita bahas sekarang rencananya."
__ADS_1
...||||...
Wah, wah, wah Liam sama Givani kerja sama ternyatađź‘€