
Sudah beberapa hari berlalu, Queen merebahkan kepalanya diatas tumpukan berkas yang baru saja Devika antarkan.
Dia tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Darren, hanya beberapa kali ia melakukan panggilan video itupun harus sudah larut dan hanya sebentar saja.
Queen memahami jika Darren memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Dia tahu segala kesibukan dari uncle Arlendra. Tapi hanya sekedar mengetahui, gadis itu tidak membantu apapun meski ia tahu jika Darren saat ini dalam keadaan yang bisa dikatakan cukup sulit untuk menghadapi pemberontakan.
Tapi ia tahu dan yakin jika tunangannya itu akan berhasil menyelesaikan konflik internal kelompoknya tersebut.
Apalagi yang ia ketahui jika kakek Keith mendukungnya.
Queen menghela nafasnya panjang "Rasanya lelah sekali.. Apalagi nggak ada ayang yang memberi semangat, rasanya tumpukan berkas ini ingin sekali kubakar sampai habis" gumamnya.
"bakar saja! dan nanti dad akan menggantungmu diatas pohon"
Queen mendongak saat mendengar suara seseorang "kau hantu ya? tak kudengar suara membuka pintu dan langkah kaki tapi kau sudah duduk santai disitu?" gerutunya saat melihat seorang pemuda tengah duduk santai disofa.
"kau melamun dari tadi kak, makanya kau tak mendengar. Dan aku itu bukan hantu asal kau tahu ya! tapi aku ini dedemit!"
"pffftt..." Queen terkikik geli mendengar reaksi pemuda yang tak lain adalah adiknya itu "kau ngapain kemari Rel?"
Gerrell berjalan mendekati kakaknya "temani aku menemui seseorang" ucapnya setelah ia sampai didepan kakaknya. Dia duduk di kursi bersebrangan dengan Queen.
"siapa? pacarmu?"
Gerrell menyernyit tak suka "pacar? kalaupun aku berkencan dengan seorang gadis aku tak akan mengajakmu" ucapnya sembari memberengut.
"benar juga. Lalu kau mau mengajak kakak menemui siapa? kalau kau meminta kakak untuk membereskan masalah yang kau buat ajak uncle Jacky saja sana!"
"ish.. siapa juga yang membuat masalah."
"kau itu tukang pembuat onar asal kau lupa"
"ck.. aku sudah berubah ya kak! dan lagi aku mau mengajakmu menemui seseorang yang mau menjual perusahaannya padaku. Kau itu selalu berfikiran buruk tentangku begitu, menyebalkan sekali" gerutunya kesal.
Kali ini Queen menatap serius adiknya itu "kau serius dengan apa yang mau kau kerjakan? kakak tekankan sekali lagi ya Rel.. jika bidang yang mau kau masuki itu adalah dunia yang mengerikan! banyak drama dimana-mana. hal itu membuat kakak muak!"
"aku serius dengan keputusan ku kak" ucap Gerrell dengan menatap serius wajah kakaknya itu. Dia memang serius.
"dan lagi, apa kau punya uang? kau tahu bukan jika dad ataupun kakak tidak akan memberimu sepeserpun jika kau ngeyel mau terjun kedunia entertainment"
"aku sudah memiliki donatur. kakak tenang saja" ucapnya sembari tersenyum penuh arti.
Queen menatap curiga adiknya itu "siapa? jangan bilang jika kau memoroti uang tante-tante.."
"ck.. itu tidak ada dalam kamus ku kak. Adalah seseorang yang berbaik hati mendukungku. Kakak tidak perlu tahu, tapi dia bisa dipercaya kok"
"apa dia tidak mau memanfaatkan dirimu Rel? Kakak tahu kau itu masih polos, nanti kalau kau dijebak bagaimana?"
"kakak berfikiran terlalu jauh, dia akan mendapatkan keuntungan juga jika perusahaan ini mulai beroperasi, dan aku tidak sepolos itu ya! kakak tahu lah bagaimana aku.. Jadi aku tidak akan dimanfaatkan dengan mudah"
"meski sejujurnya memang aku dimanfaatkan. karena tidak mau aku menghalangi hubungan kalian. huh.. dia memang licik" batin Gerrell.
"baiklah.. kakak percaya padamu, kalau begitu ayo pergi"
Gerrell mengangguk dengan senang.
"jangan senang dulu! nanti bantu kakak menyelesaikan tumpukan dokumen itu" menunjuk dokumen yang ada diatas meja.
"oke oke.."
Mereka akhirnya pergi menuju tempat yang sudah disepakati oleh Gerrell dan kliennya itu.
Sesampainya disalah satu cafe yang cukup terkenal, Gerrell mengajak kakaknya masuk dan menemui orang tersebut.
Setelah perbincangan dan negosiasi yang cukup alot dan sedikit sulit, akhirnya perusahaan tersebut sudah berpindah tangan. Dengan wajah puas Gerrell
telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"senyum terus.. kau seperti orang gila Rel"
__ADS_1
"hahaha.. aku sedang senang sekarang. Kakak mau pesan apa? biar aku yang traktir" ucap Gerrell dengan wajah yang berbinar.
Queen hanya mengangguk saja. Karena melihat adiknya senang ia juga merasa senang juga.
drreet dret..
Queen mengambil ponsel yang terasa bergetar, tertera nama uncle Arlendra yang melakukan panggilan padanya "aku akan mengangkat telfon dulu, kau pilihlah apapun Rel.. kau tahu selera kakak kan?"
"oke"
Queen duduk bersandar dan mengangkat telefon tersebut "ada apa uncle?"
"apa nona belum membaca berita panas diartikel bisnis?"
"artikel bisnis? ada apa uncle? apa ada perusahaan yang bangkrut?" tanya Queen karena ia memang belum melihat berita tersebut.
"bukan.. tapi tuan Darren digosipkan berkencan dengan seorang gadis"
braaak..
Gerrell yang sedang memesan makanan menoleh kesumber suara dimana kakaknya itu menggebrak meja. Lalu ia mengusir pelayan cafe saat melihat kilat amarah Dimata kakaknya itu.
"dikabarkan jika tuan Darren akan mengikuti pesta dikapal pesiar bersama dengannya. Tapi uncle rasa itu hanya rumor semata. Karena nona tahu kan jika tuan Darren sangat tergila-gila padamu"
"apa ada jadwal dia pergi ke pesta?"
"ya.. dia akan mengikuti pesta yang dibuat oleh salah satu kliennya. dikapal pesiar"
brak
"breng-sek!!"
Gerrell terkesiap saat Queen lagi-lagi menggebrak meja lagi, apalagi sekarang ia juga mengumpat. "ada apa ini? aku merasa sebentar lagi dunia hancur saat melihatnya marah"
"jangan marah nona.. saya juga mendapat beberapa informasi lainnya"
"nona.."
tut
Queen mematikan panggilan tersebut.
braak
Mengamuk untuk kesekian kali, dia membanting ponselnya diatas meja.
"kakak mau kemana?" pekik Gerrell saat melihat Queen pergi dengan tergesa.
"ke Paris" ucapnya sebelum ia benar-benar pergi.
"hah.. Paris? mau ngapain?" tanya Gerrell meski Queen sudah tidak terlihat. Dia memilih lari mengejar Queen , ia hendak mengikuti kemana Queen pergi saat melihat kakaknya yang terlihat marah.
***
Sedangkan diParis, Darren tengah berdiri dihadapan seorang wanita paruh baya.
"apa-apaan ini Ren?! kau berkencan dengan gadis lain?!"
Darren yang baru saja pulang menghela nafasnya panjang. Sudah beberapa hari ia disibukkan oleh pekerjaan dan mengurus penghianat yang sampai saat ini belum ia tangkap. Ditambah lagi rumor yang beredar diluaran yang membuatnya dikepung oleh wartawan tadi.
Darren memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Saat pulang malah ia diteriaki oleh mom nya. Rasanya kepalanya seperti mau pecah "itu hanya gosip mom"
"meski itu hanya gosip, segeralah kau bereskan! bukan karena mom mau membela Karren ya! mom hanya tidak suka jika putera mom diterpa gosip murahan seperti ini" berucap dengan begitu cepat, meski ia langsung menyanggah jika ia tidak mengkhawatirkan Karren atau hubungan Darren dengan Queen, tapi sejujurnya ia takut jika nantinya hubungan yang baru saja ia setujui itu retak.
Walau sering menyanggah dan tetap keras kepala, mom Emily memang sudah menaruh hati pada gadis cantik yang hampir satu bulan ini tidak terlihat batang hidungnya karena mereka memang tinggal di negara yang berbeda.
"Jonathan akan membereskannya mom. Jadi jangan khawatir jika nanti calon menantu mom marah"
"kalau begitu bagus, bukan mom mengkhawatirkan Karren ya.. mom hanya peduli pada putera mom" ucapnya terus menyanggah. Padahal Darren sudah tahu jika wanita paruh baya ini tengah khawatir tentang Queen.
__ADS_1
"dimana kakek?" tanya Darren.
"ada ditaman belakang"
"kalau begitu aku pergi dulu menemui kakek" ujarnya dengan cepat, lalu ia mengecup pipi mom Emily sekilas.
Mom Emily menatap punggung tegap anaknya itu, mengusap pipi yang baru saja dikecup oleh puteranya itu. Bibirnya tersenyum sedikit. Sikap acuh Darren semakin berubah, meski ia masih seperti itu tapi pria itu sudah tak sedingin dulu.
Bahkan Darren tak canggung saat mengecupnya. Itu karena Queen yang menyuruhnya dan mengatakan jika itu adalah arti dari kasih sayang.
Mom Emily sangat bersyukur jika Darren bersama dengan Queen karena merubah anaknya itu menjadi lebih baik.
Sedangkan ditaman belakang, Darren berjalan kearah kursi yang diduduki oleh kakek Keith.
"kau cepat sekali menemui kakek?"
Darren hanya diam dan duduk disisi pria tua ini, menghela nafasnya panjang. Menandakan jika ia tengah menahan rasa kesal.
"kau keliatan marah?"
"bagaimana tidak marah, pria licik itu membuatku kesusahan"
Kakek Keith terkikik "dia memang sengaja membuatmu kesal dan sibuk, agar kau tidak cepat menemukannya."
"tapi merepotkan sekali, apa setiap musuh akan sangat merepotkan begini?"
Kakek Keith angkat bahu"tidak banyak sebenarnya, tapi kau lihat sendiri bukan jika sebenarnya mereka takut padamu sehingga dia selalu mencari cara agar kau marah dan kesal"
Darren mengangguk.
"kau mau pergi ke pesta dikapal pesiar?" tanya kakek memastikan,dia tahu saat diberi tahu oleh orang kepercayaannya.
Darren mengangguk "ya"
"hati-hati... Kakek rasa mereka merencanakan sesuatu yang buruk padamu, dan sepertinya mereka memang berencana untuk membunuhmu disana"
"aku tahu!" ucapnya dengan datar, dia menoleh dan menyeringai sembari menatap mata tua kakeknya.
dug
"aw.. kenapa kakek memukul kepalaku!" ucap Darren tidak terima, dia mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh sang kakek.
"Kakek tidak takut kau tatap begitu! Kakek bukan bawahanmu! dasar bodoh.."
Darren berdecih dan berdiri dari duduknya.
"mau kemana kau?!"
"kekamar. Disini aku tidak betah, ada orang tua galak yang suka memukul kepala cucunya sendiri" ucapnya sembari berlalu tanpa mau menoleh kebelakang. Karena ia tahu pasti kakeknya itu marah.
"hey bocah sialan! mau kakek pukul lagi hah?!"
Darren hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
"bocah nakal!!" pekik kakek Keith dengan kesal.
**
Sorry slow update sayang..
Beberapa hari ak harus benar2 istirahat karena mataku terkena radiasi ponsel. Mataku merah dan bengkak.
Tapi ini udah baikan, dan sepertinya bisa menulis mulai hari ini.
Jadi tetap stay dan jangan tinggalkan author yg manis ini ya.. hehehe canda manis.
jangan lupa juga like komen dan vote, serta kasih tips berupa bunga atau coffe.
Dukungan kalian semangatku 🤗 love you all
__ADS_1