
Gadis itu mencuci piring kotor di wastafel rumah sederhananya dengan sesekali melirik Mamanya yang sibuk mencatat sesuatu di notes. Queen, dia sedari tadi ingin berbicara sesuatu kepada Mamanya tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu.
Selesai mencuci piring, gadis yang memakai celana pendek di atas lutut serta kaos kebesaran milik Kenan yang bagian depannya di masukan ke dalam celana pun menghampiri Yuna. Dia duduk di sisi Ibunya dengan sedikit melirik apa yang sedang Yuna lakukan.
"Kamu bisa kembali ke kamar kalau pekerjaan mencuci piring kamu sudah beres,"kata Yuna tiba-tiba.
Queen terdiam, gadis itu menarik nafas pelan lalu berusaha tersenyum manis kepada Yuna.
"Ma, aku mau ngomong sama Mama. Bisa?"tanya Queen hati-hati.
Yuna terdiam sejenak, lalu tak lama wanita itu berdehem sambil kembali menuliskan sesuatu di notesnya. Bahkan dia sama sekali tidak melirik anaknya.
"Om Tio, dia ngirim pesan ke hape aku Ma."
Tubuh Yuna menegang, tiba-tiba saja cengkramannya pada pulpen mengencang. Dia menatap anaknya dengan tajam.
"Apa isi pesan dia?"tanya Yuna dingin.
"Katanya uang bulanan aku udah di transfer ke rekening yang Mama bikinin buat aku,"jawab Queen sambil menatap Mamanya dengan sayu.
Yuna memang pernah membuatkan Queen rekening, alasannya karena orang itu selalu mengirimi uang bulanan Queen ke rekeningnya, dia lelah karena suatu alasan dan memutuskan untuk membuatkan Queen tabungan ATM. Dia tidak pernah memberi tahu Amar soal anaknya yang mempunyai tabungan di bank.
"Pakai uang itu dengan baik, dan ucapkan terima kasih kepada sang pengirim."
Bahkan Mama gak mau nyebut nama pengirim uangnya, batin Queen sedih.
"Ma, Queen kangen sama Pa–"
"Mending kamu ke kamar sekarang, Queen! Mama lagi kerja, "potong Yuna sambil menatap tajam anaknya.
Queen merasakan kedua matanya memanas, gadis itu menarik nafasnya lalu tersenyum lebar ke arah Mamanya yang masih menatapnya dengan tajam.
"Oke, Queen bakal ke kamar kok, Ma. Oh ya, Mama jangan terlalu cape kerjanya ya,"pesan Queen sambil mengecup pipi Yuna.
"Queen sayang banget sama Mama,"lanjutnya lalu pergi menaiki tangga.
Tatapan Yuna yang tadinya tajam perlahan berubah menjadi sayu ketika sosok Queen tidak terlihat lagi di matanya. Wanita itu menunduk dengan pandangan nanar menatap lantai.
"Maafkan Mama ya Queen,"gumamnya pelan.
...||||...
Suasana hingar bingar oleh musik yang berdentam keras itu berhasil membuat kepala Kenan bergerak pelan mengikuti irama, lampu kerlap-kerlip di Club itu mampu membuat pandangannya sedikit tak jelas.
Ya, Kenan! Dia sedang berada di Club malam bersama para sahabat-sahabatnya, mereka menghabiskan malam ini dengan berada di tempat maksiat. Verrel yang sibuk menari bersama gadis yang baru di kenalnya di dance floor sana, Tegar yang sibuk mengobrol bersama seorang wanita yang lebih dewasa dengan segelas vodka di genggamannya, lalu Kenan serta Andra yang sibuk menikmati pemandangan Club dengan segelas minuman alkohol di tangan mereka.
"Ken, cewek yang pakek gaun merah ketat itu terus liatin lo tuh!"ujar Andra sedikit keras.
Kenan mengikuti tatapan Andra, dan benar saja! Seorang gadis yang lebih tua dari mereka langsung salah tingkah.
"Buat lo aja Bro,"ucap Kenan sambil terkekeh. Dia meminum sampanyenya dengan mata yang terus menatap sang DJ yang tengah memainkan musik remix.
"Gue gak doyan yang lebih tua Man,"balas Andra sambil tersenyum sinis.
Kenan menyeringai, dia menatap Andra dengan alis yang naik sebelah.
"Gak suka yang lebih tua? Sukanya daun muda gitu?"tanya Kenan.
"Right!"
"Dea contohnya?"tanya Kenan terselip nada mengejek di dalamnya.
Andra mendadak tersenyum, cowok itu menyesap minumannya dengan mata sedikit menyipit ketika membayangi wajah jutek Dea.
Kenan yang melihat itu pun tertawa pelan, dia meminum habis minumannya lalu menepuk bahu sahabatnya.
"Jangan pengecut dong, Ndra. Lo suka sama sahabat pacar gue, tapi lo gak berani buat ngakuinnya. C'mon Brother! Sahabat gue bukan pengecut semua,"ujarnya sambil menyeringai.
Andra hanya mengedikan bahunya, entahlah! Dia merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Padahal Andra ini tampan, dia juga manis dan pintar.
Kenan diam ketika merasakan ponselnya bergetar, cowok itu merogoh ponselnya yang berada di saku celana lalu mengulum senyum ketika melihat chat dari gadisnya.
Queen Lavinda👅:Kenan di mana??
__ADS_1
Andra mengintip chat masuk dari Queen untuk Kenan, dia mengerutkan kening ketika melihat emot yang di berikan Kenan pada kontak Queen.
"Emotnya kok gitu?"tanya Andra yang berhasil membuat Kenan menyeringai.
"Bocah mana paham!"
Kenan Badesta:apa sayang? Aku di rumah.
Oke cowok itu berbohong, dia sedang berada di Club bukan rumah. Tapi Kenan berbohong karena tidak mau Queen mengomel padanya, gadis itu tidak suka jika Kenan main ke tempat maksiat ini.
Queen Lavinda👅:Kenan mau nggak kalau Queen mintain tolong?
Kenan Badesta:minta tolong apa?
Queen Lavinda👅:tolong beliin Queen martabak telor deket apartmen kamu. Queen nanti ganti uangnya kok😚
Kenan terkekeh pelan ketika mendapati bahwa Queen menginginkan martabak telor. Tanpa membalas pesan dari Queen, cowok itu berdiri.
"Kemana lu?"tanya Andra yang sekarang sibuk merokok.
"Apel ke rumah pacar gue, lah!"
"Gak seru apel kalau ada nyokap bokapnya di rumah,"ujarnya sambil menyeringai.
Kenan tertawa, cowok itu meninju pelan bahu Andra lalu melangkah pergi dari Club yang makin malam semakin ramai.
...||||...
Kenan:aku di depan rumah, Yang.
Queen spontan tersenyum lebar, dia membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan lalu berjalan keluar dari kamarnya. Dia sedikit terkejut ketika melihat Yuna masih terdiam di tempatnya, dan notes masih berada di genggamannya.
"Kemana?"tanya Yuna tanpa menatap anaknya.
"Kenan ada di depan Ma, dia nganterin martabak yang Queen minta beliin,"jawab Queen malu.
Yuna menaikan satu alisnya, tanpa di sangka wanita itu berdiri lalu berjalan ke arah pintu di ikuti Queen.
Saat pintu terbuka di sana sudah ada Kenan yang sedang duduk di kursi kayu, dia tersentak kaget ketika Yuna yang membuka pintu.
Matanya yang sayu menatap Queen yang berada di sebelah Yuna, dia tersenyum ketika sadar bahwa Queen memakai bajunya.
"Waalaikum sallam. Malam juga,"sapa balik Yuna sambil tersenyum tipis.
"Apa kabar, Tante?"tanya Kenan basa-basi.
Yuna mengangguk, dia melipat tangannya di depan dada.
"Baik. Ah ya, Tante harus balik ke dalam karena masih ada urusan, kalian ngobrol di sini aja gak apa-apa? Gak enak kalau nerima tamu malam-malam ke dalam rumah,"ujar Yuna lalu masuk ke dalam rumah.
Kenan hanya tersenyum maklum. Matanya menatap Queen yang menatapnya dengan pandangan tidak enak, dia menarik tangan Queen lalu memeluknya.
"Ih Ken, lepas! Gimana kalau ada yang liat?"desisnya sambil mencoba melepaskan pelukan Kenan.
Kenan tersenyum kecut di antara bahu gadisnya itu, dia menghirup aroma Queen dengan pelan.
"Gak perduli,"ujarnya pelan.
Queen menghela nafasnya, dia sedikit tidak nyaman ketika tangan Kenan membelai punggung bagian bawahnya. Mata Queen melirik sekitar, dan untunglah malam ini sedang sepi.
"Kamu bau alkohol,"cetus Queen tiba-tiba.
Queen memang sadar bahwa pacarnya ini bau alkohol, dia sedikit kesal tapi juga takut. Dia bisa merasakan bahwa Kenan terkekeh pelan.
"Maaf, aku bohong sama kamu di chat tadi. Aku sebenernya di Club bukan di rumah,"ujarnya sambil menatap wajah Queen dengan sayu.
"O-oh,"respon Queen sambil memalingkan wajahnya.
Kenan menaikan satu alisnya, dia melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi kayu yang berada di teras rumah Queen.
"Just oh?"
Queen duduk di kursi kayu juga, meja kecil yang terdapat keresek putih berisi pesanan Queen menjadi penghalang di antara keduanya.
__ADS_1
"Aku lagi gak mau ngomel,"ujar Queen pelan.
"Kenapa?"tanya Kenan spontan.
"Aku takut kalau kamu lagi mabuk kayak gini, aku gak mau ngomel karena takut kamu ngamuk nantinya,"jawab Queen takut.
Kenan menahan tawanya, bagaimana dia bisa mabuk jika dia saja baru merasakan satu gelas minum. Cowok itu mengangkat kursinya lalu memposisikannya menjadi berhadapan dengan Queen. Dia menahan senyumnya ketika Queen terlihat gugup.
"Aku gak mabuk sayang,"lirihnya sambil menggenggam tangan kanan Queen dan menyimpannya di paha gadis itu.
"Tapi kamu bau alkohol,"lirih Queen sambil menatap Kenan.
"Emang. Tapi sumpah aku belum mabuk."
"Oh."
"Oh doang lagi?"tanya Kenan dengan tatapan jengah.
Kening Queen mengerut, dia menatap Kenan dengan bingung.
"Emang kenapa?"
"Gak ada kata lain selain 'oh' gitu?"
"Aku bingung mau ngomong apalagi soalnya,"ucap Queen sambil cemberut.
"Kenapa? Kamu belum waktunya PMS padahal,"ujar Kenan santai.
Pipi Queen memerah, gadis itu mengigit bibir bawahnya karena sekarang Kenan sedang tersenyum mengejek kepadanya.
Cowok itu memang tahu kapan waktunya dia PMS.
"Om Amar ada?"tanya Kenan tiba-tiba.
Mendadak senyum Queen lenyap, di gantikan dengan rasa kesal karena pacarnya malah menanyakan keberadaan pria itu.
"Belum pulang."
Kenan mengangguk-anggukan kepalanya, matanya melirik keresek berisi martabak yang di bawanya.
"Tuh Queen. Pesenan kamu,"ucapnya pelan.
"Makasih. Oh ya, nih!"
Kening Kenan mengerut, dia menatap tak suka uang berwarna biru yang di sodorkan Queen kepadanya.
"Apa?"tanya Kenan.
"Uang,"jawab Queen polos.
"Buat?" Kenan bertanya lagi.
"Gantiin uang kamu buat beli ini martabak, Ken."
"Gak perlu."
Mata Queen terbelalak, dia menggeleng lalu memaksa Kenan agar menerima uang yang di berikan oleh Queen.
"Terima atuh, Ken. Gak enak kalau kamu gak nerima uang ini,"paksa Queen setengah merengek.
Kenan menghela nafasnya, dia masih tidak menerima uang pemberian Queen.
"Anggap aja aku ngasih Queen. Jarang juga kamu minta beliin makanan sama aku selama kita pacaran,"ujar Kenan lembut.
Queen menghela nafasnya, dia mengerucutkan bibirnya dan Kenan dengan gesit dia menekan bibir yang mengerucut itu dengan jari telunjuknya. Cowok itu tertawa ketika Queen tersipu malu, dia melirik jam tangannya. Ternyata sudah jam 10 malam.
Dia berdiri dan Queen pun ikut berdiri.
"Udah malam, aku pulang ya. Oh ya, kalau udah makan martabaknya langsung tidur, ya? Besok aku jemput. Aku sayang kamu,"ujarnya sambil mencium kening Queen agak lama.
Queen tersenyum, jantungnya berdetak kencang ketika bibir itu menyatu dengan keningnya. Dia mengulum senyumnya ketika mata tajam yang sayu milik Kenan menatapnya.
"Ak-aku juga sayang kamu, Kenan."
__ADS_1
...||||...
Avvv, bucin mode on✨