
Murid-murid di koridor sekolah mempusatkan pandangannya kepada sosok yang dua minggu terakhir ini menghilang bagai di telan bumi. Tidak ada yang berbicara dan bergosip ria seperti biasa ketika sosok gadis yang tengah di gandeng mesra oleh pacarnya itu lewat.
Mereka semua mungkin takut dengan ancaman Kenan waktu itu. Kalian mungkin tahu siapa gadis yang tengah di genggam tangannya oleh Kenan. Gadis yang sudah membuat banyak gadis iri karena statusnya bagi Kenan, gadis yang sangat dekat dengan para cowok most wanted yang tak lain adalah sahabat-sahabat Kenan. Dan gadis yang lumayan dekat dengan Givani, gadis populer dan di minati banyak pria karena harta dan parasnya.
"Mau langsung ke kelas atau kantin dulu, Yang?"tanya Kenan tanpa melirik gadis di sisinya.
Cowok itu kesal dengan Queen. Dia kesal dengan permintaan Queen yang tiba-tiba saja ingin masuk sekolah, padahal wajar saja. Queen kan sudah lama tidak masuk sekolah, tidak enak juga absennya sudah lama di beri tanda izin. Apalagi sebentar lagi SMA Garuda akan mengadakan PAS dan setelah PAS mereka akan merayakan ulang tahun sekolah.
"Kantin aja ya, Ken. Kamu juga belum sarapan tadi,"jawab Queen berusaha ceria.
Sedari tadi cowok itu hanya diam dan tidak berceloteh apapun seperti dua minggu belakangan ini. Mungkin Kenan kesal karena mengkhawatirkan kondisi Queen, tapi jujur! Queen sudah membaik.
Setelah sampai di kantin yang masih sepi karena kebetulan masih pagi, mereka pun duduk di pojok kantin. Kenan memilih sarapan dengan bubur, tapi ketika pesanannya sudah datang cowok itu malah bermain ponsel.
"Ken,"panggil Queen.
"Hm?"
"Buburnya udah datang."
Kenan mendongak, lalu menunduk untuk bermain ponsel lagi. Queen hanya mengerucutkan bibirnya, dia merebut ponsel Kenan sehingga membuat cowok itu tersentak. Saat Kenan akan merebut ponselnya, dengan cepat Queen mengantonginya di saku seragam.
"Apa? Mau ngambil?"tanya Queen sambil menyeringai.
Kenan menghela nafasnya, mana berani dia mengambil.
"Siniin gak?"
"Makan dulu sarapannya,"suruh Queen.
"Iya nanti."
"Aku mintanya sekarang."
"Hp aku sini–"
"Aku suapin deh ya!"potong Queen cepat sambil membawa mangkuk bubur lalu menyendokan bubur dan meniupnya sebelum menyodorkannya ke depan bibir Kenan.
Kenan mengulum senyumnya, gadis ini memang ajaib! Kenan bahkan sudah luluh hanya dengan mendengar Queen akan menyuapinya. Dengan pelan Kenan pun menerima suapan dari Queen, dia menyimpan tangan kanannya di pinggang Queen. Kebetulan posisi duduknya bersisian dengan Queen.
"Pinter! Makan lagi ya Nak,"ucap Queen sambil terkekeh geli.
"Di pikir aku anak kamu apa?"
"Bercanda, elah!"desis Queen sambil kembali menyuapi bubur pada Kenan.
Kenan tersenyum. "Nanti kalau mau ngomong gitu lagi sama Anak kita kelak aja ya."
Queen mematung, pipinya sudah memanas akibat ucapan Kenan. Apa Kenan tidak mendengar detak jantungnya yang sudah berdetak sangat keras ini?
"Ekhem! Sorry."
Pasangan itu tersentak kaget, mereka menengokan wajahnya kepada pemilik suara yang berhasil mengagetkan mereka berdua. Mata Queen langsung melotot saat tahu siapa pemilik suara itu, sementara Kenan hanya mendesis tajam.
"Ka–Kak... Liam."
Liam tersenyum tipis, cowok yang sudah Queen lama tak lihat itu tanpa di suruh oleh siapa pun langsung duduk di hadapan Queen dan Kenan.
"Apa kabar Queen?"tanya Liam ramah.
Mata Queen mengerjap, dia berusaha melepaskan cengkraman Kenan di pinggangnya agar dia bisa leluasa menghadap ke depan. Tapi kenapa Kenan malah tak melepaskan tangannya?
"B-baik Kak."
Liam tersenyum, matanya menatap intens gadis yang sudah lama ia rindukan ini.
__ADS_1
"Mata lo jaga, anjing!"sentak Kenan tak terima ketika melihat pandangan Liam terhadap Queen.
Liam tersenyum, tapi dimata Kenan itu adalah senyuman paling menyebalkan yang pernah dia lihat.
"Kok lo sewot sih, Ken? Gue cuma liatin Queen kok,"ujar Liam santai.
Queen meneguk ludahnya, dia menyimpan mangkuk berisi bubur milik Kenan di meja. Gadis itu menggenggam tangan kiri Kenan yang sudah mengepal di bawah meja.
"Ken udah,"lirih Queen yang mulai takut dengan situasi ini.
"Gue gak akan sewot kalau cara ngeliatin lo kurang ajar gitu sama Queen, *******!"sentak Kenan lagi.
Liam terkekeh pelan, dia menatap Queen yang sudah terlihat mulai takut.
"Kok lo masih betah sih Queen sama cowok lo yang sifatnya kayak psikopat gitu?"
Kening Queen mengerut, maksud Liam apa? Kenapa cowok itu jadi terlihat menyebalkan dimata Queen?
"Sekarang kita pergi aja dari sini ya Ken,"ujar Queen lalu menarik tangan Kenan agar mengikuti langkahnya untuk meninggalkan kantin.
Liam menatap kepergian Queen dan Kenan dengan pandangan yang sulit di artikan.
... ||||...
"Queen, lo udah tahu belum soal Kak Liam yang udah masuk sekolah lagi?"
"Udah kok De,"jawab Queen sambil mencatat catatan yang tertinggal oleh Queen.
Kelas Queen saat ini sedang tidak ada guru, jadilah Queen memanfaatkannya untuk menulis pelajaran yang sudah dia tinggalkan.
"Hati-hati ya Queen."
Gerakan tangan Queen yang sedang menulis terhenti begitu saja ketika mendengar ucapan Dea yang terdengar sangat serius. Kepala Queen menengok kearah Dea, dia menatap sahabatnya itu dengan bingung.
Dea menghela nafasnya, matanya menatap sekitar. Dia takut ada yang mendengar percakapannya dengan Queen nanti. Kalau ada cak-cak bodas atau yang suka menguping kan bahaya, apalagi ini menyangkut wakil ketua OSIS yang baru saja kembali sekolah setelah sekian lama di rawat di Rumah Sakit.
"Gini Queen... aduh gimana ya? Pokoknya gue mau lo hati-hati aja. Kak Liam itu agak aneh menurut gue,"bisik Dea.
"Aneh kenapa? Jangan bikin gue penasaran dong, De."
"Kak Liam masuk RS gara-gara Kenan kan?"
Queen mengangguk, memang Liam masuk Rumah Sakit gara-gara Kenan. Cowok itu menghajar habis Liam sampai sekarat. Eh tapi tunggu! Dea tahu dari siapa?
"Kok lo tau?"tanya Queen kaget.
Dea mendesis, gadis itu tanpa bisa di tahan menoyor pelipis sahabatnya dengan gemas.
"Kan lo sendiri yang kasih tahu gue waktu itu!'desisnya.
"Oh iya ya,"gumam Queen sambil terkekeh bodoh.
Dea mendelik. Dia kira Queen hanya telmi dan lemot serta bodoh saja, ternyata dia pelupa juga.
"**** dasar,"ledek Dea sambil menjulurkan lidahnya.
Queen mengerucutkan bibirnya, Dea ini memang selalu meledek Queen di hadapan orangnya. Tapi tak apa lah, biasanya sahabat yang benar-benar sahabat itu akan menghina kebodohan sahabatnya di hadapan orangnya, bukan di belakang orangnya.
"Berteman sama orang pinter mah harus sabar di ledek terus,"lirihnya sambil menarik bibir bawah.
"Jijik!"desis Dea dengan ekspresi yang di buat-buat ingin muntah.
"Jijik-jijik gini juga temen lo kan,"balas Queen sambil menyengir kuda.
Dea lagi-lagi mendelikan matanya, Queen ini memang menyebalkan. Tapi entah kenapa Queen yang menyebalkan ini yang paling mampu mengerti sikap Dea, dia selalu siap mendengarkan keluh-kesah Dea.
__ADS_1
"Eh iya, gue baru inget Queen. Lo di tanyain sama Bu Alisa."
Kening Queen mengerit, Bu Alisa adalah pembina ekskul musik. Tapi ada apa Bu Alisa menanyainya? Apa ada urusan penting?
"Nanyain apa?"tanya Queen penasaran.
Dea mengedikan bahunya. "Mana gue tau, mending lo samperin aja sekarang. Siapa tau ada yang penting kan?"
Queen mengangguk, mumpung kelas sedang tidak ada yang mengajar juga kan.
"Temenin ya De,"pinta Queen sambil tersenyum lebar.
Dea mengangguk semangat, lumayan dia bisa mampir ke kantin untuk jajan. Lagian suntuk juga diam di kelas, dia risih dengan suara bising yang di hasilkan oleh teman-teman sekelasnya.
"Ayo! Tapi gue nganterinnya gak sampai ruang guru."
"Lah? Terus sampai mana dong?"tanya Queen.
"Sampai kantin doang! Laper Queen,"jawab Dea sambil cengengesan.
Queen mendengus tapi dia juga mengangguk, lumayan juga sih jarak kantin ke ruang guru itu lumayan jauh.
"Kuy atuh lah!"
... ||||...
"Sebelumnya Ibu serta anak-anak musik yang lain turut berduka cita atas kepergian Ibu kamu, Queen. Kamu yang tabah ya, ikhlaskan Ibu kamu yang pastinya telah tenang di alam sana."
Queen hanya bisa tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Bu Alisa.
"Iya Bu. Terimakasih,"ucap Queen pelan.
Bu Alisa mengangguk pelan, dia juga memberikan senyum ke Ibuannya yang mampu membuat Queen merasakan tenang. Bu Alisa ini memang salah satu guru pembina ekskul yang sangat di sukai oleh Queen, alasannya karena Bu Alisa lemah lembut dan juga sangat baik.
"Sebelumnya ada apa ya Ibu memanggil Queen ke sini?"tanya Queen sopan.
"Gini Queen. Sekitar satu bulan lagi sekolah kita akan mengadakan acara hari Ibu kan, dan tiga bulan lagi sekolah juga akan mengadakan perayaan ulang tahun sekolah. Nah, disini Ibu akan meminta kamu untuk menyanyikan salah satu lagu untuk nanti hari Ibu, bisa Nak?"
Queen tercengang, matanya mengerjap-ngerjap lucu. Dia di suruh untuk menyanyikan salah satu lagu untuk nanti hari Ibu? Really!?
"T-tapi Bu... kenapa harus Que–"
"Karena Ibu yakin kamu bisa dan mampu Queen, kemampuan kamu itu harus di kembangkan,"sela Bu Alisa riang.
"Kenapa gak yang lain aja? Givani kan suaranya lebih bagus dari pada saya Bu."
Bu Alisa tersenyum. Ini yang dia senangi dari Queen, gadis manis itu selalu merendah. Givani memang suaranya tak kalah bagus dari Queen, tapi Queen itu memiliki suara yang berbeda dari siapa pun.
"Ibu maunya kamu Queen. Lagian Givani juga menyarankan kamu untuk tampil sebagai perwakilan dari ekskul musik. Givani memilih untuk fokus pada penampilannya nanti untuk acara ultah sekolah,"papar Bu Alisa.
Queen mengangguk mengerti, tapi perasaannya mulai gelisah. Dia takut mengecewakan semuanya nanti, ini pertama kalinya dia di pilih untuk jadi perwakilan ekskul musik di acara sekolah. Biasanya Bu Alisa selalu memilih Givani sebagai perwakilan.
"Oke deh Bu,"ucap Queen sambil tersenyum.
Mata Bu Alisa berbinar senang, guru tersebut bersorak girang.
"Oke! Oh iya, masalah lagu kamu aja yang pilih ya Queen. Tapi seputaran tentang Ibu, dan nanti kamu lapor aja ke Ibu. Ibu akan membimbing kamu."
Queen mengangguk.
"Semangat berlatih ya, Queen! Ibu yakin kamu pasti bisa."
...||||...
Udah cantik, baik, manis, polos, pinter nyanyi lagi. Queen emang kesukaan Kenan banget wkwk.
__ADS_1