
Queen masih terkikik saat mendengar ucapan datar Darren saat mengatakan ia akan mengganti kerusakan yang telah ia lakukan.
Pria ini sungguh sangat arogant. Sama seperti dad Arsen. Mereka memiliki kemiripan entah itu sifat atau pun kelakuan.
Dua pria dengan kepribadian yang hampir mirip ini malah akan terlihat konyol dan kocak saat disatukan.
Darren mendengus melihat wajah Queen yang masih asik mentertawakan kelakuannya. Darren memang sudah jengah dan kesal mendengar suara calon mertuanya itu. "kalau kamu sebahagia ini saat aku menghancurkan barang dad mu, aku tak akan sungkan untuk melakukannya lagi" ujarnya terdengar kesal.
Meski saat ini audionya rusak tapi kamera yang ada dibeberapa sudut masih on sehingga Darren tidak leluasa untuk berdekatan dengan Queen. Hal itulah juga yang menambah kekesalan Darren.
plak
Queen memukul lengan Darren sampai membuatnya meringis. Terasa pedas sekali "asal bicara saja kamu!"
Darren mengusap lengannya, dia menatap wajah Queen yang tengah menatap sebal dirinya. Tapi entah kenapa malah terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Darren memang sudah bucin tingkat dewa "padahal aku sedang sakit seperti ini. Kamu malah memukuli aku" keluhnya terdengar manja ditelinga Queen.
Queen memicingkan bibirnya mendengar ucap Darren barusan "kamu lebay"
"lebay? apa itu?" tanya Darren yang memang tidak mengetahui kosa kata yang baru saja Queen ucapkan.
Queen menggeleng malas "bukan apa-apa! lebih baik kamu istirahat saja!" ucap Queen sembari merebahkan tubuh Darren.
"ck. aku tidak mau" ujar Darren dan kembali duduk.
Queen berdecak "menurutlah agar kamu cepat sembuh!"
Darren mendengus "aku sudah tidak papa Queen! aku bahkan bisa berlari jika aku mau" gerutunya. Ia memilih menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang.
"terserah kau saja! aku malas menemani pria yang tak menurut sepertimu!"
Darren menahan lengan Queen saat gadis ini hendak beranjak "jangan pergi" lalu ia dengan cepat merebahkan tubuhnya agar gadisnya ini tidak pergi.
Hal itu membuat Queen tersenyum senang "good boy" ujarnya sembari menepuk dada Darren lembut karena mau menuruti ucapannya.
***
Setelah infus habis, Queen membantu Darren melepaskan infus tersebut. Hanya memasang atau melepas Infus bukanlah perkara yang sulit karena Queen sudah bisa melakukannya sejak dulu.
Mom Valey mengajarinya hal-hal dasar dalam dunia medis, hanya untuk berjaga-jaga saja kalau tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan jauh dari rumah sakit. Mengingat jika Queen selalu dalam keadaan berbahaya setiap saat.
Queen selalu membawa alat-alat kesehatan dimobil miliknya atas kehendak sang mommy.
Bahkan untuk menjahit luka Queen bisa melakukannya. Pelajaran otodidak ini Queen pelajari saat sedang libur sekolah menengah pertama. Didampingi oleh mommy yang memang sudah pro dalam dunia medis.
Queen yang telah selesai melakukan kegiatannya mendongak, menatap mata Darren yang tengah memperhatikannya sedari tadi. Mata birunya sangat jernih seperti air laut dan tatapan matanya menurut Queen sangat dalam.
Queen selalu berfikir jika dia bisa menyelami tatapan pria yang ada dihadapannya ini. Ingin sekali ia tahu apa yang tengah ia pikirkan. Karena jujur saja, Queen tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Darren karena ia adalah pria yang sangat pandai menguasai tatapan dan perasaannya.
"sayang. kapan kita menikah?" tanya Darren tiba-tiba.
deg
Queen yang saat ini tengah berdiri disisi ranjang terkesiap mendengar ucapan Darren. Dia menatap pria yang ia cintai ini dengan bingung "haaah.."
"ck.. kalau besok bagaimana?"
Queen terkesiap untuk yang kedua kalinya. Queen benar-benar tidak bisa menjawabnya.
Darren menatap mata Queen dengan sedikit kecewa, tentu saja dia akan kecewa jika melihat kekasihnya tampak enggan untuk menikah dengannya padahal Darren sudah sangat jatuh hati padanya.
Apa gadis ini serius dengan hubungan ini? pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul dibenaknya.
Tanpa Darren duga Queen mengulurkan tangannya dan memegang kening Darren. Queen memastikan jika tunangannya ini tidak demam.
"isshh.. apa yang kau lakukan?" Darren mendorong tangan Queen agar menjauhi keningnya. Dan kemudian ia menggenggamnya.
__ADS_1
"ku kira kau demam karena bicara melantur seperti itu" ujar Queen. Sejujurnya Queen merasa terkejut setengah mati mendengar penuturan Darren.
Menikah? dia memang pernah membayangkannya, tapi untuk merealisasikan hal itu Queen sedikit ragu.
"aku serius Queen. Aku ingin kau secepatnya menjadi istriku!"
Queen terdiam, dia menatap wajah Darren yang saat ini tampak sangat serius.
Queen merasa ini terlalu cepat. Mengingat usianya masih sembilan belas tahun, ia tidak mau nantinya menjadi istri yang tak tahu apapun. Bahkan dirinya saja masih dilayani, bagaimana ia akan melayani seorang suami nanti?
Queen tentu sangat buruk dalam hal ini.
"kenapa? kau tampak ragu untuk menjadi istriku?" tanya Darren dengan pandangan menyelidik dan kecewa.
Queen menggeleng dengan cepat saat mendengar suara rendah Darren, dia melihat wajah Darren yang kecewa setelah menebak dengan benar apa yang sedang ada didalam benaknya "bukan seperti itu. Aku hanya sedang berfikir bagaimana jika aku tidak becus menjadi seorang istri. Aku tahu sekali kehidupanku akan berubah total saat aku telah menyandang status istri. Jadi tolong.. berikan aku waktu" ucap Queen dengan suara pelan sembari menunduk.
Darren masih saja diam, dia meriah dagu Queen dan mendongakkan kepala Queen. Pandangan mata mereka bertemu pandang "aku akan memberikan mu waktu. Jangan sedih sayang" ujarnya mengalah, ia tidak akan memaksa atau nanti gadisnya ini akan pergi darinya.
Darren menarik tubuh Queen masuk kedalam pelukannya. Dia tidak mau menjadi pria yang egois dengan tidak mempertimbangkan perasaan gadisnya.
"maafkan aku" gumam Queen pelan. Dia membenamkan wajahnya didada bidang Darren. Queen merasa bersalah telah menolak halus keinginan Darren.
"tidak mengapa. Kamu masih banyak waktu sayang. Tapi ingat jangan terlalu lama atau nanti aku akan bertambah tua"
Queen tergelak dan memukul dada Darren. Suasana hatinya yang tadi tak karuan menjadi lebih baik setelah Darren melontarkan candaan.
ceklek
"waah... ada apa ini? kenapa kalian berpelukan seperti itu? apa boleh uncle ikut juga?"
Queen dan Darren terkejut saat pintu tiba-tiba saja terbuka, apalagi mendengar suara seorang pria setelahnya.
Queen menoleh kearah pintu dan terkejut melihat siapa yang datang "uncle Bas!" pekik Queen. Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan sahabat dari dad nya itu. Jika dihitung sudah lebih dari satu bulan. Hehehe.
Karena terakhir bertemu dengan uncle Bastian saat ia mengikuti Danzel untuk menjaga pertahanan markas yang diserang.
Queen sangat dekat dengan Bastian karena sedari kecil ia selalu mengikuti Bastian. Karena memintanya untuk melatihnya untuk bertarung dan memainkan senjata. Dan lagi Queen juga menguasai bidang IT atas didikan Bastian sampai membuatnya bisa meretas jaringan internet.
"apa kabar my Queen?" tanya Bastian sembari mengeratkan pelukannya. Dia yang saat ini menghadap pria yang sudah Bastian tahu adalah tunangan dari gadis kecilnya ini, melihat dengan jelas wajah Darren yang berubah masam dan tatapan matanya berubah menjadi tajam.
"bocah kecil ini cemburu rupanya" gumam Bastian dalam hati, lalu bibir pria paruh baya ini tiba-tiba saja menyeringai licik saat ia menemukan ide membuat pria kecil ini bertambah kesal dan marah.
cuup
Bastian mengecup pucuk kepala Queen. Membuat Darren membelalakan matanya melihat hal itu. Dia sampai mengepalkan tangannya dengan erat.
Sebisa mungkin Darren menahan saat tadi mendengar Queen yang memanggilnya uncle.
Tapi hatinya benar-benar panas dan bernaf*su sekali untuk menghajar wajah pria paruh baya yang saat ini menatapnya dengan pandangan licik. Tampak begitu menyebalkan dan menjengkelkan sekali. "sialan!!"
"hahahaha"
Queen melepaskan pelukannya lalu menatap aneh uncle Bastian saat melihatnya tertawa terbahak "apa yang membuatmu tertawa uncle?"
Bastian menggeleng "tidak ada apa-apa sayang. oh Queen.. Uncle merasa ada aroma benda yang terbakar" ujar Bastian sembari mendenguskan hidungnya.
Begitupun dengan Queen, dengan polosnya dia mengikuti uncle Bastian mendenguskan hidungnya"aku tidak mencium apapun"
Darren mendengus karena tahu sekali apa yang sedang pria paruh baya ini ucapkan. Dia sedang menyindir dirinya yang memang terbakar oleh api cemburu.
"oh iya tidak ada. sepertinya tadi uncle salah menciumnya deh"
Queen hanya memicing karena tak mengerti akan apa yang baru saja uncle Bastian ucapkan. "ah sudahlah.. apa yang uncle lakukan disini?"
"aku menjemput kalian berdua lah.. sekalian uncle mau berkenalan dengan pria yang berhasil merebut mu dari pria dingin dan kejam, jangan lupakan keposesifan nya yang tingkat langit itu membuat uncle jengah" ujar Bastian. Karena dia sangat posesif dan selalu melarangnya untuk mendekati Queen. Queennya hanya miliknya.Itu yang selalu Bastian dengar dari mulut Arsen.
Queen memutar bola matanya malas "yang kau bicarakan itu dad ku uncle! uncle ingin aku memukulmu ya!"
__ADS_1
Bastian terkikik "tentu saja tidak mau" lalu pria paruh baya ini berjalan menghampiri Darren. Dia tatap wajah Darren dengan pandangan dalam.
Hal itu membuat Darren tidak nyaman dan menatapnya dengan tajam.
"oh ini ketua baru yang hampir mati itu?"
Mata Darren membola mendengar ucapan pria paruh baya ini "apa maksud anda tuan?"
"hahahaha.. bukan apa-apa. lupakan saja boy! oh ya perkenalkan saya adalah Bastian Arkana. Uncle Queen yang sangat tampan imut dan men-"
"menjengkelkan" ucap Queen memotong perkataan uncle Bastian.
Bastian mendengus dan menatap sebal Queen "menyenangkan!" ucapnya meralat ucapan Queen barusan "dasar gadis nakal!"
Queen hanya angkat bahu acuh.
Interaksi kedua orang itu tak luput dari pandangan mata tajam Darren. Dia merasa mereka berdua sangat akrab. Lalu pria paruh baya ini tadi bertanya tentang ketua. Ketua apa yang ia maksud? Apakah pria paruh baya ini tahu sesuatu? Darren harus hati-hati karena dia merasa pria yang katanya bernama Bastian Arkana ini tidak semudah kelihatannya. Pria ini tampak konyol tapi tatapan matanya tersimpan sejuta misteri.
Saat sedang memperhatikan pria paruh baya ini, tanpa ia duga pria paruh baya ini menoleh dan menatapnya lagi.
"kau anak muda. Mau pulang kan? ayo.."
"tunggu uncle.. kita sedang menunggu aunty Emily yang sedang kemari"
"dia sudah pulang" jawab Bastian sedikit acuh, ia tak suka sekali pada wanita itu karena telah membuat Queen kesulitan. Bastian tentu saja tahu apa yang selama ini terjadi.
"pulang? uncle bohong ya? tadi katanya dia sedang kemari kok"
Bastian berdecak "ck.. mana pernah uncle berbohong padamu Queen"
"sering"
Bastian terkesiap dan menatap sebal Queen yang berbicara tanpa berperasaan seperti itu "sudahlah.. ayo pulang! uncle kemari memang mau menjemput kalian berdua kok. Kalau masalah momnya pria ini" menunjuk Darren "dia benar-benar sudah pulang"
Queen menatap curiga pria paruh baya ini saat tadi sekilas melihat senyum liciknya.
"ah-- sudahlah Queen. Jangan menduga-duga sesuatu yang tidak uncle lakukan! ayo pulang saja. Nanti uncle belikan ice cream, kamu mau tidak?" tanya Bastian sembari menggandeng tangan Queen untuk pergi dari ruangan tersebut. Meninggalkan Darren yang masih duduk diatas ranjang.
"kalau satu truk aku mau" ucap Queen menimpali ucapan Bastian. Terdengar malas karena ia memang hanya main-main saja.
"jangankan satu truk. Jika kamu meminta dengan pabrik-pabriknya sekalian akan uncle berikan untukmu. Kamu tahu kan uncle ini kaya raya. Uncle adalah sultan"
Queen memutar bola matanya jengah "tidak tanya"
"ishh.. kamu masih sama ya Queen. Menyebalkan"
"hey sayang! kamu mau kemana?"
Queen terkesiap saat Darren memanggil dirinya. Dia membalik badannya "ah-- kenapa aku melupakan mu?"
Darren mendengus dan menarik Queen agar dekat dengannya. Dia bahkan menampik tangan Bastian yang masih menggenggam tangan gadisnya ini. "jauh-jauh dari orang tua itu sayang! nanti kamu ketularan bau minyak angin!"
Bastian terkesiap dan kemudian menatap jengah pria kecil yang saat ini pergi meninggalkan dirinya sembari menggandeng Queen dengan posesif .
Bastian mengendus tubuhnya sendiri. Tidak ada bau minyak angin seperti apa yang pemuda itu ucapkan. Malah ia sangat wangi "dasar bocah tengik kurang ajar! awas kau nanti" pekik Bastian sembari berjalan dengan cepat menyusul pasangan itu.
***
Siapa yang kemarin minta dibanyakin part-nya angkat tangan ✋...
udah aku banyakin yaa.. dua bab aku jadikan satu ini loh..
Jangan lupa like komennya.. siapa tahu ada yang belum vote Minggu ini, author mau sekali loh dikasih vote .. hehehe
Jangan lupa kasih bunga/coffee juga.
Maaf serakah 😂🙈
__ADS_1