QUEEN'S STORY

QUEEN'S STORY
71. Sama-sama Memikirkan


__ADS_3

Siang hari ini Queen ada di salah satu toko kue miliknya, dia sedang mengecek hasil laporan keuangan bulan ini.


Senyum tipisnya hadir ketika sadar bahwa omset yang ia dapatkan jauh lebih besar dari bulan-bulan sebelumnya. Semakin sukses bisnisnya, semakin senang perasaannya.


"Varian rasa baru dari kue yang kita launching banyak disukai oleh banyak kalangan," ucap tangan kanan Queen yang bernama Mia.


Kepala Queen mengangguk. "Bagus, saya puas dengarnya. Ah ya, tolong urus bonus para karyawan."


"Bonus?"


Queen menatap Mia, ada rasa senang dihatinya ketika bisa membuat orang lain merasa senang.


"Kalian sudah bekerja keras, apa salahnya dikasih bonus."


Senyum Mia merekah, dia tambah menatap takjub Queen yang menurutnya adalah sosok Ibu Peri dibalik wajah dinginnya.


Jujur, gajih bekerja di sini saja sudah sangat cukup– apalagi jika ditambah bonus.


"Baik, terima kasih Bu." Mia berkata sembari menundukkan kepalanya.


"Makasih juga Mia."


Setelah Mia keluar dari ruangannya, Queen langsung merasa hampa. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dan matanya menatap kosong pemandangan di siang hari ini lewat jendela kaca yang besar.


Dia memikirkan Keenan yang kata ART di rumah datang ke sana untuk menemuinya.


Gadis itu menghela napasnya, matanya terpejam karena merasa pusing.


"Apa yang kamu mau dari aku, Ken?" bisiknya kepada angin.


Queen memang masih belum bisa melupakan Keenan, tetapi dia sadar kalau tidak bisa merebut Keenan dari keluarga kecil lelaki itu yang manis.


Dia anggap, hubungan mereka sudah selesai dari saat Keenan memilih untuk bersama Nanda. Semuanya selesai, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.

__ADS_1


Karena tidak mau terus mengingat Keenan, akhirnya Queen memilih untuk pulang ke apartment. Dia akan menonton semua film kesukaannya sambil bersantai.


Sehari setelah sampai di Jakarta, Queen langsung meminta izin kepada David untuk tinggal di apartment. Dia ingin hidup mandiri, dan sendirian tanpa ditemani siapapun.


"Hati-hati dijalan Ibu!" kata para karyawan saat melihat Queen akan keluar dari toko.


Queen hanya bisa mengangguk untuk merespon mereka. Gadis itu keluar dari toko dan berjalan ke arah mobilnya.


Ketika ingin membuka pintu mobil, mata Queen melihat wanita tinggi sedang berjalan masuk ke tokonya sambil menggendong seorang bayi.


Nanda, istri Keenan. Wajah datar Queen seketika jadi muram. Tanpa mau menatap Nanda lagi, Queen segera memasuki mobilnya dan meninggalkan toko kue.


Nanda cantik, tapi kenapa Keenan malah tetap cinta kepadanya?


••••


"Papa!"


"Hai, Boy! Lagi apa?"


Arthur melepaskan pelukannya, senyum cerianya bisa mengobati rasa kacau Keenan.


"Tadi Arthur lagi main mobil-mobilan," jawab bocah itu.


"Main sama siapa?"


"Sendiri."


Kening Keenan langsung mengerut, biasanya Arthur ditemani oleh Nanda jika sedang main.


"Mama ke mana?" tanya Keenan, dia menggandeng Arthur agar duduk di sofa.


"Mama pergi sama Alaia, katanya mau beli kue."

__ADS_1


Kepala Keenan mengangguk. "Lain kali kalau main minta ditemenin sama Mbak, oke?"


Kepala Arthur mengangguk cepat, dia menatap sang Papa dengan raut wajah polos.


"Papa belum mandi, ya?" tanyanya yang membuat kekehan Keenan terdengar.


"Iya, nih. Papa belum mandi."


"Ih... pantes bau!"


Keenan langsung menggelitiki perut Arthur sampai membuat anaknya itu tertawa terbahak-bahak.


Meski Arthur bukan anaknya, tetapi dia sangat menyayangi Arthur.


"Papa udah mam?" Arthur bertanya setelah selesai digelitiki oleh Keenan.


"Belum. Mau makan bareng gak?"


"Mau, mau, mau! Arthur pengen chicken."


Senyum Keenan terlihat. "Papa pesenin online dulu chicken punya kamu."


Arthur langsung berseru senang dan memeluk tubuh Keenan.


"Sambil nunggu chicken-nya ada, Papa mau mandi dulu. Arthur tunggu di sini," ucap Keenan dan untungnya Arthur nurut.


Akhirnya Keenan masuk ke dalam kamar, lelaki yang mempunyai dua anak itu melepas kaos yang dia pakai dan membasahi tubuhnya dengan berdiam diri di bawah shower.


Mata Keenan terpejam ketika lagi-lagi dia malah memikirkan Queen. Gadis itu jadi lebih cantik dan tubuhnya...


"Sial!" desis Keenan ketika hanya dengan memikirkan Queen saja tubuhnya merespon aneh.


Keenan ingin tidur lagi dengan Queen seperti dulu, tidur yang benar-benar tidur– dengan tangannya yang memeluk tubuh gadis itu sampai mereka terlelap.

__ADS_1


__ADS_2