
"ahhhkk"
Queen dan Gerrell berteriak serentak, bahkan mereka berdua saling peluk satu sama lain saat melihat seseorang tengah menatap tajam mereka.
"tuan Darren!! aku kira tadi salah satu mayat itu berdiri lagi" pekik Gerrell sembari melerai pelukannya dengan Queen.
Queen menatap mata Darren yang tampak begitu dingin dan datar. Dia tidak tahu apa yang sedang Darren pikirkan sekarang. Gadis itu melirik mayat yang berserakan diatas tanah "apa tadi dia melihat apa yang aku dan Gerrell perbuat?"
Darren berjalan mendekati kakak beradik itu.
"tu-tuan"
Darren tidak menyahut, ia memilih untuk mengulurkan tangannya dan meraih tangan Queen.
Queen hanya bisa pasrah saat Darren menarik tangannya menuju mobil, begitupun dengan Gerrell yang berjalan mengikuti.
"kak" panggil Gerrell.
Queen menolehkan kepalanya kebelakang "kau pulang dan bawalah mobil kakak!"
Gerrell mengangguk dan segera memasuki mobil tersebut. Dan sebelum pergi Gerrell menghubungi anak buah dad Arsen yang ada di Paris untuk membereskan mayat dan membawa pemimpin dari sekelompok penjahat itu kemarkas mereka yang ada di negara ini.
Darren membawa Queen memasuki mobilnya yang terparkir cukup jauh dari lokasi tempat tadi. Pantas saja Queen tidak menyadari kehadiran Darren tadi.
"lepas bajumu!"
Mata Queen terbelalak dan secara sepontan menyilangkan tangannya didepan dada.
tuuing
Darren menonyor kepala Queen saat mengetahui jika gadis ini salah paham akan apa yang baru saja dia ucapkan. Pria itu menarik tangan Queen yang masing menyilang.
"ya! apa yang kau lakukan?!" pekik Queen saat Darren membuka jaketnya. Gadis itu baru diam saat melihat Darren memperhatikan luka yang ada dilengannya.
Darren tampak meringis saat melihat luka tersebut, tidak terlalu dalam tapi cukup panjang.
Lalu Darren meraih kotak obat yang selalu ada didalam mobil, dia mulai meraih kapas dan alkohol untuk membersihkan luka tersebut.
"ssshhh" Queen tampak meringis saat merasakan perih saat cairan alkohol meresap kekulitnya yang luka.
Darren tidak bergeming, dia terus membersihkan luka tersebut meski Queen tampak kesakitan.
"bisa pelan tidak?" gerutu Queen agak sewot, dia benar-benar kesakitan.
Darren memelankan usapannya, ia juga meniup luka tersebut agar Queen merasa tidak terlalu perih. Dan sepertinya perbuatan Darren barusana sedikit mengurangi rasa sakit tersebut karena Queen sudah tak lagi menggerutu meski tampak wajahnya menyernyit menahan nyeri.
__ADS_1
Darren meraih obat merah dan meneteskan keluka Queen, lalu Darren menutupnya dengan menggunakan perban.
Queen selalu menatap wajah Darren selama dia mengobatinya. Meski Queen tahu sifat Darren yang dingin tapi entah kenapa sekarang sikap Darren sedikit berbeda kepadanya. Sudah bisa ditebak jika Darren melihat apa yang Queen dan Gerrell lakukan saat melihat perubahan wajah Darren.
"apa yang dia pikirkan tentangku?" batin Queen, ia juga diam saja tanpa mau menjelaskan apa yang tadi terjadi karena Darren sama sekali tidak bertanya.
Sesampainya dipenthouse, Darren mengantar Queen kedalam penthose dan setelah itu Darren sama sekali tidak mengatakan apapun lalu pergi begitu saja.
*
*
Queen mende-sah lelah setelah membersihkan tubuhnya. Memikirkan sikap Darren membuat Queen pusing.
Gadis itu keluar kamar, dia berjalan gontai kearah dapur untuk mengambil minuman.
"kak" seru seorang pemuda memanggil Queen, dia adalah Gerrell.
Queen yang sedang mengambil softdrink menoleh kearah sumber suara "hmm"
"aku mau bicara"
"apa yang mau kau bicarakan?" tanya Queen. Ia menutup kulkas setelah mengambil minuman dan camilan.
"ayo keruang tengah"
Gerrell mengangguk , dia meraih camilan ditangan Queen saat melihat kakaknya itu kesusahan. Lalu mereka berdua berjalan kearah ruang tengah bersama.
"kau disini ?" tanya Queen saat melihat Gerald yang sudah duduk santai disofa tunggal.
"hmm"
Queen memutar bola matanya malas saat mendengar suara Gerald yang datar. Gadis itu duduk lalu diikuti dengan Gerrell yang segera duduk disisi Queen.
Queen menoleh kearah Gerrell "dia sudah tahu kak" ujar Gerrell saat melihat kakaknya itu seolah bertanya bagaimana bisa Gerald ada disana.
Queen mengangguk, pantas saja Gerald ada disini. Padahal dia selama di Paris hanya digunakan untuk tidur dan berolah raga diruang fitnes yang tersedia disana, ruang fitnes milik dad Arsen.
Gerald hanya menatap datar kedua saudaranya itu "kalian bersenang-senang tanpa mengajakku! menjengkelkan sekali"
Gerrell tergelak "aku juga tidak tahu, kalau kau mau menyalahkan, salahkan kak Queen! dia sudah tahu sejak awal tapi tetap diam"
Gerald berdecih dan mengabaikan penjelasan saudara kembarnya itu.
"dasar muka datar!" umpat Gerrell yang merasa kesal melihat raut wajah Gerald "kalau bukan saudaraku sudah kuacak-acak wajah menyebalkannya itu!"
__ADS_1
Gerald melotot kearah Gerrell setelah mendengar adiknya itu menggerutu.
"ampuun ampuun Rald!" pekik Gerrell dia bersembunyi dibelakang punggung Queen.
"ck.. minggir kau! apa yang mau kau bicarakan tadi?" tanya Queen sembari mendorong lengan Gerrell. Gadis itu membuka kaleng minumannya dan segera menenggaknya.
"semua mayat yang ada ditempat tadi sudah menghilang, termasuk ketua mereka"
uhuk uhuk
Gadis itu tersedak saat mendengar penuturan Gerrell.
buk buk
Gerrell segera memukul pelan tengkuk Queen "ya ampun, kau seperti bocah! minum saja sampai tersedak begini"
"cih.. itu karena kau membuatku terkejut bodoh!" ujar Queen sembari menonyor kepala Gerrell.
Gerrell meringiskan giginya.
"cepat jelaskan semua!"
"saat anak buah kita sampai di tempat kejadian tadi, sudah tidak ada apapun kak! bersih! seperti tidak terjadi apapun"
Queen menatap wajah Gerrell dengan terkejut, bukankah tempat itu jauh dari keramaian. Dan lagi disana hanya ada gedung yang sudah lama tidak dihuni. Gedung yang terbengkalai. Apa mungkin ini ulah Jane untuk menghilangkan bukti agar ulahnya tidak ketahuan?
Queen mengurut pelipisnya, perubahan sikap Darren saja membuatnya pusing, ini ditambah ada kejadian tak terduga seperti ini.
"kak apa yang harus kita lakukan? kita belum menangkap dalang dibalik ini semua"
Queen menoleh kearah Gerrell "kita selidiki ini dulu"
"tapi disini bukan kawasan kita , mungkin akan sulit" ujar Gerald, Dia yang sedari tadi diam memberi masukan.
Queen mengangguk "memang disini kekuatan kita terbatas, akan sulit untuk mencari informasi" Gadis itu kembali mendes-ah "kita cari informasi siapa yang memegang kendali dunia bawah negara ini, bukankah jika kita membangun kerja sama dengan mereka kita akan untung?"
Gerrell dan Gerald mengangguk. Jika mereka bekerja sama dengan kelompok mafia yang ada di negara Paris ini. Sudah pasti Tiger White akan semakin kuat saat mendapat dukungan dan bekingan dari kelompok mafia yang ada dinegara ini.
Mereka akan mudah untuk melebarkan sayap entah itu bisnis atau kekuatan.
"sebelum itu kita bicarakan ini dengan dad, uncle Bastian dan uncle Tama. Kita memerlukan masukan mereka" ucap Queen lagi.
Gerald dan Gerrell mengangguk, pria itu saling tatap sejenak. Sudah dipastikan jika kakak mereka bukan hanya mencari tahu siapa dalang dibalik penyerangan ini. Tapi dia curiga akan andilnya kelompok kuat yang membantunya membersihkan mayat yang dia tinggalkan tadi.
"menarik sekali" batin Queen sembari menyeringai. Gadis itu benar-benar yakin jika ada andil dari salah satu kelompok kuat yang ada dinegara ini. Queen benar-benar tertarik sekaligus penasaran.
__ADS_1