
Bastian menatap punggung Queen yang sedang berlari kecil naik kelantai dua. Matanya menyernyit "sebenarnya apa yang mau dia bicarakan dengan Arlendra?" gumam Bastian.
Pria paruh baya yang merasa penasaran itu segera berjalan mengikuti kemana gadis itu pergi. Berjalan dengan langkah pelan agar tidak ketahuan oleh Queen.
Saat naik kelantai atas dan tinggal beberapa anak tangga lagu, Bastian segera berjongkok saat melihat Queen yang tampak tengah berbicara dengan salah satu anak buahnya.
Terdengar jika gadis itu menanyakan keberadaan Arlendra. "apa sih yang mau dia bahas dengan Arlendra? kenapa tidak membahasnya denganku? aku kan uncle kesayangannya" gerutu Bastian dalam hati. Dia merasa cemburu rupanya.
Saat melihat Queen berjalan kearah lift, Bastian masih saja diam berjongkok sampai ia melihat lift tersebut menutup dan membawa gadis itu naik.
"apa yang sedang dad lakukan?!"
"ahhhkk--" pekik Bastian saat mendengar suara seseorang berbicara. Dia berdiri lalu menoleh kebelakang dan menatap tajam seorang pemuda yang sangat ia kenali.
"Danzel Bian Arkana! kenapa kau mengagetkan Daddy?! kalau dad terkena serangan jantung kau tak akan punya lagi Daddy setampan aku!" ucap marah Bastian, dia sampai bertolak pinggang dan menatap galak pemuda yang merupakan puteranya itu.
Tapi bukannya takut, pemuda itu hanya diam dan menatap dad nya itu dengan pandangan tajam seperti biasanya.
"astagah.. dosa apa yang dad perbuat sampai aku bisa memiliki putra sedatar dirimu!"
Danzel hanya mendengus kecil, menatap jengah dad nya yang sedang berbicara menggerutu "apa yang dad lakukan di tangga?"
"bukan urusanmu!" ucapnya ketus, dia mulai menaiki tangga.
"dad mau kemana?"
"rahasia! pulang saja sana!" ucap Bastian sembari berjalan menjauhi putera nya itu.
"bukankah dad sedang melakukan pekerjaan? jika tidak selesai bukankah nyawa dad akan dalam bahaya?"
Bastian terdiam, dia memang sedang bekerja tadi. Pekerjaan yang Arsen berikan padanya kemarin.
Saat ia keluar untuk mengambil minum malah bertemu dengan Queen, dan malah mengobrol dengannya sebentar. Jujur saja pria itu merindukan gadis itu karena sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
Queen sudah seperti puterinya sendiri, jadi dia menyayangi Queen seperti anaknya sendiri.
Benar apa yang diucapkan Danzel, jika ia tak menyelesaikan pekerjaannya Arsen pasti akan murka. "ishh.. menjengkelkan sekali" gerutunya terdengar kesal tapi dia berbelok arah.
Bastian kembali berjalan kearah tangga, padahal ia sangat penasaran sekali dengan kedatangan Queen, apalagi gadis itu datang kesana dan mencari-cari Arlendra. Pasti ada hal yang penting.
"ayo bantu dad agar cepat selesai" ucapnya sembari merangkul bahu Danzel.
"hmm" ucapnya berdehem untuk menjawab ucapan dad Bastian. Tentu dia tidak keberatan jika membantu dad nya itu.
"ck.. kau itu kaku sekali sih Zel! kalau kau kaku seperti ini nanti tidak ada gadis yang mau denganmu! dad sudah ingin memiliki cucu tahu"
Danzel menoleh dan menatap sinis dad Bastian "aku saja baru masuk sekolah menengah atas. Kalau dad menginginkan bayi buat sendiri saja!"
Bastian melotot mendengar ucapan anaknya ini "kamu mau dad pukul ya?"
"tidak!"
"astaga... kalau kau bukan anakku sudah aku gelindingin kebawah!" ucap Bastian ketus.
***
Satu jam berlalu, pekerjaan Bastian ternyata telah selesai. Berkat bantuan dari anaknya yang genius.
Bastian menoleh kearah Danzel yang sedang membereskan barang-barangnya "kau sudah mau pulang?"
"hmm"
"kau pulang dulu saja, dad masih ada hal yang mau dikerjakan"
Danzel mengangguk "aku pulang"
Bastian mengangguk "kiss dulu sini boy" ucapnya sembari menggoyangkan jari telunjuknya. Agar anaknya itu mendekatinya.
__ADS_1
Danzel menatap jengah dad Bastian. Apa pria paruh baya ini menganggapnya anak kecil? sungguh memalukan sekali "cium tembok saja sana! bye dad" ucapnya datar lalu pergi begitu saja.
"aish.. ingin sekali kubecek-becek rasanya!" ucap Bastian sembari memperagakan seperti tengah merem-as wajah anaknya yang datar itu. "ah-- aku sampai lupa, dimana gadis itu sekarang" ucapnya saat teringat akan Queen.
Pria itu kembali duduk di kursi dan mencari keberadaan Queen melalui kamera pengawas yang terpasang disetiap sudut mansion. "mereka berdua masih berada dirooftop?" gumamnya, dia juga dapat melihat jika mereka berdua tampak sedang mendiskusikan sesuatu. "jiwa kepoku meronta-ronta" ujarnya lalu dia segera pergi menuju rooftop.
Saat sampai disana, Bastian berdiri disisi tembok. Mengintip pergerakan mereka yang terlihat masih fokus berbicara. "kenapa tidak terdengar apapun?" gerutunya dengan pelan. Bastian sungguh penasaran sekali, tapi dia tidak mau langsung muncul dan pastinya nanti Queen pasti akan merahasiakan semuanya padanya.
"ck.. sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai selama ini? bahkan aku sudah selesai bekerja dan mereka masih saja membicarakan hal yang tidak aku ketahui"
Matanya menajam untuk melihat mereka berdua "mencurigakan!"
Karena merasa penasaran Bastian mulai berjalan mendekat, agar dia dapat mendengar apa yang sedang mereka bincangkan.
Melangkah berjinjit mendekati Queen dan Arlendra, dia sampai ditempat yang aman dan tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Berdiri disisi papan kayu yang digunakan sebagai pembatas.
Mulai memasang telinganya lebar-lebar. "black hold?" gumamnya saat dia dapat mendengar ucapan Arlendra barusan.
Mata Bastian terbelalak saat tiba-tiba saja dia melihat benda tajam terbang kearahnya.
sleb
"ahhhkk--" pekik Bastian karena ia tadi tidak sempat menghindar, matanya sampai terpejam saking dia terkejut. Bastian tidak menyangka jika akan ada benda tajam yang melayang kearahnya.
Mata Bastian mulai terbuka sedikit, meraba wajahnya "huhh..." bernafas dengan lega karena benda tajam itu tak mengenai wajahnya. Dia menoleh kearah kayu yang ia gunakan untuk bersembunyi, ternyata belati itu tertancap disana.
"aduh.. kenapa aku sampai meleset ya? padahal aku tadi mengincar kening uncle loh.." ucap santai seorang gadis sembari menatap Bastian.
gluk
Bastian sampai menelan ludah, dia benar-benar terkejut sekali.
"hahahaha..uncle Arlendra, lihatlah wajah uncle Bas, dia lucu sekali bukan?" tanya Queen pada Arlendra, dia meminta persetujuan dari pria paruh baya itu.
__ADS_1
Arlendra mengangguk sembari menahan tawa melihat wajah shok Bastian. Terlihat sangat lucu.