
Flashback on..
Gerrell menatap punggung Darren yang keluar dari mobil. Matanya terus memindai bahu lebar Darren saat pria itu sedang berbicara dengan anak buahnya.
"Hey.. apa yang kau pikirkan?" Edgar menyenggol bahu Gerrell saat melihat pemuda itu yang terus menatap Darren. Tatapan matanya sulit ia terka apa maksudnya karena ia menatap Darren dengan ekspresi yang sulit ia pahami.
Gerrell menoleh dan angkat bahu cuek "tidak ada yang aku pikirkan"
"hah.. kau kira aku anak kecil yang bisa kau bohongi. Aku melihat berbagai emosi dimatamu. Jangan bilang kau mau merencanakan pembunuhan untuk membunuh calon kakak iparmu" terka Edgar seenaknya.
"bagaimana kau tahu aku ingin membunuhnya?"
Mata Edgar terbelalak mendengar ucapan Gerrell. Dia menatap tidak percaya pemuda yang sekarang tengah tersenyum. Bukan senyum biasa namun sebuah seringaian kecil. "ah.. kau membuatku takut"
"hahaha.. aku hanya bercanda. Kalau aku membunuhnya, kakakku akan ikut mati. Karena aku rasa kakakku sudah cinta mati sama si wajah datar itu" setelah berucap seperti itu, Gerrell memilih untuk menghidupkan leptop yang diberikan oleh Darren.
Edgar hanya diam. Dia menatap wajah Gerrell tanpa berkedip "tapi entah kenapa. Aku merasa dia tidak sesederhana kelihatannya" batinnya berucap. Matanya yang biasanya usil tadi dengan jelas Edgar melihat kilat emosi yang berbeda. Dia merasa aura Gerrell tadi hampir mirip dengan Darren meski hanya sekilas.
Tapi memikirkan itu membuat Edgar pusing, dan ia memilih untuk memperhatikan pemuda yang tengah mengetikkan beberapa digit angka yang memusingkan dikepalanya. "astaga.. kau ternyata bisa?"
Gerrell menoleh sembari tersenyum "aku tidak segob-lok yang kau kira"
Melihat seringai tengil diwajah Gerrell membuat Edgar ingin sekali memukul wajahnya.
Setelah membuat kesal Edgar, Gerrell kembali menatap layarnya. Dia sudah berhasil meretas seluruh CCTV yang ada didalam markas.
"woh.. Ternyata kau suhu. Jadikan aku muridmu guru" ucap Edgar terperangah. Dia sungguh tak mengerti tentang komputer dan sebagainya. Dia sungguh bodoh dibidang IT, karena itu dia akhirnya menatap kagum pemuda yang kemungkinan usianya jauh dibawahnya ini bisa menguasai bidang tersebut.
Gerrell semakin menunjukan wajah angkuh. Dia senang sekali saat kemampuannya dipuji. "terus puji aku!" begitulah jika diartikan wajah congkak Gerrell saat ini.
"aku akan merusak alarm tanda bahaya terlebih dahulu." ucap Gerrell. Dia melakukan hal itu agar Darren dan timnya tidak kesulitan untuk masuk. Jika alarm itu rusak, semua orang yang didalam markas tak akan tahu jika ada penyusup.
"kau genius!"
"Tentu saja" setelah merusak alarm tanda bahaya, dia kemudian memanipulasi kamera pengawas yang saat ini sedang diawasi oleh seseorang. Dapat Gerrell lihat disalah satu gambar, hanya ada satu orang yang berjaga. Itu akan memudahkan nya untuk memanipulasi kamera karena orang tersebut akan lama menyadarinya.
Gerrell mendownload rekaman beberapa jam yang lalu kemudian ia putar dilayar tempat pengawas keamanan. Sehingga ia tak menyadari adanya penyerangan yang dilakukan oleh Darren dan para anak buahnya.
Setelah pekerjaannya selesai, Gerrell hanya tinggal duduk santai mengawasi.
"kau belajar dari mana Rel?"
"otodidak" jawab Gerrell santai.
"jangan bohong."
"Sebenarnya aku didampingi seseorang saat belajar." ucap Gerrell mulai menceritakan. Dia memang diajari oleh uncle Bastian.
"kau sudah sangat profesional. Tolong ajari aku"
Gerrell menyernyit mendengar permintaan Edgar "apa otakmu itu sampai?"
Edgar mendengus saat mendengar pernyataan menyebalkan dari Gerrell "cih" ia hanya berdecih dan menatap jengkel pemuda ini.
**
"Gerrell"
__ADS_1
Setelah hampir setengah jam. Suara Darren mulai terdengar dieaphone yang Gerrell pasang ditelinga sehingga Gerrell mulai memperhatikan layarnya lagi.
"Hello brother... bagaimana kabarmu? apa kau masih hidup?" tanya Gerrell sembari menatap Darren yang tertangkap kamera CCTV.
"berhenti bicara omong kosong!"
"ck.. kau itu tidak bisa diajak bercanda sedikit. Kesabaranmu itu setipis tissue " jawab Gerrell setengah menggerutu saat mendengar ucapan menekan dari Darren.
"Gerrell Audrick Bramantyo.."
"baiklah baiklah.. aku akan serius. Padahal aku sudah mematikan alarm tanda bahaya sebelum kau masuk loh. Seharusnya kau berterimakasih bukannya menggeram seperti singa!" setelah berucap seperti itu, terdengar helaan nafas panjang dari sana.
"thanks untuk itu. Aku akan menambah uang investasi di perusahaan barumu" ucapnya tanpa keraguan.
Senyum merekah langsung terbit dibibir Gerre setelah mendengar ucapan Darren "ah benarkah? kau sungguh dermawan." ucapnya riang. Setelah berdehem Gerrell kembali fokus "Kau belok kanan kearah lorong. Disana ada dua orang bersenjata lengkap. berhati-hatilah"
Gerrell melihat tak ada keraguan ditiap langkah kaki Darren, matanya berbinar melihat kengerian Darren saat menghabisi nyawa dua orang yang tadi sempat ia beri tahukan.
"wow.. mesin pembunuh luar biasa" puji Gerrell sebentar sebelum berucap serius lagi. Dia mulai bergeser melihat situasi dilantai atas "kau lihat ada tangga bukan? naiklah kelantai atas. Disana ada lima orang tengah berjongkok didepan kamar. Entah apa yang sedang mereka lakukan"
Edgar hanya bisa diam melihat Gerrell dan Darren yang sedang berkomunikasi. Melihat temannya yang tanpa ragu untuk membunuh itu membuat Edgar sedikit merinding "mereka berdua mengerikan"
"woooh.. kata-katamu keren sekali tuan"
Entah apa yang Darren ucapkan sehingga Gerrell berucap seperti itu. Namun melihat kebrutalan Darren selanjutnya membuat Edgar yang hendak bertanya ia urungkan. Dia bisa menerkanya.
"apa kakakmu ada di dalam sini?" tanya Darren pada Gerrell sembari menatap pintu.
"yah benar.." Setelah berucap seperti itu Gerrell tersenyum usil. Edgar yang melihat itu tentu saja tahu jika adik dari kekasih Darren ini hendak membuat Darren kesal.
"apa kau tahu tuan? dia sedang berduaan dengan seorang pria loh~" ucap Gerrell terdengar menggoda Darren.
"apa yang kau bicarakan sialan!"
"ck. aku rasa kau harus membersihkan telingamu! cepat masuk, kekasihmu sedang digoda oleh pria lain"
Setelah melihat Darren menendang pintu, tawa Gerrell lepas begitu saja "hahahaha.. dia memang cemburuan"
"kau sengaja melakukannya?"
Gerrell mengangguk saat Edgar bertanya "tentu saja. aku senang sekali melihat orang lain disiksa. Aku rasa sebentar lagi nyawa pria yang ada didalam sana akan tamat"
Edgar menghela nafas mendengar ucapan Gerrell. Ternyata selain kemampuannya yang menakjubkan, Gerrell juga seperti seorang psikopat. Dan itu cukup mencengangkan bagi Edgar.
Setelah melihat bagaimana Darren mengamuk, Gerrell dan Edgar memilih untuk keluar dan membantu anak buah Darren.
Flashback end.
*********
Queen yang tengah menyandarkan punggungnya ditembok dengan tangan dia lipat didepan dada menghela nafas setelah melihat bagaimana Darren mengamuk. Dia yang melihat Louis masih saja dipukuli meski sudah tak berdaya itu akhirnya berjalan mendekati Darren. Mencekal tangan kekasihnya "cukup." ucapnya dengan intonasi tegas.
Darren menoleh saat tangannya dicekal. Tendangan yang terus ia lakukan pada Louis pun pada akhirnya Darren hentikan.
Darren yang awalnya gelap mata dan dikuasai amarah menghela nafasnya panjang. Dia mundur dua langkah dan kemudian berbalik menarik tangan Queen. Memeluk tubuh kekasihnya dengan erat. Nafasnya masih naik turun dengan cepat karena emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Aroma manis kekasihnya ini membuat Darren merasa nyaman.
Queen membalas pelukan Darren, mengelus punggung kekasihnya agar lebih tenang. Setelah beberapa menit akhirnya Darren sudah bernafas dengan normal kembali. Dia yang membenamkan wajahnya diceruk leher Queen mulai menjauhkan wajahnya. Dia memundurkan kepalanya namun tangannya masih enggan untuk melepaskan tubuh Queen "bagaimana keadaan mu?" tanyanya sembari memperhatikan tubuh Queen.
__ADS_1
"semuanya baik." jawab Queen dengan santai. Dia sedikit mendongak agar matanya bisa satu kontak dengan kekasihnya ini.
"aku takut."
Queen terkekeh pelan "pria besar seperti mu bisa takut juga?"
"Meskipun aku tahu kamu bisa menjaga diri, aku tetap saja merasa takut dan khawatir" gerutu Darren tanpa berdaya. Dia menceritakan kegundahan hatinya sejak Queen berada ditangan Louis. Dia tak bisa merasa tenang sama sekali. Meskipun wajahnya terlihat datar seperti biasanya, tapi hatinya malah sebaliknya. Hatinya merasa khawatir dan tak terkendali.
Queen tersenyum lembut. Melihat kekhawatiran dimata Darren hatinya terasa hangat "terimakasih telah mengkhawatirkan aku"
Darren mengangguk kemudian kembali membenamkan wajahnya dileher Queen "apa pria sialan itu menyakitimu?"
Queen menggeleng "ah tidak sama sekali. Malah aku yang sudah membuatnya pusing tujuh keliling" ucapnya terdengar bangga.
Darren berdecak mendengar penjelasan Queen. Kekesalannya perlahan menghilang saat tangan Queen yang hangat mengusap punggungnya naik turun.
"Helloo tuan Darren ..."
Darren terkesiap saat tiba-tiba saja earphone yang ia kenakan berbunyi. Ditengah kelegaan yang menjalar kehatinya suara melengking dari pemuda yang tadi sempat membantunya memekik ketelinganya.
Jangan lupakan satu hal, pemuda itulah yang juga sudah menjadi kompor sebelum Darren masuk kedalam kamar. Dia memberikan pernyataan yang membuat hati Darren dibakar cemburu. Karena hal itulah yang membuat wajah Louis tak berbentuk sekarang. Wajahnya penuh lebam dan mulai membengkak.
Darren melepas pelukannya pada Queen karena takut terjadi sesuatu "ada apa?"
"ketua bandit sudah diamankan. Dan si tua bangka yang mengkhianatimu juga sudah berada ditangan kita." jelas Gerrell memberi tahu keberhasilan mereka.
Darren cukup puas akan kinerja bawahannya, mereka memang bisa diandalkan "good. Bawa satu orang yang ada dikamar ini juga"
"apa dia belum mati? padahal dia sudah menyentuh kekasihmu sebelum anda datang loh~ anda sungguh baik hati mengampuni nyawanya"
Mata Darren kembali memancarkan kemarahan. Cemburu nya kembali naik kepermukaan "aku belum puas menyiksanya! kenapa dia harus mati sekarang? aku akan membuatnya merasa jika kematian lebih baik dari pada hidup didunia ini"
"oh kejamnya.."
Klik
Darren memutus alat komunikasi sebelum Gerrell berbicara lagi, ia melakukan hal itu agar adik dari kekasihnya ini tidak mengganggunya. Dia kembali menatap wajah Queen.
"adikmu" ucap Darren saat melihat mata kekasihnya itu memancarkan kekepoan.
"oh~ dia tidak menyulitkanmu kan?" tanya Queen.
Darren menggeleng "dia tidak menyulitkanku. Hanya suaranya saja yang sangat menganggu, apalagi jika dia sedang bersama dengan Edgar. Astaga.. mereka seperti tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Membuatku pusing dengan celotehan mereka" ujar Darren mengeluhkan perilaku adik dari Queen dan sahabatnya. Mereka berdua membuatnya pusing akibat celotehan yang tanpa tahu berhenti.
Queen tergelak saat Darren menceritakan tentang adiknya.
Darren meraih tangan Queen "ayo pulang. Aku sudah malas berada ditempat ini."
Queen mengangguk. Namun sebelum pergi, Queen dikagetkan dengan tingkah kekanakan Darren. Pemuda itu masih sempat-sempatnya menendang Louis yang pingsan "astaga.. kamu pendendam sekali"
"Biar saja. Aku sudah dibuat kesal olehnya beberapa bulan ini." ucapnya terdengar penuh dendam.
"hahaha.. kamu lucu sayang. Sekarang jadi lebih banyak bicara"
Darren menoleh kearah Queen "benarkah?" tanyanya karena ia sendiri tidak menyadarinya.
Queen mengangguk "iya. Tapi aku suka kamu yang seperti ini"
__ADS_1
Darren tersenyum dan kembali menarik tangan Queen untuk pergi dari ruangan yang membuatnya sesak.
***