
bug bug bug
"ahhhkk" bukan Darren yang memekik melainkan Queen. Dia terkejut saat Darren menyergah dirinya sampai ia terjengkang kebelakang.
Matanya menatap netra biru seperti laut milik Darren, sangat cantik sebenarnya tapi tertutup oleh tatapan tajam pria ini. Tatapan yang sangat tajam dan begitu mengintimidasi serta begitu mendominasi ini sangat sulit untuk menatapnya dengan lama. Tapi tidak bagi Queen, dia berani menatap mata tersebut.
Mendalami dan memahami arti tatapan mata ini.
Queen menegang saat Darren mengungkung serata mendekatkan wajahnya kearah wajah Queen "tu-tuan"
"kenapa masih memanggilku tuan?" tanya Darren dengan suara rendahnya.
Queen mencoba mendorong pelan dada bidang Darren agar menjauhi tubuhnya, tapi bukannya menjauh tapi tubuh Darren malah semakin menindihnya.
"kenapa masih memanggilku tuan?" ulang Darren, dia semakin mendekatkan wajahnya sampai hidungnya yang mancung menempel pada hidung Queen.
"ah-em i-itu.. a-aku sudah terbiasa memanggilmu begitu" ucapnya terbata, dia merasa jantungnya hampir meledak saat mereka sangat dekat dan begitu intim.
cuuup
Darren mengecup sekilas bibir Queen, dan mulai menjauhkan wajahnya "panggil aku sayang ingat?"
Queen mengangguk dengan cepat "ingat.. ingat"
Darren yang begitu menyukai Queen tentu saja merasa panas saat berada sedekat ini dengan gadis yang ia cintai. Munafik jika ia tidak merasakan geleyer gairah saat berada diatas tubuh gadis secantik Queen. Walau bagaimanapun ia adalah pria dewasa yang normal.
Queen yang melihat Darren lengah segera mendorong tubuhnya. Saat Darren tak lagi mengungkungnya Queen beringsut turun dan segera lari menuju pintu bathroom "aku mandi dulu"
brak
Queen menutup pintu dengan keras.
Darren tergelak dan menggeleng melihat kelakuan gadisnya "ck.. berada didekatnya membuatku gerah" ucapnya sembari mengusap tengkuknya yang terasa berkeringat.
Jika teringat bagaimana ia dihadapan Queen, Darren seperti kehilangan kendali dan kehilangan diri. Bagaimanapun juga, Darren adalah pria dingin dan tegas. Tapi saat disisi Queen entah kenapa ia selalu merasa menjadi pria mesum yang seperti kurang kasih sayang.
tok tok tok
Darren menoleh kearah pintu saat mendengar suara ketukan "masuk"
Pintu terbuka setelah Darren memberi perintah, masuklah pria tua yang tadi mengantar Darren.
"maaf tuan, saya mengantar sarapan untuk nona muda" ucap pak Tyo.
__ADS_1
Darren mengangguk "taruh diatas meja" ucapnya acuh, sebenarnya ia tahu sekali jika pria tua ini hanya mencari cara agar bisa masuk kedalam kamar karena ia menutup pintunya.
Yah.. Darren tahu sekali jika pria tua ini pasti khawatir jika nona mudanya hanya bersama dengan dirinya saja didalam kamar. Apalagi mereka memang belum menikah.
Darren tidak tahu saja jika sebenarnya dalang dibalik datangnya pak Tyo adalah calon mertuanya yang selalu memantau kamera pengawas saat mengetahui Darren datang kemansion saat ia sedang tak ada disana.
Arsen tidak bisa memantau pergerakan pria ini karena didalam kamar Queen memang tak dipasangi oleh kamera CCTV.
Pria setenang Darren biasanya akan sangat liar dan buas, hanya saja ia memang pintar untuk menutupinya. walau bagaimanapun Arsen juga seorang pria jadi wajar jika ia dapat memprediksi apa yang ada didalam kepala Darren .
Setelah meletakan semua sarapan pak Tyo kembali menatap Darren.
"kenapa kau tidak pergi?" tanya Darren saat melihat pak Tyo masih berdiri disisi pintu. Padahal beberapa pelayan yang membawa sarapan sudah keluar kamar.
"abaikan saya tuan, saya hanya menjalankan perintah" ujar pak Tyo dengan tegas.
Darren menghela nafasnya panjang "ck.. pria tua menyebalkan!!"
Pak Tyo terbelalak mendengar ucapan Darren, sepertinya pria muda ini mengatainya.
"bukan kau, tapi orang lain" ucap Darren saat melihat raut wajah pak Tyo yang tampak berubah, sepertinya ia salah paham padanya.
Karena yang sebenarnya ia sedang mengumpati seseorang yang memerintahkan pelayan ini untuk mengawasinya yaitu calon mertuanya, tuan Arsenio.
Setelah beberapa saat Queen keluar dengan wajah yang segar, Dia sudah mengenakan bajunya dan sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
ehem
Queen menoleh kesumber suara, dimana tadi ia mendengar suara orang berdehem "oh.. Pak Tyo kau disini?" tanya Queen.
"iya nona, saya membawakan anda sarapan" ucap pak Tyo.
"dia sangat mengganggu" bisik Darren didekat telinga Queen. "usir dia" kembali berbisik didekat telinga Queen, membuat telinga gadis itu memerah.
"isshh.. apa yang kau lakukan" keluh Queen sembari menutup telinganya.
Darren tidak peduli, ia bahkan sekarang mengecupi tangan Queen tanpa malu sama sekali, padahal pak Tyo masih menatap mereka berdua.
"pantas saja tuan besar menyuruhku untuk mengawasi mereka, ternyata kekasih nona Queen sangat bucin" batin pak Tyo. Dia menggeleng melihat kelakuan Darren. "aku seperti melihat tuan dan nyonya besar" batinnya kembali bersuara.
Darren yang begitu berwibawa dan dingin akan sangat lembut saat bersama dengan nona mudanya, hal ini memang sangat mirip dengan karakter tuan Arsen saat sedang bersama dengan istrinya.
"pak Tyo.. tolong keluarlah, aku akan sarapan sekarang"
__ADS_1
Pak Tyo menatap nona mudanya dengan tatapan keberatan.
"kenapa? apa ini perintah Daddy?"
Queen dapat melihat pergerakan mata pria tua itu, yang berarti memang benar apa yang ia ucapkan barusan "pergilah pak. Aku bisa menjaga diri" ucapnya meyakinkan.
"tapi.."
"nanti aku akan berbicara dengan Daddy"
Pak Tyo mengangguk "kalau begitu saya permisi" ujarnya, lalu ia keluar dari dalam kamar Queen.
"sudah kuusir, sekarang lepaskan aku" ucap Queen karena ia masih saja dipeluk oleh Darren Apa pria ini sungguh tak punya rasa malu? dia dengan santai memeluk dan menciumnya padahal ada orang lain disana tadi.
cup cup cup
Darren malah menciumi lehernya sekarang "hey.. kau akan bergairah jika melakukan hal itu terus menerus" ucap Queen dengan ketus sembari mendorong wajah Darren.
"apa kau seorang gadis? bicaramu frontal begitu" Darren menimpali ucapan Queen, dia menjauhkan wajahnya dari leher Queen.
"aku lapar, jadi tolong lepaskan aku" ucapnya dengan penuh permohonan.
Darren melepaskan rengkuhannya, lalu ia menarik tangan Queen dan berjalan menuju sofa. Mereka duduk bersisian.
"ayo sarapan" ajak Queen.
"aku sudah sarapan tadi, kau saja"
Queen mengangguk, dia mulai mengambil gelas yang berisi susu dan mulai meminumnya.
"kenapa kamu pagi-pagi sekali sudah kemari? apa kamu merindukanku?" tanya Queen, dia memasukan satu suap makanan kedalam mulutnya.
"itu salah satunya, tapi bukankah kamu mau mengajakku kesuatu tempat?"
"kemana?" tanya Queen, dia menoleh dan menatap Darren karena ia melupakan hal itu.
"kenapa kamu bertanya padaku?lalu aku harus bertanya pada siapa hah?" tanya Darren dengan ketus.
"kamu bisa bertanya pada cacing" ucap Queen tak kalah ketus.
Darren terkesiap mendengar ucapan Queen, dia kembali meremang saat teringat akan cacing yang tadi dia pegang akibat ulah dari adik Queen.
"kau kenapa ?"
__ADS_1
"tidak papa" ucap Darren sembari menggeleng.
"Dasar bocah tengik sialan.. awas kau nanti.!!" batinnya berucap sembari mengepalkan tangannya.