
Mata indah yang tadi terpejam itu akhirnya terbuka dengan perlahan, langit-langit tinggi berwarna putih adalah hal yang pertama gadis itu lihat. Dia bisa merasakan sinar matahari menyusup untuk masuk lewat ventilasi di ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar, tapi tunggu! Ini bukan kamarnya, ini kamar... Kenan?
"Kenan,"panggilnya pelan.
Tubuhnya terasa sangat lemah, kepalanya terasa sangat pusing dan telapak kakinya sakit. Dia mengerang pelan ketika berusaha bangun dari posisi tidurnya, gadis yang memakai piama tidur panjang berwarna biru tua itu menyenderkan tubuh dan kepalanya ke kepala ranjang.
"Queen!"
Queen menatap Kenan yang baru saja masuk ke kamar dengan nampan di tangannya, dia bisa melihat bahwa cowok yang sudah sangat rapi itu terlihat sangat khawatir sekaligus cemas.
"Kenan, kenapa aku bisa ada di sini?"tanya Queen lemah.
Kenan terdiam, cowok itu tersenyum sambil meletakan nampan yang di bawanya ke atas nakas. Cowok itu duduk di pinggir kasur dan mengelus pipi Queen dengan lembut.
"Kamu pingsan waktu kemarin. Mama dan Papa aku nyuruh aku buat bawa kamu ke–"
"Aku mimpi buruk Ken,"potong Queen sambil mencengkram tangan Kenan yang berada di pipinya.
"Mimpi apa?"
"A-aku, aku mimpi Mama. Aku mimpi Mama aku meninggal Ken,"jawab Queen terbata.
Kenan terdiam, cowok itu tidak tega melihat Queen yang hancur seperti ini. Queen pingsan kemarin dan baru sadar pagi ini. Jujur, Kenan sangat khawatir dengan keadaan Queen saat ini. Dia takut trauma Queen semakin parah.
"Queen, kamu gak mimpi."
Kening Queen mengernyit, gadis itu tidak mengerti dengan ucapan Kenan. Dia menghempaskan tangan Kenan dengan keras.
"Maksud kamu apa?"
"Mama kamu udah nggak ada, Queen. Mama kamu udah–udah meninggal,"jawab Kenan hati-hati.
Mata Queen terbelalak, gadis itu mematung ketika mengingat apa yang terjadi kemarin. Tiba-tiba Queen menangis dengan keras, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjambak rambutnya sendiri saat menyadari fakta bahwa Yuna telah tiada.
"Nggak. Mama masih ada!"serunya sambil menangis.
Kenan panik, cowok itu berusaha menenangkan Queen yang menjambak rambutnya sendiri.
"Queen, tenang! Queen aku mohon jangan kayak gini."
Pintu kamar terbuka. Disana ada Kania, Bagas, Dea dan sahabat-sahabat Kenan. Mereka terkejut ketika mendengar teriakan Queen.
"Ya ampun, Queen. Kamu tenang ya, jangan kayak gini sayang!"seru Kania panik, wanita itu berusaha menenangkan Queen yang masih menangis.
"AKU PENGEN KETEMU MAMA. MAMA GAK MUNGKIN MENINGGAL! DIA GAK MUNGKIN NINGGALIN AKU SENDIRI DISINI, KEN!"
Kenan merasakan matanya berkaca-kaca, dia tidak sanggup melihat keadaan gadisnya yang seperti ini. Jika dia memiliki kekuatan untuk memutar waktu, dia sangat ingin melakukannya untuk membuat Queen tidak terpuruk seperti ini.
"Sebaiknya Papa panggil Dokter lagi untuk menenangkan Queen,"ujar Bagas dan langsung pergi dari kamar Kenan.
Dea hanya bisa menangis dalam diam, dia tidak tega melihat keadaan sahabatnya yang seperti ini. Andra yang melihat itu pun memeluk Dea dan membawanya keluar, Tegar dan Verrel pun keluar dari kamar Kenan.
"Mama... Queen mau ketemu Mama!"
"Queen dengerin aku! Terima kenyataan kalau Tante Yuna udah gak ada. Kamu gak boleh kayak gini, Queen! Tante Yuna bakal sedih di sa–"
"MAMA GAK MATI KENAN. AKU MAU KETEMU MAMA, AKU MOHON!"
"QUEEN!"
__ADS_1
Kania terkesiap saat mendengar bentakan Kenan, wanita itu menjatuhkan air matanya sambil memeluk Queen yang mematung.
Kenan membuang nafasnya lelah, cowok itu menangkup wajah Queen yang terlihat sangat kacau. Cowok itu tahu keadaan Queen sekarang, tapi dia tidak akan membiarkan Queen seperti ini terus. Yuna juga pasti sedih di sana kalau tahu bahwa anak satu-satunya menangisi dia dan hancur seperti ini.
"Kamu tau? Aku sedih liat keadaan kamu yang kayak gini, aku gak mau liat kamu yang terus-terusan sedih kayak gini. Dengan kesedihan dan ketidak terimaan kamu karena Tante Yuna di panggil lebih dulu, itu sama aja kamu nyiksa Mama kamu di alam sana Queen. Mama kamu pasti gak suka liat anaknya yang kuat, ceria dan hebat ini jadi hancur dan kacau. Kamu gak mau kan Mama kamu sedih di sana karena denger tangisan kamu?"
Queen menggeleng, gadis itu menangis tanpa suara. Dia merasa ucapan Kenan mengenai hatinya. Kenan benar, dia tidak boleh terus bersedih dan menangisi Mamanya secara terus menerus.
"Mulai terima keadaan ya sayang?"tanya Kania hati-hati.
"Iy-iya Tante. T-tapi, aku sendiri Tan. Aku send–"
"Masih ada Tante yang siap jadi Ibu kamu, ada Om Bagas. Ada Kenan, ada Dea dan ada temen-temen kamu dan juga Kenan. Kamu nggak sendiri sayang,"potong Kania lembut.
Queen mengangguk. Ya! Dia tidak sendiri, masih ada teman-teman dan orang tua pacarnya.
Kania tersenyum, wanita itu mencium perban yang menutup luka di kening gadis itu. Memar yang berada di kening Queen ternyata sedikit parah, ada yang sobek namun tidak perlu di jahit. Queen di perban saat gadis itu masih pingsan, telapak kaki Queen juga terdapat perban akibat terkena pecahan vas bunga.
"Permisi!"
Ketiga orang itu menengokan kepalanya kepada Dokter keluarga Badesta yang di panggil oleh Bagas. Kania tersenyum lalu berpamitan keluar, sedangkan Kenan? Cowok itu berdiri lalu menyalami tangan Dokter yang sudah bekerja lumayan lama di keluarga ini.
Kenan menatap Queen yang hanya bisa terdiam, dia menunduk lalu mengelus air mata di kedua pipi Queen.
"Di periksa dulu ya sayang,"lirih Kenan pelan.
...||||...
"Tante! Tegar dan yang lainnya boleh nginep di sini kan, ya? Kita semua mau nemenin Kenan,"ujar Tegar sambil tersenyum.
Kania tersenyum, wanita itu mengangguk. Kenan dan Queen butuh teman-temannya untuk saat ini, kedua orang itu sedang dalam kesedihan. Queen yang kehilangan Mamanya, dan Kenan yang khawatir dengan Queen.
"Sebenernya gue pengen banget nginep, tapi bonyok nyuruh pulang. Bentar lagi juga supir gue jemput,"jawabnya tidak enak.
Kenan mengangguk paham, cowok itu kembali memakan makan malam yang terasa sangat pas di lidahnya ini. Mungkin tubuhnya sedang berada di meja makan, tapi tidak dengan pikirannya. Cowok itu sibuk memikirkan Queen yang belum makan sama sekali, gadis itu malah sedang tertidur karena bius yang di berikan Dokter.
"Tuan, Ken."
Kenan menoleh, dia menaikan satu alisnya ketika melihat orang kepercayaan Papanya–Frans. Pria berusia 30-an itu berdiri gagah di samping Kenan.
"Ada apa?"tanya Kenan.
"Tuan Bagas memanggil Anda untuk segera ke ruangannya. Beliau ingin mengobrol hal penting dengan Anda,"jawabnya dingin.
Kenan mengangguk mengerti, cowok itu pun berdiri setelah menenguk air putih di gelas hingga tandas. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Frans yang membawanya ke ruangan kerja Bagas yang berada di lantai satu rumahnya.
Mereka melewati banyak lorong, dan kedua orang itu berhenti tepat di depan pintu besar yang tak lain adalah pintu ruangan Bagas. Frans membukakan pintu untuk Kenan, setelah anak majikannya itu masuk, pria itu pun ikut masuk dengan tak lupa menutup pintu kembali.
"Ada apa Papa manggil Kenan kesini?"tanya Kenan tanpa basa-basi, cowok itu juga langsung duduk di depan Bagas.
Bagas menatap Kenan dengan serius, pria itu sesekali menatap berkas yang berada di tangannya.
"Papa menyuruh kamu kesini karena ada sesuatu yang ingin Papa tanyakan kepada kamu, Ken."
"Langsung aja Pa,"ucap Kenan dingin.
Bagas mengangguk, dia memperbaiki letak duduknya agar lebih nyaman.
"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Queen?"
__ADS_1
"Hampir empat bulan. Why?"
Bagas melirik Frans, lalu kembali fokus kepada anaknya.
"Pernah main ke rumahnya?"
"Bisa tiga kali dalam seminggu Kenan main ke rumah Queen."
"Dan apa yang kamu tahu tentang keluarga Queen?"
Mata Kenan menyipit, cowok itu tidak banyak tahu tentang keluarga pacarnya. Dan Kenan juga baru menyadari bahwa Queen tidak banyak bercerita, gadis itu hanya bercerita tentang trauma dan ketakutannya.
"Om Amar bukan Ayah kandung Queen, Tante Yuna nikah sama Om Amar sekitar... empat tahun yang lalu."
Bagas mengernyitkan keningnya, pria itu bingung kemana sosok Ayah Queen yang sesungguhnya.
"Apa kamu tahu sosok Ayah kandung Queen? Atau kamu pernah lihat mungkin?"
Kenan tertegun, cowok itu juga baru menyadari bahwa dia sama sekali tidak tahu sosok Ayah kandung Queen.
"Shit! Kenan bahkan baru nyadar kalau Queen gak pernah cerita soal Ayah kandungnya,"jawab Kenan pelan.
Bagas mengangguk-angguk, pria itu menatap berkas tentang Queen yang berada di tangannya. Semuanya lengkap, semua info tentang Queen telah tersaji di berkas tersebut. Setelah pergi dari pemakaman, Bagas memang menyuruh Frans untuk mencari tahu tentang gadis yang menjadi kekasih anaknya itu.
"Kamu tahu kalau tabungan Queen habis karena di pakai untuk–"
"I know. Queen nguras habis tabungannya buat biaya masuk Rumah Sakit Mamanya,"potong Kenan cepat.
Bagas menaikan satu alisnya, dia tersenyum miring.
"Kamu tidak curiga sama sekali kepada Queen? Mamanya hanya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan pabrik makanan ringan yang gajinya tidak seberapa. Lalu Ayah tirinya? Jangan di tanyakan! Pria brengsek itu menganggur dan hanya bisa menghabisi uang Mama Queen saja. Dan bagaimana Queen bisa memiliki uang sebanyak itu, gadis itu bahkan tidak bekerja,"papar Bagas.
Lagi-lagi Kenan tertegun. Uang yang sudah di habiskan Queen tentu saja tidak sedikit, tapi gadis itu memiliki uang dari mana?
"Mungkin aja Queen dapet dari wa-warisan Ayahnya yang maybe... Udah meninggal?"
Bagas tersenyum kecut.
"Ayah Queen belum meninggal, dia masih hidup."
"Dan sekarang dimana dia? Kenapa gak muncul waktu Tante Yuna meninggal dan di kuburkan? Kenapa pria itu gak hibur Queen yang sekarang lagi sangat terpuruk? Itu sama aja dia sama Om Amar. Pria brengsek dan tidak bertanggung jawab!"
Bagas terkekeh, begitu juga dengan Frans. Kenan tambah kesal ketika dua orang dewasa itu malah menertawakannya.
"Tuan kecil sama sekali tidak penasaran dengan sosok Ayah pacar Anda itu?"tanya Frans setelah berdehem.
"Siapa?"
"David Hardian Lucas!"
Mata Kenan terbelalak, bahkan mulut cowok itu sedikit terbuka. Dia sangat terkejut mendengar nama tersebut yang keluar dari mulut Papanya.
"WHAT!?"
...||||...
Kenapa ya Kenan kaget kayak gitu?🌚
Bonyok alias bokap, nyokap.
__ADS_1