
ehem
Queen dan Darren menoleh kesumber suara, dimana ada seorang pemuda tampan tengah menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dia adalah Gerald.
"ada apa rald?" tanya Queen, dia tadi sudah menyuruh adiknya untuk beristirahat, tapi entah kenapa malah balik lagi kesana.
"ada yang mau aku bahas denganmu"
Darren yang mengerti situasi menghela nafasnya panjang. Dia kesal karena secara tidak langsung adik dari kekasihnya itu mengusir dirinya secara halus "kalau begitu aku pulang Queen"
Queen mengangguk "oke"
Darren berdiri diikuti oleh Queen. Pria itu mendekati wajah Queen kemudian mengecup pipi Queen sekilas "besok aku akan menjemputmu, dad mengundangmu makan malam bersama" bisiknya didekat telinga Queen.
Darren melirik wajah Gerald yang tampak bertambah masam, bahkan tangannya terkepal. Tentu saja Darren tahu jika Gerald tidak menyukai dirinya.
Berbeda dengan Gerrell yang Darren sendiri memiliki kartu as pemuda itu, sehingga memudahkannya untuk mendekati Gerrell. Tapi jika pemuda yang saat ini tengah menatapnya tajam, Darren belum memiliki kelemahannya. Kemungkinan untuk mendekati Gerald akan sangat sulit dan sedikit merepotkan nanti.
Queen mengangguk "iya, sana pergi"
"semudah itu?"
Queen menghela nafasnya "lalu apa maumu tuan? kau berharap aku mencegat dan melarangmu pergi?"
"ya aku sangat berharap, apalagi jika kamu meminta aku untuk menginap, aku akan dengan senang hati menerimanya"
"jaga batasan anda tuan!"
Benar saja, Gerald langsung beraksi saat Darren mencoba menggoda Queen.
"pergilah! kak Queen juga sudah menyuruhmu pulang"
Darren menatap mata Gerald dengan berani "bukankah itu dirimu?" tanya Darren dengan nada santai.
"kapan saya mengusir anda?"
"sudahlah.. jangan mengganggu adiku! sana pergi" usir Queen, dia tidak mau sampai adiknya dan Darren terus berdebat.
"kau benar-benar mengusirku sayang? jahat sekali"
"pergi atau aku akan melarangmu untuk datang kemari lagi!"
"ck.. menyebalkan! aku pulang sekarang" ucap Darren terdengar kesal, dia kembali mengecup pipi Queen sebelum benar-benar pergi.
"isshh.. pria itu" keluh Queen, dia duduk disofa kembali. Gadis itu menatap adiknya yang tengah berjalan mendekat.
"apa yang mau kau katakan Rald?" tanya Queen.
"tidak ada. Aku hanya ingin mengusir pria itu saja" jawabnya cuek.
Queen mendengus "kau berterus terang sekali" gerutunya.
Gerald hanya acuh, dia memilih untuk mengambil ponsel dan memainkannya.
"hey! setidaknya kau bicaralah, ajak kakak ngobrol setelah kau mengusir orang yang bisa aku ajak bicara tadi" gerutu Queen sedikit tidak terima.
Gerald berdecak, tapi dia menuruti Queen. Gerald menyimpan ponselnya.
__ADS_1
"good boy"
puk puk
Queen menepuk kepala Gerald beberapa kali.
"ck.. aku bukan anak kecil lagi kak!"
Queen tergelak melihat penolakan Gerald "kau masih kecil kok" ucapnya riang, karena bagi Queen adik-adiknya akan terlihat kecil meski sekarang mereka berdua sudah remaja. "bagaimana keadaan mom?"
"mom menangis sepanjang malam dan membuat heboh seisi mansion"
"kakak sudah menduganya sih, hehehe" ujar Queen, dia terkekeh jika mengingat bagaimana sikap mom nya itu.
"memangnya Gerrell sama sekali tidak memberi tahu siapapun?"
Gerald menggeleng.
"ck.. bocah itu!"
Lalu dua saudara itu mengobrol lagi cukup lama, tapi sudah tidak lagi membahas Gerrell. Mereka membahas tentang perusahaan dan Tiger White. Sampai Queen melihat Gerald beberapa kali menguap dan menyuruhnya untuk beristirahat.
**
Keesokan harinya, sesuai apa yang Darren katakan Queen hari ini sudah dijemput oleh Jonathan. Mereka berdua saat ini masih dalam perjalanan.
"kak Jo.. bukannya tuanmu bilang hanya makan malam? ini masih sore kan? kenapa aku sudah dijemput?"
Jonathan mendongak menatap Queen sekilas melalui cermin yang ada diatas kepalanya "saya tidak tahu nona, saya hanya diperintahkan oleh tuan untuk menjemput anda"
Queen berdecak dan melipat tangannya didepan dada "dan kenapa bukan dia sendiri yang menjemputku?"
Queen menghela nafasnya panjang, dia sudah malas bertanya lagi. Queen memilih menatap keluar jendela. Menatap hiruk pikuk negara ini.
Queen menyernyit saat mengetahui dimana dia sekarang "kak Jo!"
Jonathan yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya menoleh kebelakang "ya nona?"
"kenapa membawaku kemari?" tanya Queen, dia menatap gedung pencakar langit yang berdiri dengan kokoh didepan matanya. Gedung yang Queen tahu adalah perusahaan milik keluarga Keith.
"tuan menyuruh saya membawa anda kemari nona" ucap Jonathan, dia segera keluar dari dalam mobil dan segera membukakan pintu untuk Queen "silahkan. nona Kareen" ucap Jonathan dengan sopan.
Queen menghela nafasnya kasar, kalau sudah begini lebih baik Queen menurut saja. Queen keluar dari dalam mobil kemudian berjalan dengan percaya diri memasuki perusahaan milik Darren tersebut.
Tampak lalu lalang karyawan yang sedang sibuk, saat Jonathan dan Queen berpapasan dengan salah satu karyawan mereka menunduk dan menyapa.
Queen cukup senang dengan keramahan para karyawan tersebut, terlebih mereka tampak acuh saat menatap dirinya. Tidak ada pandangan sinis atau penasaran pada dirinya.
Jonathan membawa Queen kelift khusus pemilik perusahaan. Mempersilahkan Queen memasuki lift tersebut setelah pintu lift terbuka.
Lift terbuka dilantai paling atas, dan Jonathan menuntun jalan untuk Queen.
Queen melihat kesekeliling. Tidak ada siapapun dilantai ini. Dapat Queen lihat jika Darren memilih untuk menggunakan teknologi untuk sekedar membersihkan lantai ini. Kemungkinan tidak ada yang diperbolehkan menginjakan kaki dilantai ini kecuali ada hal yang mendesak "lumayan juga" batinnya mengomentari.
tok tok
Setelah mengetuk pintu Jonathan masuk begitu saja, padahal belum dipersilahkan masuk oleh Darren.
Darren mendongak dan melihat asistennya datang. Sudut bibirnya terangkat saat melihat Queen mengintip dari balik punggung Jonathan.
__ADS_1
"hay" ucap Queen sembari melambaikan tangannya. Dia buru-buru berdiri disisi Jonathan agar leluasa melihat Darren.
"saya sudah membawa nona Karren kemari tuan, saya permisi" Jonathan menundukan badannya dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Darren menjentikkan jarinya agar Queen mendekat.
"kenapa?"
"kemarilah!" Darren berdiri dari kursi kerja yang dia duduki. Kemudian merentangkan tangannya.
Queen akhirnya berjalan memutari meja dan masuk kedalam pelukan hangat Darren.
"I miss you"
Queen menjauhkan wajahnya, dia menyernyitkan keningnya.
"kau tampak tidak percaya" ucap Darren saat melihat wajah Queen.
"tentu saja, karena kemarin malam kita baru saja berjumpa" ujar Queen membenarkan ucapan Darren barusan.
"aku selalu merindukanmu setiap saat, ketika kau tidak ada disisiku"
Queen mendenguskan tawanya.
"ck.. kau tertawa saat aku merayumu, aku tersinggung Queen"
"hahaha" tawa Queen malah semakin kencang.
Karena gemas Darren mencubit hidung gadis yang masih dia peluk ini.
"aww sakit" keluh Queen, dia mendorong tangan Darren. "kamu sedang kerja kan?"tanyanya sembari melepas pelukan mereka.
Darren mengangguk.
"ada yang bisa aku bantu?" tawar Queen.
Darren mengangguk dan segera duduk. Dia menarik tangan Queen sehingga membuat gadis itu jatuh terduduk diatas pangkuan Darren. "peluk aku saja Queen, itu sangat membantuku"
Queen mendengus "tidak mau! aku benar-benar bisa membantumu, membantu dalam artian yang sebenarnya"
Darren menggeleng, dia menatap wajah cantik gadisnya "tidak perlu, sekarang kau diamlah! "
Queen berdecak dan menuruti ucapan Darren, dia memperhatikan Darren yang sedang bekerja. Tangan pria itu lincah sekali menari diatas keyboard.
cup
Queen terkejut saat tiba-tiba Darren mengecup pipinya. Wajahnya memerah.
"I love you" ucap Darren.
Hati Queen membuncah, rasanya bahagia sekali melihat pria yang dia cintai ini tidak pelit mengungkapkan isi hatinya. Pria dingin yang semula dia kira akan sangat kaku saat berdua dengannya, tetapi kenyataannya Darren sekarang terus bersikap hangat padanya, hanya padanya. Hal itu membuat perasaan Queen semakin dalam pada sosok tampan yang sedang memeluknya sekarang.
.
.
Queen bermain ponsel sembari rebahan diatas sofa, setelah tadi lelah Queen memilih untuk turun dari pangkuan Darren. Tentu saja dengan alasan ingin melihat-lihat ruangan ini sehingga Darren melepaskannya.
Queen mulai membuka sosial medianya sampai merasa lelah dan tanpa dia sadari lama kelamaan Queen mengantuk dan tertidur.
__ADS_1