
Pagi hari kembali menyapa makhluk bumi. Matahari pagi yang hangat mulai naik untuk menemani manusia selama beraktifitas.
Begitupun dengan Darren. Ia mulai berjalan menuruni tangga untuk pergi keruang makan. Dia akan makan bersama dengan keluarganya.
Semalam selepas mengantar Queen, Darren pulang kemansion dan segera beristirahat karena Queen berjanji untuk mengajaknya kesuatu tempat.
"Pagi cucu kakek yang tampan" sapa seorang pria tua yang tak lain adalah kakek Will Smith. Dia menatap cucunya dengan binar bahagia diwajahnya.
"pagi" ucapnya dengan suara datar. Hal itu membuat kakek Keith merasa kesal.
Lalu Darren menoleh kesalah satu orang yang duduk diantara kedua orang tua dan kakeknya "kau sudah datang?"
Pria berkacamata itu mengangguk "Ia. Saya sudah kangen sekali dengan omelan tuan" ujarnya berseloroh.
"cih.. selera humor mu buruk sekali" ucap Darren mencela pria itu. Pria yang sudah beberapa tahun menjadi asistennya Jonathan.
Jonathan memasamkan wajahnya mendengar suara ketus Darren.
"hahaha.. jangan dimasukan kehati Jo.. Kau tahu kan wataknya bagaimana. Sekarang kau makanlah sarapannya"
Jonathan mengangguk saat mendengar ucapan kakek Smith "iya tuan"
"dad" panggil Darren saat ia sudah duduk disisi kakeknya. Dia menatap wajah dad Edward yang saat ini duduk diseberang nya.
"hmm" pria paruh baya itu berdehem untuk menyahuti sapaan Darren. Sudah jelas sekali bukan jika Darren itu mirip dengan siapa.
"aku mau menikahi Queen besok"
uhuk
Mom Emily yang tadi tengah mengunyah makanan tersedak. Dad Edward dengan sigap memberikan satu gelas air putih dan menepuk tengkuk mom Emily pelan. Wanita paruh baya itu menatap puteranya sekarang "benar bukan apa yang aku pikirkan kemarin.. Dia minta segera dinikahkan akibat cemburu buta kemarin"
"kau serius boy?" tanya dad Edward dengan suara serius, karena ini mengenai pernikahan.
Darren mengangguk dengan santai sembari memasukan makanan kedalam mulutnya.
"jangan sembarangan Darren! kau kira menikah tidak memerlukan persiapan yang matang. apalagi ini mengenai puteri dari pria berpengaruh dinegeri ini"
Darren yang hendak memasukan makanan kedalam mulutnya ia urungkan saat mendengar ucapan mom Emily ada benarnya. Walau ia ingin segera menikahi Queen, kalau tuan Arsenio tidak mengizinkan ia bisa apa?
"nanti kita bicarakan hal ini dengan tuan Arsenio. Kau jangan khawatir Ren, kakek akan berusaha untuk meminta izin padanya. Kakek tahu sekali jika pria dewasa sepertimu tidak bisa menahan sesuatu yang menggebu bukan?" ucap kakek Keith diakhiri dengan pertanyaan ambigu. Dia menatap jail cucu laki-laki nya itu.
Darren mendengus mendengar sindiran dari kakeknya "bukan karena hal itu kok"
"alah... jangan sok munafik Ren. Kakek juga pernah muda, benar kan Jo?"
plak
__ADS_1
"uhuk uhuk"
Jonathan tersedak saat kakek Keith memukul punggungnya dengan keras "iya tuan" jawabnya . Mau marah tapi dia adalah kakek dari boss nya. Pria itu hanya bisa menahan kesal dengan mengumpat dalam hati.
"ah.. aku malah bertanya pada pria jomblo sepertimu. Sepertinya aku salah orang. hahaha" kakek Keith tertawa tanpa merasa bersalah sama sekali telah menghina seorang jomblo sejati seperti Jonathan.
uhuk uhuk
Jonathan kembali tersedak "aku tidak memiliki pasangan juga karena cucu anda tuan. Saya tidak pernah bisa mencari kehidupanku sendiri" batinnya menjerit. Ia hanya bisa membatin karena masih sayang akan pekerjaannya. Pekerjaan yang mengharuskannya selalu stand bye dan bekerja keras, tapi dengan gaji yang fantastis tentu saja ia dengan suka rela melakukan apapun yang disuruh oleh tuan Darren.
Mereka kembali memakan sarapan mereka, dengan diisi oleh obrolan seputar bagaimana caranya agar tuan Arsenio menerima jika pernikahan Darren dan Queen agar segera dilakukan.
**
Darren duduk dikursi penumpang karena saat ini asisten nya telah datang. Sembari ia membuka tab untuk mengerjakan pekerjaan nya. Dia fokus pada benda pipih tersebut.
"kita sampai tuan" ucap Jonathan saat melihat tuan Darren hanya diam saja dibelakang.
Darren mendongak dan menoleh kekanan kiri. Ternyata ia memang sudah sampai dimansion milik tunangan nya. "kau tunggu disini"
"baik"
Darren keluar dari dalam mobil. Dia melangkah menuju pintu utama. Tapi sebelum sampai didepan pintu. Fokus nya teralihkan pada seorang pemuda yang tengah berjongkok ditaman samping. Langkah kakinya malah sekarang berbelok arah. Darren sangat penasaran sekali sedang apa orang itu berjongkok disana.
"sedang apa kau disini?!"
Darren angkat bahu acuh "terserah aku mau kapanpun menemui Queenku"
"cih Queenmu? masih belum menjadi Queenmu kok" ucap pemuda itu dengan ketus. Dia adalah Gerrell. Dia tengah menjalankan hukuman akibat kalah taruhan dari Gerald (Dengan terpaksa)
"ck. Dia Queenku! kau bocah! sedang apa pagi-pagi ditaman? dan lagi tanganmu sangat kotor seperti itu. Kau tidak sedang buat lubang untuk buang air kan?"
Pria itu terbelalak mendengar ucapan Darren "hey..!! kau kalau bicara menjengkelkan sekali! kau kira aku ini kucing" ucapnya dengan ketus. Dia menatap sebal pria yang tengah menatapnya dengan pandangan aneh, mungkin.
Darren sedikit tergelak mendengar ucapan ketus adik dari Queen itu.
"waah.. ternyata kau benar-benar manusia ya? kau bahkan bisa tertawa" ucapnya tampak takjub, karena ini pertama kalinya Gerrell melihat Darren tertawa.
Darren kembali mendatarkan wajahnya saat mendengar ucapan Gerrell.
"yah.. kok kembali kayak triplek lagi? datar"
Darren mendengus mendengar ucapan Gerrell "kau bocah kecil. Sedang apa kau sebenarnya tadi?" masih berusaha bertanya karena masih penasaran.
"aku memiliki nama! jangan panggil aku anak kecil paman" ujarnya dengan meniru suara kartun anak kecil yang terkadang ia tonton disalah satu Chanel televisi.
"kau memang masih kecil" ucap Darren terdengar acuh.
__ADS_1
"ck.. aku sudah dewasa! coba tebak tuan, siapa namaku? kalau kau berhasil menebak aku akan memberikanmu hadiah"
"hadiah apa?" tanya Darren, entah kenapa ia merasa nyaman berbincang dengan adik dari Queen. Mungkin karena karakter Gerrell yang menyenangkan dan mudah bergaul. Apalagi dia juga jago dalam hal mencari topik pembicaraan.
"rahasia dong. Tapi aku akan memberikanmu clue.. Ini hal yang bisa membuatmu menjerit bahagia"
Darren yang juga penasaran akhirnya mengikuti permainan Gerrell. Dia mengetuk dagunya seolah tengah berfikir "sebentar... kalau tidak salah namamu Parman? ah-- bukan maksudku Paimin" Darren mengibaskan tangannya didepan mulut karena merasa keliru.
Sebenarnya ia tengah mengerjai Gerrell, dia dapat melihat jika pemuda itu tampak kesal dan menggeram karena ia salah menyebut namanya.
"kau kira aku ini tukang kebun?! kau memang sangat-sangat menyebalkan sekali" gerutu Gerrell tampak merajuk.
"hahaha" tawa Darren malah pecah sekarang. Sikap wibawa nya seketika hilang saat berbicara dengan Gerrell.
"ish.. aku memang ingin melihat ekspresi diwajahmu, tapi bukan untuk meledekku juga! Itu terlihat tidak menyenangkan"
"ehem.." Darren berdehem untuk menguasai diri " maaf,aku hanya bercanda tadi. Namamu adalah Gerrell Audrick Bramantyo" ujarnya dengan suara kembali datar dan serius.
Gerrell membelalakan mata dengan mulut yang menganga lebar "kau benar-benar tau?"
Darren mengangguk "apa yang tidak aku tahu tentang keluarga calon istriku" ucapnya sembari menepuk dadanya dengan bangga.
Gerrell mencebikkan bibirnya "dasar sombong! sinikan tanganmu"
Alis Darren menyernyit "untuk apa?"
"ish.. Kasihan sekali kakakku mendapatkan pria pikun. Oh iya.. dia kan memang sudah tua" ujar Gerrell mendrama diakhiri dengan sindiran. Dia menggeleng dengan raut sedih bahwa kakaknya sangat malang mendapatkan pria tua seperti Darren.
"kau mau mati ya?!"
Gerrell tergelak "tidak lah! sinikan tanganmu!"
Darren menurut, dia menjulurkan tangan tepat didepan tubuh Gerrell. Menunggu apa yang akan diberikan oleh adik tunangannya ini yang katanya hadiah yang bisa membuat Darren menjerit bahagia.
Gerrell menyeringai lalu meletakan sesuatu diatas tangan Darren "hadiah untuk calon kakak iparku.." ucapnya sembari menahan tawa.
Darren menatap tangannya, dia menyernyit melihat beberapa hewan menggeliat diatas tangannya "kyaaaaa...." pekik Darren lalu melemparkan hewan tersebut asal. Dia berlari terbirit-birit meninggalkan taman.
"hahahaha.. Dasar penakut! cacing doang takut! Malu tuh sama otot" pekik Gerrell sembari tertawa ngakak. Dia sampai memegang perutnya karena merasa sangat lucu.
"awas kau bocah tengik" pekik Darren dari jauh.
Hal itu menambah tawa Gerrell. Dia tidak menyangka jika Darren terlihat begitu lucu saat ia kerjai.
**
Jangan lupa like komen dan kasih bunga 🥰
__ADS_1