QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
74. Papa Telepon


__ADS_3

Sejak kejadian ban bocor itu, Queen seperti sedikit melunak. Dia memang masih ketus tiap kali didekati Kenan, tetapi setidaknya Queen tidak menghindar lagi.


Karena Queen tidak menghindar lagi, Kenan pun semakin gencar untuk mendekatinya. Dia selalu menyempatkan mampir ke toko roti Queen, terkadang juga mengirimkan makanan jika memang berhalangan hadir karena sibuk.


Seperti sekarang, Queen melihat sekeresek makanan yang baru saja diantar oleh kurir, namun kali ini Kenan mengirimnya ke apartment Queen karena Queen sedang tidak ingin ke toko.


Perempuan itu mendekati meja dan membuka makanannya. Ternyata ayam pedas, pas sekali karena Queen sedang menginginkannya. Tanpa sadar, senyum Queen pun terlihat.


"Kamu emang perhatian dari dulu, tapi sayang aja kurang tegas."


Setelahnya Queen pun berlalu ke dapur, dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Dia kembali ke ruang tamu dan mulai memakan ayamnya dengan nikmat.


Saking enaknya, Queen menambah nasi sampai tiga kali. Ayam yang dibeli Kenan juga lumayan banyak.


Saat tengah asik makan, ponsel milik perempuan itu bergetar pelan tanda bahwa ada pesan yang masuk. Queen meliriknya, ternyata Kenan mengirim pesan.


Mereka beberapa hari ke belakang memang sempat bertukar nomor.


Tak kunjung pesannya mendapatkan jawaban, ponsel Queen kini berdering. Dia pun berdecak kesal dan mengangkatnya. Queen menghidupkan speaker.


"Kamu udah nerima makanan dari aku?" Kenan di seberang sana bertanya.


"Udah. Ini lagi aku makan."


"Enak?"


Queen hanya berdehem saja. Kenan ini mengganggu sekali, padahal kan Queen sedang menikmati makanannya.


"Malam nanti mau keluar sama aku nggak?"


Queen menaikkan satu alisnya. "Enggak."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gak mau aja."


Queen bisa mendengar helaan napas Kenan yang membuat sudut bibirnya terangkat.


"Please, Queen. Keluar sama aku ya nanti malem?"


"Ken, bukan berarti aku sedikit lunak sama kamu, kamu bisa ajak aku keluar. Aku gak segampang itu."


Mungkin Kenan sedikit tersinggung atau sedih mendengar jawabannya, tetapi Queen tidak peduli. Toh, Kenan juga pernah membuatnya sangat sedih sewaktu dulu.


Perkataannya belum ada apa-apa dibandingkan dengan perlakuan Kenan saat itu.


"Oke, aku minta maaf. Nikmati makanan kamu, makan yang banyak ya." Kenan berbicara seperti orang yang patah hati.


Queen hanya berdehem, lalu panggilan pun terputus.


Kenan tidak tahu saja bahwa Queen sudah makan tiga kali, dan sekarang dia kenyang. Perutnya seperti akan meledak.


Perempuan itu pun bangkit dan segera membereskan meja ruang tamu. Setelah ini dia akan mandi lalu tidur.


Tetapi baru saja selesai mencuci piring, ponselnya kembali berdering. Kalau itu dari Kenan, sumpah Queen akan sangat kesal sekali.


Tetapi ternyata ... itu dari Papa.


Dengan cepat Queen pun mengangkat panggilannya.


"Hai, Pa!" sapanya dengan ceria.


"Hai, Queen. How are you? Papa kangen banget sama putri Papa ini."

__ADS_1


Queen hanya tersenyum sembari mulai berjalan ke kamar. "Kabar Queen baik, Pa. Gimana sama Papa? Kalau kangen ya Papa main ke sini dong."


"Papa sehat, bahkan Papa habis selesai main golf. Nanti Papa mampir ke tempat kamu, ya."


"Iya, Pa."


"Queen, Papa boleh menanyakan sesuatu?"


Queen mengernyitkan keningnya. Tumben sekali.


"Tanya aja, Pa."


"Kamu dekat lagi sama Kenan?"


Deg


Queen membisu. Dia sangat terkejut bahwa sang Papa ternyata tahu mengenai hal itu.


"Enggak sih, gak deket banget. Biasa aja," jawabnya dengan berusaha tidak gugup.


Terdengar helaan napas di seberang sana. Queen tahu Papa akan sangat kecewa jika dia dan Kenan kembali dekat.


Lagipula, orang tua mana yang akan terima jika anaknya kembali dekat dengan orang yang sangat menyakitinya?


"Queen, jangan sampai kamu jatuh ke lubang yang sama. Kamu harus ingat bagaimana susahnya kamu waktu Kenan lebih memilih wanita lain."


"..."


"Papa cuma gak mau kalau kamu kembali terpuruk seperti dulu. Lagipula dia sudah punya istri dan anak, kan?"


Queen hanya diam karena setiap kata yang diucapkan oleh Papa nya sangat pas ke hati.

__ADS_1


"Queen gak akan jatuh ke lubang yang sama lagi, Pa. Jadi ... Papa tenang aja."


Meski Queen sendiri ragu dengan ucapannya, tetapi dia harus menenangkan hati sang Papa.


__ADS_2