QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
dukungan


__ADS_3

"kakak... where are you?" pekik Gerrell mencari sosok kakak cantiknya. Ia berkeliling kesetiap penjuru ruangan.


Dan Gerrell menemukan Queen sedang main ponsel disofa ruang santai.


"kak" ucapnya setelah dia duduk disisi Queen.


"hmm"


"ayo kita jalan, sore-sore begini enaknya kita kulineran, ayo kita pergi kesekitaran menara Eiffell" ajak Gerrell pada Queen.


Queen menoleh, ajakan Gerrell menarik juga.


"ayolah kak" ucap Gerrell sembari menggoyang lengan Queen.


"kuy lah.. kakak ambil tas dulu"


Gerrell mengangguk dengan wajah senang "bawa uang cash kak, aku tidak punya" pekiknya saat Queen sudah berjalan agak jauh.


Queen menoleh kebelakang "tenang saja Rel, kakakmu ini kaya, akan kubuat perutmu meledak nanti" ucapnya dengan nada sombong.


"hahahaha.. kau memang yang terbaik" ucap Gerrell memuji.


Setelah itu, kedua orang itu segera pergi menggunakan mobil yang tersedia.


Menikmati suasana sore hari yang indah Di Paris.


Mereka benar-benar menjelajahi kuliner yang mereka inginkan. Kedua orang itu seperti sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan bersama. Tertawa dengan lepas saat salah satu diantara mereka memberikan candaan dan banyolan yang mengoc*k perut.


Queen dan Gerrell memang sefrekuensi, sehingga mereka akan sangat menikmati dan nyambung satu sama lain.


"ya ampun.. lelahnya" keluh Queen, dia memijit kakinya karena lelah berjalan.


"ck.. baru jalan sebentar kau sudah kelelahan, memang ya umur tidak bisa bohong"


plak


Queen memukul lengan adiknya "mulutmu itu memang mirip dengan Gerald, menyebalkan! padahal usia kita hanya terpaut tiga tahun! kau merasa muda begitu?" sinis Queen berucap.


"hahaha.. tentu saja"


Queen memutar bola matanya malas, dia memilih untuk memperhatikan sekitar. Saat ini dirinya dan Gerrell duduk ditaman kecil yang ada ditengah kota. Sumilir angin menerpa wajahnya, Queen memejamkan matanya.

__ADS_1


"kak, negara ini memang sangat cantik, nggak heran sih dijuluki sebagai negara paling romantis" ucap Gerrell memberi komentar.


Queen membuka matanya, mengangguk lalu menoleh kearah Gerrell "hmm.. Rel"


"ya?" Gerrell juga menatap manik mata kakaknya yang sama dengan dirinya, manik mata berwarna cokelat yang mirip seperti milik dad mereka berdua. Bahkan Gerald pun memiliki mata yang sama.


Sehingga siapa saja yang melihat mereka saat bersama akan sangat mudah menebak jika mereka adalah saudara.


"kau kemari ada apa?"


"sudah kubilang dad dan mom memintaku untuk menjagamu"


Queen memutar bola matanya jengah "jangan membodohiku! cepat katakan yang sejujurnya! kau bahkan tidak memberitahu dad dan mom saat kemari"


Gerrell menghela nafasnya, sudah pasti kakaknya itu tahu pasti dad Arsen yang memberi tahu "sebenarnya.. aku marah ke dad, makanya aku kabur kemari saat tahu kau ada disini"


"apa yang membuatmu marah?"


"daddy menyebalkan sekali, tidak mendukung apa yang aku mau" akhirnya Gerrell menceritakan apa yang terjadi.


"apa yang kau mau memangnya?"


Queen angkat bahu "mana kakak tahu apa yang kau mau" jawabnya acuh.


"ishh.. kau menyebalkan sekali kak! aku mau terjun kedunia entertainer"


Queen menghela nafasnya panjang, dia tahu jika adiknya itu memang ingin menjadi bintang.


Makanya dia sering kali ikut casting atau sekedar menjadi model sebuah produk fasion "kau tahu bukan keluarga kita tidak ada yang menggeluti dunia itu? kau belum tahu bagaimana dunia entertaiment dengan baik, jadi kakak rasa kamu harus memikirkannya lagi" ucap Queen menasehati.


Gerrell menggeleng "aku tidak mau memikirkannya lagi, aku sudah memutuskan akan memasuki dunia itu!" ucapnya dengan serius.


tuk tuk


"apa yamg kau lakukan?" keluh Gerrell saat kakaknya itu mengetuk kepalanya.


"oh benar, kepalamu keras"


"apa maksudmu?" tanya Gerrell sembari memegang kepalanya. Kepala kan memang keras.


"keras kepala! bodoh banget sih!" ketus Queen menjawab.

__ADS_1


"oh hehehe.." Gerrell memegang lengan Queen dan merebahkan kepalanya disana "kakakku tersayang"


"apa? kau mau apa hah?" tanya Queen saat mengetahui adiknya itu bersikap sok manja padanya. Pasti ada maunya.


"hehehe... dukung aku ya? please" mengedipkan matanya beberapa kali agar kakaknya luluh saat melihat keimutan wajahnya.


"ihhh.. minggir Rel! kau membuatku jijik!" ucap Queen sembari mendorong kepala Gerrell tapi sayangnya tidak berhasil.


"aku tidak mau melepaskan kakak, kalau kakak belum mau mendukungku! ayolah kak dukunganmu sangat berarti untukku" unyel-unyel pipinya dilengan Queen.


"apa yang harus aku dukung?" tanya Queen pada akhirnya.


"aku akan mendirikan perusahaan sendiri, Gerrell Audrik Entertaiment.. bagaimana bagus kan namanya ?" tanya Gerrell sembari menaik turunkan alisnya "aku kan belum punya modal, makanya aku meminta kakak untuk memberi dukungan untukku, dad tidak mau memberiku uang, makanya aku meminta padamu, tapi tenang saja kak, nanti saat perusahaanku sudah sukses aku akan melunasi hutangku ini"


"lalu bagaimana dengan Global Grup? kau adalah salah satu pewaris perusahan kita, atau kau tidak mau menjadi salah satu pewaris?" tanya Queen sembari menyeringai.


"siapa bilang aku tidak mau? aku mau lah!" ucapnya dengan cepat.


"lalu siapa yang akan memegang perusahaan kita? bukankah kita bertiga yang akan menjadi tiang perusahaan kita kelak?"


"kan ada dirimu dan Gerald yang bisa diandalkan"


Queen menghela nafasnya dengan panjang "kita bicarakan nanti lagi, kau membuat kepalaku tiba- tiba pusing Rel"


"oh kau pusing kak? sini aku pijat" ucap Gerrell riang, dia segera memijat pelipis Queen sembari terus berceloteh tentang perusahaan impiannya.


**


ckiiitt


Sebuah mobil berhenti, seorang wanita membuka kaca jendela mobilnya saat melihat sosok yang dia kenali "Karren?" gumamnya pelan, dia menyeringai melihat gadis cantik yang sedang duduk bersama seorang pria.


"cih.. ternyata kita sama" gumamnya, dia adalah Jane yang kebetulan lewat.


Merasa memiliki kesempatan untuk menjatuhkan Queen, Jane langsung menghubungi seseorang "hallo tante, bisa bertemu sekarang? saya akan menunjukan sesuatu yang menarik" ucap nya saat sambungan tersambung.


"oke, aku kirimkan tempatnya"


Jane kembali menyeringai saat sambungan telefon itu terputus. Apalagi saat melihat pria itu merebahkan kepalanya dilengan Queen "jal**g!"


"hanya anak kecil mau bersaing denganku? cih.. mimpi"

__ADS_1


__ADS_2