QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
akting


__ADS_3

Setelah beberapa hari, Queen akhirnya terbebas dari bodyguard yang Darren siapkan untuk menjaganya. Meski ia tahu masih ada satu orang yang mengikuti nya secara diam-diam namun itu lebih baik dari pada ia diikuti oleh orang berbadan besar yang mengikuti langkah kakinya. Queen merasakan ketidak nyamanan karena beberapa orang akan menoleh kearah dirinya.


"kak. Kau tahu jika sedang diikuti oleh seseorang?"


Queen yang sedang memakan camilan disebuah taman menoleh kearah Gerrell, pemuda itu baru ada waktu menemaninya jalan-jalan setelah beberapa waktu katanya sibuk. Entah apa yang pemuda itu kerjakan Queen terlalu malas untuk memikirkan nya. "tentu saja tahu" jawabnya terdengar cuek dan masa bodo.


Gerrell mengangguk kemudian menyomot makanan yang ada dihadapannya "priamu sungguh posesif"


"jangan membicarakan dia. Aku malas"


"Malas? cih.. kalau ketemu saja langsung menempel seperti perangko" gerutu Gerrell.


Queen menoleh dan tergelak "itu karena wajahnya yang terlalu tampan jadi aku tidak tahan untuk mendekat."


"masih tampan aku juga."


"meski kau tampan tapi tidak maskulin sama sekali. Darren itu memiliki karisma yang luar biasa. Wajahnya yang tampan dengan mata tajam itu terlihat seperti seorang badboy liar yang sulit untuk ditolak"


Gerrell memutar bola matanya jengah mendengar gadis yang sedang dimabuk cinta itu. Dia harus mengalihkan pembicaraan atau nanti kakaknya akan terus memuji betapa tampannya pujaan hatinya. "kak. Tadi Gerald memarahiku karena tak pulang-pulang" ujarnya mengadu dengan raut wajah sedih. Seolah dia sudah ditindas oleh saudara kembarnya.


"Gerald benar. Kau sudah lama bolos sekolah. Kalau nilaimu turun nanti aku akan menggantungmu diatas pohon!" ancam Queen dengan nada serius, dia memang serius.


"kenapa kalian berdua suka sekali menindasku" keluh Gerrell terdengar pilu. Dia merengek seperti anak kecil. "kalau kakak masih disini, aku juga akan tetap disini" ujarnya kukuh.


"kau memang menyebalkan egois dan seenaknya sendiri"


Gerrell hanya memberengut saat mendengar ucapan ketus dari Queen "kakak kapan pulang memangnya?"


"Sekitar satu Minggu lagi"


"Emangnya mau ngapain lagi? apa kakak nggak rela meninggalkan pacarmu itu?" tanya Gerrell dengan wajah malas.


Queen menatap sinis Gerrell "aku masih ada urusan. Tapi itu juga salah satu alasannya sih, hehe" ucapnya diakhiri dengan gelak tawa.


"oh iya kak. Aku beberapa hari ini mencari tahu tentang mafia-mafia yang ada disekitar kota Paris."


"Apa ada hasilnya?"


Gerrell mengangguk dengan semangat "ya. Disini ternyata mereka masih terpacah belah. Mereka masih saling menjatuhkan satu sama lain. Kalau kekasihmu itu bisa memecahkan masalah internal tersebut Tuan Darren akan sangat mudah untuk menguasai mereka semua, Black hold akan langsung berkuasa."

__ADS_1


Queen menatap curiga Gerrell saat adiknya itu berbicara dengan binar berbeda dimatanya.


"kenapa kakak menatapku begitu?" tanya Gerrell.


"apa rencanamu yang sebenarnya?"


Gerrell tersenyum karena kakaknya ini memang tahu sekali tentang dirinya "kita bisa membantu proses itu, kemudian kakak bisa menguasai dunia bawah yang ada di Eropa ini dengan bekerja sama dengan Black hold. "


Queen berfikir sejenak. Bukankah jika seperti itu, itu artinya Queen memanfaatkan Darren? "aku tidak mau"


"Why? Kita akan memiliki koneksi yang semakin luas jika kakak mau melakukan hal ini. Kita akan dengan mudah menguasai beberapa wilayah untuk memperluas jaringan Tiger White. Ini akan sangat mudah karena kakak memiliki hubungan pribadi dengan leader Black hold. Tuan Darren pasti memiliki koneksi yang lebih luas karena ini adalah wilayah nya"


"tapi dengan cara memanfaatkan Darren?"


"oh ayolah kak.. Kakak bukan memanfaatkan dia, kakak mengajaknya bekerja sama untuk menguasai Eropa. Ini juga akan sangat menguntungkan untuk black hold itu sendiri"


"Ternyata adikku ini sangat licik." ujar Queen sembari menatap Gerrell. "akan kakak bicarakan masalah ini dengan Darren nanti"


"masalah apa?"


Queen dan Gerrell tersentak saat mendengar suara seseorang dari arah belakang, apalagi bahu mereka dipegang olehnya. Kedua kakak beradik itu menoleh bersamaan.


"oh astaga.. kau hampir membuat jantung kita berdua berhenti berdetak" keluh Queen sembari mengusap dadanya.


"iya. Ngapain kau kemari? apa tidak memiliki kesibukan lain?" keluh Gerrell sembari menatap jengah pria yang bernama Edgar itu.


Edgar terkikik kemudian memutari kursi yang digunakan oleh Queen dan Gerrell. Lalu duduk dikursi yang bersebrangan dengan mereka. Dia menyomot makanan yang ada diatas meja tanpa izin kemudian memakannya dengan santai.


"Apa setiap orang Eropa tidak memiliki etika seperti ini?" tanya Queen pada adiknya.


"hanya ada satu saja kok yang seperti ini, spesies langka yang dilindungi oleh pemerintah "


uhuk


Edgar terbatuk mendengar ucapan kedua orang yang ada dihadapannya, dia semakin jengkel saat kakak beradik itu malah tertawa melihat reaksi wajahnya. "bolehkah aku memakan ini nona dan tuan muda? aku kelaparan setelah bekerja seharian" ucapnya dengan suara tertahan karena jengkel.


Gerrell tertawa terbahak lagi "ambilah.. kasihan sekali spesies satu ini kelaparan"


"ish.. Mulutmu itu sungguh membuatku kesal." Setelah menggerutu dia menoleh kearah Queen "aigo.. aigo.. cantik sekali kekasih sahabatku. Pantas saja Darren sangat tergila-gila padamu" ujarnya memuji dan berbinar saat melihat dengan teliti jika kekasih sahabatnya itu tampak jauh lebih cantik dari pada terakhir dia lihat.

__ADS_1


"mau aku timpuk kau ya?"


Edgar menoleh kearah Gerrell saat pemuda itu berbicara keras padanya, dia terkikik kemudian kembali fokus pada gadis yang saat ini menatapnya jengah "jangan merengut seperti itu sayang. Nanti cepat tua"


Mendengar rayuan dari pria tak tahu malu dihadapannya ini membuat Queen semakin jengah.


"aku akan menghubungi tuan Darren jika sahabatnya sedang mencoba menggoda kakak"


Edgar menatap panik Gerrell saat pemuda itu mengambil ponselnya "aish.. aku hanya bercanda! jangan keterlaluan"


"Hallo.."


Mata Edgar terbelalak saat Gerrell mulai berbicara, dia berdiri dari duduknya kemudian merebut ponsel tersebut. "sudah kubilang aku hanya bercanda saja. Kenapa kau benaran menelfon Darren!" ucapnya panik, dia segera menatap layar ponsel milik Gerrell.


"hahahaha.."


Edgar menatap wajah Gerrell saat pemuda itu tertawa terbahak "bocah sialan! kau mempermainkan aku?!" pekik Edgar karena kenyataannya Gerrell tak menelfon siapapun.


"Dasar bodoh!"


Edgar yang tidak terima segera mencekik leher Gerrell. Rasanya ia ingin sekali membunuh pemuda menyebalkan ini.


"Kalau sampai kulit adikku lecet sedikit saja, aku akan membunuhmu!" ucap Queen saat mendengar rintihan kecil dari Gerrell.


deg


Edgar membeku kemudian menoleh kearah gadis yang duduk disisi Gerrell. Tatapan mata gadis ini terasa mengerikan dengan aura intimidasi yang begitu pekat. Dengan gerakan cepat, Edgar melepaskan tangannya yang ada dileher Gerrell kemudian menjauh. "astaga.. tatapan matanya mengerikan sekali" batinnya berucap sembari duduk ditempatnya semula.


"kak. Kau menakutinya"


Queen menatap wajah Edgar yang tampak pucat, sepertinya ia sudah keterlaluan "ah. Aku menakutimu ya? maaf, aku hanya bercanda tadi kok hehehe" ucap Queen sembari terkekeh diakhir ucapannya.


"oh tidak papa" Edgar menatap manik polos Queen yang saat ini terlihat lebih bersahabat"tapi kenapa aku merasa kalau dia serius dengan kata-katanya?" batinnya berucap sembari merinding, dia mengusap tengkuknya yang bulunya berdiri semua.


"jangan takut. Aku tadi hanya akting. Bagaimana? bagus tidak aktingku?" tanya Queen dengan binar ceria seperti biasanya. Dia tak mau sampai membuat Edgar ketakutan seperti ini.


"ehem. Bagus" ucap Edgar dengan suara agak canggung. Dia merutuki dirinya yang merasa takut pada seorang gadis kecil.


****

__ADS_1


__ADS_2