
Alaia ternyata tipes dan harus dirawat di rumah sakit. Nanda merasa bersalah sekali kepada anak-anaknya, dan dia merasa bahwa dirinya sangat lalai dalam menjaga mereka. Padahal, sakit tidak bisa dia cegah untuk tidak menyerang Alaia. Itu di luar kuasanya.
"Nan, kamu istirahat dulu aja ya di sofa. Biar Alaia Mama sama Papa yang jaga," ucap Mama Kania saat melihat menantunya tetap duduk di kursi samping hospital bed sembari menatap sayu pada Alaia yang sudah tertidur dengan pulas.
"Nanda mau jagain Aia, Ma."
"Tapi kamu juga perlu istirahat. Biar kami aja yang jaga. Nanti kalau kamu ikut-ikutan sakit, kasian kan anak-anak." Kini giliran Papa Bagas yang berbicara.
Mau tak mau Nanda pun berdiri dari duduknya. Dia ikut bergabung bersama Arthur yang sudah tertidur di sofa. Perempuan itu tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mertuanya yang sangat baik.
Sembari memeluk Arthur, mata Nanda terpejam dan tak lama dia pun tertidur.
Mama Kania membenarkan letak selimut cucunya sebelum berbincang dengan Papa Bagas.
"Ken gak ada jadwal ke luar kota, kan?" tanyanya yang diangguki oleh Papa Bagas.
Kenan bekerja di perusahaan milik Papanya sendiri, jadi wajar kalau Mama Kania menanyakan hal tersebut karena dirasa ada yang aneh.
"Mama ngerasa ada yang aneh deh," bisik Mama Kania dengan wajah khawatirnya.
"Papa juga." Papa Bagas balas berbisik.
Mama Kania pun mengambil ponselnya yang berada di nakas. Dia menghubungi Kenan. Awalnya tidak diangkat, tetapi setelah terus di telepon akhirnya Kenan pun mengangkat.
"Halo, Ma. Ada apa?"
"Kamu di mana sekarang, Nak?" Mama Kania bertanya.
"Ken nginep di tempat Tegar, Ma. Sama temen-temen yang lain juga, sih."
Mata Mama Kania membulat. Dia menutup speaker lalu menatap Papa Bagas dengan pandangan horor.
"Kenan gak di luar kota," katanya tanpa mengeluarkan suara.
Papa Bagas hanya bisa menghela napasnya saja.
"Nanda gak telepon kamu?" tanya Mama Kania dengan suara yang sangat pelan.
"Dia telepon Ken, tapi gak sempet ke angkat."
"Gak sempet ke angkat atau kamu emang gak ngangkat?"
Lama sekali Kenan menjawab pertanyaan dari Mama Kania. Sebagai ibu kandung, Mama Kania tahu betul Kenan bagaimana.
__ADS_1
Dia tak mungkin menginap di rumah temannya karena sadar sudah mempunyai keluarga. Justru Kenan itu pribadi yang akan menghabiskan waktu liburnya dengan anak-anak di rumah.
Ada yang aneh dan Mama Kania tahu itu.
"Kamu tau gak Alaia lagi di rawat di rumah sakit karena tipes?" Nada Mama Kania sedikit ngegas.
"Hah?! Alaia di rawat, Ma?"
"Iya, dan Nanda hubungi Mama malam-malam karena dia kebingungan untuk pergi ke rumah sakit. Mana Arthur rewel, Alaia sakit, dan kamu gak ada di samping dia buat bantu Ken."
"Ma, Kenan gak tau Alaia sakit."
"Kayaknya sampai besok juga kamu gak akan tau kalau anak kamu sakit, karena kamu sama sekali gak ngangkat panggilan Nanda. Sesibuk apa sih kamu, Ken? Kamu bukan anak SMA lagi, kamu sudah dewasa dan memiliki dua anak. Kalau pun mau main sama temen-temen kamu, ya inget waktu dong!"
Ken tidak menjawab. Ntah merasa kesal karena diomeli Mama Kania, atau mungkin merasa bersalah.
"Alaia di rawat di rumah sakit mana, Ma? Kenan mau ke sana," ucap Kenan yang malah mengalihkan pembicaraan.
Mama Kania hanya bisa menghela napasnya. Merasa ikut kesal pada sang anak sekarang. "Rumah Sakit Bunda dan Anak."
Mama Kania pun dengan dongkol langsung mematikan sambungannya. Seharusnya Kenan sebagai ayah harus siaga, bukannya kecolongan seperti ini.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalutnya Nanda saat Alaia demam tinggi. Ditambah Arthur sangat rewel. Apa tidak stress itu menantunya karena meng- handle semuanya sendirian tanpa bantuan sang suami? Padahal suaminya masih hidup.
"Nggak, ah. Biar dia kebingungan sendiri terus ada inisiatif nanya."
...••••...
Kenan sangat panik sekarang karena tahu Alaia di rawat di rumah sakit. Dia juga merasa bersalah karena mengabaikan semua panggilan dari Nanda. Padahal dia tahu bahwa Nanda selalu menelponnya ketika dia masih berada di club, tetapi dengan sengaja Kenan tidak mengangkatnya.
Kenan pikir Nanda hanya akan menyuruhnya pulang, lalu saat dia sudah di rumah perempuan itu akan kembali mengeluh kepadanya.
Ternyata ... Nanda sedang sangat kalut saat menelepon Kenan karena Alaia sakit.
Karena jalanan sudah lenggang akibat jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, mobil Kenan tak memakan waktu untuk sampai di rumah sakit.
Lelaki itu menyandarkan punggungnya sejenak, matanya terpejam. Dia hanya tidur satu jam.
Saat matanya terbuka, Kenan menatap ponsel yang berada di atas dashboard. Lelaki itu mengambilnya lalu menghubungi Queen yang pastinya masih terlelap.
Kenan:
Queen hari ini aku gak bisa makan siang bareng kamu dulu.
__ADS_1
Kenan:
Alaia kena tipes dan di rawat di RS. Kamu jangan telat makannya, semangat kerjanya ya.
Kenan:
Sekali lagi aku minta maaf, Sayang.
Sesudah mengirimkan pesan kepada Queen, Kenan pun keluar dari mobilnya. Dia berjalan menyusuri parkiran rumah sakit sembari berusaha menghubungi Mama Kania.
Dia tidak tahu nomor kamar anaknya sendiri, karena memang Mama Kania tidak memberitahukan kepadanya.
Ah, wanita yang sangat dicintainya itu marah.
Kenan pun menanyakan informasi terkait anaknya kepada Front Office. Setelahnya dia kembali menyusuri koridor rumah sakit yang sangat sepi.
Setelah mencari cukup lama, akhirnya Kenan pun menemukan kamar anaknya. Dia mengetuk pintu lalu masuk, Kenan disambut dengan tatapan Mama Kania yang membuatnya meringis pelan.
Kenan menyalami tangan kedua orang tuanya yang sangat kuat menjaga cucunya.
"Maaf ya Ma, Pa. Maaf ngerepotin," katanya dengan sangat pelan.
"Dia cucu Papa, mana ada merepotkan."
"Betul." Mama Kania menyahut. "Malah Mama akan sangat merasa bersalah kalau gak jawab telepon dari Nanda, karena kan dia ngurus anak-anaknya sendiri ya."
Kenan tidak menjawab atau memberikan alasan lagi karena itu hanya akan membuat Mama semakin emosi.
"Mama sama Papa bisa pulang kalau emang mau. Biar Kenan yang jaga di sini," katanya.
Karena memang cukup lelah, Mama dan Papa pun bersiap untuk pulang. Mereka mengelus dahi Alaia sebelum Mama Kania menatap Kenan dengan mata menyipit.
"Kamu bau alkohol. Udah bapak-bapak masih aja mabok-mabokan," bisiknya sebelum akhirnya berlalu pergi.
Kenan hanya bisa meringis dan merutuki dirinya sendiri. Lelaki itu menatap Alaia dengan pandangan merasa bersalah. Tangannya menggenggam tangan kecil bocah cantik itu.
"Maafin Papa, Sayang."
Setelahnya Kenan beralih menatap ke sofa. Di sana Arthur tertidur dipelukan Nanda yang terlihat sangat lelah. Lagi-lagi rasa bersalah memukul hatinya melihat mereka.
Kenan beranjak dari kursi untuk menghampiri Nanda juga Arthur. Dia membenarkan letak selimut yang hampir terjatuh.
Di dalam hatinya, Kenan mengucapkan beribu-ribu kata maaf dengan tulus.
__ADS_1