
"bisakan nona menurunkan sedikit aura yang anda keluarkan?"
Queen terkesiap saat ditegur oleh seseorang. Seseorang yang sedari tadi ia cari-cari.
Setelah ia menemukan keberadaan uncle Arlendra yang ternyata tengah duduk serius mengerjakan sesuatu dileptopnya. Dilantai teratas mansion yang dijadikan sebagai markas. Disebuah rooftop.
Queen tidak mau mengganggu sehingga ia memilih untuk duduk diam. Queen tahu jika pria paruh baya ini tengah mengerjakan sesuatu yang penting.
Tapi siapa sangka jika tatapan matanya yang dingin dan tajam itu justru membuat Arlendra tidak nyaman.
Bagaimana Arlendra merasa nyaman jika tatapan mata Queen yang dingin itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat ia hormati yaitu tuan Arsen, Daddy dari Queen.
Meski ia tak melihat tapi entah kenapa ia merasa tertekan sekali.
Queen meringis saat uncle Arlendra mendongak dan menatap dirinya "maaf uncle"
"maaf saya mengabaikan nona, saya sedang mengerjakan pekerjaan yang sangat penting"
"aku tahu, makanya aku diam saja sedari tadi" ucap Queen. Gadis itu merapikan rambutnya yang terbawa angin. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangnya kedepan.
Mereka berdua tengah duduk di kursi yang ada dirooftop. Arlendra memang sering sekali duduk disana karena ia merasa nyaman dan disini juga sepi sehingga ia bisa berkonsentrasi penuh akan apa yang sedang ia kerjakan.
"bukankah nona bilang jika kemari nanti sore? apa sesuatu yang mau anda bicarakan dengan saya begitu penting sehingga anda tidak bisa menunggu nanti?"
Queen menggeleng "sebenarnya aku kemari sekarang karena tidak mood bekerja. Ada seseorang yang membuatku kesal hari ini" gerutu Queen. Gadis itu melipat tangannya didepan dada menggambarkan bagaimana kesalnya ia saat mengingat apa yang terjadi dikantor barusan.
"siapa dia? apa perlu saya bereskan agar nona nyaman dikantor?"
Queen menggeleng "tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."
Uncle Arlendra mengangguk mengerti "baiklah kalau begitu. lalu apa yang nona inginkan? sebenarnya saya bisa saja datang menemui nona, agar nona tidak perlu repot datang mencari saya seperti ini"
Queen tersenyum dan menggeleng"aku memang ingin kemari. Sudah lama aku tidak kemari kan?"
Arlendra mengangguk, memang ia sudah cukup lama tidak melihat batang hidung gadis cantik yang tengah duduk tak jauh darinya ini.
__ADS_1
"Uncle.. sebenarnya aku ingin meminta bantuan uncle, tapi ini rahasia"
"rahasia?"
Queen mengangguk "rahasia kita berdua" ucapnya sedikit berbisik.
Wajah Arlendra berubah menjadi tegang, dia menatap wajah Queen dengan pandangan yang benar-benar serius "kalau begitu apa yang harus saya lakukan? saya akan menuruti semua keinginan nona" ucapnya dengan serius.
Queen mendekati Arlendra, tapi sebelum itu Queen melirik kekanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang lain disana. "sebenarnya aku mau semua informasi dan gerak gerik tuan Darren" ucapnya berbisik.
"tuan Darren?" ucap Arlendra sembari mengingat-ingat siapa pria yang baru saja nona mudanya ucapkan. Apa musuh mereka? tapi sepertinya bukan.
"aish.. sepertinya uncle benar-benar sudah tua ya? sampai pikun seperti ini"
Arlendra menoleh kearah Queen sembari menggaruk rambutnya yang tidak gatal "banyak sekali orang yang saya temui akhir-akhir ini jadi uncle sedikit lupa" ucapnya beralasan. Sebenarnya ia memang terlalu malas mengingat siapapun.
Ah tunggu..
Tiba-tiba saja ingatan akan nama yang nona Queen ucapkan terlintas diotaknya, dia menatap Queen dengan pandangan yang sulit dimengerti.
"Darren Austin Keith?" tanya uncle Arlendra memastikan. Dan detik berikutnya Queen mengangguk pelan. Agaknya ia malu.
"nona sangat menyukainya ya? sampai nona melakukan hal ini, nona sangat posesif padanya. Apa nona takut jika tuan Darren digoda oleh wanita lain dinegaranya?" tanya Arlendra sedikit menggoda Queen.
Queen terkesiap dan menggeleng dengan cepat "tidak!" pekiknya, tapi dari ekspresi dan wajahnya yang sedikit memerah bisa menjawab semuanya.
"benarkah~~?"
Queen mendengus dan melipat tangannya didepan dada "jangan menggodaku uncle! aku marah nih!"
"hahahah.. baiklah baiklah, saya tidak akan mengatakan lagi jika nona sudah bucin akut pada pria bule itu"
"uncleeeee...!!" pekik Queen dengan merengek.
Arlendra semakin tertawa melihat tingkah Queen yang menggoyangkan tubuhnya saat merasa kesal. Sama seperti Queen kecil dulu.
__ADS_1
Tapi saat ini gadis yang tengah merengek ini sudah beranjak dewasa, bahkan ia sudah memiliki pasangan "aku jadi merasa sangat tua sekarang" batinnya merenungi usianya yang semakin tua. Menangis dalam hati.
Setelah itu mereka berdiskusi, membahas akan apa yang dilakukan oleh Darren dinegara Paris.
"Sepertinya dia disana untuk membereskan masalah internal Black Hold nona" ucap Arlendra saat mendapatkan satu informasi.
"aku sudah menduganya" ucap Queen, dia menoleh kearah uncle Arlendra. "apa masalah internal di Black Hold sangat serius?"
Arlendra mengangguk "bukankah beberapa hari yang lalu tuan Darren hampir kehilangan nyawa? dari sana juga bisa kita simpulkan bagaimana kacaunya kelompok itu saat ini karena pergantian ketua yang tidak disetujui oleh salah satu pimpinan disana"
Queen mengusap dagunya, mencoba berfikir "apa kekuatan tuan Darren kuat?"
"sepertinya cukup kuat, karena dia didukung langsung oleh ketua terdahulu"
Queen mengangguk mengerti "meski kuat, tolong uncle utus beberapa anak buah yang bisa diandalkan untuk berjaga-jaga. Aku tidak mau menjadi janda uncle" ucapnya serius.
Arlendra terkesiap mendengar penuturan Queen, dia secara spontan menoleh dan menatap gadis itu dengan pandangan cengo.
"hahaha.. jangan menatapku seperti itu uncle!" tawa Queen meledak, ketegangan yang tadi ia rasakan perlahan memudar.
Arlendra mendengus dan kembali menatap kearah leptopnya.
Mereka kembali berbincang santai membahas black hold yang menurut keduanya tengah dalam masalah.
"pria ini memiliki aura yang sangat kuat" batin Arlendra. Dia melirik Queen yang sedang diam "sepertinya dia memang sangat cocok dengan nona Queen. Pantas saja tuan Arsen menerima tuan Darren. Pasti tuan sudah melihat potensi dari pria itu!"
Arlendra yang menyadari ada yang tidak beres dengan nonanya segera menoleh. Matanya terbelalak saat melihat belati kecil yang ada ditangan nona Queen saat ini "dari mana asal senjata itu?" batinnya berseru, dia bahkan merinding saat melihat gadis itu tersenyum, bukan tersenyum biasa melainkan seringaian kecil yang dapat membuat bulu kuduk Arlendra berdiri.
"no-nona.."
"sssttt... aku akan menangkap tikus" ucapnya dengan nada suara rendah. Queen kembali menyeringai dan kemudian.
sleb
Belati itu terbang menuju kearah belakang, bahkan gadis itu tidak sampai menoleh.
__ADS_1
"ahhhkk--" terdengar teriakan dari arah belakang membuat Arlendra penasaran.