
Rere hanya bisa menatap Queen yang menceritakan masalahnya dengan Kenan yang Rere ketahui sebagai pacar Queen. Gadis itu mengelus bahu Queen yang bergetar karena menangis ketika menceritakan bagaimana Kenan mencium gadis itu secara kasar dan menyentuh bagian dimana belum pernah ada yang menyentuhnya.
"A-aku takut Teh, Kenan kasar hiks hiks!"isaknya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Dari cerita lo tadi, gue nangkap bahwa cowok lo itu cemburu buta sama Kakak kelas lo. Memang sih itu gak bagus, untung aja tu cowok berhenti nyentuh lo."
Queen mengangguk lemah, yang dikatakan Rere memang benar. Kenan itu cemburu buta, dia cemburu sampai-sampai gelap mata ingin memiliki Queen dengan cara kotornya.
"Apa lo gak mau ngobrol dan selesain masalah lo sama Kenan secara dewasa?"tanya Rere pelan.
Queen terdiam, gadis itu menatap Rere yang menatapnya dengan lembut. Entah kenapa dia mempercayai Rere, entah kenapa nalurinya menyuruh Queen untuk bercerita semua masalahnya pada Rere yang notabennya orang yang baru dia kenal. Dia sudah menganggap Rere sebagai Kakaknya sendiri.
"Aku belum siap, Teh. Rasanya masih gak bisa liat muka Kenan."
Rere menghela nafasnya, gadis itu pusing juga dengan masalah percintaan anak yang baru remaja seperti Queen.
"Gue boleh tanya?"tanya Rere.
"Boleh kok,"jawab Queen pelan.
"Orang tua lo kemana?"
Hening beberapa saat. Entah kenapa Rere merasa suasana canggung menyelimuti mereka.
"Gu-gue salah nanya kayak gitu ya?"
"Gak kok Teh." Queen tersenyum. "Mama udah meninggal, meninggal karena–karena Ayah tiri aku yang emang emosian. Papa kandung aku pergi ninggalin kita, aku gak tau Papa dimana sekarang. Yang jelas Papa kecewa dan marah karena Mama keguguran akibat... nyelamatin aku yang mau ketabrak mobil."
Rere terpaku di tempatnya, matanya mengerjap pelan. Ternyata hidup Queen itu rumit dan berat. Bibirnya tersenyum miris. Dia selalu berpikir bahwa di dunia ini hanya dia yang hidupnya selalu berat dan rumit. Ternyata matanya belum terbuka lebar, masih banyak kehidupan orang-orang yang hidupnya lebih berat dan rumit di bandingkan kehidupannya.
"Gue gak nyangka cewek kayak lo ternyata kuat ngadapin kehidupan yang rumit dan penuh drama ini,"puji Rere sambil tersenyum tulus.
Bibir Queen merekah, dia menatap mata Rere yang sangat cantik menurutnya.
"Aku lemah Teh, gak kuat seperti apa yang kelihatannya."
"Fake smile?"
__ADS_1
Queen mengangguk pelan. Dia menunduk. Selama ini hanya senyum palsu yang selalu di tunjukan oleh Queen kepada semua orang. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain.
"Memang sih. Terkadang senyum palsu itu di perlukan di beberapa situasi."
Queen terkekeh pelan, kata-kata Rere memang benar. Tapi entah kenapa dia merasa geli ketika mendengar kata-kata bijak dari gadis di sisinya ini.
"Aku udah cerita tentang kehidupan aku, Teh. Sekarang giliran Teteh yang cerita tentang kehidupan Teteh. Aku penasaran, tapi kalau gak mau cerita juga gak papa sih."
Rere menaikan kedua alisnya, mata gadis itu menatap lantai dengan pandangan menerawang. Dari pandangannya sih Queen bisa menebak bahwa kehidupan Rere sangat penuh pengalaman dan rintangannya.
"Gue dulu tinggal di Jakarta. Keluarga gue gak berasal dari kalangan berada. Mama gue cuma tukang asakan yang jualan di pekarangan rumah, sedangkan Bapa gue udah meninggal sejak umur gue 11 tahun. Gue punya Abang, dia dua tahun lebih tua di banding gue. Abang brengsek gue tukang mabuk dan beberapa kali masuk penjara karena kasus pencurian dan barang haram. Gue muak sama kehidupan gue, Queen. Mama gue selalu kasih semua uangnya ke Abang karena Abang gue bakal ngamuk kalau minta uang tapi gak di kasih."
Queen mengerjapkan matanya yang memanas, dia mengusap bahu Rere yang tidak menangis sama sekali ketika menceritakan masalahnya yang sangat pahit.
"Teteh kenapa gak nangis?"tanya Queen pelan.
Rere tertawa pelan, dia mengernyitkan dahinya ketika melihat mata Queen yang berkaca-kaca. Ternyata gadis itu gampang terbawa suasana dan perasaan juga.
"Capek Queen. Dulu gue selalu nangis kalau nyeritain masalah keluarga gue sama Adi. Cuma makin kesini gue sadar, gue gak bisa terus nangisin kehidupan gue secara terus-terusan. Gue gak boleh ngeluh lagi, gue gak boleh kecewa sama Tuhan karena ngerasa bahwa Tuhan ngasih hidup yang gak adil buat gue,"papar Rere yang membuat Queen terdiam.
"Terus kenapa Teteh bisa ada di Bandung?"tanya Queen penasaran.
"Saat umur gue 19 tahun, gue lagi sibuk kuliah di Jakarta. Tapi kuliah gue gak di terusin karena gak punya biaya. Gue kerja sampingan, kerjaannya cuma jadi tukang cuci piring di Cafe dan gajinya gak besar. Abang gue semakin menggila di situ, dia selalu mintain uang bahkan ngejual beberapa barang di rumah. Mama gue... dia meninggal karena serangan jantung saat ngedenger bahwa Abang gue ngelawan polisi lagi ketika mau di tangkap karena lagi nganterin narkoba di Club malam. Abang gue lama-lama di penjara juga meninggal, dia gantung diri."
"Dari situ hidup gue bener-bener kacau, gue ngerasa sendirian di sini. Keluarga gue pada gak mau ada yang nampung gue di rumah mereka. Bukan cuma di situ, gue juga di pecat dari Cafe karena di fitnah ngambil uang Cafe. Sampai akhirnya... ada temen gue yang nawarin gue buat kerja di tempat hiburan malam. Emang dasarnya gue lagi **** waktu itu, gue nerima-nerima aja tawarannya. Dan yah! Gue mulai kerja di sana sebagai *****. Kalau boleh jujur gue capek kerja kayak gini, gue ngerasa kotor dan gak pantes buat berdoa sama Tuhan kalau gue lagi kesusahan. Tapi entah kenapa gue selalu ketagihan setiap ngelakuin dan ngelayanin semua laki-laki hidung belang yang minta ngabisin malam mereka sama gue."
Mata Queen terbelalak. Dia menatap Rere dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Kenapa Queen? Lo jijik ya sama gue?"tanya Rere ketika melihat pandangan Queen kepadanya.
"Bukan gitu Teh. Lagian aku gak jijik kok! A-aku cuma kaget aja denger cerita tentang Teteh, ternyata kehidupan Teteh jauh lebih sulit dari pada kehidupan aku,"ucap Queen pelan.
Rere tersenyum tipis.
"Terus kenapa Teteh bisa di Bandung?"
"Keluarga Mama gue tau kalau gue adalah ******. Mereka malu dan usir gue dari daerah keluarga mereka, bahkan tempat tinggal gue. Di situ gue marah banget sama Tuhan, gue marah karena dia selalu ngasih cobaan dan ujian yang buat gue sakit hati dan pusing. Kenapa gue bisa di Bandung, itu karena Bos gue di Club nawarin pekerjaan sebagai ***** juga tapi tempatnya ada di Bandung. Gue terima aja tawaran itu, lumayan juga buat ngejauh dari kota Jakarta dan kenangan-kenangan buruknya. Dan gue sampai deh di Bandung! Gue kerja di salah satu Club ternama di kota ini, gue tinggal di kost-an yang deket dengan tempat kerja gue waktu itu."
__ADS_1
"Gue gak punya teman sama sekali di kota ini waktu itu, gue kayak orang dongo yang selalu sendirian kemana-mana. Sampai akhirnya gue ketemu Adi, tu cowok ngeboking gue buat nemenin dia semalaman. Kita banyak ngobrol malam itu, dia bukannya nikmatin tubuh gue malah ngajak gue jalan-jalan keliling kota Bandung. Gue nyaman waktu di deket dia. Entah karena apa, sejak dari situ kita semakin deket. Adi bawa gue ke sini, dia nyuruh gue ngontrak di sini karena gak mau jauh-jauh dari gue. Pokoknya... gue gak ngerti sama perasaan gue sendiri,"papar Rere sambil menerawang.
"Teteh suka tuh sama A Adi,"kata Queen sambil terkekeh pelan.
Rere tertawa. Adi itu menganggapnya hanya sebatas sababat, dan tidak lebih.
"Dia cuma nganggap gue sahabat,"gumam Rere pelan.
"Mana ada sahabat yang cium bibir satu sama lain? Kata Dea, temen aku yang ketemu kita di warteg. Cium bibir itu cuma di lakuin sama sepasang pasangan yang saling cinta satu sama lain,"ujarnya dengan wajah lugu yang membuat Rere gemas.
"Udah ah, jangan bahas tentang gue dan Adi."
"Oke!"seru Queen sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Eh iya Queen, malam ini gue bakal pulang malam banget. Lo gak apa kan kalau di tinggal sendirian di sini?"
"Emang Teteh mau kemana?"tanya Queen penasaran.
Rere berdiri dari duduknya, dia membawa dua piring kotor di atas meja untuk di cuci. Queen mengikuti langkah Rere, dia bersandar di kulkas sambil memperhatikan punggung Rere yang membelakanginya.
"Gue harus kerja Queen. Mana bisa makan gue kalau gak kerja,"jawabnya tanpa melihat Queen.
"Kenapa Teteh gak cari kerjaan yang lain?"
"Cari kerjaan di jaman sekarang tuh susah banget Queen,"jawab Rere. "Lo besok sekolah?"
Queen terdiam. Dia tidak bisa terus-terusan tidak sekolah, yang ada dia tidak naik kelas nanti. Di tambah sebentar lagi sekolahnya akan mengadakan Penilaian Akhir Semester. Tapi... apa dia sanggup untuk bertemu Kenan nanti?
Rere menyimpan piring terakhirnya di rak piring, gadis itu berbalik menghadap Queen. Keningnya mengerut ketika melihat gadis kecil itu melamun.
"Woy! Malah ngelamun,"seru Rere.
Queen menghela nafasnya. Gadis itu menatap Rere dengan bibir yang mengerucut.
"Aku harus sekolah. Bentar lagi ulangan naik kelas."
...||||...
__ADS_1
Asik, bentar ya Kenan ketemu Queen🌝