QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
flashback


__ADS_3

"bagaimana?" tanya Louis saat ia sampai dilantai teratas villa yang ia huni untuk bersembunyi dari kejaran tuan Keith dan Darren.


Villa mewah yang dad nya bangun ini sangat luas dan mewah. Hanya ada satu bangunan dipulau terpencil ini. Villa ini berada ditengah-tengah hutan dan dikelilingi oleh laut. Jadi tak ada akses jalan raya, mereka hanya bisa datang dari jalur laut atau udara.


"tuan lihatlah" ucap anak buah Louis sembari memberikan teropong pada tuannya.


Louis menerimanya lalu mulai menempelkan benda tersebut disebelah matanya. Dan mata satunya lagi terpejam "oh sh-i-t!!" umpatnya saat melihat kapal yang sepertinya terhenti dan cukup jauh ditengah laut.


brak


Dengan amarah yang membara Louis membanting teropong yang ada ditangannya "breng-sek!!" kembali mengumpat. Dia mendongak dan melihat ada helicopters yang sepertinya sedang mengintai dengan berputar-putar diatas pulau.


"tuan.."


Louis menoleh. Tatapan tajamnya membuat anak buah Louis gemetar. "a-apa yang harus kita lakukan?" ucapnya dengan takut.


"Aku akan menyambut tamu yang datang. Tak sopan kan kalau kita mengabaikan teman lama!" ucapnya diakhiri dengan suara menekan.


"sepertinya gadis itu cukup berarti bagimu ya? sehingga kau dengan cepat menemukan keberadaan ku" kembali berucap, pria tampan itu mengibaskan rambutnya kebelakang sembari menyeringai.


Louis menoleh kearah anak buahnya berada "kau urus gadis itu! kalau sampai lecet sedikit saja, kepalamu yang akan menjadi gantinya!"


gluk


Anak buah Louis menelan saliva nya susah payah. Dia merasa tertekan saat matanya melihat kilat amarah dimanik mata tuan Louis. "ba-baik"


***


"Ck.. ini masih sore, kenapa kau membuat keributan? mereka akan tahu saat melihat helicopter milikmu itu" gerutu Gerrell yang merasa aneh akan tindakan Darren.


Jangan sampai kakaknya yang masih berada ditangan musuh kenapa-napa.


"Ck diamlah! aku punya rencana ku sendiri"


Gerrell menarik lengan Darren saat pria itu hendak pergi. "katakan apa rencana mu?! apa kau tak tahu seresah apa aku karena kak Queen masih berada ditangan mereka?!"


Darren menghela nafas panjang, mencoba bersabar menghadapi pemuda ini. Dia tak mau sampai emosi menghadapi calon adik iparnya ini "apa kau tak mempercayai kakakmu yang hebat itu? aku saja yang kenal tak sampai satu tahun mempercayai nya seratus persen loh" ucapnya terlihat tak percaya kalau Gerrell memang tak mempercayai kakaknya sendiri.


Gerrell terdiam. Dia menunduk. Benar apa yang Darren ucapkan, kakaknya sangat hebat. Seharusnya ia yang mengkhawatirkan musuh Darren saat ini.


Darren menyeringai saat Gerrell mendongak dengan sorot mata berbeda. Dia jelas sekarang lebih percaya pada kakaknya itu.


puk puk


Gerrell tertegun saat kepalanya ditepuk dua kali oleh Darren. Rasa tangan pria ini hangat, membuat perasaan Gerrell lebih baik dari sebelumnya.


Gerrell tersenyum saat merasa aman berada disisi Darren. Perasaan ini sama seperti saat ia berada disisi dad Arsen ataupun anggota keluarganya yang lain.

__ADS_1


"ck.. jangan tersenyum bodoh seperti itu! Mau kupukul hah?!"


Gerrell mengerucutkan bibirnya. Merasa kesal saat perasaan hangat yang menjalar kehatinya dipatahkan dengan ucapan ketus Darren.


"ish.. baiklah. Jangan memberikan ekspresi jelek seperti itu. Ayo akan kuberi tahu semua rencana ku dan kakakmu" menarik bahu Gerrell supaya pemuda itu mengikuti nya.


Gerrell tersenyum. Dia mengikuti kemanapun Darren membawanya. Gerrell tentu saja terpesona akan setiap tindakan Darren "oh pantas saja kak Queen mencintainya" batinnya bermonolog. Ternyata Darren memang cukup hangat tak seperti wajahnya yang kaku itu.


Sama seperti dad Arsen ataupun Gerald yang memiliki karakter dingin diluar tapi hangat didalam.


Darren membawa Gerrell menuju kekapal bagian depan. Duduk dikursi yang tersedia disana. Angin sore yang kencang membuat rambut Gerrell yang memang panjang dibagian depan terbang kebelakang.


Darren menghela nafasnya panjang. Dia menatap kedepan. Obrolan nya dengan Queen semalam berputar-putar di otaknya. Lalu ia menoleh kearah Gerrell membuat pemuda itu sedikit terkesiap, sepertinya ia terkejut mendapatkan tatapan tajam tiba-tiba dari Darren.


"ck.. kenapa wajahmu menakutkan sekali si! aku sampai terkejut" ucap Gerrell. Meski ia sebenarnya sudah terbiasa akan aura yg dikeluarkan oleh Darren, tapi tetap saja ia akan terkejut saat tatapan tajam itu langsung menatap matanya. Jantungnya seperti berhenti untuk sejenak tadi.


Menghela nafasnya panjang. Gerrell kembali menatap mata Darren yang sekarang sudah tak setajam tadi. "sekarang ceritakan lah. Aku sungguh penasaran sekali"


"ck.. jiwa muda sepertimu memang selalu ingin tahu. Oh, aku sampai melupakan sesuatu" ucap Darren saat ia teringat sesuatu.


Alis Gerrell menyernyit sembari menunggu ucapan Darren.


"bagaimana perusahaan yang kau bangun?! ingatlah perjanjian kita! jangan lupa kau transfer uang keuntungannya!"


Gerrell membuka mulutnya tak percaya. Lalu ia mendengus "keuntungan apanya! aku saja baru mendirikan perusahaan itu! banyak sekali perusahaan besar yang menekan perusahaan ku, mereka sepertinya takut kalah saing kalau nanti aku berjaya" ucapnya terdengar dongkol.


Mata Gerrell terbelalak "kau tega sekali. Harusnya kau membantuku tuan, bukan hanya membuat mentalku down dengan cara mengancam seperti itu!"


Darren memijat pelipisnya pelan "akan kukirim staf profesional nanti"


Wajah Gerrell tampak bersinar, senyum lebar merekah sehingga pemuda itu tampak bertambah tampan saja "terimakasih. kau memang kakak ipar terthe best" ucapnya sembari mengangkat kedua ibu jarinya.


"eh.. Lalu apa rencana mu? kenapa kita malah berbicara hal diluar kegentingan ini" gerutu Gerrell.


Darren menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Mencoba mengingat-ingat obrolan nya dengan Queen semalam.


flashback on


Setelah drama rindu yang dilakukan oleh Darren, sekarang mereka duduk bersisian disofa. Mereka akan membahas rencana apa yang akan mereka lakukan besok.


"aku tahu jika musuhmu ada diantara tamu undangan" ucap Queen memecah keheningan karena Darren tak kunjung bicara. Pria itu malah sibuk mengusap-usap kepala Queen. Beberapa kali ia kecupi kepala Queen yang memang berada tak jauh dari jangkauan nya.


"aku sudah tahu sayang"


"lalu? bagaimana kau akan menghadapi mereka?"


"aku akan menghabisi mereka. Mudah sekali kok membunuh semut-semut pengganggu itu"

__ADS_1


Queen menjauhkan dirinya dari Darren, menatap Darren dengan pandangan dalam "yah aku tahu mudah jika menghabisi mereka semua. Tapi, pimpinan mereka masih berkeliaran diluar sana"


Darren menatap serius mata Queen "aku tahu. Tapi paling tidak, dia akan kesal saat anak buahnya mati ditanganku"


"jadikan aku umpan saja!"


Mata Darren sedikit membola mendengar ucapan Queen. Lalu ia menggeleng "kau gila ya?"


Queen menggeleng. wajahnya masih saja serius "aku serius! percayalah padaku sayang, aku akan baik-baik saja"


Darren menggeleng. Tentu saja ia akan keberatan jika seperti itu. Masih banyak cara untuknya mengetahui dimana keberadaan mereka.


"tapi terlalu lama. Jika aku yang jadi sandera, kau akan cepat menemukan mereka. Lagian aku juga penasaran akan musuhmu itu, jadi biarkan aku melakukannya"


Darren menghela nafas berat. Memang benar jika ia akan mudah untuk mencarinya. Tapi Queen adalan wanita yang sangat ia cintai, bagaimana mungkin ia akan membuat gadisnya ini dalam keadaan bahaya.


Queen yang melihat wajah Darren dalam keadaan bimbang, sepertinya ia sedang berperang melawan hatinya. Melingkarkan tangannya dileher Darren, menatap hangat mata biru laut prianya ini "jangan khawatir. Apa kau lupa darah siapa yang mengalir ditubuhku?"


Benar. Queen memiliki darah seorang mafia. Bahkan Dad nya sangat terkenal. Jadi untuk apa ia harus merasa takut? bahkan ia sudah mengetahui skil bela diri yang dimiliki oleh gadisnya ini. Dengan berat hati Darren mengangguk. "baiklah"


Queen tersenyum senang. Dia kecup bibir Darren dan mel-u-matnya sedikit. Membuat pria itu mengerang. "jangan menggodaku!"


Queen menjauhkan dirinya saat diberi peringatan oleh ucapan datar Darren "hehehe.. maaf maaf"


"Sayang. sepertinya mereka memang memiliki markas tak jauh dari sini, aku yakin sekali karena mereka memang sengaja mengarahkan kapal kesini. Agar memudahkan mereka untuk menyerangmu"


Darren mengangguk setuju. Dia memang berfikiran sama dengan Queen saat tadi ia diserang dari bawah laut.


"Jadi.. Mereka tak akan berbuat ceroboh dengan membawa musuh mendekati markas" ucap Queen menambahkan.


"kau mengira jika itu bukan markas mereka yang sesungguhnya?" tanya Darren saat menangkap inti dari ucapan Queen.


Queen mengangguk. Sembari tersenyum dia menatap mata Darren "kau tak boleh langsung menyergap. Buatlah mereka panik dan nantinya aku akan dibawa ketempat yang jauh lebih aman. Yaitu markas mereka yang sebenarnya"


Darren kembali mengangguk. Setiap ucapan Queen benar-benar membuat Darren kagum. Dia mengakui kepintaran yang dimiliki oleh kekasihnya ini. "baiklah.. kuharap besok kamu akan baik-baik saja. Sekarang ayo kita tidur" ucapnya sembari tersenyum simpul. Terlihat seperti ia sedang merencanakan sesuatu.


Mata Queen membola mendengar ucapan ambigu Darren. "tidak mau!" ucap Queen sembari menyilangkan tangannya didepan dada .


"aku mengajakmu tidur, bukan mau menidurimu! dasar gadis mesum!" ucap Darren sembari menyentil pelan kening Queen.


Wajah Queen memerah. Dia benar-benar merasa malu.


"tapi kalau kau mau, aku dengan senang hati memberikan tubuhku ini" ucap Darren sembari melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadisnya yang cantik ini.


Wajah Queen bertambah merah. Dia mendorong dada bidang Darren "menyingkirlah! kau membuatku kesal"


Darren tergelak lalu ia memeluk tubuh Queen, dia benar-benar masih sangat merindukan gadisnya ini.

__ADS_1


flashback end.


__ADS_2