
Pagi ini Queen terlihat berbeda di sekolah. Gadis itu menjadi sedikit diam dan cuek pada omongan-omongan para fans pacarnya yang bilang bahwa Queen tidak pantas dengan Kenan and blablabla! Biasanya Queen selalu muram bahkan curhat pada Dea seperti biasa.
"Queen!"panggil Dea heboh.
Queen yang semula sedang membaca novel di bangkunya pun mendongak untuk menatap wajah Dea. Keningnya mengerut ketika melihat bahwa ekspresi sahabatnya sangat cemas.
"Ada apa, De?"tanya Queen.
Nafas Dea ngos-ngosan, telunjuk gadis itu mengarah keluar kelas. Queen tambah bingung, pasalnya Dea tadi habis dari kantin sekolah. Queen memang memilih untuk tidak beristirahat ke kantin, dia memilih diam di kelas sambil membaca koleksi novel barunya.
"Kantin, Queen!"
"Kantin? Kantin kenapa?"
Dea menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Gadis itu terlihat sedang menormalkan dulu nafasnya, rasanya dia gempor ketika berlari sekuat tenaga dari kantin ke kelasnya yang cukup jauh.
"Kenan berantem sama Kak Liam di kantin sekolah!"serunya heboh.
Mata Queen terbelalak, gadis itu terkejut dengan seruan Dea. Dengan cepat gadis itu berlari keluar kelas di ikuti Dea yang mencak-mencak karena harus berlari lagi.
Queen beberapa kali menabrak orang-orang yang menghalanginya sehingga membuat Queen mendapati sumpah serapah. Tapi untuk saat ini Queen tidak perduli, yang dia perdulikan adalah Kenan sekarang.
Saat ingin masuk ke kantin, Queen serta Dea sedikit kesusahan menerobos para murid yang sibuk menyaksikan adegan Kenan serta Liam yang saling menonjok satu sama lain.
"Kakak-Kakak minggir dulu, punten!"seru Queen lalu berlari lagi ke tengah kantin ketika dia sudah bisa menerobos kerumunan sedangkan Dea masih kesusahan disana.
Di tengah kantin sudah terlihat sangat berantakan, bangku-bangku dan meja sudah terjatuh akibat dua remaja yang masih bertengkar entah karena apa sekarang. Teman-teman Kenan sudah berusaha melerai kedua remaja itu tapi tidak bisa, Kenan selalu menghalanginya bahkan cowok itu sempat menonjok Tegar ketika ingin memisahkannya. Mata Queen juga bisa melihat ada Givani yang terpaku di samping Andra.
"Kenan stop!"seru Queen yang tidak di gubris sama sekali oleh Kenan.
Cowok itu menendang perut Liam sehingga membuat Liam terjatuh ke lantai, Kenan pun menonjok wajah serta perut Liam dalam keadaan Liam yang terbaring lemah.
"Kenan ada cewek lo, anjing!Berhenti ******!"teriak Verrel yang sama sekali tidak di gubris oleh Kenan.
Kepala Queen sudah pening rasanya melihat adegan tersebut, entah kenapa dia mengingat kejadian dimana Mamanya di panggil oleh Tuhan.
"KENAN AKU BILANG STOP!"teriak Queen sambil mendorong tubuh Kenan lalu dia berjongkok di samping tubuh Liam yang sudah lemah dengan mata sayu yang menatap Queen.
Nafas Kenan memburu, cowok itu menatap gadisnya dengan sinis. Kenapa Queen harus muncul sih? Kenan masih belum puas untuk menghajar wajah Liam.
"Berdiri!"titah Kenan pada Queen yang masih sibuk menatap wajah babak belur Liam.
Suasana hening terjadi ketika melihat wajah Kenan yang dingin namun emosi seperti itu. Sebagian murid bahkan menatap Queen dengan pandangan horor karena melihat gadis itu malah terlihat khawatir pada kondisi Liam di banding pacarnya.
"Queen gue bilang berdiri!"seru Kenan yang membuat tubuh Queen mematung.
Queen bangun sambil berusaha mengangkat tubuh Liam yang lemah. Gadis itu menatap Kenan dengan takut-takut.
"Sini!"
Kepala Queen menggeleng, dia tidak bisa meninggalkan Liam begitu saja. Cowok ini sepertinya harus di bawa ke UKS karena lukanya yang cukup parah, sedangkan Kenan hanya terluka sedikit saja.
"Queen cari mati,"desis Andra pelan.
Kenan menatap Queen datar, cowok itu menatap Liam yang diam-dian tersenyum mengejek padanya.
"Gue bilang sini, Queen! Denger gak lo!?"
__ADS_1
Semua orang menahan nafasnya termasuk Dea yang sudah sedikit dekat dengan Queen jaraknya. Gadis itu menatap Queen dengan cemas, pasalnya dia tahu bahwa Queen sangat anti untuk di bentak-bentak.
"Aku harus bawa Ka-Kak Liam ke UKS Ken,"ujarnya terbata.
Rahang Kenan terkatup rapat, cowok itu jelas marah dengan apa yang bibir gadisnya itu lontarkan.
"Why?"
"Kak Li-Liam luka Ken, dan itu karena berantem sama kamu. Ja-jadi aku mau tanggung jawab sebagai pacar kamu dengan bawa Kak Liam ke UKS,"jawab Queen sambil menunduk.
Kenan tertawa sinis, cowok itu berjalan mendekat ke arah gadisnya yang menunduk. Matanya melirik Liam yang juga menatapnya dengan tajam.
"Liat gue."
Queen masih menunduk. Dia tidak berani untuk menatap wajah pacarnya yang sudah dia pastikan marah besar.
"Queen liat gue!"serunya dengan mencengkram dagu Queen sehingga membuat wajah itu menghadap ke arahnya.
Mata indah Queen sudah berkaca-kaca, jika saja dia berkedip maka mata itu akan mengeluatkan cairan beningnya.
"S-sakit Ken,"lirihnya ketika merasa bahwa Kenan mencengkram dagunya sangat erat.
"Jangan kasar sama cewek,"sahut Liam sinis. Dia jelas tidak suka ketika melihat gadisnya di perlakukan kasar oleh Kenan.
Kenan mendengus kesal, dia menatap Liam dengan tajam.
"Diam *******! Gue gak lagi ngomong sama cowok ular kayak lo!"
Liam mengetatkan rahangnya, jika saja sekarang tangan Queen tidak sedang menggenggam tangannya mungkin Liam akan sudah membalas pukulan-pukulan menyakitkan yang Kenan layangkan pada wajahnya.
"Ken... lepas,"pinta Queen lirih.
"Lo buta, hah?"tanya Kenan sinis.
Queen diam, gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisnya.
"Ma-maksud kamu apa?"
"Lo buta hah!? LO GAK BISA LIAT KALAU COWOK LO JUGA LUKA!?"
Mata Queen terpejam bersamaan dengan air mata yang keluar dari mata gadis itu. Dia terkejut ketika mendengar teriakan Kenan yang sangat tepat di hadapan wajahnya.
"T-tapi Ke-Ken..."
Kenan menghempaskan cengkaramannya lalu mundur beberapa langkah, cowok itu menatap Liam dengan marah dan menatap Queen dengan pandangan kecewa.
"Urusin aja Liam lo itu. Jangan perduliin gue,"desisnya lalu menggenggam tangan Givani yang tersentak kaget.
Bukan hanya Givani yang terkejut, tapi semua orang yang berada di kantin termasuk Queen yang sudah terpaku di tempatnya.
"Ke-Ken, maksudnya a-apa?"tanya Givani pelan.
Kenan mendengus, cowok itu menatap Queen dengan sinis.
"Ke-Ken ikut aku! Aku bakal obatin luka kamu,"ucap Queen di iringi isakannya.
"Udah gak perlu! Gue maunya di obatin Givani!"
__ADS_1
...||||...
Kedua remaja berbeda jenis kelamin itu masih diam dengan duduk bersisian di bangku taman sekolah yang sepi karena bel masuk telah berbunyi.
"Kenan, kenapa lo gandeng tangan gue di depan semua orang termasuk Queen tadi?"tanya Givani pelan.
Kenan menatap gadis cantik di sebelahnya dengan datar. Dia memang membawa Givani ke taman sekolah setelah menarik gadis itu pergi dari kantin.
"Gak apa-apa."
"Lo mau buat Queen cemburu sama gue?"
"Gak!"
"Ya terus kenapa tadi lo lakuin itu Ken?"tanya Givani gusar.
"Diem bisa?"
Givani lantas diam dengan wajah paniknya. Dia takut Queen marah karena pacarnya justru menggandeng sahabatnya tepat di depan wajahnya. Gadis mana yang rela bila cowoknya menggandeng gadis lain?
"Itu balasan buat Queen. Dia gandeng tangan Liam."
Givani bungkam. Dia tidak berani untuk bersuara, dia tahu cowok di sampingnya tengah menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
"Gue bingung sama jalan pikirannya Queen. Jelas-jelas gue cowoknya, gue cowok tu cewek! Tapi kenapa dia malah milih buat ngobatin luka musuh gue yang jelas-jelas pengen rebut Queen dari gue? Lo tau sendirikan Giv siapa yang mulai? Si Liam anjing itu bukan gue!"
Givani masih bungkam. Dalam hati dia membenarkan apa yang di katakan oleh Kenan tadi. Memang Liam yang memancing amarah Kenan duluan, cowok itu menghampiri Kenan lalu memanas-manasi cowok itu.
"Queen cantik ya malam kemarin. Tu cewek keliatan seksi pakek dressnya. Jadi mikir yang nggak-nggak."
Itu yang di ucapkan oleh Liam sehingga membuat Kenan memukul bibir cowok itu hingga berdarah.
Cowok mana yang terima ketika ada cowok lain yang secara tidak langsung melecehkan pacarnya lewat imajinasi mereka?
"Sabar, Kak. Queen mungkin cuma pengen ngewakilin Kakak aja buat tanggung jawab sama Kak Liam. Secara lo kan mana mau bawa bahkan ngobatin Kak Liam ke UKS,"ucap Givani lembut.
Kening Kenan mengernyit. Mata tajamnya menatap Givani dengan bingung, sementara yang di tatap hanya menampilkan senyuman manisnya yang mampu membuat semua cowok jatuh cinta padanya.
"Sejak kapan lo manggil gue pakek embel-embel 'Kak', huh?"tanya Kenan geli.
Senyuman Givani semakin lebar, gadis itu menggaruk tengkuknya.
"Ya... gimana ya? E-emang gak boleh gue sopan dikit sama lo? Lagian lo nya lagi emosi juga, jadi takut kalau manggil nama doang terus lo ngamuk kayak tadi sama gue."
Tanpa bisa di cegah tawa Kenan pecah saat itu juga, cowok itu bahkan memegangi perutnya sambil memandang wajah cantik Givani yang melongo.
"Thanks untuk hiburannya, gue terhibur. Dan gue suka,"ucap Kenan sambil mengacak puncak rambut Givani lalu pergi begitu saja meninggalkan Givani yang mematung di tempatnya.
Gadis itu menatap kosong ke tempat dimana Kenan duduk tadi.
"Kok jantung gue makin kenceng ya ngedetaknya? Ah! Gila, gila, gila!"
Tanpa Givani sadari, ada seseorang yang tersenyum miring di balik pohon besar tak jauh dari posisi Givani sekarang berada. Di pikiran cantiknya sudah banyak sekali ide-ide licik untuk membuat hubungan Queen dan Kenan kandas secepatnya.
"Let see."
...||||...
__ADS_1
Siapa tuh yang ngumpet??? wkwk