
braaak
"apa-apaan ini!" pekik Queen saat mendapatkan sesuatu yang aneh dari laporan yang baru ia lihat. Dengan perasaan marah Queen menggebrak meja.
Matanya menajam dan mendongak, membuat seorang yang tengah berdiri didepan meja kerjanya menunduk semakin dalam. Wanita itu adalah asisten Queen,Devika.
Queen mengangkat dokumen tersebut, memeriksanya lagi untuk memastikan.
bruk
Devika terlonjak saat dokumen yang Queen pegang ia lempar tepat disisi kakinya.
"ya Tuhan.. selamatkan nyawaku" batin Devika sembari memperhatikan kertas yang berserakan dibawah kakinya. Untung saja nona Queen tidak melemparkan kertas-kertas itu kewajahnya.
"kenapa kau ketakutan Devika?" tanya Queen dengan suara rendah. "apa aku menyakitimu?"
"ti-tidak" ujarnya dengan terbata, sungguh Devika merasa takut akan tatapan dingin dan datar nonanya ini. "tentu saja saya ketakutan, anda benar-benar menyeramkan. Apalagi aura anda mirip sekali dengan tuan Arsenio" batin Devika mengiyakan pertanyaan yang Queen lontarkan barusan.
"kau cari bukti lainnya! dan jangan sampai Daddy mengetahui masalah ini"
Devika mengangguk "baik nona"
"kau keluarlah! suruh beberapa orang untuk memperhatikan gerak-gerik tukang korupsi itu"
"baik, saya permisi" ucap Devika dengan cepat, dia segera pergi dari sana dari pada nanti ia yang akan menjadi sasaran kemarahan nona mudanya itu.
"tunggu!"
Devika mengurungkan niatnya untuk meraih handle pintu, dia berbalik badan "ya nona?"
"apa kepala seorang koruptor laku kalau dijual?"
gluk
Devika menelan ludah. Dia semakin ketakutan mendengar perkataan nona Queen "ma-maksud nona?"
Queen menggeleng sembari menyeringai "keluarlah!" ujarnya sembari mengibaskan tangan.
Devika mengangguk, dia segera keluar dari ruangan yang membuatnya sesak nafas.
"huuuhhh" nafas lega Devika keluarkan setelah berhasil keluar dari ruangan yang membuatnya hampir terkena serangan jantung.
__ADS_1
Devika sampai jatuh terduduk dengan lutut yang terasa lemas. Baru kali ini Devika melihat kemarahan nona Queen. Hal ini membuatnya benar-benar shok dan tidak menyangka jika kemarahan nona Queen akan begitu menakutkan.
Devika mengusap tengkuknya yang terasa merinding "yang nona katakan tadi hanya bercanda kan?" tanyanya pada diri sendiri saat teringat akan apa yang Queen pertanyakan tadi saat ia akan keluar dari dalam ruangan.
Tapi kalau dilihat dari ekspresi nya dia terlihat serius, apalagi senyum seringainya itu seperti seorang psikopat berdarah dingin "apa nona serius dengan kata-katanya?" Devika berdiri dari duduknya dan segera pergi dari sana. Dia hendak melakukan perintah Queen yang menyuruhnya untuk terus mengawasi orang yang telah membuat Queen marah.
***
Sementara didalam ruang kerja Queen, setelah sepeninggal Devika.
Queen memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya tiba-tiba sakit saat mengetahui fakta bahwa ada orang yang berani bermain-main dengannya. "brengsek!" umpatnya karena merasa kesal.
Queen membuka komputer miliknya, ia akan melihat CV dari orang tersebut "Ferdi Hasan" gumam Queen sembari menatap tajam pria ini.
"cih.. bahkan jika kepalanya aku jual, pasti tidak laku!" gerutunya saat melihat wajah pria tersebut. "sudah jelek tukang korupsi, hidup lagi! " ucapnya mengumpati pria ini.
Queen bahkan menuding layar komputernya, menunjuk-nunjuk wajah pria ini dengan kesal "kau sudah bosan hidup kan? maka dengan senang hati aku akan mem-bun-uh mu! aku akan berbuat kebaikan dengan mem-bun-uh satu orang koruptor! bukankah polisi akan memberiku pujian jika aku tidak perlu membuat mereka bekerja? dengan cara menghilangkan dirinya dari muka bumi ini tanpa jejak"
Queen tersenyum setelah mengatakan hal itu "aku akan menjadi pahlawan dengan memberantas koruptor" ucapnya dengan bangga, tapi setelah ia mengingat jika pria itu mencuri uang perusahaan Queen kembali kesal. Gadis itu menggebrak meja lagi untuk melampiaskan emosinya.
Mood Queen benar-benar dihancurkan oleh fakta yang baru saja ia ketahui.
Tanpa menunggu jawaban, Queen meletakan kembali teleponnya. Dia meraih tas dan segera keluar dari ruangannya ini.
Queen segera memasuki lift dan saat sampai dilantai satu tanpa ia duga Queen berpapasan dengan orang yang membuat moodnya hancur.
Matanya menatap nyalang pria paruh baya itu, tangannya terkepal dengan erat. "kebetulan sekali" batinnya berucap, dan selang beberapa saat gadis itu tersenyum. Wajah marahnya sudah berganti menjadi lebih ramah.
"selamat siang nona" sapa pria yang menjadi incarannya itu.
Queen menatap dari atas sampai kekaki, dia dapat melihat jika penampilan pria ini cukup lumayan dengan pakaian branded. Bagaimana ia tahu apa yang pria itu kenakan? tentu saja bukan perkara sulit karena Queen dapat melihat kancing baju yang dikenakan olehnya berlogokan merk terkenal. "siang" Queen menjawab dengan ramah.
Pria itu memberanikan diri mendongak saat mengetahui jika wanita yang ia ketahui adalah anak dari Presdir perusahaan ini berdiri dihadapannya. "ada yang bisa saya bantu nona?"
"oh tidak, hanya saja saya melihat penampilan anda begitu keren! anda hidup dengan sangat baik kan?"
Pria yang bernama Ferdi itu menyernyit tidak paham "maksud nona?"
Queen terkikik "tidak ada maksud apa-apa, saya hanya iseng berucap. Saya permisi tuan Ferdi" ucapnya sembari berlalu, tapi sebelum jauh ia kembali menoleh kebelakang. Menatap sinis pria yang tampak bingung itu "nikmati waktumu! karena sebentar lagi kau akan mati..!! hahahaha" tertawa seperti seorang psikopat tapi dalam hati.
Queen memilih pergi kemarkas, dia akan menemui uncle Arlendra karena tadi pagi ia sudah membuat janji dengannya.
__ADS_1
Sesampainya di markas, Queen disambut dengan hormat oleh anggota Tiger White. Mereka menunduk dan menyapa Queen saat gadis itu melewati mereka. "dimana uncle Arlendra?" tanyanya pada salah satu anak buahnya.
"kenapa mencari Arlendra Queen? kamu tidak mencari uncle?" tanya seseorang.
Queen menoleh kearah asal suara "uncle Bas" panggil Queen, dia berjalan mendekati pria paruh baya itu. "uncle disini?"
Bastian mengangguk dan langsung memeluk Queen dengan hangat saat gadis itu sudah berdiri dihadapannya.
"lepasin! jangan memelukku!" Queen meronta.
Bastian malah tertawa mendapat penolakan Queen,reaksi gadis ini selalu seperti ini jika ia peluk "nggak mau! uncle merindukanmu Queen"
"lepas atau aku pukul nanti" ucap Queen mengancam, tapi ia hanya bercanda saja. Queen tentu saja tidak akan berani atau lebih tepatnya tidak tega memukul Bastian mengingat pria paruh baya ini sudah seperti Daddy nya sendiri. Queen menyayangi uncle Bastian sama seperti ia menyayangi keluarganya.
"pukul saja! uncle tidak takut" semakin menggoda saat melihat wajah gadis ini semakin merah. Bastian suka sekali mengusili gadis cantik ini.
"tapi kalau aku pukul kemudian uncle terkena stroke jangan salahkan aku ya?" ucapnya datar.
Mata Bastian terbelalak mendengar ucapan Queen "mulutmu benar-benar ada racunnya!"
"aku bicara fakta uncle! usia uncle ini sedang rawan-rawannya terkena penyakit stroke loh"
"astaga.. amit-amit jabang bayi"
"ishh.. lepasin aku uncle! aku ingin---" gadis itu berfikir sejenak "ingin ber-ak!"
Mata Bastian terbelalak lalu ia tertawa saat mendengar ucapan random gadis ini "buahahaha"
"Daddy tolong~~" ucap Queen sembari menatap kearah belakang uncle Bastian.
Bastian menghentikan tawanya, ia yang merasa panik langsung melepaskan pelukannya. Dia membalik badan "eh-- mana si kulkas sepuluh pintu?" tanya pria itu dengan cengo. Tadinya ia benar-benar merasa takut mengingat bagaimana posesif nya seorang Arsen pada puterinya. Bisa dipukul kepalanya oleh Arsen saat ia memeluk buah hatinya seperti tadi.
Karena hanya Arsen lah yang boleh memeluk Queen, Queen itu milik Arsen.
Padahal Bastian sudah menganggap gadis ini seperti anaknya sendiri, tapi dia selalu tidak diperbolehkan untuk mendekatinya.
Lalu ia membalik badan tapi gadis cantik yang barusan ia peluk sudah tidak ada "Queeeeeen..!! kau membohongi uncle?!"
Queen yang tengah menaiki tangga sembari tertawa, ia juga menjulurkan lidahnya untuk meledek pria paruh baya itu.
Moodnya membaik setelah dia berdebat dengan pria paruh baya itu.
__ADS_1