
Ternyata makan siang itu tidak hanya berlangsung satu hari. Kenan jadi semakin rajin makan siang bersama Queen baik itu di toko roti milik perempuan itu atau pun di tempat makan lain.
Queen senang-senang saja, karena dia jadi selalu dikenalkan dengan makanan baru yang enak-enak.
"Lama-lama berat badan aku bisa naik drastis deh, karena diajak makan banyak mulu sama kamu." Queen membuka obrolan tepat saat pizza berukuran besar dan panjang sudah di antar oleh waiters.
Siang ini Kenan mengajaknya ke salah satu tempat pizza yang sedang viral. Ini memang bukan hari kerja, seharusnya Queen menolak ajakan Kenan. Tetapi perempuan itu malah mengiyakan Kenan sampai akhirnya mereka duduk berhadapan di dalam tempat ini.
"Kamu pasti gemes banget, apalagi pipinya bakal tembem. Aku paling suka pipi kamu tembem, soalnya enak buat dicubit dan—"
"Dicium?" Queen menyela sembari tersenyum miring saat melihat ekspresi salah tingkah Kenan.
"Pipi tirus kamu juga masih enak dicium, sih."
"Kamu belum cium pipi aku yang sekarang, jadi itu kayaknya bukan komentar yang jujur."
Kenan hanya tertawa pelan.
Mereka pun mulai memakan pizza nya sembari berbincang. Queen benar-benar sudah bisa bersikap biasa kepada Kenan, dan tidak bisa dipungkiri bahwa Kenan sangat senang akan hal itu.
Kenan pikir Queen akan selamanya bersikap dingin terhadap Kenan, tetapi rupanya dia salah. Mungkin kesalahan Kenan belum bisa benar-benar dimaafkan oleh Queen, tetapi keterbukaan perempuan itu kepada Kenan adalah permulaan yang baik untuk ke depannya, kan?
Mungkin akan sangat munafik jika Kenan bilang bahwa dia tidak berharap akan menjalin hubungan lagi dengan Queen. Semenjak munculnya lagi Queen, perasaan Kenan yang selama ini tertahan jadi kembali muncul ke permukaan.
Kenan sangat merindukan perempuan itu, dan dia ingin menjadikan Queen miliknya.
"Oh ya, anak kamu itu ada berapa, sih?" tanya Queen sembari menaikkan alisnya.
"Anak aku ada dua."
"Oh, umurnya berapa?"
Kenan menghela napas, dia menyandarkan punggungnya ke kursi sembari menatap Queen dengan pandangan terperangah.
"Seriously, Queen?" tanyanya yang jelas membuat Queen kebingungan.
"Kenapa? Ada yang salah sama pertanyaan aku?"
Kepala Kenan menggeleng. "Gak ada yang salah. Tapi kamu serius mau bahas anak-anak aku?"
Queen memiringkan wajahnya, dia terlihat sangat tertarik. "Ya serius, aku penasaran sama mereka."
__ADS_1
Kenan berdecak pelan, dia mengambil satu pizza lagi.
"Anak pertama aku cowok, namanya Arthur. Umurnya lima tahun," kata Kenan yang semakin membuat Queen tertarik.
"Dia mirip siapa? Kamu atau ... istri kamu?"
Harus kah Kenan mengaku kalau anaknya yang pertama itu bukanlah anak kandungnya?
Melihat Kenan yang malah melamun, Queen pun tersenyum pelan. Mungkin pembahasan tentang anak pertama mantan pacarnya membuat Kenan tak nyaman.
Atau mungkin Kenan jadi merasa dilempar ke masa-masa di mana dia memutuskan Queen, untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dia buat bersama Nanda? Bisa jadi.
"Skip, deh. Kita lanjut ke anak kedua kamu aja, gimana?"
Kenan pun sedikit tersentak, tapi tak lama dia mengangguk.
"Anak aku yang kedua namanya Alaia, dia gadis yang cantik."
"Persis Ibunya berarti?" Ada sedikit nada sinis di dalam pertanyaan Queen itu.
Kenan meringis pelan, dia menggenggam tangan Queen yang berada di atas meja. "Queen, sorry."
Tak bisa ditahan, Queen pun tertawa pelan. Dia melepaskan genggaman tangan Kenan dan lanjut memakan pizza.
Kenan mau tak mau tersenyum, meski dia tak enak hati. "Bulan depan nanti umurnya pas satu tahun."
"Ada perayaan dong?"
Kenan memiringkan kepalanya, matanya juga menyipit. "Kayaknya ada."
"Aku boleh datang?"
Dan pertanyaan itu berhasil membuat Kenan tersedak sampai Queen harus menyodorkan satu gelas air minum untuk Kenan.
"Kenapa, sih? Kok sampai tersedak gitu?" tanya Queen, pura-pura polos.
"Ya aku gak masalah kalau kamu mau datang, tapi..."
Queen pun tertawa. "Aku cuma bercanda. Lagian ngapain juga aku datang? Nanti aku kasih hadiah aja deh, lewat kamu tapi."
Jika Queen benar-benar datang, itu hanya akan kacau. Nanda akan ketakutan dan curiga, atau mungkin minta maaf karena merasa bersalah? Entahlah, Queen tidak mau memikirkan itu.
__ADS_1
Akhirnya acara makan pun selesai, waktu sudah menjelang sore hari saat keduanya keluar dari restoran.
Selama di perjalanan untuk ke apartemen Queen, mereka hanya diam. Bukan karena pembahasan tadi, lebih tepatnya karena mereka berdua kenyang.
Di saat hening sedang menyelimuti, ponsel Kenan yang berada di atas dashboard pun berdering. Queen tak sengaja melirik nama si penelpon, lalu dia pun memalingkan tatapannya pada jendela.
"Istri kamu," katanya memberitahukan kepada Kenan.
"Biarin aja."
Lalu telepon itu pun tak berdering lagi. Dosa kah Queen yang justru senang karena Nanda diabaikan oleh Kenan?
Akhirnya mobil ini berhenti di basement apartment Queen. Hari sudah mau malam.
"Makasih buat hari ini," ucap Queen sembari menatap Kenan.
"Tatapan kamu masih sama."
Kening Queen mengernyit, merasa heran dengan Kenan. "Maksudnya?"
"Tatapan lugu itu."
Queen pun tertawa sembari mengalihkan tatapannya. Dia tidak bisa ditatap sayu oleh Kenan.
"Kamu hati-hati di jalannya. Aku—"
Cup
Queen tidak melanjutkan ucapannya karena dia terkejut akan ulah Kenan. Bagaimana tidak terkejut, Kenan baru saja mencium pipinya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa jantungnya berdebar layaknya saat pertama kali dia dicium Kenan.
"Tuh kan, pipi tirus kamu yang sekarang aja masih enak buat dicium." Kenan berbisik dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan Queen.
Dengan memberanikan diri, Queen pun pelan-pelan menoleh ke samping. Napasnya tertahan saat bisa melihat Kenan dari jarak sedekat ini.
Lalu, entah siapa yang memulainya. Kedua orang itu mempersempit jarak, sampai akhirnya bibir mereka bertemu.
Kenan sengaja tidak menggerakkan bibirnya karena Queen masih terkejut. Tetapi saat melihat mata perempuan itu terpejam, Kenan pun menekan tengkuk Queen dengan lembut.
Dia menyecap bibir bawah Queen dengan sangat pelan, seolah waktu yang mereka miliki memang sangat banyak.
__ADS_1
Kedua orang itu saling *******, sampai Queen tidak sadar bahwa dia sudah berpindah ke pangkuan Kenan. Rok yang dipakainya bahkan sudah naik hingga ke pinggang.
Istri Kenan? Dia tidak peduli akan hal itu, bukan kah dulu Nanda juga bersikap seperti ini saat bercinta dengan Kenan di belakang Queen?