QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
24. Amar


__ADS_3

Mata indah itu menatap bangunan rumah sederhana di hadapannya dengan pandangan nanar, dia menghembuskan nafasnya pelan ketika mengingat kejadian naas yang mengharuskan Mamanya di ambil oleh Tuhan. Pandangannya menyapu halaman rumah yang tidak terlalu besar ini, garis polisi masih membentang di teras rumah.


"Queen, yakin mau masuk?"


Queen menolehkan kepalanya ke kiri, dia tersenyum tipis sambil mengangguk untuk menjawab pertanyaan Givani yang terdengar sangat ragu.


"Yakin, Queen? Tapi janji jangan sedih nanti waktu masuk,"sahut Dea sambil mengelus lengan Queen.


"Iya, janji!"


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Queen yang terlihat sangat sepi. Saat ini polisi masih mencari keberadaan Amar yang sekarang sedang menjadi buronan.


Queen menaiki tangga rumahnya dengan tentu saja di ikuti oleh kedua sahabatnya, dia memasuki kamarnya. Entah kenapa Queen tertarik membuka-buka laci nakas yang jarang sekali di sentuh olehnya. Kedua sahabatnya memilih melihat-lihat seluruh isi kamar Queen.


"Widih! Foto kecil lo lucu banget Queen, keliatan imut-imut gimana gitu. Kalau sekarang sih boro-boro imut, **** iya lo!"seru Dea yang di abaikan oleh Queen.


"Hush, ngomongnya suka bener lo mah De,"sahut Givani sambil terkekeh pelan.


Isi laci Queen rata-rata kosong, tidak ada isinya sama sekali. Tapi Queen belum membuka laci paling bawah, dengan penasaran gadis itu membuka laci bawah dan keningnya mengernyit dalam.


Buku catatan?, tanyanya dalam hati.


Perasaan Queen tidak pernah menyimpan barang apapun di laci, apalagi buku catatan. Lalu ini milik siapa? Buku catatan bersampul batik ini jelas bukan miliknya. Tanpa berbicara apapun dia mengambil buku tersebut lalu memasukan bukunya ke dalam tas sekolah.


"Kamar lo ukurannya kecil tapi bikin nyaman,"ucap Givani sambil bersandar pada lemari pakaian Queen.


"Queen, mending sekarang lo bungkusin baju-baju yang masih lo pakai ke koper deh ya. Gue sama Givani bantu."


Queen mengangguk, dia menarik koper kecil yang berada di samping nakas. Gadis itu mulai memilih-milih pakaian yang masih di pakai. Dia memang tidak akan tinggal lagi di rumah yang banyak menyimpan kenangan kelam ini, lalu dia tinggal dimana? Queen akan tinggal di kost-an yang nanti akan Queen cari, sementara waktu dia tinggal dulu di rumah Kenan.


Sebenarnya tidak enak sih menumpang di rumah orang lain, tapi mau bagaimana lagi? Yang rumahnya di tumpangi saja malah merasa senang dan menyuruh Queen menetap di sana. Ngomong-ngomong soal Kenan, cowok itu tidak tahu bahwa Queen bermain ke rumahnya tanpa bilang dulu pada cowok itu. Kenan sedang bermain futsal bersama teman-temannya.


"Udah cuma segini, Queen?"tanya Givani memastikan.


"Udah, cuma segini aja cukup kok."


"Oke deh, kita pulang sekarang aja yu,"ajak Dea sambil membawakan koper kecil milik Queen tanpa di suruh.


PRANG!


Tubuh ketiga gadis itu membeku di ujung anak tangga, mereka bertukar pandangan. Suara pecahan itu jelas terdengar berada di lantai dua rumah Queen. Tapi siapa? Apa ada orang lain di rumah ini?


"Ternyata kamu masih berani datang ke rumah ini, Queen."


Tubuh Queen tambah mematung. Suara itu! Suara orang yang sudah menyebabkan Mamanya meninggal!


Dea memberanikan diri untuk berbalik badan, gadis itu tersentak kaget ketika melihat sosok pria yang sedang bersandar pada tembok.


"O-om.. Om Amar!"


Amar hanya menampilkan seringaiannya ketika mendengar nada gugup sahabat anak tirinya itu saat menyebut namanya. Matanya fokus menatap punggung Queen yang tegang.


"Sedang apa kalian di sini?"tanya Amar dingin.


"Harusnya kita yang nanya begitu sama Om! Ngapain Om di sini? Ha-harusnya Om itu di penjara!"seru Dea emosi.


Queen merasakan tubuhnya bergetar hebat, gadis itu mulai ketakutan dengan kehadiran Amar di sini. Yang di ucapkan Dea benar, harusnya Amar di penjara! Dengan keberanian yang hanya sebiji jagung, Queen pun membalikan badannya kebelakang, perasaan takut serta marah bercampur menjadi satu ketika menatap Amar yang menatapnya dengan pandangan sulit di artikan.


"Apa kabar, Nak?"


Nafas Queen memburu, dia tidak suka melihat wajah Amar yang sama sekali tidak bersedih setelah kehilangan istrinya, bahkan mungkin pria itu tidak menyesal karena sudah membunuh istrinya sendiri.


"Aku bukan Anak kamu! Berhenti panggil aku Nak. Aku gak sudi di panggil kayak gitu sama mulut kotor kamu!"seru Queen marah.


Givani menelan ludahnya, dia bingung juga takut dengan situasi yang sedang dia hadapi saat ini. Yang bisa dia lakukan hanya memegangi bahu Queen, seolah dia menjaganya karena apa yang sedang di pegangnya itu bisa hancur atau pun pecah.

__ADS_1


"Berani melawan, huh?"


Dea terbelalak saat Amar tiba-tiba saja berjalan ke arah mereka, entah keberanian dari mana gadis itu maju dan menghantam kepala Amar dengan koper kecil milik Queen. Hal itu membuat Amar mengaduh dan kedua sahabatnya yang menjerit.


"Q-Queen gue bakal cari bantuan ke bawah. Gue juga bakal telpon polisi dan Kenan, oke?"ucap Givani terbata.


"I-iya."


Givani segera turun ke bawah untuk keluar rumah Queen mencari bantuan. Sejak tadi dia mencoba menghubungi Kenan, tapi entah kenapa cowok itu lama sekali mengangkatnya.


Amar memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat dipukul oleh koper milik Queen itu, amarahnya memuncak. Dia menatap teman Queen dengan Queennya bergantian. Dengan gerakan yang cepat pria itu melangkah mendekati Dea dan mencekik leher gadis itu dengan kuat. Queen yang melihatnya pun memekik, dia berlari dan berusaha untuk menarik Amar agar melepaskan tangannya yang mencekik leher Dea.


"Lepasin Dea, brengsek! Lepasin!!!"teriak Queen.


Amar menyentak tubuh Dea yang sudah lemah hingga terjatuh ke lantai, pria itu membersihkan kedua tangannya dengan cara di tepuk-tepuk seolah baru saja tangan itu terkena kuman.


"Sebenernya kamu itu mau apa sih, hah!? Belum puas kamu udah ngabisin uang Mama aku? Belum puas kamu ngerusak kebahagiaan aku? DAN APA KAMU BELUM PUAS UDAH NGEBUNUH MAMA AKU!?"


Amar tersenyum sinis ketika melihat Queen ketakutan. Dia melangkah mendekat ke depan Queen dan saat sudah sampai di depan Queen, pria itu mengusap puncak kepala Queen lalu menarik rambut belakang Queen sehingga Queen mendongak. Dea hanya bisa menangis, dia masih lemas akibat cekikan tadi.


"Saya belum puas! Sebelum kamu meyerahkan nyawa kamu agar kamu bisa ikut bergabung bersama Yuna di neraka sana. Lagian saya rasa soal harta sudah cukup. Rumah ini sudah saya jual dan tentunya kamu tidak ada hak lagi atas rumah ini,"ujar Amar di akhiri seringainnya.


Mata Queen terbelalak. Dia takut dengan apa yang Amar katakan. Menyerahkan nyawa? Dan, ada hak apa pria itu berani-beraninya menjual rumah Yuna?


"Dasar jahanam! Siapa kamu berani-beraninya ngejual rumah ini, huh!? Kamu itu hanya benalu di rumah Mama yang hanya menumpang dan menyusahkan Mama saja!"


Plak!


"Queen,"lirih Dea ketika melihat sahabatnya di tampar oleh Amar. Sebenarnya Dea juga lebih kasihan karena Amar sama sekali tidak melepaskan jambakannya pada rambut Queen, dia malah memperkencang jambakannya.


"Berani kamu mengatai saya benalu, huh!? Kamu yang benalu di rumah ini, Queen! Mama kamu saja menganggap benalu kehadiran kamu di rumah ini!"


"Nggak! MAMA GAK PERNAH BILANG QUEEN BENALU!"


"BERHENTI BERTERIAK SEPERTI ITU DI DEPAN SAYA ****** KECIL!"


"Lebih baik saya segera menghabisi kamu sekarang!"desis Amar lalu kembali melayangkan tamparan-tamparan keras ke pipi Queen yang hanya bisa memekik kesakitan.


"Gara-gara kamu, saya menjadi buronan sekarang!"


Queen hanya bisa meringis ketika tubuhnya terjatuh ke lantai dan tendangan-tendangan di perutnya di terima oleh Queen. Gadis itu batuk darah, matanya menatap nanar Dea yang menutup mulutnya sambil menangis.


Apa Queen akan menyusul Mamanya ke atas sana? Apa dengan Queen ikut bersama Mamanya, Kenan akan tidak apa-apa? Apa Queen bisa kembali bahagia dan merasakan kasih sayang dari Yuna jika dia ikut Yuna? Apa dia menyerah sampai di sini saja?


Mata Queen terpejam, bahkan dia masih merasakan tendangan-tendangan di perutnya akibat Amar.


...||||...


Givani berlari ke rumah di samping Queen, dia mengetuk pintunya dengan keras tanpa perduli orang di dalam terganggu atau tidak. Peluh berjatuhan dari keningnya, dan ponsel masih menempel di telinganya. Dia juga beberapa kali mencoba menghubungi Kenan, tapi cowok itu tidak mengangkatnya.


"Permisi. Apa ada orang di dalam!?"teriak Givani.


Karena di rasa tidak ada orang. Gadis itu pun kemudian berlari ke depan jalan di mana ada sebuah pos penjagaan disana, tadi sebelum ke rumah Queen, Givani sempat melihat beberapa Bapak-Bapak yang sedang mengobrol disana.


"Ada apaan?"


Queen berhenti berlari, dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menghembuskan nafas lega saat panggilannya dan Kenan menyambung.


"Ken!"


"Hm? Lo ganggu gue tidur,"ujar Kenan di ujung sana. Pantesan suara cowok itu serak.


Givani menangis, dia ingin berkata tapi entah kenapa suaranya tertahan di tenggorokan.


"Eh? Lo nangis? Kenapa?"

__ADS_1


"Ken... Queen, Ken."


"Queen? Queen kenapa? Giv kenapa malah nangis terus? Cewek gue kenapa, Giv? Jangan nangis gini dong!"


"Mending sekarang lo ke rumah Queen! Pokoknya ini bahaya banget. Telponin polisi sekarang Ken, gue cari bantuan warga dulu!"


"HAH!? MAKSUDNYA GIMANA SIH?"


"pokoknya lo cepet kesini, bodoh!"


Givani mematikan sambungannya secara sepihak, gadis itu kembali berlari dan berteriak-teriak minta tolong. Nafasnya memburu ketika sudah melihat ada sekumpulan Bapak-Bapak yang sedang mengobrol serta bermain catur di pos penjagaan.


"PAK, TOLONG PAK!"


Sekumpulan Bapak-Bapak itu terlonjak kaget ketika Givani tiba-tiba saja berteriak.


"Aya naon, Neng?"


"Temen saya Pak, Queen. Queen dan teman saya dalam bahaya sekarang!"jawab Givani panik.


"Neng Queen kunaon?"


Givani menangis, nafasnya memburu dengan cepat akibat berlari dari jarak rumah Queen ke tempat ini yang lumayan jauh. Dia mengkhawatirkan kedua sahabatnya, dia takut Amar berbuat macam-macam.


"Om Amar ternyata ada di rumah Queen, Pak. Pria itu mungkin sudah menyakiti sahabat saya sekarang! Tolong selamatkan mereka Pak,"isak Givani pelan.


Semua orang terperangah, sebagian sudah ada yang berlari untuk ke rumah Queen.


"Kita telpo–"


"Tidak usah Pak. Tidak usah menelpon polisi karena tadi saya menelpon teman lalu teman saya yang memanggil polisi,"potong Givani.


"Ya sudah, atuh. Sekarang kita ke rumah Neng Queen!"


Mereka kembali berlari, sebenarnya Givani sudah lelah. Tapi demi keselamatan sahabat-sahabatnya jadi lah dia rela berlari lagi.


Givani berdiam diri di bawah tangga ketika melihat tubuh Queen yang sudah terbaring lemah di lantai. Tubuhnya bergetar, dia takut terjadi sesuatu pada Queen. Para Bapak-Bapak sudah mengamankan Amar yang berteriak marah sambil berusaha kabur. Para warga membawa Amar kedepan rumah sambil menunggu polisi.


Givani naik ke lantai dua, gadis itu berjongkok di sisi tubuh Queen yang terbaring lemah dengan darah yang mengalir dari mulut gadis itu.


"Dea! Queen, De!"seru Givani panik.


Dea menangis lemah, dia menggenggam gagang koper milik Queen dengan erat. Dia takut Queen kenapa-napa. Suara sirine polisi mengejutkan kedua gadis itu, lalu tak lama sosok Kenan muncul dengan wajah paniknya.


"QUEEN!"teriaknya saat melihat tubuh Queen yang terbaring di lantai. Cowok itu berteriak marah ketika melihat bahwa gadisnya berdarah.


"*******!"


"Mending sekarang kita cepet-cepat bawa Queen ke Rumah Sakit,"ucap Givani sambil membopong tubuh Dea dan Queen yang di gendong oleh Kenan. Mereka menaiki mobil Kenan.


Kenan tidak henti-hentinya berjalan bolak-balik di depan pintu ruang ICU, Givani hanya bisa menangis sambil menutup wajahnya dengan tangan. Dea sedang di periksa oleh Dokter, gadis itu lemas.


"Kenapa bisa ginih sih, Giv!? Kalian bilang mau ke Mall buat cari buku! Tapi kenapa malah ke rumah Queen?"tanya Kenan gusar.


Givani hanya menangis. Mereka membohongi Kenan agar cowok itu mengizinkan Queen pergi.


Kenan menghela nafas kasar, dia menghampiri Givani yang semakin terisak. Harusnya Kenan tahu bahwa Givani masih shock dengan semua ini, harusnya dia menahan perasaan ingin tahunya dan tidak membiarkan amarahnya berapi-api.


"Berhenti nangis,"ucap Kenan pelan.


"T-tapi hiks Ken...Queen hiks!"


Dengan ragu Kenan memeluk tubuh Givani dan menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya. Ini yang biasa dia lakukan pada Queen jika gadis itu menangis.


Tubuh Givani menegang saat tangan Kenan mengelus punggung serta rambutnya dengan lembut, tangisnya perlahan memelan.

__ADS_1


...||||...


Huaaaa, bingung mau bilang apa:(


__ADS_2