
Hari kehari terasa sangat lama dan pahit untuk Queen jalani. Tidak ada sapaan hangat Kenan lagi yang selalu menyambutnya ketika Queen berjalan di koridor sekolah, tidak ada lagi Kenan yang selalu mengajaknya main ke luar atau sekedar main ke Apartmen di setiap harinya.
Kenan... aneh, cowok itu cuek dan dingin kembali pada Queen. Sudah beberapa kali Queen yang menyapa Kenan duluan, menerror Kenan dengan cara spam di WhatsApp dan menelpon cowok itu sampai di angkat. Namun nihil, Kenan menghiraukan Queen.
Queen tidak tahu apa yang menyebabkan Kenan bersikap seperti ini kepadanya, perasaan Queen tidak berbuat salah pada Kenan.
"Hiks hiks."
Queen masih terisak sejak dari satu jam yang lalu, dada gadis itu terasa sesak dan seluruh badannya terada berdenyut nyeri ketika mengingat apa yang di lihatnya di sekolah tadi.
Flashback
Queen berjalan di koridor menuju perpustakaan karena dia ingin mencari buku dongeng yang di tugaskan oleh guru Indonesianya. Gadis itu masuk ke perpustakaan dan menyapa penjaga perpustakaan yang tengah membereskan buku-buku di atas mejanya.
"Pagi Pak Misbah,"sapa Queen sopan.
"Pagi juga atuh Neng Qin, tumben kesini pas jam pelajaran di mulai."
Queen tersenyum ketika mendengar nama panggilan khusus dari Pak Misbah dan para pedagang di kantin sekolahnya. Katanya ribet jika memanggil nama 'Queen' lebih simple nyebut 'Qin'.
"Iya nih Pak, Queen lagi di tugasin sama Pak Jaenab buat nyari buku dongeng."
"Di bagian ujung kanan perpustakaan Neng, disana banyak banget buku-buku dongeng yang Neng cari. Kalau sudah ketemu bilang sama Bapak ya, biar Bapak catat kalau Neng teh lagi minjem buku di sini,"jelas Pak Misbah riang.
"Oke Pak, kalau gitu Queen cari bukunya ya Pak."
Kaki Queen mulai melangkah untuk ke bagian ujung kanan perpustakaan. Mata Queen bisa melihat di kursi-kursi panjang perpustakaan ada beberapa anak-anak nakal yang tengah tertidur nyenyak. Pak Misbah memang oke-oke saja asalkan ada sogokan.
"Dongeng apa ya kira-kira?"gumamnya sambil menyusuri rak-rak tinggi buku dongeng.
Ada dongeng tentang Si Kabayan ada juga legenda tentang Gunung Tangkuban Parahu. Tapi setelah berpikir kedua cerita itu pastinya sudah di pilih oleh banyak teman sekelasnya. Queen ingin dongeng yang tidak banyak di pilih oleh teman-temannya, lumayan juga nilainya bisa lebih bagus.
"Dongeng mana ya?"
Matanya berhenti di judul cerita dongeng yang terasa asing bagi Queen, lalu tanpa berpikir panjang gadis itu mengambil bukunya dan bersiap untuk berbalik badan dan pergi dari perpustakaan sebelum sebuah suara isak tangis menghentikannya.
"Hiks hiks..."
Queen menelan ludahnya, bulu kuduknya mendadak berdiri ketika mendengar isakan pilu tersebut. Mencoba tetap tenang dan berpikiran positif bahwa suara itu bukan milik makhluk gaib akhirnya Queen berjalan mengendap-endap ke ujung rak.
"Hiks hiks gu-gue... gue takut hiks."
Kening Queen mengernyit, matanya mengerjap-ngerjap lucu. Memang ada ya hantu yang menyebut dirinya sendiri menggunakan kata 'gue'?
"Gak usah takut. Lo punya keluarga, bilang sama keluarga lo aja tentang masalah ini."
Suara cowok? Tapi tunggu, sepertinya Queen kenal suara cowok itu. Suara yang sangat familiar di telinganya. Kenan? Apa itu suara Kenan? Karena penasaran Queen pun menundukan wajahnya, dia menyipitkan matanya ketika melihat dari celah-celah rak ada sepasang remaja yang sedang berpelukan.
"Kenan hiks keluarga gue sibuk, Ken! Mereka gak punya banyak waktu hiks."
__ADS_1
Deg!
Itu jelas Kenan, meskipun posisi si cowok membelakanginya tapi Queen tahu bahwa cowok itu adalah Kenan. Tapi kenapa Kenan di sini bersama Givani? Memangnya Kenan tidak belajar.
"Gue hiks butuh pelindung Ken, gue... hiks gue takut Ken."
Kening Queen semakin mengernyit dalam, dia tidak mengerti dengan maksud pembicaraan antara Kenan dan Givani. Tapi entah kenapa matanya memanas ketika melihat tangan Kenan mengelus air mata Givani.
"Gue yang bakal lindungin lo."
Dan detik itu juga, tepat di depan matanya Queen bisa melihat bahwa Kenan dan Givani kembali berpelukan.
Kepala Queen menggeleng dengan air mata yang mulai menetes dari matanya. Tanpa bicara apa pun gadis itu pergi berlari bersama perasaannya yang hancur dan pikiran-pikirannya tentang Kenan dan Givani yang terbamg kemana-mana.
Flashback of.
"Maksudnya apa sih, huh? Hiks hiks! Gak ngabarin, ngejauhin, cuek terus berlaga kayak yang gue ini bukan siapa-siapanya lagi. Sebenernya lo tuh kenapa sih Kenan!?"pekik Queen sambil memukuli boneka bebek pemberian Kenan ketika mereka sempat jalan-jalan ke Mall beberapa bulan yang lalu.
Jika Queen ada salah harusnya Kenan bilang kepada Queen dan mereka menyelesaikan masalah itu. Bukannya malah menghilang seperti ini.
"Jahat!! Kenan jahat!! Hiks hiks!!"teriak Queen sambil terisak.
Queen membantingkan tubuhnya ke kasur, gadis itu menutupi wajahnya yang berantakan karena air mata.
Tok, tok, tok!
Itu suara Rere yang memanggilnya dari luar. Suara Rere terdengar penasaran. Wajar lah Rere penasaran, telinganya mendengar teriakan Queen dari dalam kamar gadis itu. Mana David tidak ada, pria itu sedang pergi urusan bisnis ke Dubai sejak malam dimana Rere dan David berdiskusi soal Queen.
Jadilah David mengulur waktunya yang ingin berbicara dengan Queen dari hati-kehati.
"Queen kenapa lo malah tambah nangis sih? Queen jawab gue! QUEEN LO KENAPA? JANGAN BIKIN GUE KHAWATIR."
Queen masih menangis. Perasaannya sedang tidak menentu dan saat ini dia tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Queen ingin sendiri, gadis itu hanya ingin menenangkan dirinya sendiri.
"QUEEN, GUE MOHON JAWAB GUE!"
"TEH, AKU LAGI PENGEN SENDIRI HIKS! AKU LAGI PENGEN GAK MAU DI GANGGU SIAPA-SIAPA PLEASE!"
...||||...
Suasana Club yang malam ini ramai entah kenapa membuat jiwa liar di dalam diri Kenan semakin menguasai cowok yang saat ini tengah meminum gelas berisi tequilla nya dengan santai. Ini sudah gelas yang keempat dan tidak ada tanda-tanda bahwa cowok itu akan berhenti.
Teman-temannya hanya bisa geleng-geleng kepala dan memilih untuk menghiraukan Kenan, sementara Givani... gadis itu malah sibuk memperhatikan Kenan dan membuat Tegar risih di buatnya karena entah kenapa merasa tidak suka dengan gadis yang akhir-akhir ini selalu menempel pada Kenan.
"Lo gak mau berhenti Ken?"tanya Givani lembut.
Kenan menatap sayu Givani lalu tak lama cowok itu kembali meminum gelasnya yang ke lima. Pikirannya sedang kalut dan pelariannya adalah minuman alkohol.
Queen.
__ADS_1
Nama itu yang terus terngiang di pikiran Kenan akhir-akhir ini. Rindu? Pasti, tapi entah kenapa egonya terlalu tinggi untuk menghampiri Queen dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
Kenan tersenyum sambil meneguk gelas keeman ketika kembali mengingat kenangan manis bersama Queen, tapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi dingin ketika mengingat Queen yang bahunya dari rangkul oleh seorang laki-laki yang lebih dewasa dari Kenan. Dan bayangan ketika Queen jalan di koridor bersama Liam benar-benar membuat Kenan mendiami gadis itu sampai seminggu lamanya.
"Mas, huh?"racau Kenan mengejek ketika mengingat gadisnya memanggil laki-laki itu 'Mas'.
Kening Givani mengernyit, samar-samar telinganya mendengar racauan Kenan. Sepertinya cowok ini mulai mabuk.
"Ken udah ya! Lo udah mau teler gini,"cegah Givani ketika melihat Kenan akan minum lagi.
"Mati lo ***** kalau terus minum!"cibir Verrel kesal.
Kenan hanya terkekeh pelan lalu menarik bibirnya ke bawah. Rupanya cowok ini mulai mabuk.
"Pulang aja yu Ken, gue anter."
Kenan memegang tangan Givani yang ingin membawanya pulang, di tatapnya mata Givani dengan pandangan teduh dan senyum yang menghiasi bibir Givani.
"Joget sama gue yu."
Baru saja Givani ingin menjawab dengan cepat Kenan menarik tangan Givani menuju dance floor yang di penuhi lautan manusia. Kenan menari dengan melingkarkan tangannya di pinggang Givani.
Awalnya Givani canggung tapi tak lama gadis itu juga ikut meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama dan tangannya melingkari leher Kenan. Mereka saling berbagi senyuman tanpa tahu bahwa ada seseorang yang berada di salah satu sofa yang letaknya tak jauh dari mereka tengah memotret foto mereka diam-diam.
"Gue cinta sama lo Ken,"ucap Givani sambil mencium pipi Kenan.
Kenan tertawa sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Givani.
"Gue cinta Queen!"
"Dia gak cinta sama lo."
Kenan lagi-lagi tertawa.
"Dia cinta sama gue, anjing! Jangan sotoy lo."
Givani merenggut dalam hati tapi tak lama kembali tersenyum. Bukan senyuman manis yang sedari tadi ia tunjukkan, melainkan senyuman smirk yang di tunjukkan untuk Kenan.
"Kalau gue sayang dan cinta lo, gimana?"
Wajah Givani mulai mendekat dan Kenan juga mendekatkan wajahnya. Sebelum bibir mereka saling bertemu, Kenan menjawab dengan santainya.
"Ya sayang dan cinta gue tetep buat Queen!"
...||||...
**Kenan cari masalah mulu perasaan:))
Jangan lupa di like juga komen cerita ini ya**!
__ADS_1