QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
51. Mengadu pada Kenan


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Queen selalu menghindar dari David, bahkan gadis itu tidak ikut makan bersama di ruang makan ketika pagi dan malam. Jelas perubahan sikap Queen membuat David serta Rere bingung sendiri. Berkali-kali Rere mencoba untuk mengobrol dengan Queen, tapi gadis itu malah mengunci pintu kamarnya hingga Rere tidak bisa masuk menemuinya.


Ini malam minggu dan rencanya Queen akan pergi ke Apartmen Kenan, dia sudah berbicara dengan Kenan perihal dia yang ingin bercerita hal penting menyangkut Papanya. Jelas Kenan langsung menyuruh Queen untuk datang ke Apartmennya.


"Mas tidak tahu Tiara, entah kenapa akhir-akhir ini Queen seperti menghindari Mas."


Langkah Queen berhenti di depan pintu lift yang baru saja terbuka di lantai satu rumahnya. Mata gadis itu menatap punggung tegap David yang sedang membelakanginya dan posisi Papanya yang sepertinya sedang telponan dengan sekertarisnya itu.


"Mas tidak merasa mempunyai salah pada anak Mas."


Queen memutar bola matanya malas ketika mendengar apa yang David ucapkan pada lawan bicaranya di telpon sana. Tidak mempunyai salah padanya? Lalu apa mengingkari ucapan yang bisa di sebut dengan sebuah janji pada Queen waktu itu bukanlah sebuah kesalahan?


David berbicara bahwa dia tidak akan menikah lagi bahkan menyikai Tiara. Lalu sekarang?


Queen mendengus lalu berjalan keluar rumah tanpa di sadari oleh David yang masih asik berbicara dengan Tiara. Gadis itu masuk ke dalam mobil yang akan di supiri oleh Mang Sapri. Memang, Mang Sapri di utus David untuk menjadi supir Queen kemana-mana.


"Ke Apartmen yang tadi saya sebutkan alamatnya ya Mang,"titah Queen sambil menyandarkan punggungnya pada kursi belakang.


Matanya berkaca-kaca ketika mengingat kenangan-kenangan manis bersama Mama dan Papanya dulu. Bagaimana tawa selalu hadir ketika mereka berkumpul bersama.


Apa salah jika Queen tidak menginginkan David untuk mencari pengganti Mamanya yang telah tiada?


Tak terasa mobil yang di tumpangi oleh Queen sudah berada di depan gedung Apartmen milik Kenan.


"Mang tunggu ya Non,"tawar Mang Sapri yang melihat wajah Queen dari kaca mobil.


"Gak perlu Mang, Queen kemungkinan bakal lama di sininya. Makasih ya Mang udah anter Queen."


Setelah mengucapkan terimakasih pada Mang Sapri, gadis itu membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke dalam Apartmen. Rasa rindu kepada Kenan serta rasa kecewa pada Papanya terasa menyati di lerung hati Queen.


Pintu lift terbuka ketika sudah sampai di lantai yang Queen tuju, tanpa menunggu lama Queen kembali berjalan ke unit Kenan. Tapi langkahnya berhenti saat dia tidak sengaja menubruk dada seseorang di depannya.


Kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang dia tabrak, tapi sedetik kemudian matanya membulat.


"Mas Abi!"


"Queen?"


Queen mencoba tersenyum, gadis itu menatap Abi dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Mas Abi tinggal di Apartmen ini juga?"tanya Queen memecah keheningan.


Abi terkesiap dia menggeram dalam hati karena sempat-sempatnya mengagumi wajah manis anak dari Bosnya itu.


"Saya habis berkunjung ke unit ponakan saya,"jawab Abi di akhiri senyuman kecilnya.


Queen mengangguk pelan. Dia kira Abi tinggal di gedung Apartmen yang sama dengan kekasihnya.


"Kamu sendiri?"tanya Abi, kedua halisnya terangkat.


Queen gelapagan, gadis itu tersenyum cangguh. Dia tidak boleh memberitahu Abi bahwa dia kesini karena ingin menemui kekasihnya, bisa bahaya soalnya. Bagaimana jika nanti Abi melaporkan pada David jika Queen menemui kekasihnya di Apartmen?


"A-aku itu Mas... aku mau main ke unit temen. Kita udah lama gak ketemu,"jawab Queen berbohong.


"Oh, yasudah kalau begitu. Hati-hati ya Queen,"ujar Abi lalu tersenyum dan meninggalkan Queen sendiri.


Queen menghembuskan nafas leganya lalu dia kembali berjalan untuk ke unit Apartmen milik Kenan yang tinggal sebentar lagi sampai.


Ketika sudah berada di depan pintu Apartmen, Queen langsung mengetuk pintu tersebut dan tak sampai tiga menit pintu sudah terbuka dan menunjukan wajah tampan Kenan yang segar karena baru saja mandi.


"Akhirnya nyampe juga, aku kira kamu di culik karena lama banget nyampe sini."


Queen terkekeh lalu masuk ke Apartmen Kenan, dia membuka sepatunya saat Kenan sedang menutup pintu Apartmen.


Kedua remaja itu duduk di sofa dengan jarak yang dekat. Kenan mengecup pipi Queen lalu berjalan ke arah dapur dan tak lama datang kembali dengan nampan berisi dua jus jeruk dan kantong keresek putih berisi cemilan untuk Queen.


"Banyak banget,"gumam Queen setelah melihat-lihat cemilan yang di suguhkan oleh Kenan.


Kenan meringis pelan, dia sengaja membeli banyak cemilan agar Queen senang.


"Kamu kan mau curhat, jadi butuh tenaga."


"Apa deh? Tapi makasih ya!"


Kenan mengangguk dan senyumnya terbit saat Queen dengan lahap memakan satu-satu cemilan yang di berikan oleh Kena.


"Ah kenyang!"erang Queen sambil menepuk-nepuk perutnya yang terasa bengkak akibat terus di isi oleh cemilan-cemilan Kenan.


"Mau cerita sekarang?"tanya Kenan.

__ADS_1


Bibir Queen mengerucut tak lama gadis itu mengangguk sambil beranjak dari duduknya.


"Kemana?"tanya Kenan ketika melihat Queen berdiri.


"Kamar kamu lah, Ken! Sambil aku cerita sambil tiduran juga. Mata aku berat banget Ken."


Akhirnya mereka berdua tiduran di atas kasur milik Kenan. Sebisa mungkin Kenan menjadi pendengar baik Queen yang sedang bercerita dari mulai candaan Bagas yang di anggap serius oleh gadisnya lalu soal pembicaraan Queen dan David di kamar Queen dan percakapan David dengan Tiara.


Air matanya tak bisa berhenti keluar ketika menceritakan itu semua pada Kenan yang sudah memeluknya dengan erat. Tangan Kenan mengelus-ngelus punggung Queen, dia bermaksud untuk menenangkan gadisnya saja.


"Ken... a-aku hiks gak mau Papa nikah lagi, gak mau hiks hiks punya Mama baru! Gak mau Papa... gak mau Papa hiks ca-cari pengganti Mama, aku gak mau."


Egoiskah Queen jika tidak mau Papanya menikah lagi? Egoiskah Queen kalau dia tidak mau mempunyai Mama baru? Dan apa salah jika Queen tidak mau posisi Mamanya yang sudah tenang di alam sana tergantikan?


"Udah bilang sama Papa kamu soal kamu yang denger pembicaraan Papa kamu sama sekertarisnya?"tanya Kenan dengan kepala menunduk agar bisa lebih leluasa menatap wajah Queen.


Queen berdecak sambil masih menangis. Gadis itu menggeleng.


"Percuma Kenan... percuma aku bilang sama Papa kalau aku denger obrolan mereka di kantor. Pas-pastinya hiks pastinya Papa gak bakal mau ngabulin permintaan aku yang gak mau punya Mama baru!"


Kenan menghela nafasnya, cowok itu tidak bisa memberi masukan atau kata-kata mutiara untuk Queen. Dia tidak mau jika memberikan masukan lalu masukan itu akan menyinggung perasaan Queen yang sedang sensitif. Cukup memeluk Queen disaat gadis itu menangis dan mendengarkan curhatan Queen dengan baik.


"Teh Rere tau gak kalau kamu gak mau punya Mama baru?"tanya Kenan sambil mengusap air mata yang berada di kedua pipi Queen.


Queen menggeleng pelan. Dia memang selalu menutup semua akses jika Rere atau David ingin berbicara kepadanya.


"Kenapa gak cerita aja sama Teh Rere? Siapa tau dia bisa bantu kamu buat ngomong sama Om David kalau kamu gak setuju misalnya sekertaris Om David bakal jadi Mama kamu,"ucap Kenan pelan.


Queen mengedikan bahunya, tangisnya sudah reda. Entah kenapa dia tidak mau berbicara pada orang-orang rumah.


"Aku ngantuk Ken,"gumam Queen dengan mata sayunya yang menatap Kenan.


Kenan tersenyum, dia mengusap dahi Queen yang berkeringat dan juga menyugar rambut Queen kebelakang.


"Tidur aja ya, aku juga mau tidur."


Queen mengangguk, tangan gadis itu berada di depan dada Kenan. Dia hanya menahan jarak tubuhnya dengan jarak tubuh Kenan agar tidak terlalu dekat. Perasaan nyaman dan menghangatkan hati terasa saat tangan Kenan melingkari pinggangnya.


...||||...

__ADS_1


Queen dan Kenan comeback, lama banget perasaan aku gak nulis part **mereka wkwk.


Jangan lupa di vote dan komen yaaa✨**


__ADS_2