
Darren yang merasa gelisah karena Queen tak kunjung kembali berdiri dari duduknya.
"Anda mau kemana tuan?" tanya tuan Albert pada Darren.
"Menyusul gadisku" ucapnya tanpa menoleh, dia berjalan semakin jauh dari sana.
Ketukan sepatu selaras dengan langka kaki Darren yang panjang. Dia berjalan menuju toilet dengan sedikit tergesa.
greb
Darren menghentikan langkahnya saat sampai didepan toilet wanita. Ia merasa ragu untuk masuk kesana.
Menghela nafasnya kasar, Darren memilih nekat masuk kedalam toilet wanita untuk mencari kekasihnya. Darren merasa hatinya tidak enak dan gelisah.
"Ahhhkk--" pekikan dua orang wanita yang sedang berdiri didepan westafel.
"Pergi!" Ucap Darren menginterupsi membuat kedua wanita itu segera lari karena takut melihat sorot mata Darren yang tajam.
Darren mengedarkan pandangannya, dia mendorong pintu toilet satu persatu menggunakan kakinya.
Matanya terbelalak saat membuka bilik toilet terakhir dimana ada seorang gadis tergeletak dilantai.
Dia berjalan mendekat. Berjongkok kemudian meraih tangan gadis yang ia tak tahu namanya itu. Denyut nadi gadis ini masih ada, sehingga Darren bernafas lega karena Queen tidak sampai membunuh gadis ini.
Lalu yang menjadi pertanyaan nya adalah dimana keberadaan gadisnya? Jika dia telah membalaskan dendam dengan membuat gadis ini pingsan lalu dia pergi kemana setelah itu?
Darren keluar dari bilik toilet tanpa mau menolong Alice, dia bergegas keluar dari toilet.
"Hey cabul!"
Darren menoleh ke sumber suara dimana ada seorang pria tampan yang berteriak.
Darren diam saja saat pria yang tak lain adalah sahabatnya itu mendekat.
"Apa yang kau lakukan didalam sana sialan! Pasti kau mengintip kan? Dasar cabul!" Ucap Edgar sembari menepuk bahu Darren.
Darren mendengus, dia tidak suka dituduh seperti itu. Mengusap bahunya dengan angkuh bekas pukulan Edgar.
"Siapa yang kau intip? Apa seksi?" Tanyanya sembari tersenyum, dia penasaran rupanya.
"Tutup mulutmu dan cepat bantu aku mencari Queen!"
"Queen? Siapa dia?"
Darren berdecak kesal karena sahabatnya itu banyak bertanya. Membuatnya bertambah pusing.
"Kalau kau tidak bilang bagaimana aku membantu mu bodoh! Cepat tunjukan fotonya!"
__ADS_1
Darren mendengus tapi tetap menurut, dia merogoh ponsel yang ada disaku celana yang ia kenakan. Menunjukkan foto gadis cantik yang ia gunakan sebagai wallpaper.
"Wow.. Cantik sekali.. Apa dia gadis yang semalam?"
"ck.. Jangan banyak bicara cepat sana pergi" ucap Darren sembari mendorong tubuh Edgar, dia menelfon anak buahnya sembari keluar dari area toilet.
"cari dimana keberadaan gadis ku sampai ketemu!"
"siap tuan" ucap anak buah Darren dari balik telefon.
"Ren... Memangnya gadis itu kabur? Atau kenapa sih?" Sikepo bertanya sembari berjalan mengekori Darren.
"Kabur kepalamu! Tadi dia sarapan denganku dia bilang mau ketoilet tapi tak kunjung kembali"
"Mungkin dikamar"
Darren menatap tajam sahabatnya itu "Aku juga mau kesana mencarinya! Kau pergilah menjauh! Jangan mengikutiku!"
Tapi bukannya menjauh, Edgar terus saja mengekori Darren. Dia sungguh penasaran sekali.
Darren membuka pintu, tapi kamar yang ia huni bersama Queen kosong.
"Dimana gadis itu?" gumam-gumam kecil, dia mencoba menghubungi ponsel Queen tapi nomornya tidak aktif "sh-i-t!!" umpat Darren.
Dia berbalik badan hendak keluar dari kamar "ahhhkk--" pekiknya terkejut saat melihat Edgar berdiri tak jauh darinya.
"hahahaha" Edgar tertawa melihat wajah syok Darren. Ini pertama kalinya ia bisa melihat wajah pias sekaligus takut Darren.
Darren bahkan sampai tidak fokus hingga terkesiap saat melihatnya.
Darren menatap tajam Edgar yang masih saja tertawa "Akan kupastikan besok kau tak bisa lagi tertawa!"
"Ahhhkk-- sorry Ren.. Aku akan membantumu" pekik takut Edgar saat ia diancam oleh Darren. Wajah Darren yang berubah menjadi datar dan dingin benar-benar menakutkan.
Darren mendes-ah, dia juga memijit pelipisnya yang terasa pening. Pria tampan itu sungguh mengkhawatirkan kondisi Queen.
Sudah ia pastikan jika Queen dibawa pergi oleh musuhnya. "Sial.. Seharusnya aku tidak boleh sepanik ini. Aku tahu ini akan terjadi, tapi kenapa hatiku tetap saja merasa resah?"
Yah.. ini adalah salah satu siasat yang disusun mereka berdua. Menjadikan Queen tawanan untuk mengetahui dimana keberadaan markas rahasia yang selama ini Darren cari.
Sangat beresiko tapi Queen meyakinkan Darren agar menjalankan rencana ini.
Mereka tak akan melukai Queen karena Queen adalah orang yang spesial dihati Darren. Dan lagi Queen bukan gadis lemah.
Darren memilih untuk duduk disofa. Mengambil leptop dan membukanya.
Tangannya dengan lihai menari diatas keyboard. Mencari keberadaan Queen menggunakan leptop tersebut. Darren memang sudah memasang chip diponsel dan cincin yang Queen kenakan.
__ADS_1
"Bawa pasukan pergi menuju satu pulau! Akan kukirimkan titik lokasinya" ucap Darren pada anak buahnya melalui sambungan telefon saat ia melihat jika titik keberadaan Queen sudah stabil, tidak bergerak secara signifikan. Menyuruh anak buahnya yang sedang mencari keberadaan Queen dikapal untuk segera berkumpul.
"Baik tuan"
Darren mematikan sambungan telefonnya "kuharap kamu menjaga dirimu dengan baik sayang" gumam Darren pelan sembari menatap layar leptop nya.
**
"Tuan"
Darren yang tengah memantau leptop mendongak. Melihat seorang pemuda yang baru saja masuk kedalam kamar. Gerrell. "hmm?"
"Kakak dimana?" Tanya Gerrell sembari duduk didepan Darren. Dia mencari-cari keberadaan kak Queen dengan pandangan matanya.
"Dibawa musuh pergi" ucap santai Darren.
"Apa?!" Pekik Gerrell yang terkejut.
"Hmm"
"Kau serius tuan?!"
Darren menatap manik mata Gerrell yang sama persis seperti milik gadisnya "apa aku terlihat bercanda?"
"Lalu apa yang kau lakukan disini?! Kenapa tak mencarinya sialan! Kau mau kakakku mati hah?!" Pekik Gerrell dengan marah, dia menatap tajam pria yang sedang santai duduk sembari bermain leptop.
"Ck.. merepotkan sekali"
"apa?!" pekik Gerrell saat ia mendengar gumaman Darren.
Darren berdiri dari duduknya, dia melipat leptop dan menentengnya "aku akan pergi menjemput kesayanganku" ucapnya sembari berjalan menuju pintu.
"Aku ikut!"
"Terserah.." ucap Darren tanpa berbalik badan. Membiarkan calon adik iparnya itu mengikutinya.
Jika dipikir lagi, Gerrell juga bisa bela diri sehingga Darren membiarkannya ikut. Karena dia mungkin saja bisa membantu atau paling tidak dia tak akan merepotkan nantinya.
Darren melempar sesuatu membuat Gerrell gelagapan menangkapnya.
"simpan baik-baik! Jangan sampai kau nanti mati dan kakakmu itu menyalahkanku"
Gerrell mengangguk dan mengikuti Darren. Dia berjalan sembari menatap pistol yang baru saja Darren berikan padanya "mereka cari mati berurusan dengan keluarga Tiger White!! seujung kuku saja mereka menyakiti kakakku akan kubantai sampai keanak cucu kalian!" batin Gerrell sembari mengepalkan tangannya.
Darren mengusap tengkuknya yang terasa dingin, dia menoleh kebelakang "apa yang sedang kau pikirkan bocah?"
Gerrell terkesiap dan menggeleng "tidak ada" ucapnya datar. Wajah jenaka nya musnah seketika berubah menjadi aura yang cukup membuat Darren terkejut.
__ADS_1
"ternyata bocah ini boleh juga" batin Darren sembari berjalan.