
Queen terdiam saat dad nya bukan membawanya keruang makan, justru dia membawanya keruang tamu.
Senyum cantik Queen merekah saat melihat dad Edward dan mom Emily yang ternyata sudah ada disana sekarang. Gadis itu menunduk untuk memberi salam. Lalu dia menoleh kearah pria tua yang tadi dia kira adalah pria yang hendak melamarnya. Pria yang tengah duduk sembari memegang sebuah tongkat untuk menopang sebelah tangannya.
Wajahnya tampak berwibawa meski dia sudah tak lagi muda.
"dia siapa dad?" bisik Queen lirih.
Arsen menoleh dan tersenyum "dia adalah tuan Keith.. kakek Darren"
"ini Queen?" tanya orang tua itu. Membuat Queen menoleh kearahnya.
Queen mengangguk "benar kakek" ucapnya dengan sopan. Lalu dia berjalan mendekati pria tua itu setelah mengetahui jika dia adalah kakek dari kekasihnya.
Tangannya terulur dan dibalas oleh kakek Keith. Queen mengecup punggung tangannya. Sebenarnya kakek Keith terkejut tapi setelah menoleh kearah sang putera yang mengangguk, membuatnya paham. Kakek Keith mengusap kepala Queen dengan lembut.
Mom Emily sampai tercengang melihat mertuanya itu yang mengusap lembut kepala Queen. Padahal dulu saat dia baru berkenalan dengan pria tua itu mom Emily selalu diketusi olehnya "semudah itu?"
Queen beralih kearah mom dan dad Darren. Dia melakukan hal yang sama kepada mereka. "apa kabar dad? aunty? maaf aku pulang tidak pamit karena ada hal yang sangat mendesak"
Dad Edward menggeleng dan tersenyum " tidak papa Queen"
Setelah berbasa-basi Queen berjalan dan duduk disisi momnya.
"ehem"
Darren baru saja sampai diruang tamu langsung duduk disisi kedua orang tuanya.
"bagaimana tuan Keith? anakku cantik kan?" tanya mom Valey yang membuat Queen membelalakan matanya.
Sudah tak asing lagi jika mom Valey adalah sosok wanita yang hamble dan mudah akrab dengan siapa saja. Sehingga dia sudah merasa akrab dengan pria tua yang tadi mengutarakan maksud dan kedatangannya padanya tadi.
"hahaha.. dia memang cantik, dan manis" puji kakek Keith "benar kan Darren?"
Darren menatap kakeknya itu. Dia menyernyit melihat pria galak yang dulu sering menghukumnya saat dia nakal dan tidak menuruti ucapannya tampak langsung menerima Queen. Pria yang akan sangat sulit didekati namun berbicara akrab dengan mom dari calon istrinya itu membuat Darren terperangah.
Darren tampak mengangguk dengan acuh.
"cih.. cucu menyebalkan" gerutu kakek Keith. Dia mengangkat tongkat yang sedang dia pegang berniat untuk memukul kepala cucunya yang terlalu kaku itu.
"aduh.. jangan dipukul kek, nanti benjol"
Semua orang menoleh kearah Queen yang melarang tindakan dari kakek Darren itu.
dug
Mom Valey menyikut lengan Queen. Membuat gadis itu tersadar "oh- hehehe maaf kek" ucap Queen saat merasa keceplosan.
"hahaha" tawa pria tua itu memecah, dia melihat betapa manisnya Queen.
__ADS_1
"Queen"
Queen menoleh kearah dad Edward saat namanya dipanggil "ya dad?"
"kedatangan kami kesini berniat untuk melamarmu untuk putera dad, bagaimana menurutmu Queen? maukah kamu menerima putera Dad sebagai calon suami mu?"
Queen menoleh kearah Darren yang hanya diam. Dia bahkan tidak menatap dirinya sama sekali "tapi kelihatannya dia tidak serius dad?"
"aku serius!" ucap Darren dengan cepat. Hal itu membuat semua orang menoleh kearah Darren.
"serius apa?" tanya kakek Keith sembari tersenyum menggoda cucunya itu.
Darren menatap mata Queen "aku serius untuk menjadikanmu istriku. Maukah kamu menerimaku Queen? menerima lamaran ku?"
Queen tersenyum. Hatinya bahagia mendengar ucapan Darren barusan. Gadis itu menoleh kearah dad Arsen dan mom Valey. Saat melihat mereka berdua mengangguk senyum Queen bertambah lebar "aku menerimanya"
Darren menarik kedua sudut bibirnya. Sungguh Darren juga merasakan bahagia yang tidak terkira saat ini. Dengan segera Darren mengambil sesuatu didalam saku jas yang ia kenakan. Sebuah kotak cincin. Darren berdiri dan langsung berjongkok dihadapan Queen..
Pria tampan itu membuka kotak tersebut, yang menampilkan cincin berlian bermata biru yang sangat cantik "ini adalah perhiasan khusus milik keluarga kami. Setelah kamu mengenakan ini. Keluarga Keith telah menerima dirimu"
Queen tersenyum saat Darren memasangkan cincin tersebut dijari manisnya "terimakasih" ujarnya dengan tulus.
Darren tersenyum dan segera mengecup tangan yang masih ia genggam.
"aw.. kamu sangat sweet Darren" puji mom Veley melihat tingkah anak muda itu.
"eits- jangan cium my princess!!" ujar Dad Arsen sembari menarik Queen agar terhindar dari kecupan manis Darren. "kau baru tunangannya! jangan menciumnya! menjauhlah sana!"
Darren hanya bisa pasrah, dia tidak berani melawan sekarang. Dia memilih mengalah pada pria paruh baya yang sangat posesif pada anaknya itu.
"hahahaha" tawa kakek Keith menggelegar, dia tak menyangka jika seorang Arsenio yang dulu sempat dia tahu namanya saja, ternyata sangat posesif pada puterinya.
Padahal dia dulu sangat penasaran sekali dengan Arsenio karena mendengar pria itu tidak tersentuh dan sangat dingin. Tapi ternyata pria dingin yang dirumorkan diluar sana hanyalah manusia biasa yang sangat menyayangi keluarganya.
Kakek Keith merasa lega dan tidak khawatir lagi saat Darren masuk kedalam keluarga Bramantyo nantinya.
"tuan dan nyonya.. lebih baik kita makan siang bersama, bagaimana?" ujar mom Valey. Dia berdiri dengan sopan dia mengajak calon besannya itu untuk makan siang bersama.
"apa tidak merepotkan?" tanya kakek Keith sedikit tidak enak. Mengingat mereka baru saja berkenalan dengan keluarga ini.
Mom Valey berjalan kearah kakek Keith lalu duduk disisinya "tentu saja tidak dong, aku akan sangat senang jika kalian mau" ucapnya dengan suara riang. Aura positif yang Valey keluarkan mbuat semua orang juga merasa bahagia.
"baiklah kalau kamu memaksa" ucap Kakek Keith tak kalah senang.
Mom Valey tergelak dan kemudian membatu pria tua itu berdiri " Mari kita makan bersama tuan Edward dan nyonya Emily"
Kedua orang tua Darren itu mengangguk saja.
"Sayang~ tanganmu!"
__ADS_1
Mom Valey menatap jengah suaminya yang menegur dirinya yang sedang menggandeng kakek Keith "lihatlah suamiku tuan.. masa menggandeng anda saja saya tidak boleh. Cemburuan sekali"
"hahahaha.. tenanglah tuan Arsenio, saya sudah jompo jadi tidak akan melirik istrimu"
Dad Arsen hanya mendengus.
"jaga image dad dong" bisik Queen didekat telinga daddy-nya itu.
"mana bisa dad menjaga image jika melihat istri dad menggandeng pria lain" gerutu Arsen tidak terima.
Queen berdecak "ck.. lagian mom tidak akan tertarik padanya, pasti mom menganggap jika dia itu seperti opa Ibran" ujarnya menasehati. "lihat calon besan dad melihatmu"
Dad Arsen menoleh kearah dad Edward dan mom Emily, dia memperbaiki bajunya dan kembali kesifat aslinya yang dingin dan cool. Dia berjalan mengikuti istrinya yang lebih dulu pergi.
"pfftt" Queen menahan tawanya saat melihat bagaimana dad nya itu berubah. Gadis itu sekarang menatap calon mertuanya "mari dad, aunty"
Dad Edward mengangguk dan tersenyum. Dia juga menyempatkan diri untuk mengusap kepala Queen dengan lembut "iya"
Queen tersenyum manis, jika dihadapan dad Edward Queen akan terlihat manis dan penurut.
Darren yang sedari tadi diam menarik tangan Queen "kenapa?" tanya Queen yang heran. Dia menyernyit melihat tangannya yang digandeng oleh Darren.
Dad Edward dan mom Emily memilih untuk segera pergi dari ruang tamu tersebut. Membiarkan anaknya berbicara dengan Queen.
Darren menggeleng "nanti kita pergi" bisiknya didekat telinga Queen.
"kemana?"
"yang jauh dari dad mu" ucap Darren lagi. Dia merasa terintimidasi saat ditatap oleh tuan Arsenio. Meski dia tidak takut tapi dia merasa tidak nyaman saja.
"oh ayolah tuan.. kemanapun kita pergi, dad pasti tahu dan selalu mengawasi kita"
Darren berdecak "menyebalkan sekali" gerutunya kesal. Lalu menarik tangan Queen kearah ruang makan.
Benar apa yang Darren ucapkan. Saat masuk kedalam ruang makan. Tatapan tuan Arsenio menajam apalagi melihat dirinya yang menggenggam tangan Queen "ck.. sangat posesif" gumamnya dalam hati.
Lalu dengan seringaian kecil dibibirnya, Darren melepaskan tautan tangan mereka. Lalu dia merangkul bahu Queen. Dia menatap dengan berani mata tajam calon mertuanya itu. Menantang.
Valey yang melihat suaminya hendak berdiri segera menahan tangannya "jangan macam-macam atau tidur diluar!" bisiknya menekan. Dia tidak mau sampai Darren nantinya masuk rumah sakit akibat dibogem oleh suaminya itu.
Bisa gawat kan jika nanti mereka membatalkan lamarannya.
Queen tampak melipat mulutnya kedalam saat melihat dad nya tidak bisa berkutik saat melihat raut wajah mom Valey.
Lalu gadis cantik itu menoleh kearah wajah Darren yang tetap datar dan tanpa ekspresi. Wajahnya sangat tampan dan berkarisma "dad mendapat lawan yang sepadan" batinnya saat melihat keberanian Darren untuk membuat dad Arsen marah.
**
Jangan lupa like komen dan kasih dukungan lainnya sayang... 🤗
__ADS_1