
Givani memencet bel rumah Raksa dengan sabar, gadis itu merasa sudah pegal berdiri terlalu lama di depan pintu rumah besar Raksa.
Malam ini Givani mendapatkan pesan dari Raksa, cowok itu memerintahkan Givani agar datang ke rumahnya malam ini. Sebenarnya Givani kesal sih karena dia harus membatalkan acaranya yang ingin mengajak makan Kenan berdua di salah satu Cafe yang baru buka kemarin.
Ceklek.
"Masuk."
Givani terlonjak kaget, dia menatap Raksa dengan horror. Cowok ini seperti hantu saja yang selalu tiba-tiba nongol. Akhirnya Givani masuk ke dalam rumah Raksa yang sepi, dia menunggu Raksa mengunci pintu rumahnya lalu Givani mengikuti Raksa untuk naik ke lantai atas dimana kamar Raksa berada.
"Kok di kunci?"tanya Givani heran ketika Raksa mengunci pintu kamarnya dan membuang kunci itu sembarangan.
"Duduk lo!"
Givani duduk di sofa yang berada di kamar Raksa, dia mulai gugup ketika melihat ekspresi Raksa yang ekspresinya berubah menjadi seperti... marah?
"Lo... kenapa?"tanya Givani takut ketika Raksa menundukan kepalanya.
"Masih nanya kenapa? **** lo, anjing!"
"Lo kenapa sih, Sa? Kok bentak-ben-"
Plak!
"Raksa!"seru Givani sambil memegangi pipinya yang baru saja terkena tamparan Raksa. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan.
"Penghianat. ****** lo!"teriak Raksa sambil mencengkram erat leher Givani hingga gadis itu mendongak sambil tangannya berusaha untuk melepaskan cekikan Raksa.
Nafas Raksa memburu, dia melepaskan cengkraman kuat di leher Givani dan kembali menampar pipi Givani hingga tangis Givani pecah di kamar itu.
"Perih Sa,"rintih Givani yang tidak berani menatap Raksa.
"Perih, huh? Perihan mana sama hati gue, Giv!? Lo khianatin gue dengan cara selingkuh sama si Kenan! Mau jadi wanita penggoda lo, huh!? Anjing!"
Givani terkesiap, dia menatap Raksa yang masih menatapnya dengan marah. Darimana Raksa tahu?
"Lo... lo tau darimana?"tanya Givani takut.
"Gak penting gue tau darimana!"desis Raksa.
"Gue gak khianatin lo, Sa!"
"Gak khianatin tapi sampai ciuman bibir sama cowok yang jelas-jelas cowok itu udah punya pacar, itu yang dinamain gak khianatin!? Otak lo ketinggalan di Club itu, iya!? *****!"bentak Raksa.
Givani masih menangis, yang jelas dia sudah takut jika Raksa seperti ini. Ingin kabur tapi dia tidak tahu kunci kamar Raksa di buang kamana.
"Sa, maaf."
"Lo tau, Giv? Lo tau kalau gue udah beneran nyaman sama lo, lo harus tau kalau gue udah cinta sama lo Givani. Tapi kenapa? Kenapa lo kayak gini, hah?"
"Raksa dengerin dulu penjelasan gue,"pinta Givani memelas.
"Lo cinta gak sih sama gue, hah?"tanya Raksa pelan.
Givani hanya diam dan balik menatap mata Raksa. Dia tidak mencintai cowok itu, yang dia cintai itu Kenan.
"Lo diem berarti emang lo gak cinta sama gue! Terus maksud lo apa buat gue baper kayak gini, hah!?"
Givani kembali menangis. Dia tersentak kaget saat tiba-tiba saja Raksa menciumnya secara kasar dan menuntut. Givani berusaha berontak tapi cowok itu malah membaringkannya di sofa kamar.
Raksa gelap mata sekarang, cowok itu tidak mendengar jeritan Givani yang memohon agar Raksa tidak bertindak kejauhan. Tapi cowok itu malah menghiraukannya dan memaksa Givani dengan cara yang kasar.
Plak!
"Diem bodoh!"sentak Raksa saat Givani memukul-mukul dadanya karena Raksa yang berhasil membuka pakaian Givani.
"RAKSA!"
...||||...
__ADS_1
Queen tersenyum ketika Kania tampak bersemangat menyajikan bolu yang di buatnya ke piring besar yang dia ambil dari rak piring di rumah David. Saat ini memang Kania sedang main mengunjungi Queen, dia tidak sendiri karena ada Kenan yang menemaninya.
Queen dan Kenan belum mengobrol sama sekali saat mereka bertemu tadi, mereka berdua hanya saling tatap saja.
"Biar Queen aja Tante yang bawa nampannya,"tawar Queen sopan sambil membawa nampan yang berada di genggaman Kania.
Dia membawa nampan tersebut ke ruang tamu dimana Kenan sedang menunggu mereka di sana. Cowok itu sibuk memainkan ponsel di tangannya dan tidak menyadari kehadiran Queen.
"Ken di makan dong, Queen juga di makan bolunya!"ucap Kania tiba-tiba hingga membuat Kenan mendongakan kepalanya dan matanya bertatapan dengan Queen.
"Oh ya Tan ini mau di ambil kok,"balas Queen sambil duduk di sofa single dan mulai menyantap bolu buatan Kania dengan lahap.
Kania tersenyum senang karena Queen memakan bolunya dengan lahap. Pipi Queen tampak bulat karena gadis itu yang memakan bolunya banyak-banyak.
"Eh,eh Queen kok area bawah Tante gak enak banget ya? Ini akhir bulan bukan sih?"tanya Kania sambil bergantian menatap Queen dan Kenan.
"Mama datang bulan kali tuh. Udah akhir bulan soalnya,"jawab Kenan tenang.
"Tunggu Tan, Queen panggil Bibi dulu."Queen mengambil interkom di nakas yang berada di dekatnya lalu dia memanggil-manggil nama 'Bi Arisa' dan tak lama datang seorang pelayan dari arah belakang rumah.
"Ada apa Non?"tanya Bi Arisa sopan.
"Queen mau minta tolong anterin Tante Kania ke kamar Queen ya Bi, terus kasihin pembalut milik Queen. Minta tolong banget ya Bi, soalnya Queen mau minum ke dapur."
"Oh baik Non,"ucap Bi Arisa sambil mengajak Kania dengan sopan untuk mengikutinya.
Sepeninggalan Kania dengan cepat Queen berlari ke dapur rumah, dia bahkan tidak sadar bahwa Kenan mengikutinya. Dia mengambil gelas tinggi di rak lalu menuangkan air di dispenser dengan cepat.
"Pelan-pelan kali minumnya."
Uhuk-uhuk!
Queen memukul-mukul dadanya lalu berbalik badan dan melotot ketika melihat sudah ada sosok Kenan di sana.
"Kamu! Ngapain kamu kesini?"tanya Queen heboh.
"Ngintilin kamu,"jawab Kenan sangat pelan.
Rasanya merinding ketika jari-jari cowok itu malah bergerak mengelus bibir bawahnya. Matanya mengerjap-ngerjap sambil berusaha menjauhkan jari-jari nakal Kenan.
"Kenan jangan, nanti ada yang liat."
Rasanya ingin tertawa melihat ekspresi ketakutan Queen.
"Emang aku mau ngapain heh sampe ketakutan gitu kalau ada yang liat?"tanya Kenan pura-pura tidak tahu.
Queen gelagapan, di pikirannya sekarang adalah hanya Kenan yang akan... menciumnya?
"Jauh-jauh ah! Kita kan lagi gak akur,"gerutu Queen sambil berusaha mendorong Kenan tapi cowok itu malah tambah mendekatkan jaraknya.
"Baikan kalau gitu."
Mata Queen terbelalak. Kenan kok santai sekali ya?
Cup.
"Kenan!"geram Queen saat Kenan mengecup ujung hidungnya.
"Kamu salah paham waktu itu Queen. Aku peluk Givani karena buat nenangin dia doang, Givani dapet perlakuan kasar dari cowoknya. Ada bekas memar di bibir sama pelipisnya dan dia ketakutan. Awalnya aku berusaha gak perduli, tapi Givani malah nampilin muka kesiksanya. Aku mana tega Yang, aku ngebayangin kalau yang ada di posisi Givani itu kamu gimana?"
Queen terdiam, menatap wajah Kenan seolah mencari kejujuran. Dia ragu tapi melihat wajah Kenan entah kenapa keraguan itu hilang.
"Kamu gak akan kasar dan main tangan sama aku kan?"tanya Queen sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kenan.
Kenan tersenyum simpul, dia melingkarkan tangannya di leher Queen dan mendorong leher itu hingga Kenan bisa mencium kening Queen.
"Kasarin aku balik kalau misalnya aku perlakuin kamu dengan kasar Queen,"kata Kenan sungguh-sungguh.
"Aku tinggalin aja, gimana?"goda Queen sambil tersenyum.
__ADS_1
"Gak mau! Jangan tinggalin aku."
Queen terkekeh geli, dia memeluk Kenan dengan erat. Dia sangat rindu dengan cowok ini, dia tidak mau kehilangan Kenan.
"Kangen Kenan,"lirih Queen.
"Kamar kosong, kuy!"
Queen mendongakan wajahnya, keningnya mengerut. Sedangkan Kenan cowok itu malah mengulum senyumnya.
"Ngapain?"tanya Queen polos.
"Bikin cucu buat orang tua kita."
"Kenan!!"seru Queen kesal sambil mencubit perut Kenan hingga membuat cowok itu meringis sekaligus tertawa.
"Ampun-ampun! Ini sakit Queen,"ucap Kenan sambil berusaha menjauhkan tangan Queen.
Queen berhenti mencubit perut Kenan, dia malah menyandarkan punggungnya di kulkas lalu menatap Kenan dengan kesal.
"Makannya kalau ngomong itu jangan sembarangan."
Kenan terkekeh lalu kembali merapatkan tubuh mereka hingga Queen menyimpan kedua tangannya di depan dada.
"Aku mau jujur dulu sama kamu Queen,"ucap Kenan serius.
"Jujur? Soal apa?"
Kenan menghela nafasnya, dia menatap mata Queen dengan mantap. Dia siap jika Queen membentak-bentaknya setelah ia jujur tentang suatu hal, bahkan Kenan rela jika Queen akan menamparnya setelah ini.
"A-aku... aku ci-ciuman sama Givani di Club malam Queen. Aku gak sadar ngelakuin itu, aku mabuk. Kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya temen-temen aku yang ikut."
Mata Queen terbelalak mendengar pengakuan Kenan, gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menundukan wajah. Hal itu membuat Kenan merasa bersalah.
"Maaf Queen, maaf. Aku gak sadar ngelakuin itu, a-aku juga gak tau siapa yang mulai duluan. Yang jelas waktu itu Tegar misahin aku sama Givani supaya gak ngelanjutin yang lebih. Queen kamu boleh tampar aku, pukul aku atau apa pun it-"
Plak!
Kenan terdiam. Perih memang tapi itu pastinya tak sebanding dengan perih yang di rasakan oleh Queen. Kenan rela di tampar dari pada Queen pergi dari hidupnya.
"Lagi Queen, tampar lagi ayo."
Cup.
Kenan terkesiap, dia menatap Queen dengan pandangan tidak percaya. Pasalnya Queen malah mencium pipi Kenan yang baru saja di tampar.
"Gak bisa,"ucap Queen sambil mengelus pipi Kenan.
Kenan tersenyum manis, dia membawa tangan Queen yang sedang mengelus pipinya lalu dia membawa tangan itu ke depan bibirnya dan mengecupnya dengan lembut.
"I really love you, Queen Lavinda!"
"I love you too, Kenan Aldhika Badesta!"balas Queen mantap.
Wajah mereka semakin mendekat dan ketika Kenan sudah memiringkan wajahnya tiba-tiba...
"Kalian sedang apa?"
"Papa!"
"Om David!?"
Sial ada pawangnya!
...||||...
**Yuhuuu, akhirnya mereka baikan juga!
Jangan lupa ya buat di komen juga like cerita Queen ini**:))
__ADS_1