QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
pulang


__ADS_3

Setelah bercanda untuk melepas kegundahan, Queen dan Darren duduk bersisian dengan tangan terkait satu sama lain. Kehangatan genggaman tangan keduanya sampai kehati masing-masing.


Suasana romantis tersebut membuat keduanya benar-benar tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Meski hanya ada keheningan karena mereka sedang menatap keindahan sungai, namun mereka merasa jika saat ini perasaan mereka menyatu. Hati dan jiwa Darren dan Queen seperti mengunci satu sama lain. Setelah beberapa bulan menjalin hubungan, mereka sepertinya sudah bisa saling memahami dan menekan emosi yang tidak perlu. Masalah yang beberapa kali diluar kendali pun mereka akan selalu menyelesaikan nya bersama.


Hal itu membuat hubungan mereka bertambah erat.


"Sayang"


Queen menatap wajah Darren saat pria tampan ini memanggilnya "hmm?" berdehem untuk bertanya. Saat melihat keseriusan disorot mata kekasihnya. Queen memutar tubuhnya sehingga mereka berdua sekarang duduk berhadapan.


Darren mengembuskan nafasnya penjang. Entah kenapa ia merasa gugup saat ditatap sedemikian rupa oleh Queen. Apalagi ucapannya nanti takutnya akan membuat Queen terkejut dan menolaknya.


"Ada apa?" tanya Queen pelan, dia menyernyit saat melihat berbagai ekspresi wajah Darren yang berubah-ubah. Sebentar terlihat khawatir, namun detik berikutnya kembali tenang. Itu terjadi berkali-kali sehingga Queen sangat amat penasaran.


"Kalau aku memintamu untuk.."


"untuk?" Queen merasa gemas sekali saat Darren menghentikan ucapannya. Tidak tahukah jika saat ini Queen benar-benar ingin tahu.


"Menjadi istriku? kita menikah saja dulu. Aku tidak keberatan untuk bolak balik dari sini kenegaramu sebelum adik-adikmu bisa mengemban tanggung jawab pada perusahaan dan Tiger White" Darren berucap sembari menggenggam kedua tangan Queen.


"Kamu serius? Tidak keberatan jika kita tidak bisa selalu bersama?"


Darren mengangguk dengan cepat "tapi aku tidak janji" batin Darren berucap penuh kelicikan. Dia tertawa dalam hati saat melihat kenaifan Queen yang sepertinya mempercayai ucapannya.


Queen terdiam cukup lama dan Darren sepertinya juga tak keberatan untuk menunggu jawaban yang akan terlontar dari mulut Queen. Dia membiarkan Queen untuk berfikir. Setelah hampir sepuluh menit, Queen kembali menatap irish biru milik tunangannya "kamu bisa bicara pada Dad" ucap Queen pada akhirnya. Jika Darren tidak keberatan mereka tak akan selalu bersama, Queen oke oke saja.


Senyum indah mekar dibibir Darren begitu mendengar ucapan Queen. Dia kemudian memeluk Queen dengan erat. Perasaannya membuncah dan berbunga-bunga "oke"


Selepas pembicaraan yang cukup serius itu. Darren mengantar Queen pulang dan dia pulang dalam keadaan senang.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Queen dan Gerrell sudah selesai berkemas dan siap untuk pergi ke bandara.


Cuaca pagi ini cerah dan membuat kedua kakak beradik itu merasa bersemangat.


drrtt


Getar ponsel membuat Queen menoleh kesumber suara, dia meraih ponsel yang tergeletak diatas meja.


Gerrell yang sedang bermain ponselpun menoleh kearah sang kakak "ada apa dengan wajahmu?" tanyanya sembari menyernyit melihat perubahan ekspresi kakaknya itu. Wajah yang awalnya bersemangat berubah muram.


Queen mendongak sembari mendengus kesal "kita panggil supir saja.. sikulkas nggak bisa nganterin" ujarnya terdengar dongkol.


Gerrell tersenyum miring "kakak kesal sekali kelihatannya"


"dia udah janji nganterin kemarin. Tiba-tiba saja batalin seenaknya sendiri. Menjengkelkan"


"oh begitu~~ jadi kakak kesal karena nggak bisa bermesraan sebelum pergi? ternyata kakak gadis mesum" tuduh Gerrell sembari menahan tawanya.


Gerrell yang awalnya bersiap meledakkan tawanya terdiam. Dia menggeleng dengan cepat "tidak.. aku nggak pernah lihat dan nggak akan mau lihat" setelah berucap Gerrell segera melarikan diri sembari membawa kopernya "cepat kak.. Nanti kita kesiangan" ucapnya saat sudah sampai diujung pintu.


Queen mendengus "awas kalau ketemu nanti" ujarnya sembari menatap ponsel kemudian ia memasukan ponselnya kedalam tasnya dan juga menarik koper yang tak terlalu besar miliknya. Saat sampai diluar, Gerrell sedang berbicara dengan seorang pria yang sepertinya akan mengantar mereka ke bandara.


"kakak sudah siap? Ayo"


Queen mengangguk dan masuk kedalam mobil. Duduk bersisian dengan Gerrell.


Gerrell yang melihat wajah murung kakaknya menghela nafas "kalau kakak mau bertemu sebentar dengan tuan Darren, ayo kita mampir ke kantornya. Sepertinya masih ada waktu"


Queen menggeleng "tidak usah" ucapnya terdengar tidak peduli.


"Tapi wajah kakak membuatku kesal. Ayolah kak, bersemangat sedikit. Aku tahu kakak sudah jadi budak cinta tapi nggak usah berlebihan seperti ini."

__ADS_1


"bicara apa kau ini. Kakak hanya kesal sedikit. Apa adikku tersayang mau menghiburku? aku akan terhibur dan berterima kasih sekali kalau kamu mau memegang anak perusahaan." ucap Queen menyanggah diikuti dengan keinginan terselubung.


Gerrell memutar bola matanya jengah "mimpi saja. Aku mau jadi aktor atau idol kalau bisa."


Sekarang gantian Queen yang memutar bola matanya dan juga berdecak. Adiknya ini benar-benar sudah bertekad "bagaimana dengan perusahaan barumu?"


Melihat wajah kaku Gerrell sepertinya dia cukup kesulitan "well.. kalau kamu gulung tikar sebelum perusahaanmu berkembang kakak akan menyambutmu masuk kedalam perusahaan dengan tangan terbuka"


Gerrell menatap wajah kakaknya dengan jengah "apa begitu tidak percayanya kakak pada kemampuanku?"


"Kakak hanya memberi saran saja. Kalau kamu tidak kuat melewati prosesnya kamu bisa masuk ke perusahaan dad kapan saja.


Rel.. Tidak ada yang instan jika kamu ingin sukses dengan tanganmu sendiri. Kamu harus bekerja jauh lebih keras dibandingkan orang lain. Sedikit demi sedikit namun konsisten disetiap langkah sampai kamu bisa mencapai titik yang kamu inginkan. Dan kakak percaya pada kemampuan adikku.." ucap Queen dengan intonasi pelan.


Gerrell tersenyum senang dan mengangguk"terimakasih kakak sudah percaya padaku" dia selalu bersyukur memiliki kakak sehebat Queen. Dan selalu percaya akan keputusan yang akan diambil oleh adik-adiknya yang terpenting Gerrell dan Gerald mampu bertanggung jawab.


Queen mengangguk dan membalas senyuman adiknya "kalau kamu membutuhkan bantuan, panggil kakak"


Gerrell mengangguk dengan wajah berbinar, kakaknya ini adalah yang terbaik.


Tidak terasa mobil sudah berhenti didepan pintu masuk bandara Charles de Gaulle. Queen dan Gerrell keluar dari mobil, mereka membawa koper yang sudah diambilkan oleh supir dari bagasi.


Queen menghela nafasnya panjang . Lalu berjalan mengikuti adiknya yang sudah terlebih dahulu masuk untuk mengurus semuanya. Setelah itu, kedua kakak beradik itu menunggu diruang tunggu sebelum pesawat mereka terbang.


Setelah hampir tiga puluh menit akhirnya mereka mendengar bahwa penumpang disuruh untuk segera memasuki pesawat karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Dengan santai kedua kakak beradik itu berjalan menuju pesawat.


Queen juga memakai earphone untuk mendengarkan musik dan mengikuti langkah Gerrell yang berjalan didepannya.


Grep..


Queen terkejut dan terkesiap saat tiba-tiba saja tangannya ditangkap dengan cukup kasar oleh seseorang. Dengan sigap dan kewaspadaan yang sudah terlatih Queen memelintir tangan asing yang memegang lengannya kemudian ia berbalik sembari melayangkan kakinya lalu dengan keras menendang perut orang tersebut sampai jatuh tersungkur kelantai.

__ADS_1


__ADS_2