QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
09. Hate My Self


__ADS_3

MATA Queen sembab akibat menangis semalaman karena ucapan dan tamparan yang di berikan oleh Amar. Gadis itu mencebik kesal sambil menatap dirinya di cermin berukuran sedang yang berada di kamar gadis itu.


"Mata Queen sembab banget, ya. Nanti kalau di sekolah banyak yang nanya mata Queen kenapa, gimana jawabnya ya?"


Setelah menghela nafas pelan, gadis yang sudah siap berangkat ke sekolah itu pun turun ke lantai bawah. Disana sudah ada Mamanya yang sedang makan nasi goreng di meja makan kecilnya.


"Pagi Ma,"sapa Queen sambil ikut bergabung bersama Yuna yang sudah siap berangkat ke kantor.


Yuna bekerja sebagai bagian keuangan di pabrik makanan ringan, wanita berusia tiga puluh sembilan tahun itu bekerja keras demi bisa menyekolahkan anaknya dan membutuhi kehidupan rumah tangganya.


"Pagi,"sapa balik Mamanya tanpa menatap Queen.


Queen hanya tersenyum tipis, gadis itu mulai memakan nasi goreng yang sudah di siapkan oleh Mamanya. Matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar Mamanya, dia takut jika Amar tiba-tiba saja keluar dari kamar itu.


"Pulang jam berapa?"tanya Yuna sambil melirik anaknya sekilas.


Queen tersentak, gadis itu berdehem pelan sambil menatap Mamanya.


"Queen pulang jam sepuluh pagi kemarin Ma,"jawabnya pelan.


"Oh."


Hanya itu? Kening Queen mengerut, dia bingung karena reaksi biasa saja Mamanya. Queen mengira dia akan dimarahi karena tidak pulang ke rumah dan tidak menghubungi Mamanya sama sekali, tapi apa? Respon Mamanya hanya 'oh'.


"Mama gak marah?"tanya Queen polos.


Yuna mendongak, perempuan itu menaikan satu alisnya.


"Sama Kenan ini, kan?"tanya balik Yuna, nadanya jutek.


"I-iya sih,"jawab Queen kikuk.


"Ya sudah. Mama gak khawatir kalau kamu sama Kenan, Mama percaya sama dia."


Queen mendadak menunduk, diam-diam dia merasa kecewa dengan respon Mamanya yang biasa saja. Yuna terlihat seperti tidak perduli, dia malah mempercayai Kenan.


"Mata kamu kenapa sembab?"tanya Yuna tiba-tiba.


Mata Queen mengerjap, lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Yuna yang satu itu. Dia tidak mungkin membicarakan Amar yang bersikap buruk dan berbicara yang tidak-tidak kepada Queen.


"Queen juga gak tau Ma, tiba-tiba sembab aja kayak gini."


Mata Yuna terlihat sedikit memicing, lalu perempuan itu mengangguk sambil berdiri dari duduknya.


"Mama duluan,"pamitnya sambil berlalu dari hadapan Queen.


Yuna berubah, perempuan itu dulu tidak cuek kepada anaknya. Dulu Yuna itu sangat riang dan perhatian kepada Queen.


"Sampai kapan Mama cuek terus?"


...||||...


Kenan meminum minuman green tea yang di belinya di kantin sekolah melalui sedotan, cowok itu menatap lurus kedepan.


"Kenan, hari ini ulangan harian kan?"


Kenan menatap Tegar, cowok itu menaikan satu alisnya.


"Ulangan apaan?"tanyanya balik.


Tegar memutar bola matanya malas, cowok tampan berbibir tebal yang di gilai oleh para siswi di SMA Garuda itu menaikan salah satu kakinya ke kursi yang dia duduki.


"Ulangan Inggris,"ujarnya.


"Oh."


"Cuma 'oh' doang nih? Gak kaget gitu?"tanya Verrel yang justru malah kaget.


"Naon, sih? Lagian kenapa gue harus bereaksi yang berlebihan coba?"tanya Kenan kesal.

__ADS_1


"Ya kan lo pasti gak belajar buat ulangan nanti, awas aja nanti kalau gue nyontek jawaban lo salah semua!"serunya sambil menampilkan wajah galak.


"Muka lo kayak *** *****,"ledek Andra sambil terkekeh pelan.


Verrel mendelik, cowok pecicilan yang memiliki cewek segudang itu tidak terima dengan ledekan Andra.


"Diem lo kutu buku,"ledek balik Verrel.


Andra ini memang hobi membaca, tapi dia bukan kutu buku seperti apa yang di maksud Verrel.


"Jadi ribut kan kalian. Eh diem dulu, gue mau nyampein berita yang lagi hot nih!"ujar Tegar sambil memperbaiki letak duduknya.


"Berita apaan?"tanya Andra kepo.


"Kalian udah tau belum kalau si Liam lagi di rawat di Rumah Sakit sekarang?"


"APA!?"


Kenan menaikan satu alisnya, dia tidak terkejut ketika mendengar kabar berita tersebut.


"Ken, kok lo gak kaget kayak kita-kita sih?"tanya Verrel pelan.


"Ngapain harus kaget? Gak perduli gue,"ujarnya cuek.


"Eh, kenapa bisa masuk RS?"tanya Andra sambil membenarkan letak kacamatanya.


"Katanya di begal, dia di temuin sama pengendara mobil yang liat Liam pingsan di pinggir jalan."


"***** kok serem, ya?"gumam Verrel sambil bergidik ngeri.


Begalnya gue, ucap Kenan dalam hati.


"Lo pasti senengkan Ken, si Liam masuk RS? Secara si Liam itu udah lo anggap musuh,"tebak Tegar dengan mata memicing.


"Seneng, lah. Harus party kita."


...||||...


"Mau apa?"tanya Queen dengan kening yang mengerut.


Dari bangkunya Frans mengedikan bahu, cowok itu tidak tahu.


"Gak tau. Kamu samperin aja Bu Tina di kelas 11 IPS-1,"ucapnya lalu bermain ponsel.


Tubuh Queen mematung, kelas yang tadi di maksud kan kelas Kenan dan teman-temannya.


"Kelas pacar lo, kan?"tanya Dea sambil menatap Queen.


"Iya."


"Mau gue anter kesana gak?"tawarnya.


"Gak perlu De, lagian kamu kan lagi sakit perut,"tolak Queen halus.


Dea mengangguk lalu kembali menyandarkan wajahnya ke meja dan memejamkan mata. Perutnya memang sedari tadi sakit, mungkin karena dia makan yang tidak sehat.


Queen berdiri dari duduknya, gadis itu berjalan keluar kelas seorang diri. Dia berjalan ke sayap kiri sekolah untuk sampai ke kelas 11 IPS 1. Sebenarnya Queen sedikit ragu untuk menghampiri guru Inggrisnya sekaligus wali kelasnya itu, tapi siapa tahu ada yang pentingkan?


Setelah sampai di depan pintu kelas yang tertutup, dia mengambil nafas terlebih dahulu lalu mengetuk pintu kelas, setelah mengetuk gadis itu membuka pintu kelas dengan pelan.


Queen memaksakan senyumnya ketika semua pandangan menatap ke arahnya, termasuk cowok tampan di ujung kelas. Kenan terlihat bingung ketika melihat kekasihnya kesini.


"Punten, Bu. Ibu manggil Queen tadi?"


"Iya Queen, Ibu manggil kamu. Sini masuk!"ucap guru cantik bernama Tina itu sambil mengedikan dagunya.


Queen mengangguk, dia masuk ke dalam kelas dengan tak lupa menutup pintu kembali. Gadis itu menunduk saat berjalan menghampiri Bu Tina, pasalnya semua mata menatap ke arahnya.


"Ada bangku kosong tidak di belakang?"tanya Bu Tina sedikit keras.

__ADS_1


"Ada Bu!"jawab Tegar sambil membawakan bangku kosong di mejanya. Tegar dan Kenan memang memasang tiga bangku disana.


"Pagi Queen,"sapa Tegar sambil tersenyum manis.


Kenan yang melihat itu hanya mendesis pelan, dia menatap sinis Tegar yang sedang tersenyum sangat manis kepada gadisnya yang juga balas tersenyum.


"Pagi juga Kak Tegar,"sapa balik Queen sambil sedikit menunduk.


"Duduk Queen,"suruh Tegar lembut sambil menyuruh Queen duduk di bangku yang tadi dia bawakan.


"Makasih Kak,"ucap Queen lembut.


Tegar hanya mengangguk, cowok jangkung itu kembali ke bangkunya dengan senyum penuh kemenangan yang di tujukan untuk Kenan.


"Kamu tau kenapa Ibu memanggil kamu kesini?"tanya Bu Tina pelan.


Queen menggeleng lugu, gadis itu memang tidak tahu dengan maksud Bu Tina yang memanggilnya kesini.


"Ibu dapat laporan dari beberapa guru, dan laporan itu tentang nilai kamu Queen."


"Maksudnya Bu?"


Bu Tina menghela nafas sejenak, guru paling muda di SMA Garuda itu menatap Queen dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Nilai kamu tidak ada perubahan dari semester satu kemarin Queen, banyak guru yang mengadu kepada Ibu bahwa kamu selalu tidak mengerjakan PR dan kamu tidak tanggap dalam memahami apa yang di terangkan oleh guru,"ujar Bu Tina pelan.


Queen menelan ludahnya, gadis itu menunduk tak berani menatap Bu Tina.


"Kamu tau kan apa konsekuensinya bila nilai kamu terus saja tidak ada perubahan?"tanya Bu Tina pelan namun penuh penekanan.


Sepertinya guru tersebut berbicara pelan agar murid kelas 11 yang sedang di ajarnya tidak mendengar obrolannya dengan Queen.


"Queen gak bakal naik kelas,"jawab Queen lemah.


"Ibu gak mau salah satu anak Ibu tidak naik kelas. Ibu kasihan sama kamu Queen, Ibu tidak tega semisalnya nanti kamu tidak naik kelas."


Queen menggigit bibir bawahnya, gadis itu meremas roknya dengan mata yang mulai memburam.


"Kamu ada masalah?"


Queen terdiam, gadis itu rasanya ingin menangis saat itu juga. Queen benci ketika dia sangat lemah di saat-saat merasa di intimindasi atau sedang merasa di tekan. Entah kenapa, Queen juga tidak tahu.


"Jika kamu punya masalah, cerita sama Ibu. Ibu akan siap mendengar dan kalau bisa bakal membantu permasalahan yang sedang kamu hadapi. Jangan sampai masalah kamu itu membuat kamu merugikan diri sendiri Queen,"ujarnya.


Queen tidak bisa menceritakan masalahnya kepada Bu Tina, dia tidak bisa mencurahkan segala masalah dan beban yang memberatkan pikiran Queen kepada gurunya.


"Queen gak punya masalah Bu,"gumam Queen pelan.


Bu Tina menghela nafasnya, guru tersebut menatap murid di hadapannya yang hanya bisa menunduk.


"Queen, kamu tidak mempercayai Ibu?"tanya Bu Tina pelan.


Diam, Queen hanya bisa diam dengan mengigit bibir bawahnya semakin kuat.


"Queen."


"... "


"Queen Ibu bertanya kepada kamu!"


Murid kelas 11 yang sedang fokus pada soal di buku mereka tiba-tiba saja terperanjat kaget ketika suara Bu Tina yang membentak Queen menggema di kelas mereka. Semuanya mendadak penasaran dengan apa yang Queen serta Bu Tina obrolkan.


"Pacar lo kenapa tuh?"tanya Verrel sambil menatap Kenan yang sudah menatap cemas gadisnya yang masih tertunduk.


"Ma-maaf, maaf Bu. Tapi Queen belum siap buat cerita,"ujar Queen lalu berdiri dan berjalan cepat untuk keluar dari kelas 11 IPS 1.


...||||...


Apa yang bakal di lakuin Kenan yaa??

__ADS_1


...*Translate...


Naon artinya apa*


__ADS_2