
Darren mengecupi luka yang baru saja dia obati. Sungguh Darren merasa marah karena gadisnya terluka seperti itu.
"apa yang kau lakukan?! tolong berhentilah" keluh Queen sembari menggeser tubuhnya me by jauhi Darren.
Darren duduk dengan tegap dan menarik Queen agar kembali dekat dengannya "aku melakukan hal itu agar luka itu cepat sembuh" ucapnya dengan suara yang terdengar manis.
Queen memutar bola matanya jengah "yang membuat sembuh itu obat bukan kecupan seperti itu"
Darren mencubit pelan bibir Queen yang terus memberengut "aku sedang merayu dirimu, kamu sungguh menyebalkan sekali"
"karena kamu tidak realistis"
Darren menghela nafasnya panjang, dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Dia bingung akan karakter Queen, sebentar manis sebentar lagi menyebalkan. Tapi herannya Darren tidak mempermasalahkannya malah dia semakin menyukai Queen.
tok tok tok
"kakak.... buka pintunya" pekik seseorang dari balik pintu kamar membuat kedua orang yang sedang duduk itu menoleh serempak.
"itu Gerrell" ucap Queen saat mengenali suara orang yang ada dibalik pintu kamarnya.
Saat Queen hendak beranjak Darren menahan lengan nya "biar aku saja yang membuka pintu nya" ucapnya lalu dia berdiri dan segera berjalan kearah pintu.
ceklek
Setelah dibuka kunci kamar tersebut, Darren segera membukanya.
"kenapa pintunya dikun--" ucapan Gerrell menggantung saat melihat siapa yang membukakan pintu untuknya. "kau! sedang apa kau disini?" tanya Gerrell dengan pandangan menyelidik dan rasa curiga.
"apa yang sedang kalian lakukan?" Pemuda itu melongokkan kepalanya dan dapat melihat Queen yang tengah duduk di sofa.
Gerrell bernafas lega karena tadi dia sempat salah paham saat melihat Darren berada didalam kakaknya apalagi pintu kamar dikunci.
"kau berfikiran apa bocah tengik?!" ucap Darren dengan suara datar sembari mendorong kepala Gerrell menjauhi pintu.
Gerrell meringiskan giginya "apa? aku tidak berfikir apapun" ucapnya dengan wajah sok polos.
"apa kau fikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang kami tadi"
"kemari lah Rel" panggil Queen saat mendengar perdebatan antara adik dan kekasihnya.
Gerrell yang tengah menggaruk rambutnya segera masuk kedalam kamar guna menghindari tatapan tajam dari Darren.
Darren mendengus dan mengikuti Gerrell masuk kedalam kamar.
Gerrell duduk memepet kepada kakaknya "kak"
"hmm"
Gerrell mendekati telinga Queen.
"hey bocah tengik! sedang apa kau!" Darren menarik rambut Gerrell agar menjauhi Queen.
__ADS_1
"aw aw aw.. sakit tuan! kak tolong aku"
plak
Queen memukul tangan Darren agar melepaskan rambut adiknya saat melihat Gerrell meringis kesakitan.
Dengan menahan kesal Darren melepaskan cekalan tangannya "jaga sikapmu atau sesuatu yang telah aku katakan sebelumnya batal" ucapnya memperingatkan dan mengancam Gerrell.
Gerrell kemudian bergeser dan menjaga jarak dari Queen "tuan Darren yang tampan.. jangan marah oke? aku akan menjauhi kekasihmu itu"
"apa yang telah kalian sepakati sebelumnya?" tanya Queen menyelidik.
Darren duduk disisi Queen yang lain lalu menariknya agar menempel dengan tubuhnya "tidak ada" jawabnya cuek.
"Rel"
Gerrell hanya angkat bahu dan tidak mau memberitahu Queen "intinya hal itu membuatku untung" ucapnya sok rahasia. Dia terkekeh saat melihat kakaknya memutar bola matanya malas. "ini urusan lelaki jadi kakak tidak perlu tahu"
"ada apa kau kemari?" Queen malas membahas hal yang sudah jelas sekali Gerrell tidak akan memberitahunya.
"aku telah mendapatkan apa yang kakak mau" ucapnya sembari mengangkat dagunya.
Queen terbelalak "benarkah?"
Gerrell mengangguk "ya, meski tidak banyak yang aku dapatkan tapi lumayan lah"
Queen memberi isyarat agar tidak berbicara lebih jauh mengingat di sana ada Darren, dan Gerrell yang paham mengangguk mengerti.
"jangan lupa janjimu kak" Gerrell segera menagih janji Queen. Pemuda itu tersenyum lebar sekali.
"kakak belum melihat hasilnya dan aku curiga bagaimana caranya kau mendapatkan apa yang aku inginkan"
Gerrell tampak acuh tak acuh "itu semua tidak penting, yang penting hasilnya bukan?"
"cih.. sudah jelas sekali kau berbuat curang"
Gerrell berdiri dari duduknya "bagaimana pun cara yang aku gunakan itu tidak penting, yang terpenting adalah hasil nya kan?" berjalan santai menuju pintu tapi sebelum keluar kamar Gerrell menoleh kebelakang dulu "jangan berduaan dikamar kak, nanti yang ketiga setan loh!"
"kau setan nya!!" pekik Queen.
Gerrell membalik badannya "kalau kalian berada dikamar tolong jangan di tutup pintunya! apalagi dikunci, hal itu bisa membuat siapa saja salah paham termasuk--" ucap Gerrell dengan misterius sembari melirik kamera pengawas yang terpasang didepan seluruh pintu kamar.
Queen menelan saliva nya dengan susah payah, dia tahu sekali apa yang baru saja Gerrell ucapkan.
"jangan sampai seseorang yang jauh disana tiba-tiba saja sudah sampai disini" ucap Gerrell lagi lalu dia pergi begitu saja setelah memperingatkan kakaknya.
"siapa?"
Queen menoleh kearah Darren saat pria itu berseru "bukan siapa-siapa, lebih baik kita keluar saja yuk, aku ingin makan diluar"
Darren mengangguk dan tersenyum, dia juga mengusap kepala Queen dengan lembut.
__ADS_1
Queen membalas senyuman itu dan mereka berdua keluar dari kamar.
*
*
*
"kalian mau kemana?"
Queen menoleh ke sumber suara, dimana ada seorang pemuda tampan yang tengah duduk di sofa berseru, dia ialah Gerald "makan siang diluar"
"aku ikut"
"tidak boleh!" bukan Queen yang menjawab melainkan Darren. Dia menatap tajam adik Queen yang ternyata dibalas dengan berani oleh Gerald.
"kenapa?" tanya Gerald dengan pandangan tidak suka "aku juga belum makan"
"Rald jangan membuat masalah"
Gerald menatap Queen dengan pandangan datar "kakak membelanya?!"
"ck... bukan begitu, kakak pusing kalau harus mendengar kalian bertengkar, jadi duduk manis disini saja nanti akan kakak bawakan makan siang" putus Queen.
"terserah" jawab Gerald dengan singkat padat dan jelas. Meski terdengar tegas tapi Queen dapat melihat jika adiknya sesungguhnya tidak rela jika dia pergi dengan Darren.
Darren menatap mata Gerald dengan pandangan penuh kemenangan saat tangannya ditarik keluar oleh Queen.
"ck... calon kakak ipar yang jelek!" gerutu Gerald saat melihat Darren dan Queen sudah tidak terlihat.
*
*
"kenapa kau tersenyum seperti itu?" ucap Queen saat melihat Darren terus tersenyum sepanjang jalan.
Darren melirik Queen "apa tidak boleh!"
"bukan tidak boleh, tapi kau menakuti ku tuan. Lebih baik wajahmu itu datar tanpa ekspresi"
"biarkan saja, aku sedang senang sekarang"
Queen terdiam, dia memilih untuk menikmati indahnya kota Paris siang ini. Cuaca yang panas dan cerah membuat banyak sekali orang keluar untuk sekedar menikmati ice cream atau berjalalan-jalan saja.
Mobil terparkir di parkiran salah satu restoran mewah disana, Darren dengan gantle membukakan pintu mobil untuk Queen.
"terimakasih" ucap Queen sembari tersenyum.
Darren mengangguk dan langsung meriah jemari Queen, menggandengnya masuk kedalam restoran.
bruuk
__ADS_1
Tanpa sengaja Queen bertabrakan bahu dengan seseorang "kau!" pekik Queen terkejut.