
Darren yang baru saja masuk kedalam villa tertegun melihat seseorang yang sedang santai duduk sembari minum wine. Dia duduk dengan angkuh. Melipat salah satu kakinya diatas paha, dia tersenyum miring saat menyadari kehadiran Darren disana.
"selamat datang teman lama... Mari kita minum untuk merayakan pertemuan ini" ucapnya dengan ringan. Seperti ia tak memiliki dendam atau semacamnya pada Darren.
Darren berdecih dan terus menatap tajam pria tersebut. Apalagi jika mengingat apa yang telah ia lakukan padanya membuatnya ingin sekali menghabisinya. "jangan banyak bicara bedebah! dimana gadisku?!"
Pria yang bernama Louis itu tergelak kecil mendengar ucapan menekan dari Darren. Louis menenggak minuman yang tadi gelasnya sedang ia putar-putar. Rasa manis dari wine itu membuat tubuh Louis hangat.
"apa maksudmu? aku tak mengerti" ucap Louis dengan santai, dia akan mempermainkan mantan sahabatnya itu.
"ck!" Darren berdecak kesal. Pria tampan yang sedang mengeraskan rahangnya itu mengambil sesuatu di sakunya. Sebuah pistol.
Beberapa orang yang ada dibelakang Louis segara bergerak melihat tuannya dalam bahaya. Mereka mengacungkan pistol juga kearah Darren karena Darren saat ini menodongkan pistolnya pada Louis.
Louis mengangkat tangannya keatas. Menyuruh anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka.
"tapi tuan.." ucap salah satu dari mereka karena keberatan.
"turuti ucapanku!"
Anak buah Louis mengangguk dan menurunkan senjata apinya. Tapi tatapan matanya terus memelototi Darren. Mengintai Setiap pergerakan Darren, karena takut melukai tuannya itu.
"dia tak akan menyakitiku" ucap Louis kemudian.
Darren tergelak mendengar ucapan Louis yang penuh dengan percaya diri "hahaha.. kau kira aku orang yang seperti itu? aku tak akan segan untuk membunuhmu!"
Louis menatap sendu Darren "kau jahat sekali Ren! mengingat bagaimana hubungan kita dulu, kau tega menginginkan nyawaku?" tanyanya dengan sedih.
"Tidak usah kau membuat drama menjijikkan seperti ini!" ucap Darren dengan suara rendah. Jengah menatap wajah sok sedih itu.
"hahahaha" tawa Louis menggelegar mendengar ucapan ketus Darren. Dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Darren.
Darren hanya diam. Darren menatap tajam pria yang dulu bersekongkol untuk membunuhnya saat ia berada dinegara Queen. Sampai ia didepan Darren, Louis menyeringai.
"kau tak akan menurunkan benda berbahaya ini Ren?" tanya Louis sembari mencengkeram ujung pistol Darren.
Darren berdecih. Dia menarik pistolnya dengan gerakan menghentak lalu Darren tendang perut Louis dengan sekuat tenaga.
"ahhk--" pekik Louis dengan kencang. Dia kira Darren tak akan berani menyakiti dirinya.
Louis akan menghadapi Darren sendiri, sehingga saat anak buahnya hendak menyerang Darren ia menahan mereka melalui tatapan matanya.
__ADS_1
"bodoh!" ucap Darren menghina Louis.
"brengsek!!" pekik Louis lalu ia yang awalnya tersungkur kelantai berdiri. Louis tatap tajam mata Darren.
"kau kira aku akan berbelas kasih pada penghianat seperti dirimu?! cuih.. gila saja aku mau mengampuni baji-ngan seperti dirimu" ucap Darren dengan menggebu. Darren kemudian menyergah tubuh Louis, tapi kali ini Louis tak tinggal diam.
Pria itu juga melawan Darren dengan kekuatannya. Mereka berdua bertarung dengan sengit. Kekuatan mereka beradu, sampai mereka kelelahan tak ada satupun yang mau mengalah. Kekuatan mereka sama kuatnya.
Louis yang merasa kekuatannya hampir habis, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membantu dirinya.
Darren yang mengetahui hal itu tak tinggal diam. Pistol yang awalnya ia simpan lagi karena memilih untuk melawan Louis dengan kekuatannya. Ia ambil dan sembari menendang perut Louis Darren mengarahkan pistol miliknya kearah anak buah Louis.
dor dor dor
Terdengar pekikan mereka sebelum nyawa mereka meregang.
"Darren!" pekik Louis tak terima saat anak buah andalannya dihabisi oleh Darren. Sembari berdiri, Louis menatap Darren dengan aura membunuh yang begitu lekat.
Pria itu mulai marah.
"cih.. merepotkan sekali" gumam Darren kesal. Dia sama sekali tidak takut ditatap seperti itu.
"kau akan mati ditanganku!"
Darren hanya mendengus "kalau ada yang mati, itu kau!" ucapnya membalas ucapan Louis.
"ck ck ck.. Kalian mau saling bunuh ya?"
Louis dan Darren menoleh kesumber suara, dimana Edgar berbicara sembari masuk kedalam villa bersama Gerrell disisinya.
"bagaimana?" tanya Darren.
"tenang Ren... Semua anak buah Louis sudah aku habisi bersama dengan Gerrell. Ren, calon adik iparmu ini luar biasa" ucap Edgar sembari menepuk bahu Gerrell. Edgar sungguh seperti baru saja menemukan mutiara berharga saat melihat ketrampilan bertarung Gerrell. Selain bela diri yang hebat, Gerrell juga sangat mahir mengenakan senjata api.
Gerrell hanya berdecak, bagaimana bisa mereka mengobrol di situasi mencekam seperti ini. Rasanya aneh, tapi itulah yang sedang terjadi.
"lalu.. mana pria tua bangka itu Ren? aku ingin sekali melihat wajah menjengkelkan itu!" tanya Edgar. Dia menatap Louis dengan pandangan mencemooh.
Sedangkan Louis hanya berdecih.
"pria tua bangka yang berkhianat pada orang yang telah memberinya makan. Siapa ya namanya? oh aku ingat, namanya Tristan"
__ADS_1
Louis menatap tajam Edgar saat nama Daddy nya disebut. Apalagi melihat Edgar menatapnya dengan tatapan merendahkan membuat emosi yang memang sudah meluap-luap itu pada akhirnya meledak "baji-ngan kau!"
dor
Louis menembak kearah Edgar. Mencoba membunuh pria itu, saat menjelek-jelekkan dad nya.
Untung saja Edgar memiliki ketrampilan menghindar yang luar biasa, kalau tidak mungkin sekarang ia sudah berpindah alam karena Louis mengincar kepalanya.
"Astaga.. hampir saja aku meninggoy! " ucap Edgar sembari mengusap dadanya yang terasa berdebar karena serangan tiba-tiba dari Louis. Ditengah-tengah ketegangan seperti ini bisa-bisanya ia berbicara ngelawak seperti itu.
"kau harus mati karena berbicara lancang!" Louis kembali memekik.
"bicara lancang? Edgar berbicara fakta. Dan aku rasa kaupun tahu" ejek Darren memberikan ucapan telak pada Louis.
Louis menoleh, tangannya yang tak memegang pistol terkepal mendengar ucapan Darren. Tentu saja ia mengetahui faktanya, sehingga ia sedikit tersentil. Hatinya terasa sakit karena apa yang Darren ucapkan benar. Louis mengetahui jika apa yang dad nya lakukan adalah hal yang salah. Tapi ia tetap mendukung nya. Dia memang benar-benar pria jahat.
Wajahnya tertunduk.
"dasar bocah bodoh! jangan mau di provokasi!"
Semua orang menoleh kearah sumber suara,dimana tuan Tristan berlari mendekat. Lalu melemparkan sesuatu kearah mereka.
blashhh
Asap mengepul sehingga ruangan yang Awalanya terang berubah menjadi gelap. Darren Edgar dan Gerrell menutup mulut dan hidung mereka. Lalu mereka mundur, menjauhi asap tersebut.
"uhuk uhuk uhuk" Gerrell terbatuk, lalu ia menoleh kearah belakang saat merasakan tangan hangat menepuk tengkuknya. Itu kekasih kakaknya, Darren.
"kau tak apa?" suara yang biasanya datar sekarang terdengar ada kekhawatiran.
Gerrell menggeleng sebagai jawaban. Hatinya menghangat mendapatkan perhatian dari Darren.
"kalian tidak papa?" sekarang Edgar yang bertanya.
Darren dan Gerrell menggeleng secara bersamaan.
Darren membantu Gerrell berdiri. Terdengar suara helicopter yang terbang menjauh.
"Mereka sudah kabur" ucap Edgar.
"Ayo kita ikuti mereka. Aku akan menghabisi mereka malam ini juga!" ucap Darren dengan penuh tekanan, kesabarannya sudah habis. Lalu ia keluar dengan aura membunuh yang mana diikuti oleh Gerrell dan Edgar.
__ADS_1