
Rere menghela nafasnya, dia berkali-kali bolak-balik kamar dan ruang tamu. Adi yang melihat kecemasan di mata Rere pun mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
"Queen bakal baik-baik aja."
"Panasnya gak turun-turun dari kemarin malam, Di. Gue khawatir,"lirihnya sambil menatap pintu kamar.
Ya! Queen terkena demam karena gadis itu kehujanan kemarin. Rere jelas khawatir dengan keadaan gadis itu, dia mencemaskan Queen. Apalagi Rere terasa miris ketika melihat Queen yang terus menangis karena melihat Kenan dan sahabatnya yang Rere tahu bernama Givani pulang bersama.
"Kenapa dia gak mau di bawa ke rumah sakit sih?"tanya Adi heran.
Pasalnya Queen selalu menolak ketika Rere membujuknya untuk ke rumah sakit, gadis itu akan menangis jika Adi akan membopongnya untuk ke rumah sakit.
"Gue juga gak tau. Dari semalam juga dia terus manggil-manggil orang tuanya sama Kenan,"ucapnya pelan.
"Orang tuanya gak ada kan? Yaudah kenapa gak lo panggil aja si Kenan-Kenan itu?"
Rere terdiam, bisa saja sih jika dia meminta Kenan untuk datang ke kontrakannya tapi... apa Queen tidak akan marah? Dia kan tidak ingin bertemu Kenan.
"Queen gak mau ketemu pacarnya."
"Jangan kasih tau Queen, lo mau Queen cepet sembuh kan? Ya panggil aja Kenan, siapa tau Queen lagi kangen sama pacarnya."
Iya juga sih, Queen pasti sangat merindukan Kenan. Gadis itu pasti amat sangat ingin berdamai dengan Kenan.
"Oke deh, gue bakal kesekolahnya Queen buat ketemu guru Queen dan ngasih tau kalau Queen sakit. Dan juga gue bakal cari Kenan di sana."
...||||...
Kenan memakan nasi gorengnya dengan lahap, sesekali cowok itu menanggapi ucapan teman-temannya yang sibuk berbicara. Saat ini Kenan dan teman-temannya tengah berada di kantin sekolah, disana juga ada Dea dan Givani.
Ngomong-ngomong soal Givani, gadis itu sudah sedikit menjaga jarak dengan Kenan. Dia ingin melupakan cowok itu dan Kenan sih oke-oke saja.
"Micin-micin apa yang manis?"tanya Verrel pada Dea.
"Gak tau!"jawab Dea ketus.
Verrel mencibir dan yang lainnya tertawa. Dea memang sedang sangat sensitif, gadis itu bahkan sedari tadi melemparkan tatapan tak suka pada Kenan dan Givani.
"Micintai kamu, Dea!"seru Verrel yang di hadiahi jitakan dari Andra karena membuat cowok itu tersedak kuah bakso.
"Najis lo,"desis Dea dengan tangan menyilang di depan dada.
"Kenan!"
__ADS_1
Kenan mendongakan kepala, keningnya mengernyit ketika melihat wajah gadis asing yang memanggil namanya tadi.
"Gue?"
Gadis itu mengangguk, bahkan dia tersenyum saat melihat tatapan teman-teman Kenan yang menatapnya bingung. Dia juga bisa melihat Dea yang membulatkan matanya.
"Teteh ngapain kesini?"tanya Dea panik.
"Lo kenal?"tanya Tegar dengan kedua alis yang terangkat.
Dea mengangguk ragu, jelas lah dia kenal! Gadis itu kan Rere, gadis yang menampung sahabatnya.
"Gue kesini mau ngomong sama Kenan,"jawab Rere sambil tersenyum tipis.
Verrel dengan sigap berdiri dari duduknya, cowok itu mengambil bangku di meja sebelah lalu di simpan di belakang Rere. Dia tersenyum mempesona kala Rere mengucapkan terima kasih.
"Modus ae lo,"cibir Tegar setengah berbisik.
"Lumayan, bohay."
"Sedeng,"ejek Tegar lalu memfokuskan pandangannya ke arah Rere dan Kenan.
Kenan berdehem, dia membenarkan letak duduknya. Jujur, dia bingung dengan kehadiran gadis ini. Bahkan dia tidak mengenal Rere.
"Lo masih ingat sama cewek yang lo tabrak waktu seminggu yang lalu? Di gang,"ucap Rere pelan.
Kening Kenan mengerut, di perhatikan lagi wajah Rere yang manis dengan make up naturalnya. Tak berselang lama cowok itu sudah mengingat bahwa gadis ini adalah gadis yang sama seperti gadis yang pernah di tabraknya.
"Gue inget, ada urusan apa?"tanya Kenan tanpa basa-basi.
"Queen sakit, dia terus manggil nama lo dari kemarin."
Mata Kenan terbelalak, bukan hanya Kenan, semua teman-temannya pun terkejut mendengar penuturan Rere.
"Lo siapanya Queen?"tanya Andra datar.
Rere menghela nafasnya, dia serasa sedang di introgasi oleh anak-anak SMA ini. Sebenarnya dia risih sih saat Verrel terus menatapnya dengan intens.
"Gue Rere, gue temennya Queen. Ah! Bahkan gue udah nganggap Queen adik gue sendiri. Waktu itu gue ketemu Queen di pinggir jalan, cewek itu lagi nangis. Dari situ kita kenalan, dan Queen tinggal di kontrakan gue sekarang,"jawab gadis itu yang membuat semuanya kembali terkejut.
"Anter gue ke kontrakan lo sekarang,"pinta Kenan sambil berdiri.
"Lo masih sekolah,"ucap Rere.
__ADS_1
"Gue mau ketemu Queen sekarang!"
Akhirnya Rere pun mengikuti langkah Kenan yang berjalan dengan cepat untuk keluar dari sekolah ini. Gadis itu bahkan sampai kewalahan karena berusaha mengejar Kenan.
"Lo bisa pelan-pelan gak sih jalannya?"tanya Rere sedikit keras.
Kenan malah pura-pura tuli dan cowok itu tidak memperdulikan Rere yang berjalan cepat untuk mensejajarkan langkah dengannya.
"Woy, Kenan! Lo tul–"
"Gak usah banyak omong, mending lo langsung naik ke atas motor gue dan kita cepet sampe ke tempat tinggal lo!"sela Kenan sambil naik ke atas motornya.
Mau tak mau Rere pun naik ke atas motor Kenan, gadis itu hampir saja berteriak ketika Kenan menancap gasnya dengan ugal-ugalan.
"Santai aja bawa motornya, *****! Lo mau kita ke celakaan?!"teriak Rere dengan tangan yang tambah mencengkram bagian belakang motor, bahkan Kenan tidak membawa tasnya.
"Ya nggak akan, lah! Gue udah pro!"seru Kenan yang membuat mata Rere membulat.
Ternyata pacar Queen ini sombong dan percaya diri sekali juga ya.
"Percuma udah pro kalau takdir malah bikin kita kecelakaan nantinya!"
"Cukup lo tutup mulut dan jangan ganggu gue nyetir!"
Rere hanya bisa mendengus sambil berharap bahwa mereka akan selamat sampai tujuan.
Tak lama motor Kenan berhenti di sebuah warteg, dan tanpa bertanya lagi Rere pun turun di ikuti oleh Kenan. Mereka berjalan kedalam gang yang sepi di siang hari ini.
"Kenapa waktu pertama ketemu gue, lo bukannya langsung kasih tau tentang Queen?"tanya Kenan datar.
Cowok itu mengikuti langkah kecil Rere dan matanya sesekali menatap kearah sekitar.
"Gak tau juga sih kenapa gue gak langsung ngasih tau lo. Mungkin karena gue bayangin rasanya jadi Queen gimana. Dia kan gak mau banget ketemu sama lo,"jawab Rere tanpa menatap kearah Kenan yang menampilkan ekspresi merasa bersalahnya lagi.
"Dia cerita apa aja ke lo?
Rere sedikit menengok kebelakang, dia tersenyum miring lalu kembali melihat kedepan.
"Banyak banget, termasuk tentang apa yang lo lakuin ke dia."
Kenan kembali terdiam sampai akhirnya mereka sampai di kontrakan Rere.
...||||...
__ADS_1
Ngotot banget ya Kenan:))