
flashback sebelum Darren sadar jika Queen hilang.
**
Dengan langkah santai Queen keluar dari dalam toilet. Wajahnya terlihat biasa saja seperti tidak telah terjadi apapun. Padahal Queen baru saja membuat seorang gadis pingsan.
greb
Mata Queen terbelalak. Tangannya dicekal oleh seseorang. Tubuhnya terhuyung kebelakang dan dengan cepat ia bersandar di dinding dalam kungkungan seseorang.
Queen mendongak untuk melihat siapa yang dengan lancang menyeretnya. Manik mata tajam pria itu membuat Queen menyernyit kan kening. Dia sama sekali tak takut apalagi tertekan "minggir!!" ucapnya sedikit membentak.
Pria itu menyeringai dan kemudian mendekatkan tubuhnya. Bukannya menjauh seperti apa yang gadis cantik ini perintahkan malah ia semakin meringsek.
Queen dengan panik menahan tubuh besar pria ini, dia menatap kesal pria yang sedang menatapnya sembari menyeringai.
Pria yang cukup tampan itu semakin tertarik pada saat melihat gadis cantik ini mendengus kemudian memutar bola matanya jengah. Tak ada ketakutan sama sekali diwajahnya.
"ck.." Queen berdecak, menahan amarahnya. Beberapa kali ia menghela nafasnya dengan panjang.
"kelihatannya kau kesal sekali? aku hanya ingin berkenalan dengan wanita milik teman lamaku!"
"bagaimana aku tidak kesal saat dikungkung oleh tiang jemuran seperti mu!" ucap ketus Queen.
Mata tajam pria yang ada didepan Queen membola. Bisa-bisanya ada seorang gadis yang mengatai dirinya. Bahkan biasanya para wanita akan memujinya karena ia memang memiliki wajah yang tampan. Dia menarik dagu Queen agar menatap wajahnya "coba perhatikan lagi, dari mananya yang mirip dengan tiang jemuran?" tak seperti biasanya, pria itu malah meladeni ucapan gadis cantik ini.
Queen menatap manik mata pria yang ada didepannya ini, jika dilihat-lihat dia memang lumayan. Tapi masih jauh jika dibandingkan dengan Darren. Kenapa begitu? tentu saja jawabannya karena dimata Queen hanya ada Darren seorang. Dia sudah terlalu jatuh pada pesona pria tampan itu. "kamu nanya?" tanya Queen dengan wajah yang terlihat benar-benar menyebalkan saat ia bertanya dengan nada yang sedang viral akhir-akhir ini. (wkwkwk author nggak kudet kan?)
Pria itu berdecak kesal, dia menatap jengah gadis yang tampak menyebalkan akan tetapi sialnya sangat cantik.
"oh tapi kurasa kau ternyata tidak seperti tiang jemuran" ucap Queen dengan wajah menilai karena ia baru saja menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana rupa pria dihadapannya ini.
Pria itu menatap penuh tanya, apa gadis ini sudah melihat pesonanya? ternyata dia tidak mines seperti apa yang ada dipikirannya tadi.
"tapi kau lebih mirip seperti tiang listrik karena kau tinggi sekali hahaha" tawa Queen meledak.
Pria itu menggeram "kau!!" pekiknya lalu ia mengambil sesuatu didalam sakunya dan langsung ia bekapkan kemulut dan hidung Queen.
__ADS_1
Queen yang awalnya tertawa karena berhasil membuat pria yang ada didepannya kesal membelalakan matanya saat dibekap olehnya. "kurang ajar! kain apa ini?! kenapa bau sekali" batinnya berteriak.
Akan tetapi selain bau, Queen menyadari jika dikain tersebut terdapat obat bius. "hmmppt" dia tak bisa berteriak dan lama-kelamaan kesadarannya mulai hilang.
Pria yang tengah tersenyum menyeringai dihadapannya itu lama-kelamaan blur dan detik berikutnya Queen sudah tidak merasakan apapun.
Pria itu menahan tubuh lemah Queen. Lalu menatap wajahnya "cantik tapi banyak sekali bicara dan tak memiliki attitude! cih.. bagaimana bisa dia bisa menyukainya? apa dari mulutnya yang pandai sekali bicara ini?" gumamnya.
Kemudian ia menggeleng, bagaimana bisa ia sampai teralihkan dan menatap wajah cantik gadis ini. Dia menghubungi anak buahnya lalu membopong tubuh lemas gadis ini menuju kesuatu titik dimana kapal sudah menunggunya.
***
"bagaimana?"
Pria yang baru saja masuk kedalam sebuah ruangan menatap lekat pria paruh baya yang sedang mengusap hewan peliharaannya. Seekor anjing hitam besar terlihat nyaman diperlakukan dengan lembut olehnya.
"gadis itu sudah berada di ruang penyekapan" jawabnya dengan lugas. Pria bernama Louis itu berjalan mendekati pria paruh baya itu. Berjalan angkuh seperti biasanya.
"heh.. kau bisa membawa gadis itu kemari. Kurasa indera ketajamannya tak baik" ucapnya meremehkan. Dia meminum minuman yang ada didepannya.
Louis.. Pria yang tadi menculik Queen segera duduk dihadapan pria paruh baya yang tak lain adalah dad nya sendiri. Tristan.
"hahaha.. baiklah. Kau memang kebanggaan dad"
Louis diam tapi menatap pria paruh baya yang sekarang sedang terkikik sembari mengusap kepala anjing peliharaannya .
"kau membuang semua hal yang bisa membuat kita ditemukan kan?"
Louis mengangguk"Ponsel gadis itu sudah kubuang kelaut"
"good boy.." ucapnya dengan bangga. Dia menatap netra putera nya "apa gadis itu cantik?"
"hmm"
"kau bisa memainkannya kalau kau mau" ucap dad Tristan menawarkan. Dia tahu sekali sejak dulu Louis selalu iri pada keberhasilan Darren. Jika dia mendapatkan tubuh gadis yang disukai oleh Darren bukankah itu akan menjadi pukulan yang menyakitikan untuknya?
Louis membuang muka kesamping, malas menjawab ucapan dadnya. Meski ia akui jika gadis itu sangat cantik tapi mengingat bagaimana tadi dia mengatai dirinya dan membuatnya kesal, hal itu membuatnya tidak berselera sama sekali.
__ADS_1
"kenapa? kau paling suka gadis cantik kan?"
Louis angkat bahu acuh "aku tidak menginginkannya. Mulutnya sangat beracun, aku tak suka gadis pembangkang" ujarnya sembari melipat tangannya didepan dada. Louis memang selalu menyukai gadis penurut.
"terserah kau saja. Kau keluarlah dan jaga gadis itu! jangan sampai kabur"
Louis berdiri dari duduknya "kabur kemana? ini adalah sebuah pulau yang sangat jauh dari daratan lain, kalau ia berusaha berenang pun percuma"
"tapi tetap saja, kau harus menjaganya! kalau gadis itu berada ditangan kita, kita bisa menekan Darren!"
Louis yang awalnya sudah berjalan kembali menoleh "apa dia benar-benar menyukai gadis itu? dad tidak salah kan?"
"hahaha.. kau meragukan kemampuan dadmu ini?! dad sudah mengintai mereka dari beberapa bulan terakhir!"
Louis mengangguk dan keluar dari ruangan yang selalu membuatnya sesak.
Dia memilih untuk melihat gadis yang tadi dia bawa. Kalau menurut perkiraannya, gadis itu pasti sudah sadar sekarang.
**
Beberapa orang yang berjaga didepan pintu menunduk saat Louis berjalan mendekat.
"apa gadis itu sudah sadar?"
"sepertinya belum tuan, karena sedari tadi tak ada suara apapun" seorang pria menjawab dengan sopan saat Louis bertanya.
"buka pintunya!"
"baik tuan"
Setelah pintu berhasil dibuka, Louis berjalan masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup gelap.
Saat baru maju satu langkah, mata Louis membola "dimana gadis itu?!" pekiknya sehingga membuat anak buah Louis juga ikut mengintip. Karena Louis masih berada didepan pintu.
"ta-tadi nona itu masih pingsan tuan" ucapnya panik. Bahkan dia tak pernah pergi dari depan pintu. Bagaimana bisa gadis itu telah hilang?
Louis mendongak, dimana sebuah jendela terbuka. Apa gadis itu kabur melalui jendela kecil dan tinggi itu? batin Louis bertanya-tanya. Jika benar, Louis menyesal telah meremehkan gadis itu.
__ADS_1
"cepat cari!!" pekik Louis murka, dia segera pergi dari ruangan itu dengan tatapan mematikan.