
Queen dan Darren berjalan memasuki restoran sembari bergandengan tangan.
Dari arah dalam ada seseorang yang berjalan dengan tergesa dan tanpa sengaja menabrak bahu Queen.
Queen yang terkejut segera menahan tangan seorang wanita yang hampir saja terjengkang kebelakang "kau?!" pekiknya tiba-tiba saat mengenali siapa orang tersebut.
"lepas!" ujar wanita itu dengan ketus, menggoyangkan tangannya agar tangan Queen terlepas dari lengannya.
"jaga sikapmu Jane!!" ujar Darren memperingatkan, dia menatap tajam wanita yang ternyata adalah Jane.
Wanita itu mengenakan hoodie untuk menutupi kepalanya, meski mengenakan kacamata. Darren dan Queen dapat mengenali wanita itu.
Jane yang biasanya menatap penuh minat dan memuja pada Darren sekarang tampak ketus dan malas.
Sepertinya wanita ini tengah terkena masalah jika dilihat dari raut wajahnya yang tegang.
"sedang apa kau disini?" tanya Queen sinis. Sejujurnya Queen sudah mengetahui dalang dibalik penyerangan kemarin adalah Jane. Tapi saking dia penasaran dengan siapa orang yang membantunya kemarin sampai membuat Queen melupakan Jane. Padahal dia akan menuntut balas atas apa yang telah wanita itu lakukan padanya.
Queen tidak akan melepaskan wanita yang sudah berniat jahat padanya.
"bukan urusanmu!!" ujar Jane lalu dia mengenakan masker dan hendak berlalu.
"eitts.. mau kemana kau?" tanya Queen sembari menahan lengan Jane.
"lepas Queen" Jane menyentak tangan Queen lagi tapi kali ini dia tidak berhasil menyingkirkan tangan gadis yang tengah tersenyum penuh arti padanya sekarang. Karena Queen memegang dengan sangat kuat. Bahkan sekarang Jane meringis karena merasa sakit.
"kau berhutang sesuatu padaku" ucap Queen sedikit berbisik. Lalu gadis itu melirik kearah beberapa paparazi yang baru saja datang. Sudut bibirnya menyeringai tipis karena tahu mereka pasti sedang mencari wanita yang tengah dia cekal tangannya ini.
"kau bermimpi ya?! aku sama sekali tidak berhutang padamu" ujar Jane dengan suara pelan tapi penuh tekanan.
Queen mendekati telinga Jane "kau berhutang nyawa padaku"
deg
Wanita itu membelalakan matanya "apa maksudmu?"
"hahahaha.. kau tahu apa yang baru saja aku katakan"
__ADS_1
"aku bilang tidak memiliki hutang apapun padamu Queen, jadi lepaskan aku!" ucap Jane lagi.
Queen menatap wajah Jane yang cukup cantik itu, tapi entah kenapa Queen merasa jijik sekali "aku ingatkan nona Jane si model tidak laku" ucap Queen dengan suara mencemooh "aku adalah seorang yang pedendam. Jadi persiapkan dirimu"
Jane menatap Queen tidak mengerti, tapi yang jelas dia tahu jika gadis kecil yang kemarin akan dia bunuh ini (meski gagal ) tengah mengancam dirinya.
"waaah.. ada nona Jane disini. apa aku boleh meminta foto?" ucap Queen dengan suara keras sehingga membuat paparazi yang memang tengah mencari keberadaan Jane segera mendekati mereka.
"kau!!" ujar Jane dengan marah, dia hendak mengangkat tangannya untuk memukul Queen tapi belum sempat dia bertindak Darren segera menarik Queen dan paparazi dengan cepat mengelilinginya.
"awas kau gadis ***-***!!" pekik Jane dalam hati, lalu dia lari menghindari kerumunan paparazi yang tengah mengelilingi dirinya. Mereka bertanya akan scandal yang baru saja tersebar jika Jane menjual tubuhnya untuk mendapatkan job dalam dunia modeling.
*
*
"gadis nakal" ucap Darren saat melihat Queen tertawa melihat Jane kesulitan untuk keluar dari kerumunan para paparazi.
"aku suka sekali melihat orang yang aku benci kesulitan" ucap Queen dengan jujur. Lalu dia menoleh kearah Darren sehingga matanya bertemu pandang dengan mata tajam milik kekasihnya.
Darren mengusap kepala Queen "kamu mengerikan sayang"
Darren menggeleng "tentu saja tidak" ucapnya mantap. "aku menyukai gadis yang kuat dan gahar" Lalu dia menarik pinggang Queen masuk kedalam restoran dan memilih ketempat privat agar lebih nyaman.
Suasana restoran ini jelas sangat nyaman. Interiornya khas negara Paris, membuat ruangan tersebut tampak begitu artistik tapi tetap mewah dan elegan, serta begitu menawan.
"tuan" panggil Queen.
"panggil namaku Queen!" ujar Darren. Dia merasa risih dipanggil Tuan oleh kekasihnya sendiri.
"rasanya tidak sopan sekali aku memanggilmu nama. Bukankah kita tidak seumuran?" ucap Queen dengan suara santai. Gadis yang tengah duduk disisi Darren itu menyilangkan kakinya.
Darren menatap tidak suka Queen. Tentu Darren tahu betul jika usia mereka terpaut cukup jauh. Sekitar enam tahun.
Akan tetapi jika mereka sedang jalan bersama sangat cocok dan tidak terlihat jarak usia mereka.
"kalau begitu panggil aku uncle" ujar Darren terdengar kesal.
__ADS_1
"apa boleh?" tanya Queen sembari menaik turunkan alisnya. Senang sekali rasanya menggoda seorang pria dingin seperti Darren. Saat melihat pria sedingin es itu marah membuat Queen merasa puas. Karena dia berhasil merubah mimik wajah yang kaku itu sedikit lebih manusiawi.
"Queen!"
Queen tertawa melihat Darren yang tengah kesal, lalu dengan berani Queen mendekati wajah Darren.
deg
Darren terkejut akan kelakuan Queen. Jantungnya tanpa dia cegah berdebar sangat cepat saat matanya satu kontak dengan mata cantik milik gadisnya.
"bagaimana kalau aku memanggilmu daddy~?" tanya Queen sembari semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Darren. Jarak mereka hanya tinggal beberapa centi saja. Sangat dekat sekali.
Darren mengangguk tanpa sadar. Wajahnya tampak tegang saat Queen mengusap rahang tegasnya dengan jarinya yang lembut.
Queen menarik sudut bibirnya saat menyadari jika Darren sedang gugup sekarang.
cup.
Gadis itu dengan berani mengecup pipi Darren sekilas, membuat pria itu bertambah terkejut saat melihat gadis kecil yang ada disampingnya ini semakin liar dan nakal.
Sekuat tenaga Darren mencoba menahan perasaan membuncah dan salah tingkah akibat tingkah Queen barusan.
Dan sepertinya usahanya berhasil karena wajahnya saat ini tampak biasa saja meski sebenarnya dia melting dan hampir blushing.
tok tok tok
Queen menoleh kearah pintu saat ada seseorang yang mengetuk pintu. Itu pasti pelayan yang mengantarkan makanan. Queen menjauhkan tubuhnya dari Darren "masuk"
Setelah dipersilahkan masuk. Beberapa pelayan meletakan hidangan yang Queen dan Darren pesan.
Darren tidak mempedulikan para pelayan, dia terus berfokus pada gadis cantik yang selalu membuatnya berantakan, entah hati dan pikirannya.
"gadis ini benar-benar" batin Darren berseru. Dia menggeleng karena setelah sekian lama tidak memiliki kekasih, sekalinya dapat gadis yang dia inginkan sekarang dia tunduk dan bahkan dia merona malu saat digoda oleh seorang gadis kecil seperti Queen.
Rasanya jika sedang dekat dengan Queen, Darren merasa dirinya sangat bahagia dan berbunga-bunga.
Ternyata jatuh cinta semenyenangkan ini.
__ADS_1
**
Jangan lupa like komen dan kasih bunga2 cinta sayang 🤗